Tampilkan postingan dengan label Senandung Mazmur. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Senandung Mazmur. Tampilkan semua postingan

Senin, Mei 30, 2011

Mazmur 46

DAN BUMI PUN HANCUR
Jarot Hadianto

“Bangsa-bangsa ribut, kerajaan-kerajaan guncang,
Ia memperdengarkan suara-Nya, dan bumi pun hancur” (Mzm. 46:7)

Malam itu cuaca buruk sekali. Hujan turun dengan lebatnya, disertai guntur dan angin topan yang menderu seakan bersatu-padu menerjang bumi. Dari balik jendela, aku menyaksikan pemandangan itu dengan rasa ngeri. Sebenarnya tak banyak yang bisa kulihat di luar sana. Suasana terlalu gelap. Di kejauhan hanya tampak bayangan pepohonan yang hitam pekat. Daun dan ranting pohon-pohon itu bergoyang ke sana-kemari disapu badai. Merinding bulu kudukku melihatnya. Cepat-cepat aku menutup tirai jendela, dan mengalihkan pandangan ke layar kaca. Saluran kesayangan saat itu sedang menyiarkan warta berita, dan perhatianku tiba-tiba tersita pada sebuah berita yang sangat mengejutkan.

Saat hujan lebat, matikan televisi. Jangan sampai petir menyambarnya, hingga kita terpaksa membeli yang baru. Pada waktu itu, nasihat tersebut sama sekali terhapus dari ingatanku. Gara-gara berita yang mengagetkan tersebut, biar hujan turun laksana dituang dari langit, kotak ajaib itu kubiarkan terus menyala. Volumenya bahkan kuputar ke posisi maksimum, agar aku bisa mendengar isi berita dengan jelas, tanpa terganggu bunyi air hujan membentur atap. Berita ini terlalu penting untuk dilewatkan! Mataku kubuka lebar-lebar, demikian pula telinga dan mulutku. Kata demi kata dari sang penyiar kutelaah dengan saksama dan kuresapkan ke dalam hati. Setelah itu, aku termangu beberapa saat. “Ya Tuhan, minggu depan dunia akan kiamat!”

Gunung-gunung guncang di dalam laut

Berita tadi memang mewartakan datangnya kiamat. Tersebutlah seorang penginjil berusia lanjut dari negara paling maju sedunia. Dengan gagah berani, beliau memastikan kapan hari akhir itu akan tiba. Menurutnya, perhitungan yang dibuatnya tidak mungkin salah, sebab memadukan kesaksian Alkitab dan ilmu matematika yang dikuasainya dengan baik. Wah, mantap nian beliau ini. Aku sungguh terpesona mendengarnya.

Sang penginjil menegaskan, titik tolak datangnya kiamat adalah banjir besar yang terjadi pada zaman Nabi Nuh. “Banjir bandang itu meluluhlantakkan bumi tahun 4990 SM!” katanya dengan yakin. 7 hari sebelum air bah datang, Tuhan sudah memberitahukannya kepada Nuh, sehingga sang nabi sempat membuat bahtera raksasa dan menangkapi gajah, singa, semut, serta aneka macam binatang lainnya untuk diselamatkan. Setelah banjir berlalu, manusia memasuki masa penantian datangnya hari akhir, yang akan terjadi 7 hari setelah banjir besar itu. Tapi ingat, 7 hari artinya 7.000 tahun. Mengapa demikian? Sebab ada tertulis, 1 hari bagi Tuhan sama dengan 1.000 tahun bagi manusia. Seingatku, nas tersebut memang ada di kitab Mazmur dan Surat Petrus yang Kedua. Persisnya di mana, sayang aku lupa.

Sang penginjil kemudian menunjukkan bahwa dirinya memang pakar di bidang matematika. Ditambahkannya angka 7.000 itu pada tahun 4990 SM. Setelah diotak-atik dengan cermat, sambil memperhatikan peralihan antara tahun Sebelum Masehi (SM) dan Masehi (M), serta beberapa faktor lain, maka ini dia kabar yang dinanti-nanti banyak orang: kiamat akan datang tahun ini juga, tahun 2011, tepatnya minggu depan!

Jantungku berdebar-debar mendengar informasi yang dahsyat ini, antara gembira dan takut. Gembira, karena dengan begitu aku akan menjadi saksi mata kehadiran Tuhan di dunia. Takut, sebab sejauh aku baca, kiamat selalu digambarkan sebagai peristiwa yang mengerikan, layaknya perang dan bencana yang mengakibatkan kehancuran di mana-mana. Dalam hal ini, sang penginjil mengonfirmasi gambaran-gambaran tersebut. Sambil menggeleng-gelengkan kepala tanda prihatin, ia menubuatkan terjadinya gempa besar minggu depan. Gempa itu menjadi tanda bahwa proses kiamat sudah dimulai. “Pada saat itu,” katanya dengan lirih, “kubur-kubur akan terbuka, orang-orang beriman akan diangkat ke surga. Celakalah bagi orang yang tak beriman. Mereka akan ditinggalkan di bumi dan akan mengalami penderitaan yang hebat!”

Bangsa-bangsa ribut, kerajaan-kerajaan guncang

Sebagai pencinta hari kiamat, kabar ini sudah kunanti-nantikan sejak lama. Saatnya telah tiba. Tuhan akan segera datang, hari kiamat sudah di depan mata! Sebenarnya aku tidak terlalu heran mendengar hal itu, sebab tanda-tanda kedatangan hari Tuhan sudah lama aku rasakan. Lihatlah, bangsa yang satu bermusuhan dengan bangsa yang lain, di mana-mana terjadi perang yang tak berkesudahan. Lihatlah, ratusan ribu nyawa melayang gara-gara bumi berguncang, gunung meletus, dan air laut yang naik menutupi daratan. Jangan lupa pula, baru-baru ini kita diserang gerombolan ulat bulu! Tidakkah itu mengingatkan kita pada wabah katak dan belalang pada zaman Nabi Musa dulu? Bertobatlah, wahai manusia! Bertobatlah!

Bumi semakin tua. Manusia yang tinggal di atasnya semakin rakus dan semakin berdosa. Kejahatan merajalela di dunia ini, kebenaran dan keadilan tak ada artinya lagi. Yang kuat menindas yang lemah, yang kaya menertawakan yang miskin. Frustrasi aku memikirkan itu semua, termasuk memikirkan hidupku sendiri. Bagiku, hidup terasa begitu melelahkan! Kenapa aku tak kunjung kaya raya? Kenapa hidupku tak kunjung sejahtera? Padahal aku sudah kerja keras, banting tulang siang dan malam! Tidak salah lagi, kiamat adalah solusi atas semua masalah yang terjadi di dunia ini, termasuk masalah ekonomi yang membelit diriku.

Hanya, aku tidak menyangka kiamat akan datang secepat ini. Menurut literatur yang rajin kubaca, sejumlah peristiwa mestinya terjadi terlebih dahulu. Peristiwa-peristiwa itu menjadi semacam tanda bahwa kiamat sudah dekat. Hal ini jelas dinyatakan oleh kitab Daniel, kitab favoritku. Menurut Daniel, akhir zaman akan diawali dengan perang besar antara Kerajaan Selatan dan Kerajaan Utara. Perseteruan dua kerajaan ini akan menimbulkan “kesesakan besar”, yang berpuncak pada kedatangan Malaikat Mikhael ke bumi. Itulah tanda bahwa akhir zaman telah tiba. Kitab Wahyu lebih hebat lagi. Menurut kitab ini, kiamat akan diawali dengan munculnya naga berkepala tujuh dari dalam samudra.

Nah, perang besar belum terjadi, kemunculan naga berkepala tujuh juga belum diberitakan di koran-koran. Jadi, kiamat harusnya masih lama dong. Karena itu, selama ini aku bersikap tenang-tenang saja.

Pergilah, pandanglah pekerjaan Tuhan

Celaka, aku ternyata salah memahami Alkitab. Harap maklum, pemahamanku akan Kitab Suci memang masing dangkal. Aku rajin membacanya, tapi sering tidak mengerti artinya. Syukurlah, perihal kedatangan akhir zaman, bapak penginjil itu hadir memberiku pencerahan. Memang sekilas wajahnya tidak meyakinkan. Tapi bukankah ada pepatah don’t judge a book by it’s cover? Kudapati bahwa semua koran mengulas tentang dia, saluran-saluran televisi heboh membicarakan ramalannya, dan pengikutnya juga ternyata lumayan banyak. Penuh semangat mereka berkeliling mewartakan datangnya kiamat, dengan harapan masyarakat segera bertobat dan memperbaiki kelakuannya yang bejat. Hmmm … setelah kurenung-renungkan, agaknya ramalan ini serius dan bisa dipercaya.

Yang aku kecewa, aku baru mendengarnya seminggu sebelum hari H. Wah, waktunya mepet sekali! Aku belum siap, belum memperbaiki diri. Penginjil itu mengatakan bahwa dari seluruh penduduk bumi, yang akan diangkat ke surga hanya 200 juta orang. Gawat. Apakah aku termasuk di antara orang-orang yang berbahagia itu? Segera aku menutup mata, memasuki relung-relung hatiku yang terdalam, untuk melihat kembali tingkah lakuku selama ini. Yang aku temukan langsung membuatku gelisah. Bukan hanya banyak utang, aku ini ternyata juga banyak dosa! “Ya Tuhan, terimalah aku di dalam surga. Jangan sampai aku nyasar ke neraka!” demikian aku menjerit dalam hati.

Waktu yang singkat segera saja aku manfaatkan dengan sebaik-baiknya. Pertama-tama aku putuskan, seminggu ini aku harus ikut misa tiap hari. Sebelumnya, karena malas, aku hanya misa sebulan sekali, persis seperti orang gajian. Tapi sekarang Tuhan sudah dekat, aku harus berubah! Aku bahkan mencari-cari pastor untuk mengaku dosa, yang seingatku terakhir kulakukan satu dekade yang lalu. Pastor itu sampai terheran-heran melihat “anak yang hilang” ini telah kembali. Tapi ia agak kesal karena harus mendengarkan daftar dosaku yang panjang lebar. Maklum, dosa-dosa ini sudah kutabung sepuluh tahun lamanya! Agar peluang masuk surga makin besar, tidak lupa aku bersedekah kepada orang miskin. Celengan ayam di pojok kamar telah aku pecahkan. Isinya berupa koin-koin, semuanya habis aku bagikan kepada para pengemis di terminal. Pokoknya, aku berjuang habis-habisan agar terhindar dari panasnya api neraka!

Tuhan semesta alam menyertai kita

Sabtu malam, H-1. Besok, hari Minggu jam 6 pagi, kiamat akan datang. Selamat datang Tuhan, selamat datang kembali ke bumi. Kulihat orang-orang yang ada di sekitarku, dan aku pun menjadi sedih. Mereka malah mengisi malam Minggu ini dengan berhura-hura di mall dan tempat-tempat hiburan. Tidakkah mereka sadar, malam ini adalah malam terakhir dalam sejarah manusia? Besok bumi akan hancur! Tidakkah akan lebih baik kalau mereka mengisi saat-saat yang krusial ini dengan doa dan keheningan, seperti yang aku lakukan? Ah, dasar orang-orang bodoh. Tunggu saja, kalian nanti akan menyesal!

Menyambut kedatangan Tuhan, aku bertekad untuk berdoa sepanjang malam sampai besok aku bertatapan muka secara langsung dengan-Nya. Tapi apa daya, aku malah ketiduran, hingga sinar mentari pagi membangunkanku keesokan harinya. Astaga, jam berapa sekarang ini? Jam 8! Wah gawat, aku ketinggalan. Kiamat sudah terjadi dua jam yang lalu!

Cepat-cepat aku keluar rumah untuk melihat apa yang terjadi. Hari begitu cerah, burung-burung riuh berkicau di pepohonan, sementara rumah-rumah masih berdiri tegak dan orang-orang tampak berlalu-lalang di kejauhan sana. Aku melongo, tak bisa menerima kenyataan ini. Kutepuk keningku tanda kecewa, “Ya Tuhan, bagaimana ini! Kenapa kiamatnya tidak jadi?”***

Bacaan Pendukung
Barth, Marie Claire, dan B.A. Pareira. Tafsir Alkitab: Kitab Mazmur 1-72. Jakarta: BPK Gunung Mulia, 1999.
Mays, James L. Psalms. Louisville: John Knox Press, 1994.


Jumat, April 29, 2011

ALANGKAH BAIK DAN INDAHNYA…
Jarot Hadianto

“Sungguh, alangkah baiknya dan indahnya,
apabila saudara-saudara diam bersama dengan rukun!”
(Mzm. 133:1)

Dengan tergesa-gesa, aku membuka lemari pakaian. Baju, celana – dan apapun yang terjangkau oleh tanganku – kuraih dan kumasukkan begitu saja ke dalam ransel. Semuanya berjejal-jejalan di situ. Setelah itu, buru-buru aku meninggalkan rumah, mencari angkutan umum, dan tiba di terminal setengah jam kemudian. Tanpa pikir panjang, segera saja aku memasuki sebuah bus yang akan membawaku kembali ke kampung halaman. Bus itu masih agak kosong. Jadi, aku duduk saja di dalamnya, berharap penumpang lain segera datang, agar kendaraan besar ini segera berangkat. Sambil menyabar-nyabarkan diri, sedikit-sedikit aku melirik jam yang terikat di tanganku. Kalau hati sedang gelisah, segala sesuatu memang jadi terasa lama!

Setelah serasa bertahun-tahun menunggu, ditemani lagu-lagu dari seorang pengamen bersuara sumbang, tampak tuan sopir memasuki bus dan menempati posisinya. Hatiku mulai lega, apalagi tak lama kemudian mesin kendaraan dihidupkan dan bus ini mulai beranjak meninggalkan terminal. Ah, perjalanan panjang rupanya sudah dimulai.

Diam bersama dengan rukun

“Segera pulang. Adik sakit keras. Masuk ICU.” Pesan singkat itulah yang tadi membuatku kaget dan jadi serba terburu-buru. Kenapa dengan adikku? Apa yang terjadi pada dirinya? Kata ICU sungguh membuatku ngeri. Itu kan tempat untuk orang yang sakitnya sudah parah. Dalam bayanganku, siapa pun yang masuk ke situ, itu artinya ia sudah dekat ke alam baka. Memangnya adikku sakit apa? Aku telah mencoba menelepon ke rumah untuk meminta penjelasan. Sayang, yang kudengar hanya suara orang menangis dan keterangan yang tidak jelas. Jatuh? Kecelakaan? Bocor? Darah di mana-mana? Entahlah. Suasana rumah tampaknya kacau. Jadi aku pun tidak bertanya lebih lanjut, selain menenangkan ayah-ibu yang aku telepon, sambil menjanjikan bahwa aku segera datang.

Namun, karena tinggal di tempat yang jauh, yang dimaksud “segera datang” paling cepat ya dua belas jam lagi. Bayangkan, aku harus menanggung kegelisahan dalam waktu yang demikian lama! Aku sungguh tak bisa tenang. Sebentar-sebentar aku mengubah posisi dudukku, kadang ke kanan, kadang ke kiri. Tapi sama saja, semuanya terasa tak nyaman. Lalu, kenapa pula bus ini jalannya terasa begitu lamban? Apa tidak bisa dipercepat sedikit, Pak Sopir? Seratus kilometer per jam mungkin? Aku jadi gusar. Sopir itu harus tahu bahwa aku mesti cepat-cepat sampai ke rumah! Situasi sedang gawat!

Tiba-tiba aku ingat, bulan ini adalah bulan yang dipersembahkan kepada Bunda yang Suci. Teringat akan kemurahan hatinya, aku pun menyapa dia, memohon penghiburan, “Salam Maria, penuh rahmat, Tuhan sertamu. Terpujilah engkau di antara wanita dan terpujilah buah tubuhmu Yesus. Santa Maria, Bunda Allah, doakanlah kami yang berdosa ini, sekarang dan waktu kami mati. Amin.” Kudoakan doa itu tiga kali dalam hati, dan perlahan-lahan aku pun merasa tenang. Tiga kali Salam Maria tadi kupanjatkan dengan intensi untuk kesembuhan adikku, adik yang sebenarnya tidak terlalu aku sayangi.

Seperti minyak yang baik di atas kepala, seperti embun Gunung Hermon

Yah … bagaimana aku bisa menyayangi dia, dia ini boleh dibilang berandal, biang dari segala macam kekacauan. Tidak ada prestasinya, kecuali dalam hal membuat masalah dan menyusahkan orangtua. Ketika masih tinggal di rumah bersamanya, yang aku lakukan dengannya dari hari ke hari hanyalah bertengkar dan bersilang pendapat. Ayah-ibu pasti pusing melihat dua anaknya ini bertingkah layaknya kucing dan anjing.

Sebagai saudara tua, aku berharap dia mau berubah dan menjadi anak yang baik. Sayang, nasihatku bagaikan angin lalu baginya, dan ia malah memintaku untuk mengurusi diriku sendiri. Kesal benar aku mendengarnya. “Oke! Seumur-umur, aku tak akan pernah peduli lagi denganmu!” demikian aku bersumpah dalam hati.

Teringat akan hal itu, aku tersenyum pahit. Sekarang aku harus pulang untuk mengurusi dia lagi. Ah, dasar anak nakal! Apa yang kaubuat kali ini? Menyusahkan saja! Sebenarnya aku tidak terlalu heran kalau suatu ketika anak itu mengalami hal yang aneh-aneh. Itu sepadan dengan tingkah lakunya yang sering di luar kendali. Aku teringat akan sejumlah kegilaan yang ia lakukan di masa lalu. Dalam benakku yang senantiasa terstruktur rapi, kegilaan-kegilaan itu dapat dikelompokkan dalam tiga jenis.

Yang pertama adalah “prestasi akademis yang rendah”. Adikku yang tercinta ini malasnya bukan main. Sementara aku belajar, ia malah sibuk main game. Hari-hari sekolah ia isi dengan nongkrong di kantin dan di tempat parkir, seolah-olah di situlah ia belajar menuntut ilmu, bukan di kelas. Hasilnya tentu saja bisa ditebak. Nilai-nilai ujiannya jeblok dan buku rapornya pun kebakaran, penuh angka merah.

Yang kedua adalah “tindakan-tindakan brutal nan emosional”. Mungkin adikku ini punya cita-cita jadi petinju, karena dalam hal menonjok orang, kemampuannya sungguh luar biasa. Di kampung, ia disanjung sebagai jagoan. Di mana ada tawuran, di situ ia ada. Melengkapi kegemaran tersebut, ia suka kebut-kebutan dan mengisi malam dengan minum minuman keras. Ck, ck, ck, ck … melihat ia mabuk, aku sungguh merasa berhadapan dengan orang gila.

Yang ketiga adalah “tuntutan biaya hidup yang tinggi”. Dari mana ia bisa membiayai kesenangan-kesenangan itu? Tentu saja dari uang ayah dan ibu. Aku sungguh marah melihat kerja keras orangtuaku lenyap sia-sia di tangannya. Pernah aku hampir berkelahi dengannya gara-gara ia meminta uang kepada ibu dengan setengah memaksa. Itulah titik kritis hubungan persaudaraan di antara kami. Sejak saat itu, ia mulai hati-hati kalau aku ada di dekatnya, dan kami pun jarang bertegur sapa lagi. Maka tidak mengherankan, ketika tiga tahun lalu harus meninggalkan rumah karena mendapat pekerjaan di tempat yang jauh, aku sangat gembira, sampai bersorak-sorak kegirangan!

Aahhh … aku menghela nafas panjang sambil melihat ke arah jendela. Bus tengah melaju di sepanjang jalur pantai utara. Hari sudah gelap, rumah-rumah di pinggir jalan hanya tampak remang-remang. Bagaimana keadaan ayah-ibu sekarang ini? Mereka pasti sedang susah dan bingung. Memang adikku itu menyebalkan dan menyusahkan, tapi bagaimanapun juga dia itu anak mereka. Tiga kali Salam Maria kembali kupanjatkan, kali ini dengan intensi semoga ayah-ibu selalu sabar, tenang, dan baik-baik saja.

Ke sanalah Tuhan memerintahkan berkat…

Menjelang tengah malam, sejenak aku bisa tertidur, tapi sayangnya tidak lama. Bapak sopir ini mungkin baru kemarin mendapat SIM. Cara mengemudinya sama sekali tidak halus, hingga bus berjalan terguncang-guncang tak keruan. Sesekali kendaraan ini bahkan mengerem mendadak akibat nyaris bersenggolan dengan bus tetangga. Sejumlah penumpang mengomel-ngomel, mereka sangat jengkel dan ketakutan. Aku mungkin merasakan hal yang sama, tapi pikiranku dipenuhi oleh masalahku sendiri.

Kembali aku teringat pada adikku. Bagaimanakah keadaannya sekarang. Benarkah kondisinya benar-benar gawat? Masih bertahankah dia? Dulu ia memang sering membuatku jengkel dengan tingkah lakunya yang menyebalkan itu. Lebih parah lagi, beberapa kali aku ditegur ayah dan ibu gara-gara dia. Mereka berkata, aku seharusnya bisa menjaga adikku dan mengarahkan dia ke jalan yang benar. Hah! Saat itu aku merasa dunia seakan terbalik-balik. Yang salah dia, kenapa yang dimarahi aku? Yah … dia memang mengesalkan. Tapi itu kan dulu. Dan, bagaimanapun juga dia itu adikku. Kodrat ini tak mungkin akan berubah.

Maka, pada saat yang genting ini, tak ada bisa kulakukan selain kembali ada di sisinya dan kembali menjadi saudara baginya. Aku tentu berharap ia sudah berubah. Tahun-tahun berlalu ketika aku jauh darinya semoga membuat ia makin dewasa, tahu membedakan mana yang baik, mana yang buruk. Tapi mungkin bukan itu yang penting saat ini. Yang penting saat ini adalah bagaimana ia bisa sembuh, keluar dari masa-masa kritis dan pulih seperti sedia kala. “Tuhan, dia itu saudaraku. Aku mungkin tak terlalu menyayangi dia, tapi aku pasti tidak pernah sungguh membenci dan memusuhi dia. Buatlah dia bertahan, Tuhan. Beri dia masa depan yang panjang.” Tiga kali Salam Maria kembali kupanjatkan, tapi kali ini untuk diriku sendiri. Semoga semangat kasih persaudaraan kembali berkobar dalam diriku.

… Dan kehidupan untuk selama-lamanya

Pagi-pagi buta, tepat jam empat, bus yang kutumpangi sampai ke kota tujuan. Aku bergegas turun, lalu berjalan cepat-cepat menuju rumah sakit yang letaknya tidak jauh dari terminal. Masuk rumah sakit ketika hari masih gelap sungguh tidak menyenangkan. Jantungku berdebar-debar dibuatnya.

Mendekati ruang ICU, dari kejauhan aku melihat ayah, ibu, dan sejumlah saudaraku ada situ. Mereka terpuruk di lantai beralaskan koran, berpelukan satu sama lain, dan menangis terisak-isak. Hatiku makin tak keruan menebak-nebak apa gerangan yang terjadi. Dengan bergegas aku mendatangi mereka. Nafasku memburu, batinku sungguh tidak merasa tenang. Sambil berjalan mendekat, aku masih sempat mendoakan kembali tiga kali Salam Maria. Kali ini aku memohon yang terbaik untuk kami semua…***

Bacaan pendukung
Harun, Martin. Berdoa Bersama Umat Tuhan. Yogyakarta: Kanisius, 1998.




Kamis, Maret 31, 2011

Mazmur 52

POHON ZAITUN DI RUMAH ALLAH
Jarot Hadianto

“Tetapi aku ini seperti pohon zaitun yang menghijau di dalam rumah Allah;
aku percaya akan kasih setia Allah untuk seterusnya dan selamanya.”
(Mzm. 52:10)

Pagi tadi, ketika hari masih diliputi kegelapan, ketika matahari pagi belum mau menampakkan sinarnya, sebuah tanda dioleskan di keningku. Tanda itu dari abu, berbentuk salib kecil. Aku menerimanya dengan sikap takzim, lagi hormat, diiringi senandung merdu dari kelompok paduan suara yang menyanyikan lagu Hanya Debulah Aku. Tidak salah lagi, ini memang hari Rabu Abu, hari yang istimewa, sebab menjadi tanda dimulainya retret agung Masa Prapaskah.


Sesaat setelah menerima abu, tiba-tiba aku merasa ada perubahan pada diriku. Ketika berjalan kembali ke tempat duduk, aku merasa badanku menjadi sangat ringan. Semilir angin pagi menerpa wajahku, seluruh tubuhku seakan diselimuti oleh kesejukan. Jiwaku melayang tinggi ke atas awan, surga seolah-olah sudah ada di depan mata. Seluruh dosaku seolah terangkat dan dibuang jauh-jauh, aku merasa diri laksana kertas putih yang bersih tanpa noda. Tuhan terasa begitu dekat! Benarkah demikian?


Ah, itu pasti hanya perasaanku saja. Abu di kepala tidak serta merta membuatku jadi orang suci. Pertobatan baru saja akan dimulai.


Engkau memegahkan diri
Memenuhi perintah Bunda Gereja yang suci, hari ini aku membulatkan tekad untuk berpuasa. Inilah tanda pertobatanku. Aku berjanji, setidaknya selama satu bulan ini, diriku tak boleh dirasuki oleh keinginan-keinginan duniawi, antara lain hasrat untuk selalu menyantap makanan enak, hobi yang membuat berat badanku nyaris mencapai seratus kilo. Jadi, wahai nasi padang nan lezat, ayam goreng nan renyah, sate kambing bumbu kecap yang menggoda, bakso daging sapi yang gurih dan nikmat, juga soto babat asli kudus yang mangkal di ujung jalan, mulai sekarang enyah kalian semua dari pikiranku!


Aku mau, mulai detik ini dan seterusnya, pikiranku hanya tertuju pada Yang Ilahi. Hari-hariku takkan lagi diisi oleh acara makan, makan, dan makan, melainkan oleh doa yang tak berkesudahan. Dengan penuh semangat, sambil melangkahkan kaki meninggalkan gereja, aku berketetapan untuk berpuasa demi melatih raga ini agar disiplin, tidak mudah dikuasai oleh hawa nafsu. Semoga dengan puasa ini, aku bisa mendengarkan sapaan Tuhan, bisa membedakan mana yang baik dan mana yang buruk, mana yang benar dan mana yang salah, dan dengan itu jauh dari segala macam kejahatan dan dosa. Tapi, puasa kan berat. Sanggupkah aku melaksanakannya?


Ah, tidak masalah. Aku teringat peraturan puasa yang dibacakan di bagian akhir misa tadi. Tersenyum-senyum aku dibuatnya. Puasa kita ternyata ringan-ringan saja. Tidak boleh makan dan minum dari pagi sampai petang selama satu bulan penuh? Ternyata tidak demikian. Aku hanya diminta untuk makan kenyang satu kali sehari, itu pun tidak tiap hari, hanya hari Rabu Abu ini dan Jumat Agung nanti. Lalu, pada setiap Jumat selama Masa Prapaskah aku hanya diminta untuk berpantang, menghindari hal-hal yang aku sukai. Wah, boleh juga puasa model begini. Aku yakin bisa melakukannya. Enteng sekali!


Pikir punya pikir, aku kemudian memutuskan untuk mengombinasikan puasaku dengan pantang daging dan pantang garam. Ayam panggang dan steak sapi adalah kegemaranku, mari kita lihat, sejauh mana aku sanggup mengatasi hasrat keinginanku yang senantiasa menggebu-gebu terhadap dua jenis makanan ini. Sementara itu, garam memang pantas aku hindari, mengingat emosiku sering meledak gara-gara darah tinggi.
Demikianlah, pulang dari gereja, aku sarapan ala kadarnya, hanya nasi putih tiga sendok, ditemani sayur bayam dan tempe goreng satu potong. Tak setitik pun ada garam di dalamnya. Semuanya tawar, tak ada rasa.


Lidahmu seperti pisau cukur yang diasah
Hasilnya? Ya Tuhan, badanku lemas, letih lesu sepanjang hari. Semua gejala yang menjadi tanda orang kurang makan ada pada diriku. Kepalaku pusing-pusing, mataku terasa berat, kulitku penuh oleh keringat dingin, dan serentak dengan itu, mendadak saja tubuhku gemetaran. Ini semua bukan karena aku sakit, tapi karena aku lapar! Kulirik dompetku yang tergeletak di sampingku. Ada sekitar lima lembar uang seratus ribu di dalamnya. Hah, aku punya uang banyak, tapi gara-gara puasa, tak bisa kupakai untuk membeli makanan yang kuinginkan! Aku benar-benar merasa tak berdaya.


Tak kusangka puasa yang kelihatan ringan ini ternyata berat untuk dijalani. Hariku jadi berantakan karenanya. Aku tak bisa fokus pada pekerjaan, karena perhatianku pada tugas-tugas yang menumpuk di atas meja lenyap sama sekali. Tulisan-tulisan di kertas tampak kabur, sementara tanganku bahkan tak sanggup lagi menggengam pulpen. Konsentrasiku cuma terarah pada satu hal: aku ingin makan. Waduh, maksud hati memikirkan hal-hal rohani dengan berpuasa, yang terjadi justru kepalaku penuh dengan bayangan nasi goreng, sate, soto ayam, dan sejenisnya.


Siang hari, jam dua belas pas, tepat ketika saat “makan kenyang satu kali” tiba, penderitaanku mencapai puncaknya. Di hadapanku terhidang nasi setinggi Gunung Semeru. Di sebelahnya tersaji sayur kacang panjang yang harum mewangi. Lauknya memang tempe goreng lagi, tapi itu bukan masalah. Yang penting, kalau tadi pagi aku hanya boleh makan satu potong, kali ini aku berencana melahap sepuluh potong sekaligus! Pokoknya, momen “makan kenyang satu kali” ini akan kujadikan kesempatan untuk “makan kenyang sekali”, atau lebih tegas lagi “makan sekenyang-kenyangnya”. Aku tidak peduli lagi. Aku lapar!


Tapi, begitu sendok pertama masuk ke dalam mulutku, semangatku langsung buyar, hancur berantakan. Tawar! Semuanya tawar! Tak ada rasa! Baru aku ingat, aku kan pantang garam. Semua makanan yang kusantap hari ini tak bakalan punya rasa. Lemaslah aku. Makanan melimpah tapi “sunyi senyap” di lidah, siapa yang berminat dengan makanan seperti ini?


Gagal memuaskan hasrat untuk makan enak, mendadak aku jadi sensitif. Semuanya jadi terlihat salah di mataku. Akibatnya, setengah hari di kantor kuisi dengan kegiatan marah-marah tak keruan. Temanku kupelototi karena berisik saat bekerja, cleaning service kugertak karena menumpahkan air di dalam ember, aku bahkan nekat memarahi kepala kantorku gara-gara semangat sekali menyuruhku melakukan ini dan itu. Apa dia tidak tahu kalau aku sedang berpuasa? Dasar!


Begitulah, hari ini benar-benar menjadi hari buruk bagiku, hari yang membingungkan. Sadar bahwa nanti malam aku harus menyantap hidangan tanpa rasa lagi, aku pun makin tenggelam dalam duka yang berkepanjangan.


Mencintai yang jahat daripada yang baik, mencintai segala perkataan yang mengacaukan
Pulang dari kantor, badanku benar-benar tak lagi punya tenaga. Biar begitu, ketika jam makan malam tiba, aku sama sekali tidak merasa gembira. Padahal, semestinya inilah saat yang tepat untuk memberi raga ini asupan gizi agar kembali segar, bugar, dan energik seperti sediakala. Yang terjadi, aku hanya duduk di tepi meja makan tanpa gairah sedikit pun. Sejumput nasi dan sepotong tempe – kali ini aku mengeluh: tempe lagi, tempe lagi – dari tadi kupandang dan kulihat-lihat saja. Perut sudah bernyanyi-nyanyi minta diisi, tapi tanganku belum tergerak untuk memegang sendok. Benda itu hanya kuputar-putar di atas meja. Benar-benar tak ada selera.


Setengah jam kemudian, nasi yang ada di hadapanku bukannya kumakan, tapi malah kusingkirkan ke tepi meja. Kuraih kaleng biskuit yang ada di sebelahnya, kubuka, dan cepat-cepat kulahap isinya. Ah, senang sekali bisa mengecap rasa manis setelah sengsara seharian. Lima potong biskuit dengan cepat masuk ke dalam perutku, membuat tenagaku perlahan-lahan pulih kembali. Jangan khawatir puasa gagal, kue kering sebanyak itu sama sekali tidak membuatku kenyang! Hanya, karena rasanya agak gurih, sebenarnya aku sedikit curiga jangan-jangan biskuit ini mengandung garam. Ah sudahlah, aku pura-pura tidak tahu saja.


Kutelan potongan biskuit yang keenam sambil berpikir-pikir, kalau begini terus setiap hari, bisa-bisa badanku jadi kurus kering dalam seminggu. Untung puasanya hari ini saja. Pola puasa saat Jumat Agung nanti rasanya harus disesuaikan – atau tepatnya diubah – agar penderitaan hari ini tidak lagi terulang. Sementara itu, pantang garam tidak lagi menjadi pilihan untuk dilakukan setiap Jumat. Hidup tanpa garam itu terlalu berat! Aku sekarang mengerti dengan baik makna pepatah “bagaikan sayur tanpa garam”. Garam rupanya benar-benar bumbu dapur yang paling sakti. Oleh karena itu, sebaiknya aku pantang yang lain saja. Pantang merokok, misalnya. Pasti aku tak akan dibuat menderita, sebab aku memang tidak pernah merokok.


“Ah, beban ini baru terlepas besok pagi,” demikian aku menggerutu dalam hati. Ya, baru besok aku boleh lagi makan apa saja dan kapan saja. Tapi, besok terasa begitu lama. Mana tahan? Sambil menggigit keping biskuit yang ketujuh dan seterusnya, aku merancang proyek “balas dendam”. Boleh hari ini sengsara, tapi lihat, besok penderitaan ini akan dibayar lunas!


Begini rencana yang dengan bulat hati akan aku terapkan esok hari: fajar yang baru akan kubuka dengan menyantap nasi uduk nan hangat, ditemani kerupuk udang dan ayam goreng nan lezat. Wah … sarapan yang sungguh menggugah selera. Rasanya pasti sangat gurih dan menggoda. Untuk menu siang hari, sengatan mentari yang panas perlu diimbangi dengan kesegaran soto bertabur daging ayam yang so pasti nikmat di lidah. Pendampingnya harus minuman istimewa, yakni es jeruk. Biarpun rasanya asam-manis, es jeruk adalah jaminan kesegaran badan. Porsi makan siang kalau perlu akan dibuat double, dengan tujuan utama agar aku makin semangat dalam bekerja. Untuk hidangan makan malam, nasi goreng spesial adalah pilihan jitu yang tak mungkin mengecewakan.


Hmmm, benar-benar mak nyusss… Kubayangkan itu semua dengan mata terpejam. Kutarik nafas dalam-dalam dan kulepaskan dengan penuh kelegaan. Diam-diam air liur menetes dari bibirku.


Allah, tempat pengungsianku
Prang … prang .. prang!!! Suara itu membuat aku terkejut. Lamunanku buyar seketika, dan yang tersisa hanyalah rasa malu. Ya Tuhan, makanan saja yang ada dalam pikiranku, padahal aku sedang berpuasa! “Puasa bukan sekadar menahan lapar dan haus,” aku teringat khotbah pastor tadi pagi. “Puasa adalah sarana pengendalian diri, latihan rohani untuk mengendalikan hawa nafsu. Saat kita berpuasa, ingatlah akan kesalahan, kejahatan, dan ketidakadilan yang kita lakukan. Ingatlah akan itu semua dan bertobatlah. Kembalilah kepada Tuhan.” Boro-boro ingat kesalahan, yang kuingat sepanjang hari ini hanyalah perutku yang lapar. Boro-boro ingat Tuhan, yang kuingat sepanjang hari ini hanyalah makanan!


Ah Tuhan, aku benar-benar orang lemah yang penuh dosa. Aku ini tak lebih dari seonggok debu yang sama sekali tidak berharga, hidup tanpa arah, dipermainkan oleh keinginan-keinginan yang tak beraturan. Padahal, aku ingin selalu dekat dengan-Mu, ya Tuhan. Aku ingin hidup sesuai dengan kehendak-Mu, agar teguhlah aku seperti pohon zaitun yang tumbuh menghijau di pelataran rumah-Mu.


Prang … prang .. prang!!! Suara itu kembali mengagetkanku. Suara berisik apa pula itu? Mengganggu saja! Prang … prang .. prang!!! Nasi goreng, nasi goreng!!! Ah, itu rupanya pedagang nasi goreng yang memukul-mukul wajannya, berpromosi dalam rangka menarik pembeli. Hah, nasi goreng? Aku langsung gelisah. Perutku kembali bernyanyi, sementara bau nasi goreng yang harum semerbak mulai masuk ke dalam hidungku. Wah, ini sungguh godaan yang sulit untuk ditaklukkan! Perasaanku bergejolak dengan hebatnya, “Ya Tuhan, aku harus banyak belajar menahan diri!” Beli … tidak … beli … tidak … beli …***


Bacaan pendukung
Barth, Marie Claire, dan B.A. Pareira. Tafsir Alkitab: Kitab Mazmur 1-72. Jakarta: BPK Gunung Mulia, 1999.
Mays, James L. Psalms. Louisville: John Knox Press, 1994.
Stuhlmueller, Carroll. Psalms 1. Delaware: Michael Glazier, Inc, 1983.

Jumat, Maret 04, 2011

JANGAN BERBUAT DOSA
Jarot Hadianto

“Biarlah kamu marah, tetapi jangan berbuat dosa!” (Mzm. 4:5)


Sambil meringis menahan nyeri, aku memegangi kepalaku yang berdenyut-denyut. Aduh, pusing sekali. Seluruh tubuhku juga terasa sakit, rasanya sungguh tak karuan. Sejenak aku bangkit dari tempat tidurku, menghilangkan rasa pegal setelah berbaring di situ satu jam lamanya. Percuma saja aku berusaha tidur. Perasaan yang bergejolak membuat batinku tak tenang, hingga dari tadi mataku tak juga mau dipejamkan.

Maka, aku lalu duduk-duduk saja di sisi pembaringan. Kutatap lama-lama cermin kusam yang menempel di dinding. Gambar diriku terpampang di situ, sesosok anak muda dengan baju kumuh dan rambut acak-acakan. Wajahku tampak kuyu nan kusut, tampak pula lebam dan warna membiru di beberapa bagian. Ah, aku ini benar-benar manusia yang menyedihkan. Kuraba pipi kiriku perlahan-lahan. Aduh, aduh, rasanya ngilu sekali. Apa gigiku ada yang patah atau rontok? Kurang ajar! Mendadak, perasaan geram kembali meluap-luap dalam diriku. Sosok dalam cermin dengan jelas menunjukkan hal itu. Dadanya naik turun menahan emosi, bibirnya terkatup rapat, sementara matanya berwarna merah laksana darah. Itulah aku yang sedang marah, benar-benar marah!

Apabila aku berseru, jawablah aku ya Allah

Aku teringat peristiwa tragis di tempat kerja siang tadi. Sungguh di luar dugaan, sebab tadinya aku mengira bahwa hari ini akan sama saja seperti hari lainnya, di mana aku dapat melakukan rutinitas pekerjaanku dengan tenang. Hari ini pun aku awali persis sama seperti hari-hari sebelumnya. Pagi-pagi buta aku sudah bangun. Lalu, setelah mandi dan mempersiapkan ini-itu, aku pun berangkat ke kantor saat matahari masih terlelap di peraduannya. Dengan ritme teratur seperti itu, siapa sangka hari ini akan menjadi hari yang sangat berbeda, siapa sangka hari ini adalah hari sial bagiku.

Baru saja melangkah memasuki ruangan, aku bertemu dengan orang itu, rekan kerja yang sebenarnya tak bisa disebut rekan kerja. Mukanya masam, bibirnya cemberut melengkung ke bawah, membuat siapapun yang memandangnya bakalan kehilangan selera makan. Apakah ia tak pernah membaca artikel kesehatan bahwa wajah dengan pola otot seperti itu akan membuat seseorang kelihatan cepat tua? Begitu pikirku sambil berlalu di hadapannya. Sekilas aku melihat dia, dan dia pun melihat aku. Dalam waktu sepersekian detik kami berhadapan muka, tanpa ada kata dan sapa terucap di antara kami. Meski aneh, bagiku itu sudah biasa. Hari-hari kemarin juga begitu, sebab aku dan dia memang tidak akrab. Jadi, aku pun tenang-tenang saja, lalu mulai mengangkati kardus dan mengepak sejumlah barang, itulah tugasku sehari-hari.

Keadaan jadi agak berbeda ketika tak lama sesudah itu pimpinan tertinggi tiba-tiba memanggil seluruh karyawan, lalu mengumumkan dua instruksi penting. Yang pertama, bahwa perusahaan ini mendapat proyek besar namun mendadak, yakni pengiriman paket buku ke seluruh Indonesia. Kedua, karena barangnya banyak dan waktunya sempit, beliau memerintahkan agar semua karyawan dari semua divisi ambil bagian dalam proyek ini. Pekerjaan harian masing-masing harap ditinggalkan dulu. Pengumuman pertama langsung disambut semua orang dengan penuh sukacita. Itu berarti perusahaan ini masa depannya cerah, banyak order, dan dengan itu (semoga) gaji meningkat. Pengumuman kedua? Yang ini ditanggapi dengan keluh kesah dan kasak-kusuk di mana-mana. Tentunya orang-orang itu baru berani menggerutu setelah sang pimpinan meninggalkan ruangan. Saat bos ada, mereka mengangguk-angguk tanda taat dan hormat.

Tuhan mendengarkan apabila aku berseru kepada-Nya

Maka demikianlah, siang tadi ada kesibukan yang tidak biasa di kantor kami. Tiga puluh orang sekaligus berada dalam satu ruangan yang sebenarnya tidak terlalu luas. Kami hilir mudik, berbagi tugas membongkar kardus-kardus besar, memilih-milah isinya, membaginya menjadi paket-paket kecil, kemudian mengemasnya baik-baik dan menempelinya alamat. Karena ada begitu banyak orang, ruangan terasa sangat panas, meski pendingin udara sudah disetel di angka dua belas. Dan, jangan tanya keadaan di sekitar kami. Buku, lem, kertas berceceran di mana-mana, semuanya awut-awutan dan berantakan. Melihat jumlah buku yang harus kami tangani, situasi ini agaknya akan berlangsung selama seminggu atau dua minggu ke depan.

Bagiku itu tentu bukan masalah, sebab memang inilah pekerjaanku. Tidak demikian halnya dengan rekan-rekanku. Melihat wajah mereka, rasanya aku ingin tertawa. Ini dia yang kusebut “wajah-wajah yang tidak ikhlas”. Senyum benar-benar menjadi barang langka hari ini. Pasti mereka bertanya-tanya mimpi apa semalam, sehingga mendadak harus menjalani kerja rodi. Ada juga yang bekerja dengan kening berkerut. Aku yakin, orang itu pasti sedang merekayasa alasan agar terhindar dari kerja yang melelahkan ini mulai besok pagi. Ha, ha, ha … dalam hati aku tergelak. Mereka memang tidak cocok menangani kerja kasar seperti ini. Apalagi, berhubung tanpa persiapan, orang-orang itu banting tulang bersimbah keringat mengenakan baju batik!

Sambil tersenyum-senyum kecil, aku melirik-lirik, mencuri lihat cara kerja mereka. Hmmm … tampaknya kurang profesional dan cenderung sembarangan. Tapi aku harus maklum. Apa boleh buat, ini kan memang bukan bidang mereka. Si bos juga yang salah. Ia mengira, banyak orang berarti cepat selesai. Itu belum tentu. Orang-orang ini tidak biasa membungkus barang. Jadi, selain malah lama, hasil akhirnya pasti tidak rapi dan tidak maksimal.

Satu hal lagi yang bisa jadi masalah: mereka bekerja tanpa kerelaan hati. Nona manis dari bagian HRD itu, misalnya, dari tadi lebih sibuk dengan lem dan isolasi yang menempel di tangannya. Ia khawatir benda-benda terkutuk itu mencederai kulitnya yang halus nan lembut. Ibu tua dari bagian keuangan sikapnya sama saja. Tak habis-habisnya ia mengeluh, mengapa dari memegang uang, sekarang ia harus menyeret-nyeret trolley. “Ini tak ada dalam kontrak kinerja!” begitu katanya. Sementara itu, temanku yang sehari-harinya menjadi juru ketik sengaja memilih duduk di bagian ujung, agar bisa bekerja sambil mencaci-maki si bos yang tak tahu diri. Aku tertawa geli melihat wajahnya yang suntuk. Karena ia tergolong “orang sendiri”, aku berani bercanda mengoloknya dengan berkata, “Hari gini kerjaan tidak beres? Apa kata dunia?”

Dari situlah bencana berawal. Si muka masam ternyata ada di dekat situ. Ia mengira aku sedang menyindir dirinya. Tadi itu, sepanjang kami bekerja, ia memang lebih banyak bengong-bengong saja, tidak kunjung mengerti ketika diajari cara membungkus setumpuk buku dengan rapi. Alhasil, ia lebih banyak jadi penonton, dengan prestasi kerja nol besar. Pantas saja ia jadi panas mendengar aku berkata demikian. Matanya melotot ke arahku seakan mau keluar. Temperatur ruangan yang mendidih rupanya makin membuat emosinya tersulut. Segera saja ia bangun dari tempat duduknya, lalu mendatangi aku sambil memasang tampang yang bukan main seramnya.

Dia bertanya, “Apa maksud perkataanmu tadi?”; aku menjawab, “Aku tak punya maksud apa-apa.” Dia menuduh, “Kamu mengejek aku ya?”; aku menangkis, “Perkataanku tidak tertuju padamu.” Kemudian dia membentak, “Sejak tadi aku melihatmu tertawa-tawa sendiri. Kenapa?”; dengan lincah aku mengelak, “Mengapa manusia merdeka seperti aku tidak boleh tertawa?” Dia terus mencecar, “Selama ini kamu tidak suka padaku dan selalu berusaha menjatuhkan aku kan?”; aku membantah keras, “Aku tak peduli padamu dan tak punya soal apa-apa denganmu.” Lalu dia mengancam, “Kalau kamu macam-macam, aku hajar kau!”; aku nekat melawan, “Aku sama sekali tidak takut padamu!”
Lalu tiba-tiba tangannya melayang meninju lenganku.

Biarlah kamu marah, tetapi jangan berbuat dosa

Sampai sekarang, aku ingat rasanya. Sakit sekali! Sangat-sangat sakit! Aku tak sempat menangkis, apalagi menghindar, karena pukulan itu menghunjam begitu cepat dan telak. Badanku sampai terhuyung-huyung ke samping dibuatnya. Dan, pada saat itulah, ketika rasa terkejutku belum hilang, pukulan-pukulan berikutnya berdatangan laksana buah durian berguguran dari pohonnya. Habis perut dan dadaku dihajar olehnya. Melihat wajahku yang membiru, aku berkesimpulan, tinjunya rupanya mampir juga ke situ. Si muka masam tampaknya benar-benar sedang kalap. Seluruh amarahnya dilampiaskan terhadapku siang tadi.

Aku sama sekali tak bisa melawan. Badan lawanku dua kali lebih besar dari badanku. Memang sekali dua kali aku berusaha balas meninju dia. Tapi itu sia-sia belaka. Tanganku seperti memukul tembok, dan dia jelas tak merasakan apa-apa. Maka, yang bisa kulakukan tadi hanyalah menunduk, menangkis, dan mengaduh-aduh. Kedua tanganku lebih banyak melindungi wajahku, jangan sampai bogem mentah temanku itu membuat gigiku tanggal dan mataku copot. Tentu saja tadi itu seketika ruangan jadi geger. Teman-teman turun tangan memisahkan kami. Satu orang menyeretku agar menjauh, lima orang menahan si muka masam agar berhenti mengamuk. Aku berterima kasih atas kemurahan hati mereka. Sayang, bantuan itu datang terlambat. Badanku sudah telanjur babak belur, juga harga diriku. Semuanya hancur lebur tak bersisa.

Maka dari itu, sejak siang tadi sampai malam ini, diriku benar-benar berselimutkan kemarahan. Peristiwa itu terus-menerus terkenang dalam ingatanku dan membuat kegeramanku meluap-luap. Aku merasa mendapat hinaan dan pelecehan yang luar biasa. Terus terang, seumur hidup aku belum pernah berkelahi. Aku pikir, untuk apa beradu fisik? Bukankah segala persoalan bisa dicari solusinya dengan dibicarakan baik-baik? Sekarang, tampaknya aku mesti meralat pendapat itu. Ternyata ada orang yang tak bisa diajak bicara karena akal sehatnya tidak jalan. Untuk menyelesaikan masalah, orang ini hanya mengenal bahasa kekerasan dengan main pukul dan main gebuk di sana-sini. Jangan buang-buang waktu mengajak orang macam ini berbicara. Percuma!

Dalam kemarahanku, aku lalu merancang balas dendam. “Hah, tunggu pembalasanku, Teman! Pasti akan terasa sangat menyakitkan!” kataku dengan sengit sambil menatap bayanganku sendiri di dalam cermin. Aku berpikir-pikir, tindakan apa yang akan kulakukan terhadap dirinya, agar ia tobat, kapok, jera, tentu setelah badannya bonyok dan lebam-lebam seperti diriku? Bagaimana kalau aku mengerahkan teman-temanku sekampung untuk menghajar dirinya? Wah, itu ide yang bagus! Keroyok saja dia, lalu pukuli sepuasnya, pasti sakit hatiku akan terobati karenanya. Tapi, pikir punya pikir, rencana itu segera kubatalkan. Selain terlalu kejam, kuhitung-hitung temanku paling-paling ada lima. Mereka itu kurus-kurus kurang tenaga. Kami takkan mampu mengalahkan dia, meskipun kami maju bersama!

Bagaimana kalau aku memilih jalan yang lebih halus? Jangan salah, meski halus, aku yakin hasil akhirnya akan menyakitkan baginya dan memuaskan bagiku. Caranya, perkara ini harus diadukan kepada pimpinan tertinggi. Ya, aku harus mendekati bos besar, menceritakan kelakuan anak buahnya yang berandalan itu, dengan memberi bumbu di sana-sini agar lebih dramatis. Tujuan akhirnya, demikian aku berharap, orang itu dijauhi sanksi yang berat, yakni pemecatan. “Pecat dia! Singkirkan dia! Perusahaan ini adalah perusahaan yang beradab. Di sini tak ada tempat bagi orang yang kelakuannya liar dan barbar!” Aku murka sambil menuding-nuding diriku sendiri di dalam cermin.


Dengan tenteram aku mau membaringkan diri, lalu segera tidur

Sesudah itu, aku tersenyum puas, lalu kembali membaringkan badan. Sekilas aku teringat nasihat teman-temanku tadi siang, agar aku bersikap sabar, sabar, dan sabar. “Maafkan dia, mungkin dia lagi emosi,” kata seorang temanku. Enak saja! Kan bukan kamu yang sakit dan malu, digebuki di depan mata orang banyak! Aku tidak peduli lagi. Pokoknya, rencanaku akan kujalankan besok pagi dan harus berhasil.

Tiba-tiba mataku terbuka lagi. Ah, apakah aku sejahat itu? Tidak, tidak, tidak, aku tidak pernah mau menyengsarakan orang lain. Bagaimana kalau si muka masam nanti sungguh dipecat dan tidak punya pekerjaan lagi? Makan apa dia? Bagaimana dengan anak-istrinya? Siapa tahu tindakannya tadi bukan karena dendam kepadaku, tapi karena dia sedang punya banyak masalah? Mengapa aku tidak mendekati dia besok, mengajaknya bicara, siapa tahu kami lalu bisa saling memaafkan? Bukankah dialog adalah prinsip yang selama ini kuyakini kebenarannya?

Gagasan itu sungguh membuatku jengkel. Rencana balas dendam yang sebelumnya kususun matang jadi buyar seketika. Sisi hatiku yang satu berkata, “Dia tadi tidak menyesal, dia tadi tidak minta maaf. Mana mungkin memaafkan orang yang tidak minta maaf!” Tapi sisi hatiku yang lain membantah, “Mungkin saja. Justru maaf yang kita berikan bisa jadi menimbulkan kesadaran dan rasa sesal di hatinya. Maafkanlah tanpa menunggu dia meminta maaf!”

Ah! Di batinku malah kemudian berkecamuk perang seru: balas … jangan … balas … jangan … balas … jangan … Kepalaku tambah pusing dibuatnya. Dengan gusar, aku bangkit lagi dari tempat tidurku. Sosok di dalam cermin kembali kutuding dan kupelototi. “Tuhan! Mengapa aku harus berbuat baik terhadap orang yang berbuat jahat terhadapku!”

Bacaan Pendukung
Barth, Marie Claire, dan B.A. Pareira. Tafsir Alkitab: Kitab Mazmur 1-72. Jakarta: BPK Gunung Mulia, 1999.
Bergant, Dianne, dan Robert J. Karris (ed.). Tafsir Alkitab Perjanjian Lama. Yogyakarta: Kanisius, 2004.
Mays, James L. Psalms. Louisville: John Knox Press, 1994.
Stuhlmueller, Carroll. Psalms 1. Delaware: Michael Glazier, Inc, 1983.

Selasa, Februari 01, 2011

Mazmur 51

LEBIH PUTIH DARIPADA SALJU

Jarot Hadianto

“Bersihkanlah aku seluruhnya dari kesalahanku,
dan tahirkanlah aku dari dosaku!”
(Mzm. 51:4)


Di depan rumah ini, aku berdiri terpaku. Siang ini, suasana begitu sepi. Matahari bersinar terik, tapi untunglah panasnya tersapu oleh semilir angin yang bertiup sepoi-sepoi. Aku menghela nafas panjang sambil menengok ke kanan dan ke kiri. Benar-benar tak ada orang. Penghuni kompleks perumahan ini pasti sedang sibuk di tempat kerjanya masing-masing.

Meski begitu aku tahu, beberapa rumah sebetulnya ada penghuninya. Rumah yang terletak di ujung sana, misalnya. Tuan dan nyonya rumah itu memang pergi ke kantor, tapi di situ ada pembantu yang bertugas bersih-bersih rumah, memasak, sekaligus menjaga anak mereka yang masih kecil. Rumah yang ada di sampingnya juga tidak sama sekali kosong. Mereka mempekerjakan seorang tukang kebun yang masih muda, yang tampaknya lebih bersemangat menggoda pembantu rumah sebelah daripada menyabit rumput.

Setahuku, rumah yang terletak persis di sebelah rumah ini juga ada penghuninya. Mereka adalah suami-istri yang telah berusia lanjut. Karena umurnya itu, pasangan ini lebih sering tidur-tiduran dan menyaksikan drama di layar kaca daripada pergi keluar rumah.

Pendek kata, setiap siang, perumahan ini hanya berisi orang-orang yang sibuk dengan urusannya sendiri. Aku tersenyum kecil. Suasana siang ini ternyata persis sama seperti tahun yang lalu, tidak berubah sama sekali.


Kasihanilah aku, ya Allah, menurut kasih setia-Mu

Kembali aku memperhatikan rumah yang ada di hadapanku. Rumah ini tidak lebih istimewa daripada rumah-rumah yang ada di sekitarnya, bahkan boleh dibilang kalah bagus dan kalah besar. Penghuninya adalah seorang ibu tua. Suaminya telah lama meninggal, sedangkan anak-anaknya tersebar di tempat lain. Karena tinggal seorang diri, si ibu tampaknya kerepotan merawat halaman rumah yang cukup luas. Lihat saja, aneka macam tanaman tumbuh dengan sendirinya di situ, berjejalan dan tak terawat.

Rumah ini sekarang sedang kosong. Aku tahu itu, sebab – selain sudah memperkirakan sebelumnya – dari tadi aku mengamati-amatinya dengan saksama dan tidak kutemukan tanda-tanda kehidupan di dalamnya. Maka dari itu, aku berani mendekat dan berdiri berlama-lama di sini, tepat di depan pintu.

Sambil melihat-lihat, perlahan-lahan aku mengulurkan tangan, meraba temboknya yang berwarna cokelat muda. Warnanya terasa tak cerah lagi karena memang dicat sudah lama. Aku mendesah sembari mengusap-usap tembok itu. Ya, akulah yang mengecatnya. Setahun yang lalu, aku memang bekerja di sini selama seminggu.

Ibu tua itu sendiri yang memanggilku dan meminta bantuanku untuk mengecat rumahnya. “Catnya sudah banyak mengelupas. Warnanya sudah kusam!” demikian katanya. Aku yang tak punya pekerjaan mensyukuri kesempatan itu karena dengan demikian aku akan mendapat upah sekadar untuk mencukupi kebutuhan sehari-hari. Tetapi ketika aku mulai bekerja, aku mulai mengamati segala sesuatunya, dan tiba-tiba saja gagasan kriminal mulai menguasai pikiranku. Ah Tuhan, aku memang tak mampu membedakan mana yang baik dan mana yang jahat.


Bersihkanlah aku seluruhnya dari kesalahanku…

Tugas mengecat beres dalam seminggu. Bulan berikutnya aku kembali ke situ berbekal pengetahuan lengkap tentang situasi rumah dan lingkungan sekitarnya: kapan perumahan itu sepi, kapan rumah itu kosong ditinggal pergi, mana pintu yang mudah dijebol, di mana ibu itu menaruh kunci-kunci lemari, dan sebagainya. Semuanya telah kupelajari, sebab saat mengecat, mataku rajin melirik ke sana-kemari. Karena itu, aku berani beraksi di siang bolong. Menurut pengamatanku, tengah hari justru merupakan saat yang paling cocok!

Maka demikianlah, aku mulai dari titik lemah rumah itu, yakni pintu belakang. Pintu ini terbuat dari kayu yang lunak, sehingga bisa kucongkel dengan mudah. Dengan segera, ruang dapur terhampar di hadapanku. Sejenak aku mengamati-amati ruangan itu. Hmmm … panci, dandang, bawang dan lombok satu plastik … tak ada yang menarik untuk diambil. Memang di situ ada kompor gas dan tabungnya yang rasanya bisa dijual. Tapi aku takut membawa tabung gas berwarna hijau tersebut. Dengar-dengar tabung itu suka meledak sendiri! Aku bergegas meninggalkan dapur tanpa mengambil apapun.

Sampailah aku di ruang makan. Di situ ada kulkas, ada lemari berisi piring dan sendok, ada juga televisi. Si ibu rupanya suka makan sambil nonton sinetron yang ceritanya mendayu-dayu. Aku meneliti ruangan itu sambil menimbang-nimbang. Piring, sendok, dan garpu jelas tak akan kuambil. Untuk apa? Di rumah sudah banyak. Lagi pula zaman sekarang beli sabun cuci saja hadiahnya piring, jadi tak perlu repot-repot nyolong lagi.

Mengenai televisi dan kulkas … ah, ingin sekali aku menggondol dua barang itu! Sayang, keduanya besar dan berat. Orang akan curiga melihatku memanggul barang sebesar itu. Sudahlah, lupakan saja. Tapi mungkin isi kulkas bisa sedikit kunikmati untuk sekadar mengganjal perut. Maklum, sejak kemarin aku belum makan. Kubuka kulkas itu … dan aku kecewa. Isinya cuma sayuran dan air mineral!

Pintu kulkas kubanting karena jengkel. Mau makan sedikit saja susah! Dasar!

… dan tahirkanlah aku dari dosaku!


Sambil meringis menahan lapar, aku beralih ke kamar tidur. Rumah ini punya dua kamar. Yang kumasuki pertama adalah kamar yang berada tepat di sebelah ruang makan. Menurut si ibu, ini adalah kamar tidur anaknya. Kalau datang saat musim liburan, anak itu selalu tidur di ruangan ini. Anak mana yang ia maksud, aku tidak peduli. Yang penting, aku harus cepat-cepat beraksi.

Segera saja aku membongkar meja belajar. Di rak atas ada buku; di rak bawah ada buku; laci kujebol, buku juga yang kutemukan. Buku, buku, buku, yang ada cuma buku, mana laptopnya? Bukannya ibu itu bercerita kalau laptop anaknya itu suka ditinggal di sini? Aku jadi geram. Lemari kaca kugebrak. Pintunya sampai retak dan terbuka dengan sendirinya. Isi lemari itu ternyata baju dan celana. Sial, aku tak butuh baju dan celana! Kuobrak-abrik pakaian yang ada di situ dan kulempar-lemparkan keluar. Lemari itu habis kuaduk-aduk, siapa tahu ada uang atau barang berharga diselipkan di tempat tersembunyi. Sayangnya, aku tetap tidak menemukan apa-apa. Parah!

Aku mengumpat-umpat karena kesal. “Usaha” hari ini terancam gagal total. Buru-buru aku beralih ke kamar yang lain, yakni kamar ibu itu. Inilah satu-satunya harapanku. Kalau di kamar ini ternyata juga tidak ada barang berharga, benar-benar aku meninggalkan rumah ini sambil gigit jari.

Pintu kamar dapat kubuka dengan mudah karena tidak di kunci. Aku langsung disambut oleh salib berwarna kuning emas yang dipasang di tembok. Sejenak aku terperanjat. Patung Yesus yang tergantung di situ seakan memperhatikan dan memperingatkan aku supaya membatalkan kejahatanku. Ah, tidak masalah. Biar Tuhan melihat, dosa jalan terus! Kuhirup nafas dalam-dalam, kubulatkan tekad, dan sesudah itu, aksiku pun berlanjut.

Kamar ini hanya berisi tempat tidur dan lemari kayu. Setelah menggulingkan kasur dan tidak menemukan apa-apa di bawahnya, aku mulai mengacak-acak lemari kayu tersebut. Betul-betul aku nyaris putus asa. Lemari ini sama benar dengan lemari yang tadi! Isinya hanya rok dan baju-baju perempuan, yang tidak ada gunanya bagiku karena tidak bisa aku pakai. Kesal benar aku jadinya. Dengan gusar, aku lalu menarik laci lemari kuat-kuat. Nah, ini dia! Aku berhasil menemukan kalung, bros, dan banyak perhiasan lainnya! Setengah histeris aku meraup benda-benda berharga itu, menghirup baunya dalam-dalam, dengan penuh syukur mendekatkannya pada mukaku, dan ahhh … tiba-tiba aku sadar: perhiasan itu imitasi semua!

Aku hampir-hampir menangis karena kecewa. Karena sudah cukup pakar dalam dunia curi-mencuri, aku kurang lebih bisa membedakan perhiasan yang asli dan yang imitasi. Ini jelas palsu! Kalung ini palsu, bros ini juga palsu, harganya di pasar paling cuma lima ribu. Satu per satu barang-barang kodian itu kucampakkan ke lantai. Apes benar hari ini, aku merasa sedang dikerjai.

Tiba-tiba sebuah cincin menarik perhatianku. Cincin ini sederhana, tapi … ya, Tuhan … terbuat dari emas asli! Cincin ini asli! Mataku kembali berbinar-binar penuh semangat.

Sebab aku sendiri sadar akan pelanggaranku

Demikianlah setidaknya aku meninggalkan rumah itu tidak dengan tangan kosong. Sebuah cincin ada di saku celanaku, harganya kutaksir sekitar sejuta. Lumayan! Selain itu, apa boleh buat, tak ada lagi barang berharga yang bisa kurampok. Di kamar tamu memang ada sejumlah lukisan dan sofa yang harganya mahal. Tapi masak aku sendirian mengangkut sofa? Alamat ketahuan dan digebuki banyak orang!

Aku keluar meninggalkan rumah itu dengan tenang, lewat pintu depan. Seperti yang kuperkirakan, beberapa orang yang kutemui sama sekali tidak menaruh curiga. Tukang kebun dan pembantu itu malah senyum-senyum melihatku. Mereka malu karena ketahuan sedang berduaan di bawah pohon jambu.

Hari-hari kemudian ternyata tidak terjadi apa-apa. Tidak ada polisi yang mendatangiku, ibu tua itu juga tidak mencariku. Nah, itu artinya aman! Aku rasa, ibu itu tahu bahwa akulah yang memasuki rumahnya. Ia tidak melaporkan peristiwa itu ke polisi mungkin karena tak mau repot, mungkin karena toh yang hilang hanya sebuah cincin, mungkin juga karena pasrah dan sudah ikhlas. Aku tersenyum senang. Kepercayaan diriku semakin bertambah, hingga dua minggu kemudian aku beraksi lagi di rumah orang lain. Saat itulah aku ketahuan, babak belur dihajar massa, dan akhirnya masuk penjara sembilan bulan lamanya.


Basuhlah aku, maka aku menjadi lebih putih dari salju

Sekarang aku bertobat. Berbulan-bulan di balik terali besi telah mengubah hidupku seratus delapan puluh derajat. Aku mengakui kesalahanku dan menyesal telah menyusahkan banyak orang yang harta bendanya kubawa lari. Setiap malam tak putus-putusnya kupanjatkan doa kepada Tuhan, “Tuhan, ampuni aku. Aku menyesali kesalahanku. Ampunilah dosa-dosaku. Buatlah hatiku yang hitam ini menjadi putih, lebih putih daripada salju.”

Maka demikianlah, aku datang kembali ke rumah ini sebagai bukti pertobatanku. Aku hendak mengembalikan cincin yang dulu aku ambil secara tidak sah. Tapi, maafkan aku, aku tetap tidak berani menemui ibu itu. Aku tak sanggup melihat wajahnya yang pasti penuh duka akibat kelakuanku. Cincin itu telah kubungkus rapi dalam selembar amplop putih. Kuambil amplop itu pelan-pelan dari saku bajuku, lalu kusisipkan di bawah pintu. Setelah itu, dengan batin yang terasa ringan, aku pun melangkah pergi.

Saat itu, aku melihat bapak tua yang tinggal di sebelah melangkah keluar dari rumahnya. Tampaknya ia hendak membersihkan taman, sebab tangannya menggenggam sapu lidi yang agak besar. Sejenak aku berbasa-basi dengan dia, menanyakan ke mana perginya ibu tua, tetangganya itu.

“Oh, ibu itu sudah lama meninggal,” katanya.

Aku sangat terkejut mendengarnya. “Oh, ya? Kapan itu? Apa yang terjadi?” tanyaku bertubi-tubi.

“Kira-kira setahun yang lalu. Saat itu rumahnya dimasuki pencuri. Si pencuri hanya sempat mengambil sebuah cincin. Tapi cincin itu adalah cincin kesayangannya, hadiah dari suami tercinta yang telah pergi mendahului dia. Ibu itu begitu sedih dan terus menyalahkan dirinya sendiri. Tak lama kemudian, ia jatuh sakit, lalu meninggal. Benar-benar terkutuk pencuri itu!”

Mulutku menganga, wajahku pacat pasi. Aku tak tahu lagi mesti berkata apa. Buru-buru aku pergi meninggalkan tempat itu. Aku menyesal, sangat menyesal, sangat-sangat menyesal.

“Ya Tuhan, aku bukan saja mengambil cincin, tapi juga nyawa perempuan tua itu…”***

Bacaan Pendukung

Barth, Marie Claire, dan B.A. Pareira. Tafsir Alkitab: Kitab Mazmur 1-72. Jakarta: BPK Gunung Mulia, 1999.
Bergant, Dianne, dan Robert J. Karris (ed.). Tafsir Alkitab Perjanjian Lama. Yogyakarta: Kanisius, 2004.
Mays, James L. Psalms. Louisville: John Knox Press, 1994.
Stuhlmueller, Carroll. Psalms 1. Delaware: Michael Glazier, Inc, 1983.

Senin, Desember 20, 2010

Mazmur 145

UNTUK SETERUSNYA DAN SELAMANYA
Jarot Hadianto

“Aku hendak mengagungkan Engkau, ya Allahku, ya Raja,
dan aku hendak memuji nama-Mu untuk seterusnya dan selamanya.” (Mzm. 145:1)

“Masuk biara banyak tantangannya, aku tahu itu,” kataku dengan letih lesu kepada teman yang ada di hadapanku. Saat itu, senja mulai turun. Langit berwarna kemerahan, dan kegelapan mulai menyelimuti bumi.

Sore itu kami mengadakan acara sharing panggilan. Kegiatan ini dilakukan setelah ibadat sore, lamanya kira-kira setengah jam. Dua belas frater dibagi menjadi enam kelompok. Kami lalu bertukar pikiran berdua-dua, terinspirasi oleh dua orang murid Yesus yang berjalan menuju Emaus dalam kegelisahan. Aku dan seorang teman mengambil tempat di depan biara. Kami duduk lesehan di situ. Tema yang harus kami diskusikan kali ini adalah tantangan dalam hidup membiara, dan aku memulainya dengan kisah yang suram.

“Aku tahu, di biara aku harus memperbaiki hidupku, harus tahan menanggung godaan, harus mendekatkan diri kepada Tuhan, harus latihan meditasi dan mengolah hidup rohani. Aku tahu itu semua dan aku siap menghadapinya,” kataku lagi.

Temanku tak kunjung memberi tanggapan. Dari tadi ia hanya memandangiku, kelihatannya tidak antusias. Sesekali ia berlama-lama memejamkan mata, mungkin bertanya-tanya, mimpi apa semalam hingga sore ini dihujani keluh-kesah dan persoalan hidup orang lain.

“Tapi ada satu masalah besar yang tidak pernah aku sangka sebelumnya. Masalah ini sangat mengganggu!” demikian aku terus berbicara, kali ini dengan berkobar dan berapi-api. Nada suaraku sengaja kutinggikan agar temanku itu jadi punya minat untuk mendengarkan.
“Wah! Masalah apa itu?” tanya temanku penasaran. Pancinganku rupanya berhasil.
“MENYANYI! Aku tidak tahu bahwa di biara, orang harus bisa menyanyi! Dan aku tidak bisa menyanyi!” jawabku.

Yang namanya sharing mestinya didengarkan dengan hikmat dan penuh pengertian. Sayangnya temanku ini mungkin tak pernah mendengar anjuran tersebut. Pengakuanku disambutnya dengan ledakan tawa yang mengagetkan. Bahkan saking lucunya (menurut dia lucu, menurut aku tidak), tawanya tak kunjung berhenti walau sudah berlangsung 5 menit. “Sungguh makhluk tak berperasaan!” umpatku dalam hati.

Tapi, tanpa mengindahkan penderitaanku, ia terus saja tertawa sampai menangis dan memegangi perutnya yang mulai terasa sakit. Aku hanya dapat memandanginya dengan kesal. Anak ini rupanya masih mengingat kejadian saat ibadat sore tadi.


Setiap hari aku hendak memuji Engkau


Ibadat sore tadi memang berujung pada kekacauan. Dan yang patut dipersalahkan tidak lain dan tidak bukan adalah aku sendiri, sebab akulah yang memimpin ibadat itu. Sebagai pemimpin, mestinya aku dapat menciptakan suasana sedemikian rupa sehingga kami semua dapat beribadat dengan tenang dan hikmat. Tapi – maafkan aku, Tuhan – aku gagal.

Suasana rusuh sudah terasa sejak awal, yakni ketika aku melantunkan seruan pembuka: ‘Ya Allah, bersegeralah menolong aku.’ Not yang dipakai dalam seruan ini sebenarnya tidak banyak dan simpel saja: do-re-do-si-do-do. Aku cuma harus mengingat bahwa do pertama ditarik panjang-panjang, lalu antara nada si dan do ada ‘ayunan’ yang harus diwaspadai. Tapi, ya Tuhanku, karena tegang luar biasa dan karena pada dasarnya aku tak bisa menyanyi, rangkaian not sederhana itu di bibirku spontan berubah menjadi komposisi rumit dengan bunyi yang tidak karuan, miring ke sana dan miring ke sini. Frater-frater mulai menutup mulut, terkikik-kikik menahan tawa.

Kehancuran terjadi 15 menit kemudian, saat aku tampil lagi untuk ‘mengangkat’ Kidung Zakharia. Secara teknis, rangkaian nada dalam kidung ini memang lebih kompleks daripada dalam seruan pembuka. Bayangkan saja, di bagian belakang ada lima not dengan nada naik turun yang harus aku titi dengan tepat, tak boleh meleset, tak boleh terdengar fals. Sanggupkah aku? Aku ragu dan jadi gemetar. Tapi apa boleh buat, aku tak bisa mundur. Maka aku pun membulatkan tekad: aku hendak menyanyi untuk memuji nama Tuhan! Haleluya! Aku pasti bisa!

Maka, kupejamkan kedua mataku dan kutarik nafas dalam-dalam. Sesaat kemudian mulailah aku membuka mulut untuk melantunkan untaian syair yang indah penuh makna … dan habislah semuanya. Entah bagaimana caranya, aku membuat do jadi sol, sol jadi mi, dan mi jadi re. Konon kabarnya, dari mulutku keluar juga nada-nada baru yang belum pernah terdengar sebelumnya di alam semesta ini.

Pada saat itu, tanpa dikomando, seisi kapel langsung meledak. Teman-temanku tak kuat lagi menahan tawa. Sebagian berusaha menutup wajahnya dengan buku brevir, sebagian yang lain buru-buru keluar ruangan untuk tertawa sepuasnya di luar sana. Doa jadi kacau, ibadat sore bubar dengan sendirinya. Untung saat itu tak ada Pater Magister!


Tuhan itu panjang sabar dan besar kasih setia-Nya


Kalau hanya terjadi satu dua kali, tak apalah. Tapi peristiwa macam ini sudah terjadi berulang-ulang, dan sedihnya kemungkinan besar akan terus terjadi di masa mendatang. Bagaimana tidak, suaraku memang payah, tak bisa diperbaiki lagi. Jangan bilang aku malas berusaha, sebab aku sudah berdaya upaya sepanjang waktu untuk memperbaikinya. Setiap kali mendapat giliran memimpin ibadat, aku selalu mempersiapkan diri dengan sebaik-baiknya. Sehari sebelumnya aku pasti mengurung diri dalam kamar untuk latihan menyanyi sepanjang hari. Hasilnya, ya itu tadi, nol besar.

Pater Magister sebenarnya tak terlalu peduli apakah aku bisa menyanyi atau tidak. Dia ini orangnya keras, tapi hanya menyangkut hal-hal yang prinsip, nyanyi-menyanyi tidak termasuk di dalamnya. Yang tidak sabar melihat diriku adalah wakilnya, Socius Magister, atau yang biasa kami panggil Pater Socius. Maklum, dia ini seniman ulung dan penyanyi hebat tiada tara. Suaranya sangat merdu bagaikan suara malaikat yang turun dari surga. Dan jangan lupa, vibrasi suaranya itu lo. Kalau dia menyanyi, kaca-kaca jendela sampai bergetar dibuatnya. Pater Socius sangat peduli pada lagu-lagu Gregorian yang disebutnya ‘warisan luhur dari Bunda Gereja yang suci’. Ia sungguh tidak rela lagu-lagu surgawi itu turun martabatnya gara-gara suaraku yang sember.

Pertama kali mendengar aku menyanyi, Pater Socius spontan mengelus dada. Ia mengaku telinganya langsung sakit sampai-sampai pendengarannya terganggu selama seminggu. Setelah itu, disingkirkannya aku dari grup paduan suara, karena katanya suaraku ‘semerdu burung gagak yang tengah mencari makan di tengah sawah’. Kala teman-temanku menyanyi di gereja, ia malah menyuruhku jadi misdinar saja. Alasannya, ‘ini kor dengan empat suara, kalau ada kamu nanti jadi lima suara’. Lain kesempatan, ia marah mendapatiku mengacaukan ibadat. Dicelanya aku karena menyanyi seperti ‘orang yang sedang berkumur-kumur’. Suaraku, katanya dengan emosi, ibarat ‘jeritan roh jahat yang datang dari neraka’.

Lama-lama aku jengkel diejek demikian. Memangnya menyanyi itu adalah segala-galanya? Memangnya menyanyi itu syarat masuk surga? Memangnya biarawan yang baik diukur dari caranya menyanyi? Dari suaranya yang bagus? Lihat dari cara hidupnya dong, bukan dari caranya menyanyi!

Ah, bukan berarti aku membenci Pater Socius. Dia itu sebenarnya orang baik. Dulu, menyadari bahwa aku ini manusia bersuara sumbang, ia berusaha melatihku habis-habisan. Pertama-tama, ia mengajari aku untuk melafalkan kata dengan baik. Ini penting, sebab aku suka sekali mengubah huruf f menjadi p. Akibatnya, lagu bagus dari Spice Girls yang berjudul Viva Forever saat kunyanyikan berubah menjadi Pipa Poreper. Di mata Pater Socius, sang seniman sejati, apa yang kulakukan itu tak ubahnya pelecehan terhadap karya seni. Itu dosa besar! Ia terpanggil untuk mempertobatkan diriku agar kembali ke jalan yang benar.

Soal pelafalan kata, Pater Socius boleh dibilang sukses mendidik diriku. Sekarang aku bisa membedakan mana huruf f, mana huruf p. Tapi soal penguasaan nada, bimbingan darinya gagal total. Sejauh masih berurutan do-re-mi-fa-sol-la-si-do, not-not itu memang tidak menjadi masalah bagiku. Tapi kalau aku diminta menyanyikan lagu dengan not yang naik turun, meliuk-liuk, dan berbelit-belit, semuanya pasti kacau balau. Apa boleh buat, aku benar-benar tuna nada!

Kegusaran Pater Socius memuncak ketika aku bisa-bisanya mendapat tugas untuk membawakan Mazmur Tanggapan. Saat itu, kami mengadakan misa intern di kapel biara. Untung tak dapat diraih, malang tak dapat ditolak. Begitu aku bersuara dari atas mimbar, seketika seisi kapel dinaungi oleh suasana horor yang mencekam. Nada-nada yang kusenandungkan membuyarkan konsentrasi semua orang. Syukur tak ada yang sampai tertawa terbahak-bahak. Selain karena sudah kauancam sebelumnya, teman-temanku tampaknya sangat menghormati keluhuran perayaan Ekaristi. Mereka hanya buru-buru menunduk di kursinya masing-masing, setengah mati menahan tawa.

Tidak demikian halnya dengan Pater Socius. Ia murka dan sangat kecewa. Suaraku saat itu agaknya hancur-hancuran. Mendengarnya, Pater Socius jadi merasa bahwa usahanya selama ini sama sekali tak berguna. Jerih payahnya mengajariku menyanyi sia-sia belaka! Ia sangat marah karenanya dan langsung keluar dari kapel sambil membanting pintu. Tuhan kasihanilah kami…


Tuhan itu penopang bagi semua orang yang jatuh


“Tak kusangka ketidakmampuanku dalam bernyanyi akan membebani perjalanan panggilanku,” keluhku lagi melanjutkan sharing-ku. “Bayangkan, berdoa lima kali sehari, tujuh hari seminggu, semuanya dinyanyikan! La, ini kan ordo para pengemis bukan para penyanyi!”
“Kalau begini caranya, aku kan jadi repot. Mana tahan aku ditertawakan kalian semua terus-menerus. Terus terang ya, gara-gara itu aku pernah berpikir untuk mundur saja. Tapi masak keluar dari biara gara-gara tak bisa nyanyi? Alasan itu kurang berbobot!” Puas benar sore ini aku mencurahkan seluruh persoalan yang mengganjal hatiku.

Setelah itu, suasana mendadak hening. Aku sudah selesai dengan kisahku yang panjang lebar, sementara temanku yang tadi terkekeh-kekeh sekarang tampak berpikir-pikir dengan serius. Agaknya ia kini prihatin melihat diriku yang tengah pusing tujuh keliling. Tapi mengapa dia terus saja tersenyum-senyum kecil?
“Ah teman,” katanya sambil nyengir, “Kamu tak harus menyanyikan semuanya. Baca saja kah.”
“Tapi kebiasaan dalam tarekat kita kan begitu. Doa-doa harus dinyanyikan dengan indah. Semua orang meyakini bahwa menyanyi itu sama dengan berdoa dua kali!” kataku mengutip sebuah pepatah Latin.

“Itu kalau suaramu bagus,” tukas temanku. “Suaramu kan hancur. Kalau kau menyanyi, itu artinya kau tidak berdoa,” katanya sambil tertawa-tawa lagi.
“Lagi pula jangan kecil hati kah,” lanjutnya. “Yang suaranya jelek justru kelak akan jadi uskup. Biasanya begitu. Lihat saja, uskup-uskup kan biasanya tak bisa menyanyi.”
Wah, benarkah itu? Perkataan terakhir temanku menjadi penghiburan bagiku. Aku bisa tersenyum lagi dan sepanjang malam membayangkan asyiknya menjadi uskup. Hmmm…


Dua belas tahun kemudian


Hari ini aku bertemu dengan temanku itu lagi. Aku berdiri di depan altar, sementara ia kulihat duduk manis di bangku umat. Ya, setelah melalui perjalanan yang panjang, setelah jatuh bangun berjuang menghadapi aneka macam tantangan, pada akhirnya aku boleh ditahbiskan menjadi imam. Temanku itu tidak ada di antara kami, frater-frater yang ditahbiskan, sebab ia telah memilih untuk menempuh jalan hidup yang lain. Sayang sekali, padahal ia anak yang pandai.

Tentang diriku, aku sungguh tidak menyangka boleh menerima anugerah sebesar ini dari Tuhan. Padahal sebagai seorang pribadi, aku sungguh memiliki banyak kekurangan. Aku merasa tak layak menjadi hamba-Nya. Namun, kebesaran dan kebaikan hati Tuhan menutupi semua kekurangan itu.

Atas karunia yang melimpah ini, tak henti-hentinya hatiku memuji Dia, “Ya Tuhan, aku hendak mengagungkan nama-Mu untuk seterusnya dan selamanya!”
Aku pun bertekad untuk membalas kebaikan itu. Kujanjikan kepada-Nya, “Ya Tuhan, umat-Mu yang Kaupercayakan kepadaku akan kugembalakan dengan sebaik-baiknya! Siang dan malam!”
Setelah misa selesai, di tengah-tengah serbuan umat yang ingin mengucapkan selamat, aku berkesempatan bertemu dan berbincang-bincang dengan temanku itu. Wah, tak terasa kami sudah tidak bertemu selama belasan tahun! Maka dengan gembira kami bersalaman, saling menepuk bahu, dan berbasa-basi menanyakan kabar satu sama lain. Sayangnya perbincangan itu tak bisa berlangsung lama. Panitia sudah menyeret-nyeretku untuk berfoto bersama umat. Maka, pertemuan kami untuk sementara terpaksa mesti diakhiri.
“Omong-omong,” katanya sebelum berpisah “prefasi yang kaunyanyikan tadi adalah prefasi terburuk yang pernah kudengar.”
“Suaramu masih saja mengerikan, baca saja kah.”
Kali ini kami tertawa bersama-sama.***

Kepustakaan
Barth, Marie Claire, dan B.A. Pareira. Tafsir Alkitab: Kitab Mazmur 73-150. Jakarta: BPK Gunung Mulia, 1999.
Mays, James L. Psalms. Louisville: John Knox Press, 1994.
Stuhlmueller, Carroll. Psalms 2. Delaware: Michael Glazier, Inc, 1983.
Van Harn, Roger E., dan Brent A. Strawn (ed.). Psalms for Preaching and Worship. Grand Rapids: William B. Eerdmans, 2009.






Senin, November 29, 2010

Mazmur 12

DENGAN LIDAH, KAMI MENANG
Jarot Hadianto

“Dengan lidah kami, kami menang! Bibir kami menyokong kami! Siapakah tuan atas kami?”
(Mzm. 12:5)


Sepucuk surat menyambut kehadiranku di kantor hari ini, padahal hari masih pagi-pagi benar. Surat itu tergeletak di atas meja, di ruangan kecil tempat kami biasa makan siang sekaligus berganti pakaian. Warnanya putih bersih, di bagian kiri atas tercetak tebal logo kantor ini, sedangkan namaku tertera di sebelah kanan bagian tengah. Surat? Tidak biasanya aku mendapat surat, tidak biasanya juga kantor ini mengirimi pegawainya surat. Praktis saja, kalau ada apa-apa biasanya pimpinan memanggil kami, lalu memberi instruksi ini dan itu. Jadi, kenapa kali ini aku dikirimi surat?

Karena itu hatiku jadi berdebar-debar. Kuletakkan ranselku di atas lantai, lalu dengan perlahan aku pun duduk di samping meja, berlama-lama menatap surat tersebut. Kubiarkan saja surat itu tergeletak dalam posisinya yang semula, aku belum menyentuhnya sama sekali. Mengulurkan tangan untuk mengambil surat itu rasanya aku tak berani. Pikiranku tiba-tiba saja jadi kosong dan melayang-layang. Berkali-kali aku mendesah dan menghela napas yang panjang. Pada saat-saat seperti ini, menerima surat memang merupakan hal yang sangat menakutkan.


Tolonglah kiranya, Tuhan…

Meskipun kepada orang lain aku membanggakan diri sebagai “orang kantoran”, sebenarnya aku tidak benar-benar bisa disebut demikian. Aku ini dibilang pegawai ya tidak tepat, dibilang bukan pegawai juga tidak tepat. Bingung? Yang kumaksud, aku memang bekerja di kantor ini, tapi sebenarnya aku dikirim oleh sebuah yayasan untuk ditempatkan di sini. Istilah kerennya, aku ini tenaga outsourcing.

Jadi jangan samakan aku dengan pegawai-pegawai lain di kantor ini, yang mulai bekerja jam 8 pagi dan bergegas-gegas pulang tepat jam 5 sore. Aku selalu datang jauh lebih awal dan selalu pulang jauh lebih lambat. Namun, meskipun kelihatannya aku bekerja lebih keras daripada pegawai-pegawai tersebut, tetap saja aku tak bisa mengelak dari kenyataan bahwa aku ini pegawai rendahan. Maka sejujurnya, di kantor ini aku bukanlah siapa-siapa.

Dari hari ke hari, aku mengerjakan hal yang rutin dan terkesan itu-itu saja. Yang kutangani boleh dibilang pekerjaan yang remeh, sepele, serta tidak penting sama sekali. Tiap pagi misalnya, aku dan teman-teman senasib sepenanggungan mengawali hari dengan bersih-bersih, menyapu dan mengepel kantor yang tingginya sampai tujuh lantai ini. Setelah itu, beberapa saat sebelum para pegawai yang rapi dan berdasi mulai berdatangan, kami membuatkan mereka teh atau kopi yang hangat. Beres dengan itu, tugas-tugas lain sudah menanti. Sepanjang hari kami disibukkan dengan tugas membersihkan dinding dan langit-langit gedung, mengangkut boks-boks besar dari lantai 1 ke lantai 7, memfotokopi macam-macam berkas, juga orderan dari para bos untuk membelikan mereka makan siang.

Meski tampaknya sepele, jangan dikira tugas-tugas itu gampang saja dilakukan. Soal membuat minuman, misalnya. Aku harus ingat baik-baik bahwa si ibu di lantai 1 maunya teh kental tanpa gula, sebab dia itu paranoid dengan diabetes. Sementara itu, nona-nona di lantai 2 minta dibuatkan teh manis, tapi tidak boleh terlalu manis. “Kami kan sudah cukup manis,” kata mereka kepedean. Tuan-tuan di lantai 3 punya request yang edan. Tiap pagi jam 8 pas, kopi hitam dengan gelas besar sudah harus tersaji di meja mereka. “Ingat ya, gulanya harus tiga sendok! Buatnya jangan kepagian, jangan sampai pas mau diminum sudah dingin. Saya maunya kopi panas, bukan es kopi!”

Aduh, aduh, aduh, tiga puluh pegawai dengan tiga puluh permintaan. Tiap orang punya kemauan masing-masing, dan aku harus mengingat itu semua dengan baik. Gula yang terlalu sedikit atau terlalu banyak, kopi yang kurang kental, minuman yang kurang panas, semuanya akan berbuah teguran atau malah komplain yang keras. Dan memang ada kalanya aku mendapat hari-hari sial, disembur kemarahan dari lantai 1 sampai lantai 7, dari pagi sampai petang. Kalau sudah begitu, aku hanya bisa mengurut dada menyabar-nyabarkan diri, sambil berbisik dalam hati, “Tolong Tuhan, tolong…”


Bibir yang manis dan hati yang bercabang

Sekali lagi harus kukatakan, di kantor ini aku bukanlah siapa-siapa. Yayasan tempatku bernaung bisa memindahkan aku sewaktu-waktu ke mana mereka suka. Kantor tempat aku bekerja ini juga bisa meminta agar aku diganti, yakni kalau mereka tidak puas dengan pekerjaanku. Teman-temanku sudah banyak yang mengalaminya. Mereka pergi dari sini dengan air mata, tanpa tahu kesalahan apa yang telah mereka perbuat. Memang istilahnya mereka itu di-rolling. Namun, karena belum tentu ada tempat baru yang bisa menampung, atau karena kemudian ditaruh di tempat yang jauh, terpencil, dan susah dijangkau, rolling rasanya hanya istilah halus untuk pemecatan.

Bercermin dari pengalaman mereka, aku mencoba untuk bekerja dengan sebaik-baiknya. Meski gaji yang kudapat untuk pekerjaan yang melelahkan ini tak seberapa, tak apalah. Enam ratus ribu sebulan memang sudah mengandaskan mimpiku menjadi jutawan. Mana mungkin bisa kaya, untuk hidup sehari-hari saja kurang. Namun, ketika badanku sakit semua saat harus naik-naik tangga atau menggosok-gosok toilet, aku ingat senyum keluargaku yang menunggu di rumah. “Anakku sayang, istriku sayang, aku mengerjakan ini semua demi kalian,” kataku dalam hati. Dan aku pun kembali bekerja dengan penuh semangat.

Tapi sayangnya, seperti yang juga dialami oleh teman-temanku, tidak semua orang bisa menerima keberadaanku. Di antara pegawai kantor ini tampaknya ada yang tidak puas melihat caraku bekerja. Di matanya, apa saja yang kulakukan rasanya selalu salah, tak ada yang beres. Mengelap meja, tak mengkilap; menyapu, tak bersih; mengepel lantai, airnya tercecer di mana-mana. Bagaimana dengan teh yang tiap pagi kubuatkan khusus untuknya? Dia bilang, teh itu rasanya tidak karu-karuan. Suatu ketika, ia mengaku mendapat teh yang rasanya begitu aneh: ada manis, ada asem, ada asin. Maka ia memanggilku dan meledakkan amarahnya di hadapanku. Ia membentakku sambil menunding-nudingkan jarinya ke mukaku, “Kamu ini buat teh atau ORALIT!!!”

Teh yang kurang enak hanya soal remeh. Namun, karena pada dasarnya sudah tidak suka, soal yang remeh pun bisa dibuat jadi besar. Apalah dayaku, aku hanya orang kecil. Saat itu aku hanya bisa diam dan tertunduk. Selanjutnya, kalau bekerja di ruangannya, aku selalu berusaha cepat-cepat. Aku juga tidak berani mengangkat kepala memandang wajahnya. Kebenciannya kepadaku lama-kelamaan kurasa makin mendalam. Ia selalu saja mencari-cari apa yang salah, yang bisa dijadikan bahan untuk mengomeli diriku. Pokoknya bagi dia, aku ini pekerja yang payah.

Anehnya, dia yang beringas terhadapku, kalau berhadapan dengan orang lain, sikapnya langsung berubah seratus delapan puluh derajat. Dengan rekan-rekannya, terutama dengan bos-bos besar, senyumnya selalu terkembang, semanis gula batu. Tutur katanya senantiasa halus, tertata rapi, dan indah. Orang-orang terkesan kepadanya dan memuji-muji betapa cakapnya ia bekerja. Melihat itu, aku jadi sedih sekaligus menggerutu. Mengapa mereka menilai orang dari luarnya saja? Tak tahukah mereka bahwa dia ini begitu kejam? Orang ini adalah manusia yang punya dua hati!


Dengan lidah kami, kami menang!

Sekarang kalian tahu mengapa surat ini membuatku ketakutan. Dia yang membenciku setengah mati adalah orang yang punya pengaruh kuat di kantor ini. Rekan-rekan sesama pegawai segan kepadanya, pekerja-pekerja kelas bawah takut berhadapan dengannya. Seorang teman sampai-sampai membisikkan nasihat kepadaku, “Kamu boleh dimusuhi oleh siapa saja di kantor ini, asal bukan dia. Dimusuhi dia artinya game over.” Tapi kini ia jelas-jelas membenciku. Bagaimana aku tidak khawatir?

Bisa saja dia melaporkan yang buruk-buruk tentang aku kepada para pimpinan. Di hadapan mereka, ia dapat memutarbalikkan kata sekehendak hati. Hal itu tentu tidak sulit, sebab ilmu dan kepandaiannya sangatlah tinggi. Dengan mudah, para pimpinan akan percaya penuh kepadanya. Seketika mereka akan melihat bahwa yang ada pada diriku ini hanyalah keburukan semata-mata. Hasilnya, sebuah surat akan segera mereka kirimkan kepadaku, surat agar aku segera enyah dari tempat ini, surat pemecatan. Itukah surat yang ada di depanku saat ini? Aku belum juga sanggup memungutnya dari atas meja.

Ah, sekarang aku merasakan sendiri betapa kata-kata dapat dirancang untuk membunuh seseorang. Demi kedudukan dan keinginan dirinya, orang yang punya kuasa tega memanfaatkan bibir dan lidahnya untuk tujuan yang salah. Hati yang bercabang dan lidah yang penuh dusta sungguh membawa maut! Korbannya tidak lain orang-orang kecil dan lemah seperti aku ini. Dia bisa bersilat lidah, aku tidak. Di sini aku bahkan tak punya hak untuk mengucapkan barang sepatah kata. Siapa yang percaya pada perkataan petugas kebersihan seperti aku?

Tuhan, aku lemah. Aku tidak bisa berbuat apa-apa. Bagaimana kalau aku sampai diberhentikan? Aku lalu kerja di mana? Siapa yang mau mempekerjakan orang kecil seperti aku? Bagaimana pula nasib anak dan istriku nanti?

Tuhan, aku tahu, dia adalah orang yang sangat kuat. Dengan lidah dan kata-katanya yang licik, ia menguasai segalanya. Tetapi Engkau, ya Tuhan, Engkau tahu apa yang ada dalam hati manusia. Patahkan kesombongannya, ya Tuhan. Jangan biarkan orang-orang percaya kepadanya. Jangan biarkan pula orang-orang angkuh macam dia berseru, “Dengan lidah, kami menang!” Bangkitlah Tuhan, tunjukkan kuasa-Mu. Kasihanilah aku, ya Tuhan, kasihanilah keluargaku.


Engkau, Tuhan, yang akan menepatinya…

Seperempat jam kubiarkan diri terombang-ambing dalam kegelisahan, memikirkan berbagai macam prasangka dan kemungkinan-kemungkinan terburuk. Amplop putih itu masih setia tergeletak di depanku. Ah, mengapa aku begitu cemas? Siapa tahu isi surat ini tidak seburuk yang kubayangkan? Maka, dengan tangan bergetar, surat itu kuambil dari atas meja. Kuputar-putar sejenak sambil kutatap dengan wajah yang bimbang. Lalu, setelah hatiku terasa kuat, perlahan amplop itu aku sobek. Selembar kertas yang ada di dalamnya segera kutarik keluar.

Kata demi kata aku baca dengan perlahan, kalimat demi kalimat aku resapi dalam-dalam. Air mata mulai mengalir di pipiku. Tanpa sadar aku mulai terisak-isak. Kututupi wajahku dengan kertas surat yang ada di tanganku itu. Ah Tuhan, sungguhkah mukjizat itu ada? Mengapa aku tidak mengalaminya?***

Kepustakaan
Barth, Marie Claire, dan B.A. Pareira. Tafsir Alkitab: Kitab Mazmur 1-72. Jakarta: BPK Gunung Mulia, 1999.
Mays, James L. Psalms. Louisville: John Knox Press, 1994.
Stuhlmueller, Carroll. Psalms 1. Delaware: Michael Glazier, Inc, 1983.

Jumat, Oktober 29, 2010

Mazmur 29


BADAI BULAN NOVEMBER
Jarot Hadianto


“Kepada TUHAN, hai penghuni surgawi,
kepada TUHAN sajalah kemuliaan dan kekuatan!” (Mzm. 29:1)

Segelas cappuccino, dua donat berlapis strawberry, dan duduklah aku di café itu dengan nyaman. Tempat duduk yang kupilih rasanya sangat pas dan strategis. Letaknya memang di sudut ruangan, tapi dari situ aku tetap bisa melihat suasana di luar sana. Dan yang paling penting: sofanya begitu empuk! Siapa pun yang mendudukinya pasti akan menghembuskan nafas panjang penuh kelegaan, seperti yang terjadi pada diriku saat ini.

Tak menunggu lama, cangkir kopi di atas meja segera kuangkat. Sambil memejamkan mata, aromanya yang harum semerbak kuhirup dalam-dalam. Hmmm, sedaaappp… Tak percuma saudara-saudara Kapusin meminjamkan namanya untuk minuman berwarna cokelat muda ini. Lalu, selagi masih hangat, cappuccino itu kuminum sedikit demi sedikit. Ah, nikmatnya sungguh tak terkira…

Mampir di café macam ini sebenarnya bukan kebiasaanku. Aku bahkan berpendapat, itu hanya buang-buang waktu dan buang-buang uang saja. Tapi sore ini apa boleh buat. Hujan turun dengan derasnya ketika aku berjalan kaki pulang dari kantor. Datangnya yang mendadak membuat semua orang berlari-lari mencari tempat berteduh, termasuk diriku. Beberapa waktu lamanya aku bernaung di sebuah halte bus, namun derasnya hujan dan amukan angin yang liar langsung menyadarkanku bahwa tempat ini tak banyak membantu.

Maka terpaksalah aku masuk ke café ini. Letaknya memang persis di seberang halte tersebut. Dari luar sudah kelihatan bahwa tempat ini sanggup memberikan kehangatan. Dan benar, itulah yang aku rasakan begitu masuk ke dalamnya. Para pelayan menyambutku dengan ramah, sambil mengucapkan pertanyaan standar, “Ada yang bisa kami bantu?” Kubalas senyum mereka dan kusebutkan pesananku. Ah, berteduh tak pernah senyaman ini: duduk manis bak seorang eksekutif muda, ditemani cappuccino nan hangat dan donat nan lezat. Tapi berteduh juga tak pernah semahal ini: untuk makanan dan minuman yang tak mengenyangkan itu, aku harus membayar tiga puluh ribu!

Berilah kepada Tuhan kemuliaan nama-Nya

Sambil terbuai dalam kenikmatan, aku melayangkan pandangan ke jalan raya. Suasana di luar sana benar-benar kacau. Mobil-mobil berderet panjang, sama sekali tak bergerak. Samar-samar terdengar bunyi klakson bersahut-sahutan. Orang-orang di dalam mobil itu rupanya sudah tak sabar. Masak satu jam hanya bisa maju sepuluh meter! Aku tersenyum kecil. Di kota metropolitan ini, hujan turun sebentar saja, lalu lintas pasti langsung kacau. Penyebabnya? Selokan meluap, jalan tergenang air, pohon tumbang, lampu lalu lintas mati, dan macam-macam hal lainnya. Mau protes bagaimana lagi?

Yang boleh merasa sedikit beruntung hanyalah pengendara sepeda motor. Satu dua dari mereka kulihat bisa melaju, lolos dari kemacetan, karena cerdik mencari celah di sana-sini. Tapi aku menggeleng-gelengkan kepala. Gila mereka itu. Hujan selebat ini masih juga nekat diterobos. Kenapa tidak menepi saja? Selain berbahaya, orang-orang itu tanpa sadar mempersilakan dirinya didatangi macam-macam penyakit.

Pengendara motor yang lain bersikap lebih bijaksana. Bersama sejumlah pejalan kaki, mereka memilih berteduh di pinggir jalan. Mengapa orang-orang itu kusebut bijaksana, tidak lain karena hujan sore ini memang luar biasa. Air tercurah laksana dituang dari langit. Butir-butir air hujan tampak begitu besar – mungkin sebesar biji salak – sehingga pasti akan terasa menyakitkan kalau terkena badan. Jangan cari masalah dengan menantang hujan macam ini, lebih baik menghindar.

Biar begitu, orang-orang yang berteduh itu kelihatannya tak merasa lebih baik. Kupandangi wajah mereka satu per satu. Tak satu pun tersenyum, tak seorang pun tampak bahagia. Ibu berbaju merah di halte itu misalnya, mukanya begitu suram. Lelaki di sebelahnya sama saja. Ia bahkan sedang marah-marah, mungkin mengutuki motornya yang mogok.

Memandang mereka semua, aku merasa beruntung. Kuiris donat yang ada di atas meja, lalu kusantap dan kunikmati rasanya yang asam-manis itu perlahan-lahan. Diam-diam aku tersenyum lagi, diam-diam pula aku bersyukur, memuji nama Tuhan atas keadaanku. Tapi mengapa semua harus serba diam-diam? Ya, karena aku agak merasa bersalah, bisa tersenyum di atas penderitaan orang lain.

Suara Tuhan di atas air, Allah yang mulia mengguntur

Sudah setengah jam aku berada di tempat ini. Hujan tak kunjung reda, malah makin menggila. Padahal, cappuccino-ku sudah tandas, sementara donat cuma tersisa seiris. Mau pesan lagi, uang sudah menipis. Aku mulai gelisah dan mengeluh dalam hati, “Ah Tuhan, kenapa Kauturunkan hujan sore hari, saat kami pulang kerja? Kenapa tidak tadi siang saja? Begini kan bikin repot.”

DUARRR!!! Aku terperanjat saking kagetnya. Orang-orang di luar sana kulihat serentak menundukkan kepala. Astaga, apa itu tadi? Kilat! Halilintar! Sekarang giliran dia rupanya yang mengamuk. Lidahnya menyambar-nyambar tanpa ampun di angkasa. Langit yang gelap gulita itu seakan-akan mau dibelahnya dengan cahayanya yang terang-benderang dan suaranya yang dahsyat menggelegar. Engkaukah yang berteriak itu, Tuhan? Apakah itu jawaban-Mu atas keluhanku? Jangan begitu, Tuhan. Engkau membuat kami semua ketakutan saja!

DUARRR!!! Karena aku masih protes, Tuhan membalasnya dengan kilat yang lebih hebat. Nyali orang-orang jadi makin ciut, apalagi diriku. Aku menggigil ketakutan, tak berani mengkritik-Nya lagi. Jangan-jangan berikutnya Ia mengirim kilat untuk menyambar kepalaku!

Kilat yang kedua tadi ternyata memang sangat dekat. Disambarnya pohon tinggi besar yang ada di ujung jalan. Pohon perkasa itu dibuatnya hangus dalam sekejap! Kami semua terpana memandangnya. Mulut kami makin menganga ketika tak berapa lama kemudian terdengar bunyi, “Krakk…, krak…, krak…” Orang-orang mulai berteriak histeris. Kutinggalkan sofaku yang empuk dan aku memandang peristiwa langka ini dari balik dinding kaca.

Pohon itu perlahan-lahan tumbang. Pelan tapi pasti, ia miring ke kiri, miring terus, miring terus, dan “Bummm…” Terkaparlah ia ke tanah, menghancurkan pagar dan bagian depan sebuah rumah yang ada di dekatnya. Untung bagi orang-orang yang berteduh, pohon itu tidak menimpa mereka. Untung bagi pengguna jalan, pohon itu tidak menjatuhi kendaraan yang mereka tumpangi. Tapi sial benar pemilik rumah itu. Mimpi apa dia semalam, rumahnya rontok dihajar pohon yang beratnya ratusan kilo.

Dadaku berdebar kencang melihat kejadian yang spektakuler itu. Meski merasa was-was, tak henti-hentinya aku mengucap syukur. Syukur bahwa aku tidak kehujanan di luar sana, syukur bahwa aku aman dan nyaman di ruangan ini, syukur bahwa aku tidak berada di dekat pohon itu, syukur bahwa yang tertimpa pohon itu bukan rumahku, syukur bahwa … DUARRR!!! Semua orang di ruangan ini berseru kaget. Listrik tiba-tiba mati. Kegelapan mendadak menguasai tempat ini.

Aku hanya bisa diam membisu. Ucapan syukurku tak lagi kuteruskan. Kulihat para pelayan berjalan bergegas ke sana-kemari. Mereka kebingungan mencari lilin. Waduh, zaman modern begini masih mengandalkan lilin! Apakah mereka tak punya genset? Para pengunjung, termasuk aku, hanya bisa pasrah menunggu dalam gelap. Lenyap sudah kenyamanan yang sejak tadi kurasakan, kenyamanan yang kubayar dengan harga yang sangat mahal!

DUARRR!!! Untuk yang terakhir kalinya, kilat menyambar lagi. Terangnya sejenak menerangi orang-orang di ruangan ini yang terpuruk dalam kegelapan di tempat duduknya masing-masing. Sekilas aku melihat ke arah bawah. Lantai tampak begitu mengkilap. Lalu kakiku tiba-tiba terasa basah. Yaaahhh… café elite ini ternyata kebanjiran!

Tuhan kiranya memberikan kekuatan kepada umat-Nya

Para pengunjung langsung panik, sementara aku menggerutu saking jengkelnya, “Hentikan banjir ini, ya Tuhan. Hentikan!” Tapi kemudian aku jadi bingung sendiri. Tuhan memang berkuasa atas hujan, tapi apakah Ia yang harus dipersalahkan kalau kami kebanjiran? Tuhan memang berkuasa atas kilat, tapi apakah Ia yang harus bertanggung jawab kalau kilat itu menyambar pohon, lalu pohon itu ambruk menimpa rumah? Wah entahlah, aku tak tahu.

Yang aku tahu, aku harus cepat berbuat sesuatu. Makin lama air yang masuk ke ruangan ini makin banyak saja. Maka buru-buru kukemasi barang-barangku, dan aku pun segera melangkah pergi. Kebetulan hujan yang tadi mendadak datang, kini mendadak pula berhenti. Yang tersisa di luar sana hanyalah gerimis kecil. Jadi kuputuskan untuk memberanikan diri meninggalkan tempat ini. Apa pun yang terjadi, aku harus melanjutkan perjalananku. Aku harus pulang.

Kubuka pintu café perlahan-lahan, dan aku pun langsung terperanjat. Badai yang terjadi di awal bulan November ini benar-benar hebat. Jalanan sanggup diubahnya menjadi samudra. Air ada di mana-mana. Di hadapanku berjajar begitu banyak kendaraan yang terendam di tengah jalan. Orang-orang tampak kebingungan, tak bisa berbuat apa-apa. Beberapa kulihat menelepon sanak kerabatnya sambil menangis. Yah, tak ada yang bisa kulakukan untuk membantu mereka. Jadi, aku pergi saja menjauhi tempat itu, menyibak genangan air yang tingginya sudah sampai selutut. Kalau air ini tiba-tiba meninggi, habislah semuanya. Maka dengan sungguh aku berdoa, “Tuhan, lindungi dan sertailah aku. Berilah aku kekuatan-Mu…”

Penutup: Tuhan kiranya memberkati umat-Nya dengan sejahtera!

DUARRR!!! Suara itu terdengar lagi. Aku mengeluh, “Ya Tuhan, mengapa jawaban dari-Mu seperti itu?” Dengan cemas, aku melangkah terus menerjang banjir. Sambil berjalan, kudaraskan doa Salam Maria tanpa henti. Semoga Ibu Maria berkenan mendampingi anaknya yang tengah bersengsara ini. “Ibu, jaga aku agar selamat sampai di rumah…”

DUARRR!!! Doaku tak berbalas. Tak adakah penghuni surga yang tergerak untuk menolongku? Aku ketakutan berjuang antara hidup dan mati. Di atas sana kilat menyambar-nyambar lagi dengan hebatnya. Hujan deras kembali turun. Kupandangi sekelilingku dengan nafas terengah-engah. Sejauh mata memandang, yang ada hanyalah air, dan makin lama permukaan air itu makin meninggi…, meninggi…, dan terus meninggi…***

Bacaan Pendukung
Barth, Marie Claire, dan B.A. Pareira. Tafsir Alkitab: Kitab Mazmur 1-72. Jakarta: BPK Gunung Mulia, 1999.
Bergant, Dianne, dan Robert J. Karris (ed.). Tafsir Alkitab Perjanjian Lama. Yogyakarta: Kanisius, 2004.
Mays, James L. Psalms. Louisville: John Knox Press, 1994.

Rabu, September 29, 2010

Mazmur 6

AIR MATA DI ATAS RANJANG

Jarot Hadianto


“Setiap malam aku menggenangi tempat tidurku, dengan air mataku aku membanjiri ranjangku.”
(Mzm. 6:7)

Ya Tuhan, janganlah menghukum aku dalam murka-Mu

00.00. Detik berganti detik, menit berganti menit, jam berganti jam, dan kini tanpa terasa hari baru telah tiba. Suasana senyap senantiasa mengiringi pergantian hari di kampung kecil ini, tak terkecuali malam ini. Semua orang telah terlelap di rumahnya masing-masing. Yang terdengar hanyalah desiran angin malam, juga suara jangkrik yang menyanyi bersahut-sahutan dari tengah sawah. Bagiku yang sedang gelisah dan tak bisa memejamkan mata, merekalah penghibur malam yang sejati.

00.05. Kalau ada yang berkata, “Kesusahan sehari cukuplah untuk sehari,” baiklah ia tahu bahwa nasihat itu mudah untuk diucapkan, tapi sulit untuk menjadi kenyataan. Ranjang tempatku berbaring adalah saksinya. Sudah sejak senja aku merebahkan diri di situ, tapi sampai tengah malam tiba jiwaku tak kunjung terbang ke alam mimpi. Ini sudah berlangsung berhari-hari! Ya, hari-hari belakangan ini aku memang susah tidur. Badanku hanya terbolak-balik di atas ranjang, kadang ke kanan, kadang ke kiri, persis yang dilakukan oleh tukang martabak. Ranjang kayu yang tua ini berderak-derak sepanjang malam sebagai akibatnya. Kalau ia bisa ngomong, pasti ia sudah protes dan menyuruhku pindah ke lantai saja.

00.10. Tiba-tiba air mataku mengalir. Untuk kesekian kalinya, lagi-lagi aku menangis. Hari baru ini aku awali dengan air mata, tanda bahwa bagiku hari ini akan sama saja dengan hari-hari sebelumnya yang penuh dengan duka dan kepedihan. Anakku, anakku, ini gara-gara aku memikirkan dirimu. Mengapa anakku, mengapa engkau membuatku seperti mendapat murka dari Yang Kuasa? Mengapa engkau membuat ibumu yang sudah tua ini jadi begini?


Sembuhkanlah aku Tuhan, sebab tulang-tulangku gemetar

00.15. Terbayang-bayang wajahnya, aku makin terisak-isak. Dia adalah anakku yang bungsu. Dulu dialah matahari keluarga ini. Keberadaannya, juga sikap dan tingkah lakunya, senantiasa mengharumkan nama seisi rumah. Dialah satu-satunya anak yang bisa kubanggakan. Bagaimana tidak, melihat si sulung, aku lebih sering mengelus dada. Anak itu berandalan dan suka membuat onar. Susah payah disekolahkan, eh ujung-ujungnya jadi preman pasar. Adiknya sama saja. Dia tak sempat sekolah tinggi karena SD saja tidak lulus-lulus. Kini ia masih tinggal bersamaku. Kerjanya makan, tidur, dan main remi bersama teman-temannya. Tapi si bungsu ini sungguh berbeda. Tidak seperti kakak-kakaknya, ia rajin, cerdas, dan punya pendirian. Selepas SMA, dengan berani ia menentukan jalan hidupnya: masuk seminari, ingin jadi imam.

00.30. Kubalikkan badan ke sebelah kanan sambil mengingat-ingat perjalanan anakku tersayang dalam menanggapi panggilan Tuhan. Jalan yang ditempuhnya sangat panjang. Sepuluh tahun! Teman-temannya sudah berguguran laksana daun di musim kemarau, tapi ia tetap bertahan. Pada akhirnya, ia mengundangku hadir dalam upacara tahbisan yang tak mungkin pernah bisa kulupakan. Begitu besar, begitu megah, begitu meriah! Tergetar hatiku melihat Bapak Uskup meletakkan tangan di atas kepalanya. Tergetar jiwaku melihat begitu banyak umat yang hadir memberinya dukungan. Tergetar jantungku melihat makanan dan minuman yang melimpah ruah, yang pastinya cukup untuk orang satu kecamatan. Luar biasa! Betapa besar harapan dan kepercayaan diletakkan di pundak anakku yang bungsu ini. Air mata bahagia mengalir dari kedua mataku. Ayahnya yang sudah beristirahat di surga sana pasti merasakan hal yang sama.

00.45. Tapi lima tahun kemudian, hal-hal aneh terjadi. Dia mulai sering pulang ke rumah, katanya untuk berlibur. “Libur kok sebulan sekali? Seperti orang gajian saja,” tanyaku. Ia tertawa saja, dan malah ganti menanyakan kesehatanku, apakah aku kira-kira punya penyakit jantung, atau darah tinggi, atau mungkin stroke. Tentu saja aku jadi heran mendengarnya, apalagi ketika ia mulai berbicara dengan bahasa-bahasa filsafat yang tidak aku mengerti, tentang perubahan, tentang pencarian jati diri, tentang pergulatan memahami panggilan Tuhan, juga tentang jalan hidup yang lain. Dua minggu lalu, keheranan itu mendapat jawabannya. Selembar surat datang darinya suatu siang, mengabarkan bahwa ia mengundurkan diri dari imamatnya. Tubuhku gemetar hebat dibuatnya. Saat itu juga aku jatuh pingsan.


Mataku rabun karena semua lawanku

01.00. Sampai saat ini, aku tetap tidak mengerti mengapa ia mengambil keputusan itu. Anakku, apa yang sesungguhnya terjadi? Mengapa engkau merasa bahwa jalan Tuhan itu bukan panggilanmu? Apakah hatimu kini terpikat pada hal-hal duniawi? Ataukah dirimu sekarang telah pindah ke lain hati? Apa mungkin engkau mundur karena telah melanggar kaul kemurnian, kemiskinan, dan ketaatan yang dulu engkau janjikan? Ah, sakit hatiku memikirkan kemungkinan-kemungkinan itu. Bukan hanya itu, badanku lalu ikut-ikutan sakit. Dulu aku darah rendah, sekarang jadi darah tinggi. Keadaanku menurun drastis. Kini tak banyak yang bisa kulakukan, selain melamun sambil tidur-tiduran di atas ranjang.

01.30. Erangan si manis dari pojok kamar sejenak mengagetkanku. Kucing hitam itu rupanya merasakan kegelisahan majikannya. Ya, bagaimana aku tidak gelisah? Segudang pertanyaan memenuhi kepalaku, tak satu pun ada jawabannya. Aku berharap anakku itu segera pulang untuk menemuiku dan menjelaskan segalanya. Tapi hal itu tidak terjadi. “Ibu, untuk pulang, aku perlu waktu,” tulisnya dalam surat yang terakhir. Menurutnya, ia harus mempersiapkan batin terlebih dahulu, sebab banyak orang – apalagi di kampung kecil seperti kampung kami ini – belum bisa menerima kehadiran mantan pastor.

02.00. Alasan itu tampaknya ada benarnya. Mendengar anakku tak lagi jadi imam, cerita ini dan itu mulai tersebar ke seluruh penjuru desa. Panas telingaku mendengarnya, sebab tak ada hal bagus di dalamnya. “Dengar-dengar ada skandal rahasia lo,” bisik si tukang gosip saat doa rosario lingkungan. “Katanya sih, dia kurang kuat menghadapi godaan,” sambung yang lain memeriahkan suasana. Kejengkelanku semakin memuncak ketika orang-orang mulai menyoroti rumahku, “Wah Bu, kok rumahnya tiba-tiba diperbaiki? Ada yang rusak ya? Waduh, gentengnya juga baru nih?” Meski dilontarkan dengan nada ramah, batinku teriris-iris mendengarnya. Pertanyaan atau sindirankah itu? Di depanku orang-orang itu tersenyum, tapi aku yakin di belakangku mereka mengolok dan menghina diriku. Tuhan, kasihanilah kami…


(Semoga) Tuhan mendengar tangisku

04.00. Kokok ayam jantan di kejauhan membangunkan diriku. Untuk beberapa saat rupanya aku terlelap, mungkin karena terlalu lelah memikirkan beban yang luar biasa berat. Tapi lumayan, badanku jadi terasa agak segar. Ini bekal berharga bagiku untuk menjalani hari-hari kelabu selanjutnya. Aku akan berhadapan lagi dengan tatapan sinis para tetangga; aku akan mendengar lagi mereka berbisik-bisik membicarakan anakku. Tuhan, aku putuskan untuk menyerahkan ini semua kepada-Mu. Kupercayakan diriku pada belas kasih-Mu, kupercayakan pula anakku pada kemurahan-Mu. Dampingilah dia, Tuhan. Jangan biarkan ia sedih sendirian. Mungkin Engkau kecewa karena ia telah meninggalkan jalan-Mu, tapi percayalah Tuhan, ia akan menemui-Mu lagi di jalan yang lain.

04.30. Perlahan-lahan hari mulai terang. Dengan susah payah, aku beranjak dari ranjangku. Kubuka jendela kamar, dan kutatap fajar yang mulai menyingsing. Wajah anakku tersayang terbayang di sana. Pulanglah, Nak. Aku menantimu, aku ingin memelukmu. Ceritakanlah semua, berkeluh-kesahlah, aku akan mendengarkannya. Jangan merasa sendirian, apalagi terbuang. Kita akan menghadapi masa-masa sulit ini bersama. Banyak pintu mungkin tertutup untukmu, tak bisa kaumasuki. Tapi satu hal kukatakan kepadamu: pintu rumah ini akan selalu terbuka bagimu.***


Kepustakaan

Barth, Marie Claire, dan B.A. Pareira. Tafsir Alkitab: Kitab Mazmur 1-72. Jakarta: BPK Gunung Mulia, 1999.
Mays, James L. Psalms. Louisville: John Knox Press, 1994.
Stuhlmueller, Carroll. Psalms 1. Delaware: Michael Glazier, Inc, 1983.