Selasa, April 23, 2013

BERBANGGA DAN BERMEGAH DALAM SALIB 
(Gal. 6:11-18) 
Alfons Jehadut 

11 Lihatlah, bagaimana besarnya huruf-huruf yang kutulis kepadamu dengan tanganku sendiri.12 Mereka yang secara lahiriah suka menonjolkan diri, merekalah yang berusaha memaksa kamu untuk bersunat, hanya dengan maksud, supaya mereka tidak dianiaya karena salib Kristus.13 Sebab mereka yang menyunatkan dirinya pun, tidak memelihara hukum Taurat. Tetapi mereka menghendaki, supaya kamu menyunatkan diri, agar mereka dapat bermegah atas keadaanmu yang lahiriah.14 Tetapi aku sekali-kali tidak mau bermegah, selain dalam salib Tuhan kita Yesus Kristus, sebab olehnya dunia telah disalibkan bagiku dan aku bagi dunia. 15 Sebab bersunat atau tidak bersunat tidak ada artinya, tetapi menjadi ciptaan baru, itulah yang ada artinya. 16 Bagi semua orang yang memberi dirinya dipimpin oleh patokan ini, turunlah kiranya damai sejahtera dan rahmat atas mereka dan atas Israel milik Allah. 17 Selanjutnya janganlah ada orang yang menyusahkan aku, karena pada tubuhku ada tanda-tanda milik Yesus. 18 Anugerah Tuhan kita Yesus Kristus menyertai roh kamu, Saudara-saudara! Amin 

Pengantar 
Dalam penanggalan liturgi tahun C hari Minggu, ada enam bacaan kedua yang diambil dari surat Galatia. Selama enam minggu, Gereja mengajak umatnya untuk membaca dan merefleksikan tanggapan Paulus terhadap krisis yang dialami oleh sejumlah komunitas di Galatia selatan dalam suratnya. Krisis itu ditimbulkan oleh misionaris kristiani Yahudi yang datang tidak lama setelah Paulus pergi dari jemaat yang telah dibentuknya. Para misionaris itu mengajarkan kepada jemaat Galatia bahwa jika mereka ingin diperhitungkan sebagai keturunan Abraham dan menjadi ahli waris janji-janji Allah, maka mereka harus disunat dan melakukan pekerjaan hukum Taurat, terutama peraturan untuk menaati hari Sabat dan peraturan makanan yang halal dan haram. Ajaran para misionaris kristiani Yahudi itu bertentangan dengan ajaran Paulus yang tidak menuntut jemaat Galatia untuk disunat atau untuk mengadopsi gaya hidup Yahudi. Pengalaman pertobatan Paulus telah mengajarkannya bahwa Allah telah melakukan segala sesuatu yang tidak dapat dilakukan oleh hukum Taurat dalam Kristus. Baginya, kebenaran yang memberi hidup diperoleh melalui kematian dan kebangkitan Kristus. Itulah sebabnya Paulus menulis “sekiranya ada pembenaran melalui hukum Taurat, maka sia-sialah kematian Kristus” (Gal. 2:21). Karena jemaat Galatia bukan Yahudi telah menerima dan mengalami karunia Roh Allah (3:1-6), maka mereka telah menjadi keturunan Abraham dan telah menjadi ahli waris janji-janji Allah (3:29). Allah tidak membenarkan seseorang atas dasar pelaksanaan ketetentuan hukum Taurat, tetapi atas dasar iman pada apa yang telah dilakukan oleh Allah melalui kematian dan kebangkitan Anak-Nya. Konsekuensinya, orang-orang bukan Yahudi tidak perlu bagi mengadopsi gaya hidup Yahudi. Apa yang harus mereka lakukan adalah mempertahankan keyakinan iman mereka kepada Yesus dan hidup menurut tuntunan Roh Kudus. 

Struktur Teks 
Pada hari minggu ini kita akan merefleksikan bacaan terakhir yang diambil dari surat Galatia. Bacaan yang diambil adalah bagian penutup suratnya. Meski bacaan kedua hari Minggu ini tidak menampilkan seluruh bagian penutup (Gal. 6:14-18), namun kita sebaiknya membacanya dan mengulasnya secara keseluruhan (Gal. 6:11-18) supaya mendapat gambaran yang lebih lengkap tentang struktur pemikiran dan keprihatinan Paulus. Bagian penutup surat ini dapat diikuti dengan alur sebagai berikut. Pertama, pengakuan bahwa bagian akhir suratnya ditulis dengan tangan sendiri dan dengan huruf-huruf yang besar (ay 11). Kedua, dakwaan bagi para lawan Paulus (ay 12-13). Ketiga, kebanggaan dalam salib (ay 14-15). Keempat, berkat dan permohonannya (ay. 16-18). 

Ulasan Teks 
Menulis dengan tangan sendiri dan dengan huruf-huruf yang besar (ay. 11). 
Paulus mengakhiri suratnya dengan tulisan tangannya sendiri. Dengan tangannya sendiri Paulus juga menulis pada akhir dalam beberapa suratnya (1Kor. 16:21; Flm. 19; Rm. 16:22; Kol. 4:18; 2 Tes. 3:17). Meski surat kepada jemaat di Kolose dan kepada jemaat di Tesalonika yang kedua masih diperdebatkan keasliannya sebagai surat yang ditulis oleh Paulus sendiri, namun tulisan tangan pada bagian akhir itu berfungsi untuk melegitimasi pengarangnya. Dalam surat Galatia, Paulus mengatakan bahwa ia menulis dengan tangannya sendiri dan dengan huruf yang besar-besar. Kata-kata ini memunculkan sebuah pertanyaan mengapa dan apa tujuan Paulus menulis dengan huruf-huruf besar? Huruf-huruf yang lebih besar itu sangat mungkin mirip dengan pemakaian huruf besar atau italik pada zaman sekarang untuk memastikan bahwa para pendengarnya tidak akan mengabaikan kata-kata penutupnya.[1] Penafsir lain mengatakan bahwa tulisan dengan huruf-huruf yang besar itu dimaksudkan untuk memberi tekanan, menggarisbawahi, dan memberi sorotan pada apa yang akan ditulisnya pada bagian penutup.[2] Dengan rumusan sedikit lain, penafsir lain lagi berpendapat huruf-huruf yang lebih besar itu 

1. Charles B. Cousar, Galatians: A Bible Commentary for teaching and Preaching (Atlanta: John Knox Press, 1982), 148. 
2. Richard N. Longenecker, Galatians: Word Biblical Commentary (Dallas: Word Books, 1990), 290.

dimaksudkan untuk menunjukkan bahwa Paulus kini meringkas dan mempertajam keseluruhan isi suratnya sehingga harus diberikan perhatian.[3]

Dakwaan bagi para lawan (ay. 12-13) 
Dalam bagian penutup suratnya, Paulus lagi-lagi melukiskan tiga karakter dari para lawan yang sebelumnya dilukiskannya sebagai saudara-saudara palsu dari Yerusalem yang memaksakan sunat kepada orang-orang bukan Yahudi (Gal. 2:3-4). Di sini para lawan itu tidak disebutkannya dengan nama, tetapi mereka hanya diidentifikasikan oleh motivasi dan tindakan-tindakan mereka. Pertama, mereka suka menonjolkan diri secara lahiriah (ay. 12a). Mereka pergi membawa kabar gembira dengan menaati hukum Taurat kepada orang-orang bukan Yahudi dengan maksud untuk menonjolkan diri mereka. Motivasi mereka sesungguhnya adalah hanya ingin mendapatkan prestise atau gengsi pribadi mereka sendiri. Kedua, mereka memaksakan sunat dengan maksud hanya supaya mereka lolos dari penganiayaan yang menanti orang-orang yang mewartakan salib Kristus (ay. 12b-c). Di sini ditampilkan motivasi lain mengapa mereka memaksakan sunat kepada orang bukan Yahudi yang percaya kepada Yesus. Motivasi mereka adalah supaya mereka lolos dari penganiayaan karena salib Kristus. Dengan memaksakan sunat kepada orang kristiani bukan Yahudi di Galatia, mereka membawa orang kristiani bukan Yahudi ke dalam lingkaran bangsa Yahudi sehingga membebaskan diri mereka sendiri dan orang kristiani Yahudi pada umumnya dari penganiayaan dari sesama Yahudi yang tidak beriman kepada Yesus sebagai Mesias (bdk. 1Tes. 2:14b-16). Ketiga, mereka memiliki sebuah keinginan untuk memegahkan diri ketika memaksakan sunat jemaat kristiani bukan Yahudi di Galatia (ay. 13c). Di sini Paulus menuduh bahwa motif utama mereka ketika memaksakan sunat kepada orang bukan Yahudi bukan untuk menjaga pelaksanaan hukum Taurat, tetapi hanya untuk mendapatkan kebanggaan bagi mereka sendiri sebagai misionaris yang berhasil. Motivasi sesungguhnya dari aktivitas mereka memaksakan sunat kepada orang kristiani bukan Yahudi di Galatia adalah untuk mendapatkan kebanggaan, kemuliaan, atau kemegahan diri sendiri (Yun. kaukhaomai). 

Bermegah dalam Salib Kristus dan tatanan dunia baru (ay. 14-15) 
Paulus secara dramatis mempertentangkan kebanggaan, kemegahan, dan kegembiraan para lawannya yang dianggapnya tidak sehat dengan kebanggaan, kemegahan, dan kegembiraan yang 

3. J. Louis Martyn, Galatians: A New Translation with Introduction and Commentary (New York: The Anchor Bible, Doubleday, 1997), 560. 
dipandangnya sehat dan benar. Pertentangan ini terungkap jelas dalam pernyataan berikut: “Tetapi aku sekali-kali tidak mau bermegah, selain dalam salib Tuhan kita Yesus Kristus, sebab olehnya dunia telah disalibkan bagiku dan aku bagi dunia. Sebab bersunat atau tidak bersunat tidak ada artinya, tetapi menjadi ciptaan baru, itulah yang ada artinya” (ay. 14-15). 
Dalam dua perikop yang bersifat otobiografis di tempat lain dalam surat-suratnya, Paulus menyebutkan sejumlah hal dalam hidupnya yang dapat menjadi alasan bagi dirinya untuk berbangga jika dipandang dari perspektif manusia semata. Pertama, dalam 2 Kor. 11:21b-29 ia berupaya untuk memperlihatkan kesian-siaan dari kebanggaan para pewarta lain, rasul-rasul palsu, pekerja-pekerja curang yang menyamar sebagai rasul-rasul Kristus dan yang menyesatkan jemaat dari kesetiaan yang sejati kepada Kristus dengan menampilkan daftar prestasinya sendiri yang jauh lebih unggul dari mereka. Daftar prestasinya itu ditampilkan dengan maksud untuk mempermalukan mereka. Namun, ia kemudian mengakhiri daftarnya dengan pernyataan, “Jika aku harus bermegah, maka aku akan bermegah atas kelemahanku” (2Kor. 11:30). Kedua, dalam Flp. 3:4-6 ia berupaya untuk melawan orang-orang Yahudi yang membanggakan keyahudian mereka dengan menyebutkan asal-usul atau silsilah keyahudiannya. Namun, ia kemudian mengakhirinya dengan pernyataan mengenai keiginannya yang jauh lebih besar, yakni mengenal Kristus dan mengalami-Nya dalam hidupnya yang dianggapnya lebih mulia dari semuanya (Flp. 3:7-14). Mengenal Kristus dan mengalami-Nya dalam hidup telah mengubahnya secara radikal dalam menilai sesuatu. “Sebab itu, kami tidak lagi menilai seorang pun juga menurut ukuran manusia. Jika kami pernah menilai Kristus menurut ukuran manusia, sekarang kami tidak lagi menilai-Nya demikian” (2 Kor. 5:16). Dari kedua perikop ini kita bisa mengetahui apa yang dibanggakannya. Sebagai seorang kristiani, ia tidak mau berbangga atau bermegah dalam hal-hal fisik, jasmaniah, lahiriah seperti prestasi manusiawi dan keberhasilan dalam perlayanan. Ia hanya mau berbangga dan bermegah dalam hal-hal yang berkaitan dengan salib Kristus. Dasar kebanggan dan kemegahannya tidak terletak pada prestasinya sendiri, tetapi pada sebuah peristiwa yang terpisah dari dirinya, yakni Kristus yang tersalib (Gal. 3:1). Ia tidak membanggakan dirinya. Ia dengan penuh percaya diri membanggakan Tuhan yang tersalib (1Kor. 1:31). 
Mengapa Paulus hanya mau bermegah dan berbangga dalam salib Kristus? Ada dua alasan yang dikemukan. Pertama, “olehnya dunia telah disalibkan bagiku dan aku bagi dunia” (ay. 14b). Dengan alasan ini Paulus mewartakan salib sebagai fondasi dari keyakinannya karena salib – bukan hukum Taurat – diyakini sebagai peristiwa yang menentukan bagi seluruh alam semesta dan yang mempengaruhi segala sesuatu setelahnya. Menempatkan persoalan ini dalam sebuah kesaksian personalnya, Paulus berbicara tentang peristiwa yang menentukan ini dengan mengatakan bahwa melalui salib ia sendiri menderita kehilangan kosmos dan melihat kelahiran kosmos yang lain, yakni ciptaan baru. Selain itu, salib Kristus telah membawa penyaliban dirinya bagi dunia. Maka, ia menggunakan gambaran salib untuk menenkan pemisahan yang mematikan dari identitas dan hal-hal yang membanggakannya sebelumnya. Melalui peristiwa salib, Paulus tidak lagi dikenal oleh yang lain atas dasar tempatnya dalam dunia lama hukum Taurat (Gal. 1:12-16). Ia menjadi semakin aneh bagi para sahabatnya yang lama dan bagi semua orang yang hidup dalam dunia hukum Taurat sehingga dunia mereka sama seperti dunia mereka menjadi sesuatu yang asing baginya (bdk. 1Kot. 4:8-13). 
Kedua, “bersunat atau tidak bersunat tidak ada artinya, tetapi menjadi ciptaan baru, itulah yang ada artinya” (ay. 15). Dengan kematian Kristus, sekat dan jurang antara orang Yahudi dan Yunani, budak dan orang merdeka, laki-laki dan perempuan disalibkan sehingga muncullah ciptaan baru. Dalam pandangan Paulus, ciptaan dan dunia baru itu hanya mungkin terjadi dalam Kristus. Tatanan dunia baru tidak dapat dimengerti secara terpisah dari Kristus (bdk. 2 Kor. 5:7). Dalam konteks jemaat Galatia, ciptaan baru itu mengandung arti bahwa keselamatan tidak dicapai karena pelaksanaan hukum Taurat, tetapi karena Kristus yang disalibkan dan dibangkitkan oleh Allah dan bahwa perbedaan karena sunat dan tidak sunat tidak lagi diperhitungkan dalam tatanan dunia ciptaan baru. Dalam tatanan dunia ciptaan baru tidak ada orang Yahudi atau orang Yunani, tidak ada hamba atau orang merdeka, tidak ada laki-laki atau perempuan, karena kamu semua adalah satu di dalam Kristus Yesus (Gal 3:28). 

Berkat dan permohonan Paulus (ay. 16-18) 
Paulus memberi berkat bagi “semua orang yang memberi dirinya dipimpin oleh patokan ini.” Dalam Gal. 5:25 Paulus menggunakan kata kerja “memberi diri dipimpin oleh patokan atau mengikuti bimbingan dari” (Yun. Stoikhomen) untuk menasihati jemaat Galatia supaya secara konsisten menjalankan hidup harian mereka sesuai dengan bimbingan Roh yang telah ditempatkan oleh Allah dalam hati mereka. Paulus kini menggunakan kata kerja yang sama, tetapi dalam bentuk future tense (Yun. Stoikhesousin). Orang-orang yang memberi diri mereka dipimpin oleh tatanan dunia baru dimohonkannya damai sejahtera dan rahmat dari Allah. Permohonan untuk mendapatkan damai sejahtera dan rahmat dari Allah diikuti dengan sebuah permohonan yang terakhir bagi jemaat Galatia. Dalam beberapa hal, Paulus secara terbuka mengungkapkan kemarahannya terhadap para pengajar palsu dan jemaat Galatia yang mudah percaya kepada ajaran pengajar palsu (1:6; 3:1; 4:19; 5:12). Ia kini mendesak para pengajar palsu dan jemaat Galatia untuk tidak menyusahkannya karena pada tubuhnya ada tanda-tanda milik Yesus. Istilah tanda-tanda (Yun. stigmata) terkait erat dengan bekas luka yang telah diterimanya dari orang-orang yang menganiayanya karena mewartakan injil tentang Yesus yang tersalib (Gal. 5:11; 1Kor. 4:11; 2Kor. 6:4-5; 11:23-27; bdk. Kis. 16:22024).[4] Bekas luka karena dilempari batu oleh orang-orang bukan Yahudi dan karena dicambuk oleh orang Yahudi (2Kor. 11:26-27) dilihatnya sebagai tanda bahwa ia membawa di dalam tubuhnya luka-luka Kristus yang tersalib.Maka, bekas luka dalam tubuhnya dapat dilihat sebagai sebuah tempat di mana orang menemukan sebuah tanda dari tindakan penebus dalam dunia sekarang ini. 
Pernyataan Paulus bahwa pada tubuhnya ada tanda-tanda milik Yesus itu tidak dimaksudkan untuk mengundang rasa belas kasihan para lawannya dan jemaat Galatia. Sebaliknya, pernyataan itu menyoroti relasinya dengan Yesus dan status kerasulannya berasal dari Yesus. Pernyataan itu juga dimaksudkannya untuk memberikan sebuah peringatan bagi orang-orang Yahudi yang memaksakan sunat bagi jemaatnya sebab apa yang terjadi pada jemaatnya mempengaruhinya secara pribadi sebagai rasul dan pewarta di Galatia. Maka, ia mengingatkan bahwa mereka untuk tidak terus menerus menyusahkannya karena ia milik Kristus dan berada dalam perlindungan-Nya. Orang-orang yang terus menerus mengusiknya akan dihakimi dan dibalas oleh Kristus sendiri. 
Permohonan untuk tidak terus mengusiknya disusulkan dengan berkat penutup. Berkat ini tidak hanya ditujukan kepada jemaat Galatia, tetapi juga bagi kita semua yang membaca suratnya. 

4. Dalam dunia kuno, istilah tanda-tanda (Yun. ta stigmata) umum dipakai untuk mengacu kepada tato religius atau cap bagi budak. Dalam arus pemahaman inilah beberapa orang beranggapan bahwa jemaat kristiani perdana pada umumnya dan Paulus khususnya memakai tanda berupa tato atau cap religius untuk menunjukkan bahwa mereka adalah orang-orang kristiani. Mereka mungkin memakai tanda huruf Yunani X untuk menunjuk kepada Kristus (Yun. Khristos). Namun, apa yang ada dalam pikiran Paulus ketika menggunakan istilah stigmata adalalah bekas luka dan noda-noda yang ada pada tubuhnya karena dampak dari penderitaannya sebagai seorang rasul (bdk. 2Kor. 6:4-6; 11:23-30); Gal. 4:13-14).

Anugerah Tuhan kita Yesus Kristus menyertai roh kamu, Saudara-saudara! Ami” (ay. 18). Berkat penutup ini mengikuti pola yang umumnya tampil dalam surat-surat yang lain (1Kor 16:23; Flp 4:23; 1Tes 5:28; 2Tes 3:18; Flm 25; bdk Ef 6:24; Kol 4:18). Hanya yang berbeda dalam surat Galatia adalah tambahan sapaan “saudara-saudara” (Yun. adelphoi) yang menyoroti perasaan kasih sayangnya bagi jemaat Galatia yang baru saja bertobat bahkan di tengah-tengah nada suratnya yang keras dan tegas dan tambahan kata amin yang tidak pernah muncul dalam rumusan berkat penutup dalam surat-suratnya yang lain. Dengan kata amin, Paulus berharap bahwa ketika mendengarkan suratnya dibacakan secara lantang dalam liturgi gereja, jemaat Galatia akan sama-sama berseru amin yang artinya setuju pada apa yang telah dikatakannya dalam suratnya.

Amanat 
Kita semua tentu saja memiliki banyak alasan untuk bisa berbangga dengan diri dan dengan apa yang telah kita lakukan. Jika kita sungguh-sungguh melihat diri pasti ada sesuatu yang masih bisa dibanggakan dan masih ada orang yang bangga pada diri kita dengan segala keterbatasan yang ada selama kita melakukan hal-hal yang baik. Tidak peduli apakah kita lemah, tidak pandai, tidak cantik atau ganteng, tidak kaya, dan bahkan cacat, kita semua pasti ada sesuatu yang masih bisa dibanggakan. Namun, alasan-alasan untuk berbangga itu tidak dimaksudkan untuk menyombongkan diri, tetapi untuk membesarkan hati, menguatkan diri, mensyukuri karunia Allah. Alasan untuk berbangga semacam ini dapat dilihat sebagai suatu bentuk ungkapan lain dari rasa terima kasih dan syukur atas anugerah Allah. 

Dalam bacaan hari kita menemukan satu-satunya alasan bagi Paulus untuk berbangga. Ia bermegah atau berbangga hanya dalam salib Tuhan kita Yesus Kristus. “Tetapi aku sekali-kali tidak mau bermegah, selain dalam salib Tuhan kita Yesus Kristus” (Gal. 6:14). Bagi Paulus, satu-satunya alasan yang sah bagi seorang kristiani untuk berbangga atau bermegah diri adalah “dalam Tuhan”; “di dalam Yesus Kristus.” Ia tidak mempunyai alasan untuk berbangga dengan apa yang telah diperbuat atau dicapainya sebab ia dibenarkan dan diselamatkan karena rahmat melalui penebusan yang dilakukan oleh Yesus Kristus. Maka, apa yang telah dicapai atau dilakukan oleh manusia tidak lagi dapat menjadi alasan bermegah. “Jika demikian, apa dasarnya untuk bermegah? Tidak ada! Berdasarkan azas apa? Berdasarkan azas perbuatankah? Bukan, melainkan berdasarkan azas iman! Karena kami yakin bahwa manusia dibenarkan karena iman, bukan karena melakukan hukum Taurat” (Rm. 3:27-28). “Sebab karena anugerah kamu diselamatkan oleh iman; itu bukan hasil usahamu, tetapi pemberian Allah, itu bukan hasil pekerjaanmu, supaya tidak ada orang yang memegahkan diri” (Ef. 2:8-9). 

*Pertanyaan Pendalaman* 
1. Siapa yang menyebabkan munculnya krisis di sejumlah komunitas kristiani di Galatia Selatan? 

2. Bagaimana Paulus menanggapinya? 

3. Mengapa Paulus hanya mau bermegah dalam salib Tuhan kita Yesus Kristus? 

4. “Tanda-tanda milik Yesus” yang mana yang ada pada diri Paulus? 

5. Bagaimana kita dapat meneladani Paulus yang “bermegah dalam salib Tuhan kita Yesus Kristus?”  

Tidak ada komentar: