Tampilkan postingan dengan label Perumpamaan-perumpamaan Yesus. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Perumpamaan-perumpamaan Yesus. Tampilkan semua postingan

Senin, Februari 04, 2013

DIPUJI KARENA TIDAK JUJUR? 
Jarot Hadianto 

Kalau perumpamaan-perumpamaan dalam Luk. 15 umumnya dikenal baik oleh para pencinta Kitab Suci, terutama perumpamaan tentang anak yang hilang yang mengharukan itu, tidak demikian halnya dengan perumpamaan yang muncul tepat sesudahnya, yaitu tentang bendahara yang tidak jujur (Luk. 16:1-9). Di kalangan umat, perumpamaan ini rupanya kurang begitu populer. Hal ini terjadi mungkin karena situasi yang dikisahkan dalam perumpamaan ini kurang familiar bagi kita, menyangkut seorang yang kaya, bendahara, dan orang-orang yang berutang pada mereka. 

Bukan hanya itu. Ketidaktahuan akan praktik utang piutang pada masa itu membuat banyak orang bingung dan keliru memahami pesan perumpamaan ini. Mengapa si bendahara yang menurunkan jumlah utang dua orang yang berutang pada tuannya malah mendapat pujian? Bukankah itu artinya dia curang dan merugikan tuannya? Mengapa kita dianjurkan untuk bersahabat “dengan mempergunakan Mamon”? Pembaca bisa salah paham, dikiranya Yesus dengan begitu mengajarkan bahwa saat terjepit kita boleh melakukan apa saja – yang tidak halal sekalipun – asal saja diri kita selamat! 

LUKAS 16:1-13 
1Kemudian Yesus berkata kepada murid-murid-Nya, “Ada seorang kaya yang mempunyai seorang bendahara. Kepadanya disampaikan tuduhan bahwa bendahara itu menghamburkan miliknya. 2Lalu ia memanggil bendahara itu dan berkata kepadanya: Apa ini yang kudengar tentang engkau? Berilah pertanggungjawaban atas apa yang engkau kelola, sebab engkau tidak boleh lagi bekerja sebagai bendahara. 3Kata bendahara itu di dalam hatinya: Apakah yang harus aku perbuat? Tuanku memecat aku dari jabatanku sebagai bendahara. Mencangkul aku tidak kuat, mengemis aku malu. 4Aku tahu apa yang akan aku perbuat, supaya apabila aku dipecat dari jabatanku sebagai bendahara, ada orang yang akan menampung aku di rumah mereka. 5Lalu ia memanggil seorang demi seorang yang berutang kepada tuannya. Katanya kepada yang pertama: Berapakah utangmu kepada tuanku? 6Jawab orang itu: Seratus tempayan minyak. Lalu katanya kepada orang itu: Terimalah surat utangmu, duduklah dan tulislah segera: Lima puluh tempayan. 7Kemudian ia berkata kepada yang kedua: Berapakah utangmu? Jawab orang itu: Seratus pikul gandum. Katanya kepada orang itu: Terimalah surat utangmu, dan tulislah: Delapan puluh pikul. 8Lalu tuan itu memuji bendahara yang tidak jujur itu, karena ia telah bertindak dengan cerdik. Sebab anak-anak dunia ini lebih cerdik terhadap sesamanya daripada anak-anak terang. 
9Aku berkata kepadamu: Ikatlah persahabatan dengan mempergunakan Mamon yang tidak jujur, supaya jika Mamon itu tidak dapat menolong lagi, kamu diterima di dalam kemah abadi.” 
10“Siapa saja yang setia dalam hal-hal kecil, ia setia juga dalam hal-hal besar. Dan siapa saja yang tidak benar dalam hal-hal kecil, ia tidak benar juga dalam hal-hal besar. 11 Jadi, jikalau kamu tidak setia dalam hal Mamon yang tidak jujur, siapakah yang akan mempercayakan kepadamu harta yang sesungguhnya? 12 Jikalau kamu tidak setia mengenai harta orang lain, siapakah yang akan memberikan hartamu sendiri kepadamu? 
13Seorang hamba tidak dapat mengabdi kepada dua tuan. Karena jika demikian ia akan membenci yang seorang dan mengasihi yang lain, atau ia akan setia kepada yang seorang dan tidak mengindahkan yang lain. Kamu tidak dapat mengabdi kepada Allah dan kepada Mamon.” 

Struktur Teks 
Perumpamaan ini dikisahkan Yesus khusus bagi murid-murid-Nya. Tentu saja Yesus tidak hendak mengajari mereka untuk melakukan tindakan-tindakan yang tidak jujur. Karena itu, pertama-tama kita harus berpegang pada pernyataan dasar ini: perumpamaan tentang bendahara yang tidak jujur tidak bermaksud memuji tindakan-tindakan atau perbuatan-perbuatan yang tidak jujur. 

Agar kita memahami perumpamaan ini dengan lebih baik, seorang penafsir menganjurkan agar pembacaan Luk. 16:1-13 agak sedikit diubah, menjadi sebagai berikut: 
•16:13 = Larangan untuk mengabdi pada dua “tuan”. 
•16:1-9 = Perumpamaan tentang bendahara yang tidak jujur. 
•16:10-12 = Nasihat untuk setia dalam hal-hal kecil. 

Ulasan Teks 
Mengabdi pada dua tuan 
Dalam perjalanan menuju Yerusalem, Yesus berkali-kali menegaskan pentingnya komitmen dari orang-orang yang bermaksud mengikuti Dia. Mereka dilarang berpamitan pada orang tua (9:61-62), harus “membenci” kaum kerabat (14:26), harus memikul salib (14:27), dan harus melepaskan diri dari segala miliknya (14:33). Dengan itu semua sebenarnya mau dikatakan bahwa para murid Yesus tidak boleh bersikap mendua hati. Orang-orang yang masih terikat dengan hal-hal duniawi (ikatan keluarga, harta benda, dan kepentingan diri sendiri) tidak akan bisa mengabdi Allah sepenuhnya. Padahal, saat kedatangan Allah sudah mendesak. Fokuslah pada Allah dan lepaskan segala ikatan duniawi! 

Namun, mungkinkah komitmen semacam itu dapat diwujudkan? Dalam kenyataan, hidup di dunia itu tidak mudah. Banyak godaan menghampiri manusia sehingga dia tidak bisa mengabdi Allah dengan sepenuh hati. Salah satu godaan yang paling menarik datang dari Mamon atau harta kekayaan. Siapa yang tidak terpesona dengan hidup yang nyaman, serba ada, dan kelimpahan harta? Ada juga orang yang hidupnya “diabdikan” pada usaha untuk menumpuk uang dan harta benda. Perumpamaan tentang bendahara yang tidak jujur mau menunjukkan kepada kita bahwa kalau mau, godaan maut si Mamon dapat saja kita atasi. Mamon bukan segalanya. Buktinya, lihat saja pengalaman seorang bendahara berikut ini. 

Dipuji karena jujur, lagi cerdik 
Alkisah, ada seorang bendahara yang mungkin lebih cocok disebut sebagai “manajer” karena bertugas mengelola harta tuannya. Karena tugasnya itu, ia menangani juga urusan sewa-menyewa tanah milik tuannya (tuan dari bendahara ini agaknya digambarkan sebagai seorang tuan tanah). Melalui si bendahara, orang-orang yang menyewa tanah harus membayar ongkos sewa, biasanya dalam bentuk hasil bumi. Belakangan ketahuan bahwa bendahara itu suka “menghamburkan” kekayaan si tuan tanah. Tidak dijelaskan secara detail apa kesalahan si bendahara, yang jelas di situlah letak ketidakjujurannya. Akibatnya parah, si tuan tanah langsung memecat dia. 

Tentu saja pemecatan itu menjadi musibah bagi bendahara ini. Mulailah ia berpikir-pikir, merancang strategi agar masa depannya tetap terjamin. Mula-mula di benaknya muncul dua pilihan: mau kerja keras (mencangkul) atau kerja enak (menjadi pengemis). Namun, dua-duanya bukan pilihan menarik baginya, sebab yang satu melelahkan, yang lain memalukan. Maka dia membuat keputusan yang besar dan cerdik: dia bermaksud meninggalkan Mamon. 

Penjelasannya demikian: bendahara ini agaknya dulu boleh dikatakan sebagai hamba uang. Terhadap orang-orang yang berutang pada tuannya, ia menetapkan bunga yang tinggi demi keuntungan dirinya sendiri. Boleh diperkirakan bahwa sikap tamak itu juga menjadi penyebab pemecatan dirinya. Begitu dipecat, si bendahara segera memutuskan untuk tidak bergantung lagi pada Mamon, tapi pada persahabatan. Ia memanggil orang-orang yang berutang pada tuannya. Yang berutang 100 tempayan minyak diubahnya menjadi 50 tempayan, yang berutang 100 pikul gandum diubahnya menjadi 80 pikul. Pengurangan utang itu pastinya membuat orang-orang itu girang dan sangat berterima kasih kepada si bendahara. Suatu hari nanti kalau dia butuh tumpangan, mereka pasti akan memberikannya dengan senang hati. Oportunis, tapi cerdik! 

Perlu dicatat bahwa tindakan bendahara mengurangi jumlah utang itu bukanlah suatu “penggelapan”. Harus dibaca bahwa orang-orang itu memang berutang masing-masing 50 tempayan minyak dan 80 pikul gandum. Bendahara yang gila uang itu dulu menggelembungkan utang mereka menjadi 100 tempayan minyak dan 100 pikul gandum demi keuntungan pribadi. Maka yang dilakukannya setelah tidak lagi menganggap Mamon sebagai sesuatu yang penting adalah menghapus “jatah” keuntungan baginya dan membuat orang-orang itu membayar utang mereka dalam jumlah yang semestinya. 

Maka, bendahara yang dulu tidak jujur, sekarang sudah bertindak jujur. Bukan hanya bertobat, bendahara itu telah bersikap “cerdik” dan yang terakhir inilah yang membuat si tuan lalu memberikan pujian baginya (tapi mestinya tetap memecatnya). Bendahara itu sadar bahwa Mamon yang dulu diandalkannya sekarang tak bisa menolongnya lagi. Maka, ditinggalkannya Mamon itu untuk berpaling kepada yang lain, yang dapat menjamin hidupnya, dalam hal ini adalah ikatan persahabatan. 

Setia dalam hal kecil 
Selanjutnya, Lukas merumuskan kembali perumpamaan di atas, kali ini dalam bentuk pepatah: siapa saja yang setia dalam hal-hal kecil, ia setia juga dalam hal-hal besar. Yang disebut hal-hal kecil adalah hal-hal duniawi. Dalam konteks perumpamaan ini, yang dimaksud adalah uang atau harta kekayaan. Uang atau harta kekayaan harus disikapi dengan tepat. Kita tidak boleh memegangnya erat-erat, seolah-olah itu adalah segala-galanya bagi kita. Uang hanyalah hal kecil! Namun, meski kecil, kita harus bersikap “setia” ketika menanganinya. Konkretnya, kita tidak boleh bersikap korup, seperti contoh tindakan bendahara itu di masa lalu. 

Kalau dalam hal-hal kecil – seperti mengurus harta benda – saja kita tidak setia, apalagi dalam hal-hal besar (yaitu hal-hal rohani)? Pasti kita lebih tidak setia lagi! Sebaliknya, kalau kita dapat menangani harta benda dengan tepat dan bijak, siapa tahu kepada kita dipercayakan harta yang lebih besar lagi, yaitu harta surgawi.

Amanat 
Demikian, menjadi jelas bahwa perumpamaan tentang bendahara yang tidak jujur disampaikan dalam rangka mengajak para murid Yesus untuk fokus pada satu hal, yaitu pengabdian pada Allah dengan segenap jiwa dan raga. Pengabdian para murid tidak boleh fifty-fifty: setengah pada Tuhan, setengah pada harta. Sebaliknya, para murid hendaknya tahu menentukan prioritas, yaitu menomorsatukan Allah. Bagaimana dengan harta kekayaan? Si Mamon itu tidak pada tempatnya menjadi sosok yang disembah-sembah; dikejar-kejar setengah mati; dan kalau sudah didapat, dipegang erat-erat. Letakkan posisi Mamon dengan tepat, yaitu sebagai sarana.

Perumpamaan yang dikisahkan Yesus ini boleh dilihat juga sebagai kritik bagi kita, manusia zaman ini, yang sedikit banyak lebih mementingkan uang dan harta di atas segalanya. Pengabdian kita kepada Tuhan bukan hanya setengah-setengah, malah bagi-Nya kita menerapkan “jatah” satu banding enam. Satu untuk Tuhan (hari Minggu, itu pun artinya pergi ke gereja satu jam), enam hari yang lain kita pakai untuk mencari uang sebanyak-banyaknya. 

Bumi bergerak cepat, kebutuhan hidup semakin mendesak, dan karenanya kita memang butuh banyak uang. Dan, jangan salah sangka, penginjil Lukas tidak menganggap uang sebagai barang “najis” yang harus dihindari. Lukas sebenarnya berpendapat bahwa uang dan harta hendaknya disikapi dengan tepat. Menurutnya, baiklah kita bekerja keras mencari nafkah dan memenuhi kebutuhan kita, tapi dengan tetap menyadari bahwa uang bukanlah segalanya. Alih-alih terikat pada Mamon, hendaknya Mamon itu kita “peralat”, kita jadikan sarana untuk kebaikan bersama. Berbagilah, sehingga uang dan kekayaan yang kita miliki dapat turut mengangkat kesejahteraan masyarakat di sekitar kita. 

Agaknya, itu yang disebut cerdik: memanfaatkan hal-hal duniawi untuk kepentingan surgawi.***  
Pertanyaan Pendalaman 
1. Jelaskan bahwa perumpamaan ini tidak bermaksud mengajarkan kepada kita untuk menghalalkan segala cara demi keselamatan diri kita! 
2. Lalu, mengapa bendahara itu mendapat pujian dari tuannya? 
3. Jelaskan makna pepatah: siapa saja yang setia dalam hal-hal kecil, ia setia juga dalam hal-hal besar! 
4. Bagaimana sikap Anda sendiri pada harta benda yang anda miliki? 

MAMON 
Mamon (barangkali seakar dengan kata iman, aman, dan amin) artinya “apa yang diandalkan”. Istilah ini kemudian berkembang dan menunjuk pada “harta kekayaan”. Mamon di sini disebut “tidak jujur”, karena dipandang selalu menggoda manusia untuk menjadi hamba uang. Kalau sudah menjadi hamba uang, hati seseorang akan bercabang. Orang itu lalu kurang percaya pada Allah dan mengabdi Allah tidak dengan sepenuh hati. 

Harun, Martin, Tahun Rahmat Tuhan: Ulasan Injil Hari Minggu Tahun C Masa Biasa, Yogyakarta: Kanisius, 2001, hlm. 194.

Senin, Juni 25, 2012

YANG HILANG HARUS DICARI
Jarot Hadianto

Dewasa ini di banyak negara hukuman mati sudah tidak boleh diterapkan lagi (sayangnya di negara kita masih berlaku). Selain dipandang tidak manusiawi, tidak menghargai kehidupan, juga menutup kesempatan bagi seseorang untuk memperbaiki dirinya, alasan menghapus hukuman mati terutama adalah kesadaran bahwa hak untuk mengakhiri kehidupan tidak ada di tangan manusia. Yang berhak mengakhiri adalah dia yang memulai. Dalam hal hidup manusia, Tuhan, dari mana hidup manusia berasal, Dialah satu-satunya yang berhak menentukan kapan hidup seseorang dimulai, juga diakhiri. Siapakah manusia sehingga berani-beraninya merebut hak istimewa itu?

Berhadapan dengan kelemahan, dosa, dan kejahatan manusia, Tuhan sendiri tidak suka menghukum, apalagi menghukum mati. Memang, manusia sekian lama memandang Tuhan sebagai pihak yang kejam dan menakutkan. Begitu melihat manusia yang berdosa, langsung saja Dia menjatuhkan hukuman yang tidak kira-kira beratnya. Tapi, gagasan itu keliru, dan Yesus dalam pewartaan-Nya berusaha keras menghapus gagasan yang keliru itu. Kali ini kita akan melihat bahwa menurut Yesus, orang berdosa oleh Tuhan bukannya “dihukum”, melainkan “dicari”.

LUKAS 15:1-10
1 Para pemungut cukai dan orang-orang berdosa, semuanya datang kepada Yesus untuk mendengarkan Dia. 2 Lalu bersungut-sungutlah orang-orang Farisi dan ahli-ahli Taurat, katanya, “Orang ini menerima orang-orang berdosa dan makan bersama-sama dengan mereka.” 3 Lalu Ia menyampaikan perumpamaan ini kepada mereka, 4 “Siapakah di antara kamu yang mempunyai seratus ekor domba, dan jikalau ia kehilangan seekor di antaranya, tidak meninggalkan yang sembilan puluh sembilan ekor di padang gurun dan pergi mencari yang sesat itu sampai ia menemukannya? 5 Kalau ia telah menemukannya, ia meletakkannya di atas bahunya dengan gembira, 6 dan setibanya di rumah ia memanggil sahabat-sahabat dan tetangga-tetangganya serta berkata kepada mereka: Bersukacitalah bersama-sama dengan aku, sebab aku telah menemukan dombaku yang hilang itu. 7 Aku berkata kepadamu: Demikian juga akan ada sukacita di surga karena satu orang berdosa yang bertobat, lebih daripada sukacita karena sembilan puluh sembilan orang benar yang tidak memerlukan pertobatan.”

8 “Atau perempuan manakah yang mempunyai sepuluh dirham, dan jika ia kehilangan satu dirham, tidak menyalakan pelita dan menyapu rumah serta mencarinya dengan cermat sampai ia menemukannya? 9 Kalau ia telah menemukannya, ia memanggil sahabat-sahabat dan tetangga-tetangganya serta berkata: Bersukacitalah bersama-sama dengan aku, sebab aku telah menemukan dirhamku yang hilang itu. 10 Aku berkata kepadamu: Demikian juga akan ada sukacita pada malaikat-malaikat Allah karena satu orang berdosa yang bertobat.”

Struktur Teks
Versi panjang bacaan hari Minggu ini memasukkan juga perumpamaan tentang anak yang hilang (Luk. 15:11-32). Namun, kita sekarang akan mendalami versi pendeknya saja (15:1-10), yang memuat dua perumpamaan sejajar, yakni tentang domba yang hilang dan dirham yang hilang.

Luk. 15:1-10 dapat kita bagi sebagai berikut:

 Ay. 1-3 = Pengantar tentang orang Farisi yang bersungut-sungut melihat perbuatan Yesus.
 Ay. 4-10 = Perumpamaan tentang domba dan dirham yang hilang.

Ulasan Teks
Yesus dan orang-orang berdosa
Menurut nasihat banyak orang bijak di Israel, sudah sepantasnya jika orang-orang saleh menjauhi orang-orang berdosa (lih. Mzm. 1). Dekat-dekat atau bahkan bergaul dengan mereka bisa berbahaya, sebab yang namanya dosa konon kabarnya mudah sekali tersebar dan “menular”. Karena itulah orang-orang saleh perlu menjaga diri baik-baik, menghindari pengaruh buruk para pendosa, agar hidup mereka berkenan di hadapan Allah.

Dalam praktiknya, orang-orang Farisi dan para ahli Taurat – yang sering menjadi sasaran kritik Yesus karena mengklaim diri sebagai orang-orang saleh – sungguh-sungguh menjaga jarak, tidak mau dekat dengan siapa saja yang mereka anggap sebagai “orang-orang berdosa”. Para pendosa ini, menurut mereka, bahkan tidak layak mendengarkan pengajaran tentang hukum-hukum Tuhan. Sia-sia dan tidak ada gunanya! Aneh juga bahwa mereka dengan begitu tampak tidak mengenal konsep mempertobatkan orang, sehingga tidak berusaha mendekati orang berdosa dan mengajak mereka kembali ke jalan yang benar.

Konsep itu di sini diperkenalkan oleh Yesus. Melanggar tradisi dan nasihat orang-orang tua, Yesus malah mendekati orang-orang berdosa. Karena itu, tidak heran jika para pemungut cukai dan orang-orang yang dipandang masyarakat sebagai kaum pendosa senantiasa mengerumuni Yesus dan dengan penuh minat mendengarkan ajaran-ajaran-Nya yang menyejukkan hati. Melihat itu, orang Farisi dan ahli-ahli Taurat tentu saja menjadi kesal hatinya.

Hilang, ditemukan, dan timbullah sukacita
Bermaksud menjelaskan tindakan-Nya dan meredakan kekesalan hati orang-orang yang merasa diri saleh itu, Yesus pun mengisahkan dua perumpamaan (tepatnya tiga, perumpamaan tentang anak yang hilang tidak dibahas di sini). Dua perumpamaan ini sejajar dan kisahnya cukup sederhana. Perumpamaan pertama menampilkan seorang laki-laki yang tampaknya kaya raya karena mempunyai 100 ekor domba. Kalau seekor di antara domba-dombanya itu hilang, tentu saja ia akan melakukan segala daya upaya untuk mencarinya. Ketika akhirnya ia menemukan domba yang hilang itu, ia pasti akan merasa gembira dan mengundang para sahabat dan tetangga untuk bersukacita bersamanya.

Perumpamaan kedua tampaknya tidak jauh berbeda dan dimaksudkan untuk mempertegas pesan yang mau disampaikan Yesus. Perhatikan tokoh dan alur kisah berikut, yang jelas sejajar (atau kontras) dengan perumpamaan sebelumnya: perempuan – miskin (tampak dalam konteks cerita) – memiliki 10 dirham – 1 hilang – mencari dirham yang hilang – dirham ditemukan – sahabat dan tetangga diajak turut bersukacita.

Dua hal yang ditekankan Yesus dalam masing-masing perumpamaan itu adalah usaha untuk mencari yang hilang dan sukacita bersama ketika yang hilang itu akhirnya ditemukan. Poin pertama menggambarkan sikap Allah terhadap orang-orang berdosa. Menurut Yesus, Allah itu sangat mengasihi manusia. Kalau ada manusia yang “hilang” akibat berbuat dosa, Allah bukannya jadi senang (karena lalu bisa menjatuhi hukuman seberat-beratnya). Sebaliknya, Ia prihatin dan akan berusaha mencari orang yang hilang ini. Kalau begitu, jika Yesus melakukan hal serupa dengan mendekati orang-orang berdosa, orang-orang Farisi dan ahli Taurat itu mestinya tidak perlu protes!

Sebaliknya, mereka seharusnya mendukung Yesus dengan gembira karena pendekatan Yesus itu akan membuat orang-orang berdosa menyesali kesalahannya dan akhirnya bersedia untuk bertobat. Kalau Allah – yang dulu ditentang oleh orang-orang berdosa itu – saja menyambut kembalinya mereka dengan tangan terbuka, lalu apa alasan orang Farisi dan ahli Taurat tidak menyukai bertobatnya orang-orang berdosa? Mungkin orang-orang itu mengira kalau pintu surga hanya terbuka bagi mereka saja!

Amanat
Banyak orang merasa terharu membaca perumpamaan tentang anak yang hilang (Luk. 15:11-32), yang mengisahkan pertobatan si bungsu setelah dengan begitu kurang ajar ia meminta warisan dari bapanya yang masih hidup. Perumpamaan itu begitu mengharukan, mungkin juga sesuai dengan pengalaman kita. Perumpamaan tentang domba/dirham yang hilang yang mendahuluinya mungkin kurang menyentuh kita (berhubung contoh yang dipakai adalah domba dan koin uang), namun sebenarnya juga memiliki pesan yang sangat dalam. Perumpamaan tentang anak yang hilang dan tentang domba/dirham yang hilang sifatnya saling melengkapi. Yang satu menekankan tentang pertobatan si pendosa, dua yang lain menekankan usaha Allah untuk mengembalikan orang yang berdosa.

Bertentangan dengan Allah yang bersikap murah hati, orang-orang Farisi dan para ahli Taurat tidak senang jika ada orang yang mendekati orang-orang yang mereka cap sebagai “orang berdosa”. Meski begitu, tidak bisa dibantah bahwa sikap menjauhi orang berdosa menjadi sikap banyak di antara kita sekarang ini (misalnya, siapa di antara kita yang mau dekat-dekat dengan pelacur dan senang kalau melihat ada orang yang mendekati mereka?). Maka, dua perumpamaan yang disampaikan Yesus kali ini juga mau menggugat sikap kita yang tertutup itu. Jangan dikira pintu surga itu hanya terbuka untuk kita dan tertutup bagi mereka yang kita pinggirkan. Kita juga adalah orang yang berdosa dan lagi pula, keselamatan kekal itu ditawarkan bagi siapa saja. Jadi, bagaimana jika kita mulai saja mencari jalan-jalan agar semakin banyak orang merasakan keselamatan Allah?

Pertanyaan Pendalaman
1. Mengapa orang-orang Farisi dan para ahli Taurat tidak senang melihat Yesus mendekati orang-orang berdosa?
2. Jelaskan sikap Allah terhadap orang-orang berdosa yang ditunjukkan dalam dua perumpamaan ini!
3. Apa yang mestinya kita rasakan ketika yang hilang akhirnya bisa ditemukan lagi? Mengapa?
4. Kalau melihat orang yang berdosa, Anda lebih suka ia diampuni atau dihukum? Mengapa?

Nasib 99 Ekor Domba
Perumpamaan tentang domba yang hilang kadang mengundang kritik. Menurut kritik itu, dengan mencari 1 ekor domba yang hilang, si pemilik domba berarti melalaikan 99 domba yang lain. Kalau 99 domba itu lalu bubar, berkeliaran ke mana-mana, apa ia tidak semakin rugi?

Kritik tersebut agaknya salah sasaran. Dalam suatu perumpamaan, detail-detail semacam itu kadang tidak perlu diperhatikan. Dalam hal ini, si pencerita berfokus pada domba yang hilang. Memang cuma 1 ekor, namun perlu diingat bahwa si pemilik tadinya memiliki domba sebanyak 100 ekor. 100 berasal dari 10 (kali 10), angka yang melambangkan kesempurnaan. Dengan itu mau dikatakan bahwa si pemilik domba adalah orang yang memiliki kekayaan berlimpah. Jika jumlah 100 itu berkurang 1, itu artinya ada yang kurang, tidak utuh, tidak genap, dan tidak sempurna lagi. Maka dari itu, si pemilik harus mencari yang satu itu, agar kekayaannya utuh kembali.

Lalu bagaimana nasib 99 ekor domba yang lain? Pembaca tidak perlu menggelisahkan mereka. Tenang, mereka baik-baik saja!

Gianto, Agustinus, Langkah-Nya... Langkah-ku: Kumpulan Ulasan Injil, Yogyakarta: Kanisius, 2005, hlm. 165-166.

Kamis, April 26, 2012

KAYA. SAYANG, BODOH
Jarot Hadianto

My life is finding the perfect shoes, demikian iklan sebuah kartu kredit yang mungkin segera membuat batin kita bersungut-sungut. Masak, hidup di dunia ini habis hanya untuk mencari sepatu? Apa tidak ada tujuan hidup yang lain, yang sedikit lebih mulia? Biarpun hanya sebuah iklan, tidak dapat disangkal bahwa isi iklan tersebut mencerminkan gaya hidup sebagian orang zaman ini. Sepatu yang begitu digilai menjadi contoh fenomena banyak orang dewasa ini yang mudah lupa diri begitu berhadapan dengan uang atau harta benda. Yang disebut ‘bahagia’ menurut mereka adalah jika segala keinginan mereka terpenuhi atau jika mereka memiliki materi yang berkecukupan.

Penginjil Lukas berpendapat bahwa kekayaan pada dasarnya bukan suatu masalah. Yang menjadi masalah adalah sikap orang atas kekayaan itu: menganggapnya sebagai ‘inti hidup yang bahagia’, tidak kunjung puas dengan harta benda yang dimilikinya (sikap tamak), dan tidak memanfaatkan kekayaan itu untuk kesejahteraan bersama. Orang kaya model ini dengan keras dijulukinya sebagai ‘orang kaya yang bodoh’. Kalau begitu, apa ada orang kaya yang cerdas? Ada. Coba simak penuturan Lukas dalam perumpamaan tentang ‘orang kaya yang bodoh’ berikut!

LUKAS 12:13-21
Seorang dari orang banyak itu berkata kepada Yesus, “Guru, katakanlah kepada saudaraku supaya ia berbagi warisan dengan aku.” Tetapi Yesus berkata kepadanya, “Saudara, siapakah yang telah mengangkat Aku menjadi hakim atau pengantara atas kamu?” Kata-Nya lagi kepada mereka, “Berjaga-jagalah dan waspadalah terhadap segala ketamakan, sebab walaupun seorang berlimpah-limpah hartanya, hidupnya tidaklah tergantung pada kekayaannya itu.”

Kemudian Ia menyampaikan kepada mereka suatu perumpamaan, “Ada seorang kaya, tanahnya berlimpah-limpah hasilnya. Ia bertanya dalam hatinya: Apakah yang harus aku perbuat, sebab aku tidak mempunyai tempat di mana aku dapat menyimpan hasil tanahku. Lalu katanya: Inilah yang akan aku perbuat; aku akan merombak lumbung-lumbungku dan aku akan mendirikan yang lebih besar dan aku akan menyimpan di dalamnya semua gandum dan barang-barangku. Sesudah itu aku akan berkata kepada jiwaku: Jiwaku, engkau memiliki banyak barang, tertimbun untuk bertahun-tahun lamanya; beristirahatlah, makanlah, minumlah dan bersenang-senanglah! Tetapi firman Allah kepadanya: Hai engkau orang bodoh, pada malam ini juga jiwamu akan diambil darimu, dan apa yang telah kausediakan, untuk siapakah itu nanti? Demikianlah jadinya dengan orang yang mengumpulkan harta bagi dirinya sendiri, jikalau ia tidak kaya di hadapan Allah.”

Struktur Teks
Janganlah memandang orang kaya dalam perumpamaan di atas dengan kebencian, tapi pandanglah dengan rasa kasihan. Orang ini sepi sendiri dan tidak bisa menentukan prioritas hidupnya. Lukas bukan mencela kekayaan orang ini, tapi menyayangkan sikap orang ini terhadap kekayaannya.

Kekayaan, menurut Lukas, harus disikapi dengan tepat. Jangan membuat orang cemas, sebab yang paling penting dalam hidup manusia adalah mencari Kerajaan Allah (bdk. Luk. 12:22-34). Sikap itu tampak dalam perumpamaan ‘orang kaya yang bodoh’ (Luk. 12:13-21) yang dapat kita bagi menjadi tiga bagian:

• Ay. 13-14 = Yesus diminta bantuan-Nya untuk menyelesaikan sengketa warisan, namun Ia tidak bersedia.
• Ay. 15 = Kepada orang banyak, Yesus memperingatkan tentang bahaya ketamakan.
• Ay. 16-21 = Perumpamaan tentang orang kaya yang bodoh.

Ulasan Teks

Persoalan tentang harta warisan
Yesus sedang mengajar ‘beribu-ribu orang banyak’ yang mengerumuni-Nya (Luk. 12:1), ketika seseorang menyela untuk meminta bantuan. Ada yang menyebut tindakan orang itu sebagai ‘interupsi yang tidak sopan’ (pantas Yesus tidak sudi membantunya!) karena Yesus diajak bicara tentang warisan ketika Ia sedang berbicara tentang hal-hal hakiki dalam hidup ini (Luk. 12:1-12). Namun, agaknya lebih baik dilihat bahwa orang itu di sini tidak memiliki maksud negatif. Ia sungguh minta bantuan kepada Yesus untuk memecahkan persoalannya menyangkut warisan yang tidak diterimanya.

Yesus dimintai bantuan sebagai penengah atau hakim, karena Ia adalah guru yang terkenal dan dihormati masyarakat luas. Tetapi sayang, Yesus tidak bersedia memenuhi permintaan orang itu. Alasan penolakan, mungkin karena Yesus berpendapat bahwa hal itu akan lebih baik jika diurus oleh pihak-pihak berwenang, entah itu pemerintah Roma atau para ahli Taurat, yang memang kompeten menyelesaikan soal pembagian warisan. Di tangan mereka, persoalan tentu akan terselesaikan dengan baik. Lagi pula, misi Yesus bukan mengurusi rebutan warisan!

Tamak itu berbahaya
Untuk dipahami, sengketa warisan hanyalah titik tolak, bukan fokus perhatian perikop ini. Sebab, Yesus lalu ganti berbicara tentang sikap tamak yang biasa menjangkiti manusia. Tidak bermaksud mempersalahkan orang yang bertanya tadi, ajaran Yesus ini ditujukan kepada semua orang yang hadir di situ. Namun, teristimewa bagi orang itu, meski Yesus tidak bersedia memenuhi permintaannya, setidaknya ia tidak pulang dengan tangan kosong. Sebelumnya ia hanya berpikir bagaimana cara ia mendapat harta warisan yang menjadi haknya. Tapi, sesudah bertemu Yesus, di kepalanya mestinya ada gagasan baru tentang bagaimana sikap yang tepat ketika berhadapan dengan harta benda.

“Berjaga-jagalah dan waspadalah terhadap segala ketamakan,” demikian kata Yesus kepada para pendengar-Nya. Ternyata menurut-Nya, bukan kekayaan yang harus diwaspadai, melainkan sikap kita terhadap kekayaan itu. Apa maksud Yesus dengan perkataan itu?

Kaya, tapi bodoh
Yesus senang bercerita. Kali ini pun Ia melengkapi ajaran-Nya dengan sebuah perumpamaan yang bagus, yang biasa kita beri judul ‘orang kaya yang bodoh’. Meskipun dikatakan ‘bodoh’, agaknya kita perlu memandang orang kaya ini dengan rasa kasihan, bukan dengan kebencian. Sebab, ia di sini ditampilkan sebagai pribadi yang kesepian. Tidak ada pihak lain yang diajaknya bicara, selain dirinya sendiri.

Si orang kaya memiliki hasil tanah yang berlimpah-limpah. Begitu banyaknya, sehingga ia sendiri bingung mau diapakan kekayaan – berupa hasil bumi – miliknya itu. Setelah dipikir-pikir dan ‘berkonsultasi’ dengan dirinya sendiri, akhirnya sebuah solusi ditemukan: ia akan membangun tempat penampungan berupa lumbung-lumbung besar dan semua hartanya akan ditimbun di situ. Setelah itu, ia akan bersenang-senang menikmati hidupnya yang berkelimpahan itu... sendirian!

Sayang kehendak Tuhan menggagalkan rencananya. Nyawa si orang kaya diambil, sehingga ia tidak bisa menikmati harta yang ia miliki. Tuhan bahkan menegurnya sebagai ‘orang bodoh’. Lalu, apa yang sebenarnya dikehendaki Tuhan berkaitan dengan kekayaannya itu?

Amanat
Anda tentu masih ingat perumpamaan tentang orang yang dititipi satu talenta. Bukannya dikembangkan, talenta itu malah dikubur di dalam tanah (Mat. 25:14-30; versi lain Luk. 19:11-27). Sikap orang kaya di sini bisa disejajarkan dengan orang yang memendam talenta itu. Pada dasarnya, kekayaan atau memiliki kekayaan tidak dipermasalahkan. Karena kebaikan-Nya, Allah memberikan kekayaan kepada manusia sebagai anugerah dari-Nya. Yang menjadi masalah adalah bagaimana seseorang menikmati atau memanfaatkan anugerah itu. Pesan yang mau disampaikan Yesus dalam perumpamaan ini sangat jelas: kekayaan jangan dinikmati seorang diri. Berbagilah!

Tapi, si orang kaya dalam perumpamaan ini tidak mau berbagi. Ia mau menikmati hartanya seorang diri, mau senang sendiri, tidak peduli dengan orang lain. Itu sebabnya ia disebut ‘bodoh’. Ia bodoh karena mengira dengan kekayaan, hidupnya akan mendapat kepastian (padahal tetap saja ia dapat mati sewaktu-waktu). Ia juga bodoh karena mau menikmati hartanya sendiri, tidak mengajak orang lain bersama-sama merasakan anugerah Allah.

Dengan begitu, kita sekalian yang mendengar perumpamaan ini diajarkan untuk tidak bersikap bodoh. Bekerja keras agar hidup sejahtera, bukan hanya boleh, tapi juga harus. Namun, setelah kita dapat hidup dengan sejahtera, memiliki harta benda yang cukup, jangan lalu bersikap tamak. Kalau menjadi orang kaya, jadilah ‘orang kaya yang cerdas’, dengan cara berbagi dengan orang lain yang membutuhkan.

Di tengah-tengah bangsa yang memiliki angka pengangguran dan tingkat kemiskinan yang tinggi seperti di negeri kita ini, pesan Yesus kali ini sungguh sangat aktual. Perumpamaan ini sama sekali tidak bermaksud mengecam kekayaan. Jangan juga salah dipahami sebagai anjuran untuk beramai-ramai menjadi orang miskin. Yang justru mau dikatakan adalah agar kita mempunyai tanggung jawab sosial, mau berbagi dengan orang yang berkekurangan. Singkat kata: bekerjalah, semoga Anda hidup berkecukupan, dan jangan lupa tanggung jawab untuk menyejahterakan sesama!***

Kamis, Maret 29, 2012

TAK RELA ALLAH BERMURAH HATI
Jarot Hadianto

Seperti apakah Anda membayangkan dua belas murid Yesus? Dua belas orang yang imannya luar biasa; seia sekata dalam pikiran dan perbuatan; kelompok yang saling mengasihi satu sama lain; dan senantiasa kompak berjalan mengiringi perjalanan Yesus, sang guru? Gambaran seperti itu tampaknya terlalu ideal. Akan lebih baik kiranya jika kelompok itu dipandang sebagai kumpulan orang yang di satu sisi istimewa, tapi di sisi lain juga – sebagaimana manusia pada umumnya – memiliki kelemahan. Dalam serial dokumenter berjudul Bible Mysteries: Solving The Bible’s Greatest Mysteries episode The Disciples (BBC/Discovery Channel, 2005), sejumlah pakar Kitab Suci menilai kelompok dua belas itu sebagai “bencana”. Dengan beragam latar belakang (nelayan, pemungut cukai, pemberontak), mereka memperkirakan kebersamaan para murid mestinya cukup sering diwarnai dengan konflik dan ketidakcocokan. Tindakan Yudas yang memisahkan diri dari kelompok itu dan mengkhianati Yesus dengan cukup sangat jelas menunjukkan gejala tersebut.

Mungkinkah Yesus sebagai pemimpin kelompok pernah juga mengalami kesulitan dalam mengatur para murid yang sifatnya sangat beragam itu? Bisa jadi. Kali ini misalnya, Ia mengisahkan perumpamaan tentang orang-orang upahan di kebun anggur (Mat. 20:1-16) untuk menggambarkan kepada para murid bahwa kedudukan manusia di hadapan Allah itu sama. Eh, tidak lama sesudahnya (lih. Mat. 20:20-28) dua belas murid itu tetap saja bertengkar berebut menjadi orang yang paling berkuasa!

MATIUS 20:1-16
1 “Adapun hal Kerajaan Surga sama seperti seorang pemilik kebun anggur yang pagi-pagi benar keluar mencari pekerja-pekerja untuk kebun anggurnya. 2 Setelah ia sepakat dengan pekerja-pekerja itu mengenai upah sedinar sehari, ia menyuruh mereka ke kebun anggurnya. 3 Kira-kira pukul sembilan pagi ia keluar lagi dan dilihatnya ada lagi orang-orang lain menganggur di pasar. 4 Katanya kepada mereka: Pergilah juga kamu ke kebun anggurku dan apa yang pantas akan kuberikan kepadamu. Lalu mereka pun pergi. 5 Kira-kira pukul dua belas dan pukul tiga petang ia keluar dan melakukan hal yang sama. 6 Kira-kira pukul lima petang ia keluar lagi dan mendapati orang-orang lain pula, lalu katanya kepada mereka: Mengapa kamu menganggur saja di sini sepanjang hari? 7 Kata mereka kepadanya: Karena tidak ada orang mengupah kami. Katanya kepada mereka: Pergi jugalah kamu ke kebun anggurku. 8 Ketika hari malam pemilik kebun itu berkata kepada mandornya: Panggillah pekerja-pekerja itu dan bayarkan upah mereka, mulai dengan mereka yang masuk terakhir hingga mereka yang masuk pertama. 9 Lalu datanglah mereka yang mulai bekerja kira-kira pukul lima dan mereka menerima masing-masing satu dinar. 10 Kemudian datanglah mereka yang masuk pertama, sangkanya akan mendapat lebih banyak, tetapi mereka pun menerima masing-masing satu dinar juga. 11 Ketika mereka menerimanya, mereka bersungut-sungut kepada pemilik kebun itu, 12 katanya: Mereka yang masuk terakhir ini hanya bekerja satu jam dan engkau menyamakan mereka dengan kami yang sehari suntuk bekerja berat dan menanggung panas terik matahari. 13 Tetapi pemilik kebun itu menjawab seorang dari mereka: Saudara, aku tidak berlaku tidak adil terhadap engkau. Bukankah kita telah sepakat sedinar sehari? 14 Ambillah bagianmu dan pergilah; aku mau memberikan kepada orang yang masuk terakhir ini sama seperti kepadamu. 15 Tidakkah aku bebas mempergunakan milikku menurut kehendak hatiku? Atau iri hatikah engkau, karena aku murah hati?16 Demikianlah orang yang terakhir akan menjadi yang pertama dan yang pertama akan menjadi yang terakhir.”

Struktur Teks
Agar tidak terjadi salah paham, perumpamaan di atas perlu ditafsirkan dengan memperhatikan konteksnya. Petrus sebelumnya mempertanyakan apa yang akan mereka peroleh karena mereka telah meninggalkan semuanya demi mengikuti Yesus (Mat. 19:27). Menjawab pertanyaan itu, Yesus pun menjanjikan kepada mereka kemuliaan dan hidup kekal (Mat. 19:28-29). Tapi, agar karunia yang luar biasa itu tidak membuat mereka besar kepala, Yesus lalu mengisahkan perumpamaan tentang orang-orang upahan di kebun anggur. Tema perumpamaan ini adalah “yang pertama akan menjadi yang terakhir, yang terakhir akan menjadi yang pertama”.

Mat. 20:1-16 dapat kita bagi demikian:
• Ay. 1-7 = Seorang pemilik kebun anggur lima kali keluar rumah dalam rangka mencari pekerja-pekerja untuk kebun anggurnya.
• Ay. 8-10 = Para pekerja, tidak peduli mulai bekerja jam berapa, mendapat upah yang sama.
• Ay. 11-15 = Hal itu membuat kecewa mereka yang bekerja mulai pagi hari. Si pemilik kebun anggur menanggapi kekecewaan itu.
• Ay. 16 = Tema perumpamaan ini ditegaskan.

Ulasan Teks
Seorang tuan mencari pekerja
Kepada murid-murid-Nya Yesus berkisah tentang seorang pemilik kebun anggur yang sampai lima kali keluar dari tempat tinggalnya dalam rangka mencari pekerja-pekerja bagi kebunnya. Layaknya suatu perumpamaan, kita akan menemui sejumlah detail yang tidak jelas (dan memang tidak perlu dijelaskan), seperti untuk apa si pemilik kebun anggur membutuhkan pekerja yang cukup banyak; apa persisnya pekerjaan mereka; mengapa pekerja-pekerja itu tidak direkrut pada waktu yang sama; dan mengapa beberapa saat sebelum jam kerja habis si tuan masih juga merekrut pekerja baru.

Yang jelas si tuan mencari pekerja saat pagi-pagi benar (jam 06.00), jam 09.00, 12.00, 15.00, dan jam 17.00. Dengan para pekerja yang ditemui jam 06.00 pagi terjalin kesepakatan bahwa mereka akan mendapat upah sebesar sedinar sehari. Kesepakatan mengenai besarnya upah pekerja-pekerja yang ditemui jam 09.00, 12.00, dan 15.00 kurang jelas, hanya dikatakan bahwa mereka akan mendapatkan “apa yang pantas”. Dialog dengan para pekerja yang direkrut terakhir malah tidak menyinggung soal upah sama sekali.

Kita boleh mengabaikan mereka yang bekerja mulai jam 09.00, 12.00, dan 15.00. Sebab, fokus perumpamaan ini adalah si pemilik kebun anggur, pekerja-pekerja pertama, dan pekerja-pekerja terakhir. Dari awal kita sudah tahu bahwa pekerja-pekerja pertama akan mendapat upah sedinar sehari. Ketegangan pun mulai muncul: dibayar berapa kira-kira para pekerja yang datang terakhir, yang tak sempat berkeringat karena hanya bekerja satu jam itu?

Semua dapat satu dinar
Tak menunggu lama, pertanyaan itu segera dijawab. Ketika malam tiba (dibayangkan jam 18.00), seluruh pekerja dikumpulkan untuk mendapatkan bayarannya. Saat itu si tuan punya kehendak yang aneh, ia ingin urutan pembayaran upah dibalik: pekerja yang datang terakhir mesti dibayar lebih dulu, dan sebaliknya pekerja yang datang pertama dibayar paling belakang. Dari sudut pandang Yesus sebagai pencerita, pembalikan ini dimaksudkan untuk menyatakan pesan yang ingin disampaikan-Nya bahwa “yang terakhir akan menjadi yang pertama dan yang pertama akan menjadi yang terakhir” (19:30; 20:16). Sedangkan jika kita mempertimbangkan alur kisahnya, pembalikan ini perlu agar para pekerja yang datang pertama melihat berapa besar upah yang diterima pekerja-pekerja yang datang paling akhir.

Maka mereka pun tahu bahwa rekan-rekan mereka yang bekerja satu jam saja itu mendapat upah satu dinar. Boleh dibayangkan, melihat itu hati mereka pun berbunga-bunga penuh harap. Menurut logika, pantaslah jika mereka mendapat upah yang lebih banyak, sebab mereka sudah bekerja mandi keringat sejak matahari terbit. Makin mantap kalau hitungan matematis dipakai: kerja 1 jam dapat 1 dinar; mereka kerja 12 jam, jadi tepat sekali andai mereka dibayar 12 dinar. Biarlah mendapat giliran paling belakang, yang penting mereka mendapat upah paling besar!

Sayang begitu gilirannya tiba, asa yang membubung tinggi itu musnah dalam sekejap. Si tuan membayar upah tidak berdasar logika, tidak pula berdasar rumus matematika, tapi ia berpegang pada perjanjian yang sebelumnya telah mereka sepakati bersama. Alhasil pekerja-pekerja yang bekerja mulai pagi ini pun gigit jari: mereka juga mendapat upah satu dinar.

Para pekerja pertama kecewa
Merasa kecewa, para pekerja itu bersungut-sungut kepada pemilik kebun anggur dengan nada yang tidak ramah (mereka menyapanya “engkau” bukan “tuan”, lih. ay. 12). Mengingat jam kerja mereka yang jauh lebih banyak daripada pekerja-pekerja yang datang belakangan, sungguh tidak adil kalau mereka sama-sama dibayar satu dinar. Begitulah pendapat mereka.

Dituduh melakukan ketidakadilan, tuan yang empunya kebun anggur langsung membantah. Tadi pagi jam 06.00 kedua belah pihak telah sepakat dengan upah satu dinar sehari. Sekarang ia membayar mereka sejumlah itu. Jadi bagaimana bisa ia dikatakan tidak adil? Sumber ketidakpuasan para pekerja itu, menurut si tuan, adalah karena mereka iri hati melihat ia bermurah hati kepada orang lain. Ya, tentu saja ia tahu bahwa pekerja yang datang terakhir mestinya mendapat upah yang jauh lebih kecil. Tapi karena ia baik hati (dan memiliki uang berlebih), jadi diberinya mereka satu dinar juga. Uang itu kan uangnya sendiri. Jadi what’s wrong?

Amanat
Yang terhormat para majikan dan pengusaha, harap jangan menyalahgunakan perumpamaan di atas untuk main pukul rata dalam menggaji pegawai-pegawai Anda! Sama sekali tidak tepat jika karena “terinspirasi” oleh perumpamaan Yesus ini, Anda lalu menyamakan gaji pegawai yang sudah bekerja 12 tahun dengan mereka yang baru bekerja 1 tahun. Perlu ditegaskan bahwa Yesus dengan perumpamaan ini tidak sedang berbicara tentang dunia kerja atau sistem kepegawaian. Dari awal sudah dikatakan bahwa yang Ia bicarakan adalah tentang Kerajaan Surga.

Dengan perumpamaan ini Yesus ingin menggambarkan bahwa sebagaimana si pemilik kebun anggur memperlakukan pekerja-pekerjanya, demikianlah kira-kira Allah memperlakukan orang-orang yang dipanggil-Nya masuk dalam Kerajaan-Nya. Kerajaan Surga terbuka bagi semua orang dari berbagai bangsa, dari berbagai masa. Mungkin itulah sebabnya dalam perumpamaan ini si tuan digambarkan masih juga mencari pekerja meski jam kerja hampir habis. Dengannya Yesus mau mengatakan bahwa Allah senantiasa terbuka menyambut kedatangan orang-orang yang ingin masuk dalam Kerajaan-Nya, bahkan seandainya mereka datang pada saat-saat terakhir. Datang duluan atau belakangan bagi Allah tidak masalah, sebab kasih-Nya terhadap mereka semua tetap melimpah ruah.

Jika kita jeli, dalam perumpamaan ini sebetulnya terjadi sedikit “pembelokan”. Para pekerja yang bekerja sejak pagi tidak keberatan dibayar paling akhir (padahal tema perumpamaan ini adalah soal awal dan akhir); yang membuat mereka protes adalah besarnya upah yang mereka terima. Meskipun demikian benang merahnya masih tetap terjaga, sebab entah karena waktu pembayaran atau karena besarnya upah, yang jelas ada pihak-pihak tertentu yang merasa lebih dari yang lain dan minta diistimewakan. Dalam konteks kehidupan nyata, yang disindir di sini adalah orang-orang yang merasa diri paling saleh, menganggap diri mereka umat Allah, sehingga mereka pikir yang boleh menikmati berkat Allah ya hanya mereka saja. “Bermurahhatilah kepada kami, ya Tuhan, jangan kepada mereka,” demikianlah kurang lebih bunyi doa-doa mereka.

Memangnya Allah bisa diatur-atur begitu? Yesus menyatakan bahwa Allah memberikan kesempatan yang sama kepada semua orang; Ia juga melimpahkan berkat yang melimpah tanpa pandang bulu. Berikutnya tergantung pada manusia, apakah mau membuka diri untuk menerima berkat itu atau tidak. Maka bagi murid-murid Yesus, perumpamaan ini menjadi peringatan khusus: di hadapan Allah, kedudukan mereka sama saja. Berlomba-lomba berebut kekuasaan sungguh tidak berguna!***

Pertanyaan Pendalaman
1. Jelaskan terlebih dahulu konteks perumpamaan ini agar Anda tidak salah memahaminya!
2. Mengapa para pekerja yang datang pertama merasa diperlakukan tidak adil?
3. Jelaskan bantahan si pemilik kebun anggur atas tuduhan itu!
4. Bagaimana perumpamaan ini menyapa kita, para pekerja di kebun anggur Tuhan?

SATU DINAR
Satu dinar adalah keping mata uang Romawi yang terbuat dari perak. Uang sebesar ini pada waktu itu merupakan upah harian minimum yang lazim bagi para pekerja.
Maka, hendak dikatakan di sini bahwa si pemilik kebun anggur telah membuat kesepakatan yang adil dengan para pekerja yang ditemuinya pagi-pagi benar. Mereka mendapatkan upah yang sepantasnya untuk kerja mulai dari pagi sampai sore hari. Kalau sampai para pekerja itu menggerutu, hal tersebut bukan karena si pemilik kebun anggur lalai untuk memberikan upah yang layak.

Martin Harun. Memberitakan Injil Kerajaan Allah: Ulasan Injil Hari Minggu Tahun A Masa Biasa. Yogyakarta: Kanisius, 2002, hlm. 167.


Senin, Februari 27, 2012

AKU SESAMA BAGI SIAPA?
Jarot Hadianto

Yesus pastilah orang yang pintar bercerita. Dalam rangka mengajar umat yang tentu memiliki pola pikir yang sederhana, Ia banyak mengisahkan perumpamaan yang menarik. Beberapa di antaranya dapat kita golongkan sebagai masterpiece karena begitu terkenal, populer, dan tertancap demikian mendalam di hati para pencinta Kitab Suci. Perumpamaan “orang Samaria yang murah hati” adalah salah satu contohnya. Meskipun “hanya” merupakan kisah fiktif, tidak ada yang menolak bahwa perumpamaan ini begitu indah, mengharukan, dan membangkitkan sebuah kesadaran baru.

Bukan sekadar menjelaskan tentang siapa yang disebut sebagai “sesama”, perumpamaan yang hanya ada dalam Injil Lukas ini sebenarnya tergolong sebagai perumpamaan yang radikal, mengingat betapa buruknya relasi orang Yahudi dan orang Samaria waktu itu. Mungkin kita bahkan bisa menyejajarkan maksud perumpamaan ini dengan ajaran Yesus ten tang “mengasihi musuh” (Luk. 6:27-36).

Yesus yang memiliki pandangan terbuka kali ini berhadapan dengan seorang ahli Taurat yang berpandangan picik, yang bertanya hanya dengan maksud mencobai Dia. Perhatikan bahwa perumpamaan tentang orang Samaria yang murah hati dengan jelas memperlihatkan “kecerdasan” Yesus yang mengubah pertanyaan “siapakah sesamaku manusia” menjadi “siapakah sesama manusia dari orang yang jatuh ke tangan penyamun itu”.

LUKAS 10:25-37
25 Kemudian berdirilah seorang ahli Taurat untuk mencobai Yesus, katanya, “Guru, apa yang harus kuperbuat untuk memperoleh hidup yang kekal?” 26 Jawab Yesus kepadanya, “Apa yang tertulis dalam hukum Taurat? Apa yang kaubaca di dalamnya?” 27 Jawab orang itu, “Kasihilah Tuhan, Allahmu, dengan segenap hatimu dan dengan segenap jiwamu dan dengan segenap kekuatanmu dan dengan segenap akal budimu, dan kasihilah sesamamu manusia seperti dirimu sendiri.” 28 Kata Yesus kepadanya, “Jawabmu itu benar; perbuatlah demikian, maka engkau akan hidup.” 29 Tetapi untuk membenarkan dirinya orang itu berkata kepada Yesus, “Dan siapakah sesamaku manusia?” 30 Jawab Yesus, “Adalah seorang yang turun dari Yerusalem ke Yerikho; ia jatuh ke tangan penyamun-penyamun yang bukan saja merampoknya habis-habisan, tetapi juga memukulnya dan sesudah itu pergi meninggalkannya setengah mati. 31 Kebetulan ada seorang imam turun melalui jalan itu; ia melihat orang itu, tetapi ia melewatinya dari seberang jalan. 32 Demikian juga seorang Lewi datang ke tempat itu; ketika ia melihat orang itu, ia melewatinya dari seberang jalan. 33 Lalu datang seorang Samaria, yang sedang dalam perjalanan, ke tempat itu; dan ketika ia melihat orang itu, tergeraklah hatinya oleh belas kasihan. 34 Ia pergi kepadanya lalu membalut luka-lukanya, sesudah ia menyiraminya dengan minyak dan anggur. Kemudian ia menaikkan orang itu ke atas keledai tunggangannya sendiri lalu membawanya ke tempat penginapan dan merawatnya. 35 Keesokan harinya ia mengeluarkan dua dinar dan memberikannya kepada pemilik penginapan itu, katanya: Rawatlah dia dan jika kaubelanjakan lebih dari ini, aku akan menggantinya, waktu aku kembali. 36 Siapakah di antara ketiga orang ini, menurut pendapatmu, adalah sesama manusia dari orang yang jatuh ke tangan penyamun itu?” 37 Jawab orang itu, “Orang yang telah menunjukkan belas kasihan kepadanya.” Kata Yesus kepadanya, “Pergilah, dan perbuatlah demikian!”

Struktur Teks
Perikop panjang Luk. 10:25-37 dapat kita bagi dalam dua bagian besar, ay. 25-28 dan ay. 29-37. Ternyata dua bagian ini isinya sama, yaitu perdebatan antara Yesus dan seorang ahli Taurat, dan memiliki pola yang sejajar, sebagai berikut:

• Ay. 25 = ay. 29 = Ahli Taurat bertanya kepada Yesus, tapi tidak dengan maksud yang tulus.
• Ay. 26 = ay. 30-36 = Yesus memberikan tanggapan, termasuk dengan mengisahkan suatu perumpamaan. Tanggapan Yesus itu pada dasarnya berbentuk “pertanyaan balik”.
• Ay. 27 = ay. 37a = Ahli Taurat menanggapi pertanyaan Yesus.
• Ay. 28 = ay. 37b = Perintah Yesus: “perbuatlah demikian”, yang sekaligus merupakan penutup perdebatan.

Ulasan Teks
Cara memperoleh hidup yang kekal
Semua orang tahu, hidup di dunia ini hanya sementara. Pada masa Yesus, konsep kehidupan abadi pasca kematian sudah dikenal. Tentunya setiap orang berharap agar dalam kehidupan abadi itu ia mendapatkan tempat yang nyaman (dalam istilah sekarang: surga), bukan sebaliknya, menderita di tempat gelap yang penuh “ratapan dan kertak gigi” (maksudnya neraka). Kehidupan kekal nan bahagia juga menjadi kerinduan seorang ahli Taurat, yang kali ini bertanya kepada Yesus, bagaimana cara memperolehnya. Sayang, ia bertanya tidak dengan maksud yang tulus, semata-mata “untuk mencobai Yesus”.

Namun, itu jelas bukan hal yang mudah. Selain cukup peka menangkap isi hati seseorang, Yesus juga suka menjawab pertanyaan dengan suatu pertanyaan (bdk. Luk. 20:21-24). Kali ini Yesus menyuruh si ahli Taurat mencari sendiri jawabannya dalam hukum Taurat. Orang ini tentu saja mengetahui hukum Taurat sampai sekecil-kecilnya. Maka, dengan senang hati ia “menjelaskan” kepada Yesus bahwa menurut Taurat Musa, cara memperoleh hidup kekal adalah “kasihilah Tuhan, Allahmu, dengan segenap hatimu dan dengan segenap jiwamu dan dengan segenap kekuatanmu dan dengan segenap akal budimu” (Ul. 6:5) dan “kasihilah sesamamu manusia seperti dirimu sendiri” (Im. 19:18).

Meski hubungan antara “mengasihi Tuhan” dan “mengasihi sesama” tidak dijelaskan (apakah berjalan sendiri-sendiri ataukah ada hubungannya, misalnya mengasihi Tuhan dengan mengasihi sesama?), kiranya cukup diterima bahwa mengasihi Tuhan dengan sepenuh hati dan mengasihi sesama dengan sungguh-sungguh akan membuat seseorang hidup dengan “seimbang”. Ia hidup di dunia ini sebagai orang yang benar dan karenanya nanti layak menerima kehidupan kekal. Tanpa pikir panjang, tidak juga memberi tambahan komentar dan penjelasan, Yesus menyetujui jawaban ahli Taurat itu dan berkata pendek, “... Perbuatlah demikian, maka engkau akan hidup.”

Sesama manusia adalah...
Mestinya jawaban itu sudah cukup menyadarkan ahli Taurat untuk segera “berbuat” sesuatu, yaitu mengasihi Tuhan dan sesama manusia secara konkret. Namun, mungkin karena maksudnya memang hanya untuk mencobai Yesus, orang itu masih sibuk “berteori” dan malah meminta Yesus mendefinisikan siapakah yang disebut “sesama manusia” itu. Dengan begitu, ahli Taurat itu melebarkan tema pembicaraan dari cara memperoleh hidup kekal kepada definisi sesama manusia.

Baginya Yesus pun lalu mengisahkan perumpamaan (yang juga diakhiri dengan sebuah pertanyaan!) tentang seorang yang sekarat dihajar para penyamun. Sebagaimana kita, ahli Taurat itu mestinya mula-mula mengira bahwa cerita Yesus itu pasti biasa-biasa saja, yang paling-paling – sesuai dengan pertanyaan: siapakah sesamaku manusia – mau mengatakan bahwa “orang malang itu adalah sesama bagimu”. Kalau itu kesimpulannya mah, setiap orang juga tahu...

Celaka bagi si orang pintar, cerita Yesus ternyata bergulir di luar dugaan. Siapa pun yang mendengar perumpamaan itu rupanya harus mengidentifikasikan diri sebagai korban perampokan, bukan sebagai salah satu dari tiga orang yang lewat di tempat itu. Saya adalah orang yang dirampok dan hampir mati: siapakah yang sudi menolong saya; siapa yang sudi menganggap saya sebagai sesama? Bukan orang-orang dari bangsa sendiri (tokoh imam dan orang Lewi) yang menolong saya, melainkan orang Samaria! Orang Samaria yang saya pandang rendah, najis, tidak murni, berkeyakinan sesat, dan bukan umat Tuhan yang sejati ternyata adalah sesamaku.

Terkejut dengan ending perumpamaan Yesus, dengan rasa segan ahli Taurat itu terpaksa menjawab pertanyaan: “siapakah sesama manusia dari korban perampokan itu?” atau dengan ungkapan lain: “siapakah sesama manusia bagimu?” Mempertahankan egonya, ia tidak mau terang-terangan menyebut “orang Samaria itu” dan hanya berkata, “Orang yang telah menunjukkan belas kasihan kepadanya.” Si ahli Taurat masih tidak terima orang Samaria dikatakan sebagai sesamanya!

Amanat
Menutup perumpamaan-Nya, sekaligus mengakhiri perdebatan dengan ahli Taurat itu, Yesus mengatakan “perbuatlah demikian”. Sampai dua kali Yesus mengatakan hal itu dalam pembicaraan ini, menunjukkan bahwa bagi-Nya, teori dan definisi tentang sesama manusia bukan merupakan hal yang utama dan tidak terlalu penting. Yang penting adalah mempraktikkan kasih itu. Banyak orang tahu ajaran tentang “mengasihi sesama manusia”, tetapi perang, kebencian, kerusuhan, dan perselisihan yang sekarang ini terjadi di mana-mana dengan jelas membuktikan bahwa ajaran itu baru sebatas diketahui, belum dilaksanakan.

Bagi kita, kenyataan ini cukup ironis, sebab dengan semboyan bhinneka tunggal ika mestinya bangsa ini memandang keragaman sebagai berkat, bukannya pangkal masalah. Nyatanya, masyarakat terbagi dalam kelompok-kelompok kecil, yang satu sama lain saling memusuhi dan merendahkan. Dengan perumpamaan “orang Samaria yang murah hati”, Yesus mau mengajarkan bahwa orang yang berasal dari kelompok lain adalah manusia seperti kita juga. Dalam diri mereka ada belas kasih, kebaikan, dan kasih sayang. Terbukti, mereka mau mengulurkan tangan ketika seseorang berada dalam kesusahan, meski orang itu bukanlah anggota kelompok mereka.

Lukas menyajikan perumpamaan itu dalam injilnya untuk menyampaikan gagasannya tentang kasih Allah kepada seluruh manusia, tanpa kecuali, tanpa pandang bulu. Meneladani Allah, hendaknya manusia pun bersikap demikian. Kasih yang tidak membeda-bedakan itu akan membuat manusia hidup rukun satu sama lain, bumi pun menjadi damai. Semoga dengan begitu, jalan menuju ke hidup yang kekal terbuka lebar-lebar bagi semua orang.***

Pertanyaan Pendalaman
1. Sebagai siapa kita mengidentifikasikan diri kita dalam perumpamaan “orang Samaria yang murah hati” ini?
2. Apa maksud Yesus mengatakan “perbuatlah demikian” sampai dua kali dalam perikop ini?
3. Jadi, siapakah yang Anda sebut sebagai “sesama manusia” itu?
4. Apa yang secara konkret Anda lakukan “untuk memperoleh hidup yang kekal”?