Tampilkan postingan dengan label Serial Daud. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Serial Daud. Tampilkan semua postingan

Rabu, Januari 25, 2012

ORANG KAYA YANG MENGAMBIL DOMBA ORANG MISKIN
(Bagian 2)
Jarot Hadianto

“Dan anak domba betina itu harus dibayar gantinya empat kali lipat, karena ia telah melakukan hal itu dan oleh karena ia tidak kenal belas kasihan.” (2Sam. 12:6)

Power tends to corrupt
Kisah Daud dan Batsyeba tersusun dengan rapi, cukup jelas, dan enak dibaca. Pembaca niscaya akan menikmati kisah ini dan tidak menemukan banyak kesulitan untuk memahaminya. Namun, satu-satunya kesulitan yang ada ternyata menjadi masalah terbesar perikop ini: Mengapa aib yang tidak senonoh itu perlu diceritakan dan dimuat dalam Kitab Suci? Sejumlah pencinta Kitab Suci sungguh menyayangkan hal tersebut. Sambil mengelus dada, mereka berpendapat mestinya cerita-cerita yang saru, tidak pantas, dan tidak suci seperti itu tidak usah dimuat saja. Namanya juga Kitab Suci! Sudah begitu, kisah Daud yang tak bisa menahan nafsunya itu sering membuat umat repot. Gara-gara itu orang lain jadi seenaknya menuduh: “Kitab Suci orang Kristen isinya pornografi semua.” Kalau saja Undang-undang Anti Pornografi dan Pornoaksi jadi disahkan, bisa-bisa skandal Daud itu membuat Kitab Suci kita dilarang beredar. Malu, kan?

Tapi itu sebenarnya tergantung pada pemahaman kita tentang makna Kitab Suci. Kalau Kitab Suci dipandang sebagai kitab yang berisikan hal-hal yang suci, ya aib Daud sebaiknya disembunyikan saja. Konsekuensinya Alkitab akan jadi tipis, karena kisah-kisah perang, pembunuhan, dan pemerkosaan dengan begitu juga harus disingkirkan. Kiranya akan lebih baik jika kita berpendapat bahwa Alkitab disebut Kitab Suci karena di situ dapat kita temukan ajaran-ajaran tentang keutamaan hidup yang disampaikan melalui pengalaman-pengalaman umat TUHAN di masa lalu, baik itu pengalaman yang menyenangkan maupun pengalaman yang mengerikan. Dengan gagasan demikian, kita bisa mengerti mengapa penyusun kitab Samuel tidak malu-malu mengisahkan skandal Daud dan Batsyeba. Justru kita perlu memujinya, sebab dengan begitu ia jujur menampilkan manusia apa adanya, dengan segala kelebihan dan kelemahannya. Daud tidak terkecuali. Hamba pilihan TUHAN ini hidupnya tidak hanya diisi oleh cerita-cerita sukses. Saat-saat yang kelam juga pernah menaungi perjalanan hidupnya.

Dengan mengingini istri Uria, Daud membuka pintu hatinya bagi kejahatan. Sebagai raja ia mempunyai kekuasaan yang sangat besar, mestinya hal itu membuatnya berhati-hati dalam bertindak. Bukankah ada ungkapan: power tends to corrupt (kekuasaan cenderung disalahgunakan)? Jelas-jelas Daud mengabaikan nasihat bijak itu. Lupa dengan idealismenya saat berjuang dan dikejar-kejar Saul, setelah menjadi raja sekarang gantian Daud yang mabuk kuasa dan menyalahgunakan jabatannya. Diawali dengan zina, kejahatan-kejahatan lain dengan segera datang menyusul. Apa boleh buat, dosa yang satu dilakukan untuk menutupi dosa yang lain. Daud perlu membunuh Uria untuk menyembunyikan skandalnya dengan Batsyeba. Dihitung-hitung, sang raja setidaknya telah melanggar tiga perintah Allah yang paling dasar: ia berzina; mengingini istri orang; dan melakukan pembunuhan (lih. Kel. 20:1-17). Tapi parahnya, sejauh ini tidak ada yang menegurnya, sehingga Daud tenang-tenang saja dan tidak merasa bersalah. Mungkin begitulah tabiat khas para penguasa, tidak ada bedanya zaman dahulu dan sekarang. Sungguh mengesalkan bahwa mereka ini berlagak seolah-olah berada di atas hukum. Kalau saja Daud bukan raja, kejahatannya itu pasti sudah diganjar dengan hukuman mati!

Karena takut, orang-orang di sekitar Daud diam saja melihat kelakuan rajanya. Tapi TUHAN tak bisa diam. Salah besar jika Daud mengira jabatannya bisa membuat dirinya bebas berbuat apa saja sesuka hati. Ia tak kebal hukum, dan TUHAN selaku raja Israel yang sejati siap menghakiminya. Maka, perikop perzinaan Daud dan Batsyeba pun diakhiri dengan sebuah kalimat tegas bernada penghakiman: “Tetapi hal yang telah dilakukan Daud itu adalah jahat di mata TUHAN” (2Sam. 11:27). Hukuman telah menanti sang raja. Sesuai dengan dosa yang dilakukannya, hukuman itu sangat hebat.

Dulu diberkati, sekarang dikutuk
Pantas saja Nabi Natan merasa jengkel melihat ulah sang raja. Kiranya di pundak Daud ia menaruh banyak harapan. Hal itu tidak mengherankan jika kita menilik track record Daud yang sangat positif sebelum ia menjadi raja dan pada masa-masa awal pemerintahannya. Karenanya banyak pihak percaya Daud akan menjadi raja yang berhasil; ia akan memerintah Israel sebagai wakil TUHAN dalam kebenaran dan keadilan. Natan adalah salah seorang pendukung Daud. Terhadap sang raja nada bicaranya pernah sangat optimis. Bacalah tentang hal tersebut selengkapnya dalam 2Sam. 7:1-17. Sebagai penyambung lidah Allah, di situ Natan menubuatkan berkat berlimpah dari-Nya bagi Daud dan keturunannya. Namun, Daud pertama-tama diingatkan bahwa kejayaan yang dialaminya saat ini adalah berkat penyelenggaraan dan kebaikan hati TUHAN.

Berikut petikannya: “Akulah yang mengambil engkau dari padang, ketika menggiring kambing domba, untuk menjadi raja atas umat-Ku Israel. Aku telah menyertai engkau di segala tempat yang kaujalani dan telah melenyapkan segala musuhmu dari depanmu. Aku membuat besar namamu seperti nama orang-orang besar yang ada di bumi. Aku menentukan tempat bagi umat-Ku Israel dan menanamkannya, sehingga ia dapat diam di tempatnya sendiri dengan tidak lagi dikejutkan dan tidak pula ditindas oleh orang-orang lalim seperti dahulu, sejak Aku mengangkat hakim-hakim atas umat-Ku Israel. Aku mengaruniakan keamanan kepadamu dari semua musuhmu. Juga diberitahukan TUHAN kepadamu: TUHAN akan memberikan keturunan kepadamu.” (2Sam. 7:8-11)

Jadi Daud diingatkan bahwa kemuliaan yang diraihnya bukan semata karena usahanya pribadi, tapi pertama-tama dan terutama berkat kasih setia TUHAN. Mengapa TUHAN berkenan memilih Daud? Tidak ada hubungannya dengan ketaatan atau prestasi yang diraih Daud, dengan mengatakan “Akulah yang mengambil engkau” (dan kalimat-kalimat lain yang semuanya diawali dengan “Aku”) Natan menegaskan bahwa pilihan TUHAN itu bersumber dari kehendak bebas-Nya. TUHAN mengasihi Daud dan melimpahinya dengan rupa-rupa karunia karena Ia berkehendak begitu. Terdorong oleh kasih setianya pula TUHAN berkenan mengikat perjanjian dengan Daud. Kepadanya Ia menjanjikan sesuatu yang luar biasa: Takhta Daud akan kokoh untuk selama-lamanya (2Sam. 7:12-16)!

Demikianlah, janji itu ditujukan kepada Daud, tapi cukup jelas bahwa anak cucu Daud akan menikmati dampaknya pula. Bagaimana tidak, TUHAN sendiri yang akan membangkitkan keturunan bagi Daud dan akan “mengokohkan takhta kerajaannya untuk selama-lamanya”. Maka, nubuat itu bukan hanya memberi legitimasi bagi pemerintahan Daud, tapi juga pemerintahan keturunannya. Raja-raja dinasti Daud dengan begitu dapat menunjuk nubuat Nabi Natan 2Sam. 7 sebagai klaim bahwa pemerintahan mereka direstui oleh TUHAN.

Namun jika tidak dicerna dengan tepat, nubuat sang nabi akan kontraproduktif, tidak lebih dari sekadar dukungan membabi buta bagi kekuasaan raja-raja keturunan Daud, dan itu hanya akan mendorong mereka memerintah sesuka hati. Oleh karena itu pendapat sejumlah pakar Kitab Suci berikut patut kita perhatikan. Gnana Robinson dalam bukunya Let Us Be Like the Nations berpendapat bahwa teks 2Sam. 7 dari waktu ke waktu telah mengalami redaksi oleh banyak pihak. Sulitlah bagi kita sekarang ini untuk memilih-milahnya. Tapi setidaknya dalam bentuknya yang terakhir cukup jelas nubuat Natan ini menggambarkan keyakinan penyusun bahwa dinasti Daud adalah manifestasi karya penyelamatan Allah bagi bangsa Israel. Dulu TUHAN memimpin mereka keluar dari Mesir; memberikan Kanaan sebagai tanah terjanji untuk mereka tempati; sekarang Ia menunjuk orang pilihan-Nya untuk memerintah mereka dengan adil. Ia juga menjamin kemuliaan bagi Daud (dengan begitu juga bangsa yang dipimpinnya) di masa depan. Sementara itu, Walter Brueggemann dalam bukunya First and Second Samuel menilai bahwa nubuat Natan dalam 2Sam. 7 merupakan pernyataan teologis yang paling krusial dalam Perjanjian Lama. Menurut Brueggemann, nubuat Natan ini menggambarkan iman – yang bercampur dengan keyakinan ideologis – pihak-pihak pendukung keluarga Daud yang berani mengklaim bahwa Allah sendiri yang mengesahkan pemerintahan dinasti ini untuk selama-lamanya.

Namun, bahkan pendukung keluarga Daud pun akhirnya menyadari bahwa pemerintahan di dunia ini selalu ada kekurangannya. Meski digelari hamba TUHAN yang setia, Daud pernah juga melakukan perbuatan yang tidak terpuji. Raja-raja keturunannya pun nyatanya nanti banyak yang tingkah lakunya mengecewakan, bahkan merekalah yang akhirnya mengantar kerajaan itu pada perpecahan dan kehancuran. Maka dari itu kita perlu lebih bijak menafsirkan “jaminan memerintah untuk selama-lamanya” dalam nubuat Nabi Natan. Pendapat Brueggemann dapat kita pertimbangkan. Menurutnya, dalam nubuat ini ada ketegangan yang sulit dipecahkan antara janji keabadian pemerintahan dinasti Daud di satu sisi, dengan di sisi lain konsep ganjaran setimpal yang biasanya menjadi keyakinan tradisi D.

Sementara ini ada baiknya kita membatasi diri pada penanganan kasus Daud dan Batsyeba saja. Atas perbuatannya yang keji Daud akan mendapat hukuman yang setimpal dari Allah (sesuai dengan keyakinan tradisi D), tapi hukuman itu tidak akan menghapus janji Allah akan kelestarian pemerintahan keluarganya. Alasannya sederhana (tapi tidak selalu mudah kita terima): karena demikianlah kehendak Allah. Atas dasar kasih setia-Nya, Dia telah mengikat perjanjian dengan Daud. Maka Ia akan setia dengan perjanjian itu, meski Daud telah berbuat dosa. Situasi memang jadi agak sulit: keluarga Daud akan memerintah selama-lamanya (2Sam. 7:16), tapi pada saat yang sama “pedang tidak akan menyingkir dari keturunanmu sampai selamanya” (2Sam. 12:10). Ya, hukuman berat segera dijatuhkan kepada Daud. Nabi Natan sudah siap menyampaikan keputusan dari TUHAN, Hakim yang mahatinggi, langsung di hadapan sang raja, pesakitan yang pura-pura tidak berdosa.

Perumpamaan dikira laporan
Dalam 2Sam. 11 Daud tampak dominan dengan menyuruh orang lain melakukan ini dan itu. Dominasi sang raja tak berbekas di 2Sam. 12 karena sekarang hak untuk menyuruh ada di tangan TUHAN, sementara Daud hanya bisa menerima, tak punya pilihan lain. Saatnya tiba bagi TUHAN untuk memainkan peran-Nya sebagai Raja Israel yang sejati. Ia pun menyuruh Natan mendatangi Daud. Sang nabi menunaikan tugasnya dengan berani, lagi cerdik. Ia tidak langsung menegur Daud. Di hadapan Daud, ia terlebih dulu mengisahkan sebuah cerita yang sangat menarik, tentang orang kaya yang merampas domba betina milik orang miskin.

Perumpamaan itu demikian sederhana, namun maksudnya jelas. Tentang si kaya, Natan tidak bicara banyak. Ia lebih fokus pada orang yang miskin, dengan menggambarkan betapa dalam relasi antara orang itu dengan satu-satunya domba betina yang dimilikinya: penuh perhatian, cinta, dan kasih sayang. Singkat kata, orang miskin dan dombanya itu hidup bahagia. Tapi kebahagiaan itu dihancurkan oleh orang kaya yang tanpa perasaan mengambil domba betina itu dari tangan si miskin. Kesan main paksa, tidak jujur, egois, dan rakus dapat kita tangkap dari perbuatan orang kaya itu. Cukup jelas bagi kita – tapi tidak bagi Daud – orang kaya yang dimaksud adalah Daud sendiri, orang miskin itu Uria, dan domba betina yang diambil paksa itu menunjuk pada Batsyeba.

Bodohnya Daud, ia mengira perumpamaan itu kisah nyata. Dikiranya Natan melaporkan terjadinya tindak kriminal pengambilan domba secara paksa, dan memintanya sebagai raja Israel memberikan penghakiman yang tegas. Jadi betapa efektif (dan menjebak) perumpamaan yang dikisahkan Nabi Natan! Menyangka bahwa ini menyangkut orang lain, rasa keadilan Daud langsung terpanggil dan ia pun menjatuhkan hukuman yang tidak kira-kira beratnya: “… Orang yang melakukan itu harus dihukum mati. Dan anak domba betina itu harus dibayar gantinya empat kali lipat, karena ia telah melakukan hal itu dan oleh karena ia tidak kenal belas kasihan” (2Sam. 12:5-6).

Begitulah sifat manusia pada umumnya: menuntut orang lain berlaku adil, tapi tidak diri sendiri. Natan dengan cerdik memainkan kecenderungan buruk tersebut. Daud dibuatnya lena sedemikian rupa hingga akhirnya ia menjatuhkan hukuman pada dirinya sendiri. Tentunya Daud shock berat ketika tiba-tiba Natan berbalik menudingnya: “Engkaulah orang itu!” (2Sam. 12:7). Hati Daud seketika menciut, jadi rupanya dia sudah ketahuan!

Demikianlah Nabi Natan telah melaksanakan tugasnya dengan baik. Para raja memang harus selalu diingatkan bahwa kekuasaan politiknya berada di bawah TUHAN, dan bahwa kekuasaan itu juga harus punya etika. Dalam sejarah kerajaan Israel – baik di selatan maupun di utara – pertentangan antara raja dan nabi memang selalu muncul. Saul bertentangan dengan Samuel; Elia melawan Ahab; Yesaya melawan Ahas; Yeremia bahkan berturut-turut menghadapi Raja Yoahas, Yoyakim, Yoyakhin, dan Zedekia. Konflik ini terjadi karena para raja dinilai menjalankan kekuasaannya dengan sekehendak hati “seperti pada segala bangsa-bangsa lain” (bdk. 1Sam. 8:5), sehingga nabi-nabi tampil untuk mengingatkan mereka agar memerintah sesuai kehendak TUHAN, Raja Israel yang sejati. Natan yang berkarya pada masa pemerintahan Daud tak luput dari masalah ini. Ia cukup berhasil, sebab Daud diantarnya pada penyesalan yang mendalam hingga akhirnya muncul pernyataan: “Aku sudah berdosa kepada TUHAN” (2Sam. 12:13). Dalam hal ini Natan sungguh beruntung karena yang dihadapinya adalah Daud. Tidak sia-sia TUHAN menjadikannya hamba pilihan, Daud dengan rendah hati mengakui segala kesalahannya. Nabi-nabi lain – Yeremia misalnya – nasibnya tidak sebaik itu. Raja-raja yang mereka tegur tetap berkepala batu, dan malah berbalik mengejar-ngejar mereka.

Akan halnya Daud, kenekatan Natan tak membuatnya gusar. Ia tenggelam dalam penyesalan diri atas kejahatan yang telah dilakukannya. Bagi dirinya sendiri ia menjatuhkan hukuman mati dan kewajiban untuk memberikan ganti rugi empat kali lipat. Pertobatan Daud membuat Natan memaklumkan pembatalan hukuman mati bagi dirinya (2Sam. 12:13), tetapi ganti rugi tetap harus dibayar, sebab kejahatan Daud “telah sangat menista TUHAN” (2Sam. 12:14). Meski mendapatkan keringanan, hukuman itu nyatanya masih sangat berat: pedang selamanya tidak akan menyingkir dari keturunannya; istri-istrinya akan diambil secara terang-terangan; dan anak hasil hubungan gelapnya dengan Batsyeba akan mati. Betapa mahal harga yang harus dibayar Daud demi kesenangan diri yang enaknya hanya sekejap ia rasakan. Kenikmatan sesaat, hukumannya kekal!

Daud memasuki masa-masa suram
Tradisi D dengan rapi menyusun 2Sam. 11-12 sebagai awal kemunduran pemerintahan Raja Daud. Bagi kita pembaca Alkitab masa kini, membaca perikop ini mungkin menyisakan sejumlah pertanyaan: Bagaimana berkat abadi bisa berjalan beriringan dengan kutuk yang juga berlaku selamanya? Bagaimana pula dengan janji keabadian pemerintahan dinasti Daud, bukankah ratusan tahun kemudian kerajaan itu tamat di tangan kerajaan Babel? Mungkin akan membantu jika diingat kembali bahwa redaksi akhir tradisi D terjadi pada masa pembuangan. Kerajaan Daud telah musnah, Israel bahkan terusir dari tanah terjanji. Namun di hati kaum buangan keyakinan bahwa mereka akan dipulihkan tetap menyala-nyala. Mereka yakin suatu saat bisa kembali ke tanah terjanji dan untuk seterusnya dipimpin lagi turun-temurun oleh keturunan Daud.

Kisah dalam 2Sam. 11-12 dengan demikian merupakan refleksi cikal bakal kemunduran pemerintahan Daud, yang secara teologis diyakini sebagai hukuman TUHAN akibat dosa besar yang dilakukan sang raja. Nubuat Natan dalam 2Sam. 12:1-15a bahkan diperkirakan mula-mula tidak ada dalam kisah ini, ditambahkan kemudian untuk menunjukkan bahwa kemalangan beruntun yang menimpa Daud tidak lain merupakan hukuman dari TUHAN. Secara keseluruhan 2Sam. 11-12 mempersiapkan lengsernya Daud dari takhta kerajaan Israel, dan memberi landasan teologis mengapa keluarga Daud tercerai berai, saling bunuh satu sama lain. “Murid-muridku sekalian,” demikian Guru Deuteronomis mau mengakhiri kuliahnya, “Kemerosotan Daud adalah buah dari dosa yang dilakukannya. Dulu ia begitu jaya dan gilang-gemilang, sayang sang raja kemudian menyimpang dari jalan TUHAN. Kejahatan merasuki hatinya, dan mulai sekarang kegemilangannya pun terjun bebas menuju kehancuran...”***



Rabu, November 30, 2011

ORANG KAYA YANG MENGAMBIL DOMBA ORANG MISKIN
(Bagian 1)
Jarot Hadianto

“Dan anak domba betina itu harus dibayar gantinya empat kali lipat, karena ia telah melakukan hal itu dan oleh karena ia tidak kenal belas kasihan.”
(2Sam. 12:6)

Nabi Natan marah besar. Daud, raja pilihan TUHAN yang dibanjiri banyak karunia dan tengah menikmati masa kejayaannya, telah melakukan dosa besar yang sekaligus memalukan. Bukan hanya berzina, Raja Daud juga menjadi aktor intelektual sebuah tindak pembunuhan! Pangkal masalahnya tidak salah lagi terletak pada nafsu serakah yang tak mampu dikendalikan oleh sang raja. Padahal jika dipikir-pikir, apa lagi yang kurang baginya, apa lagi yang tidak dimilikinya? Boleh dibilang hal-hal terbaik yang ada di dunia ini – berupa popularitas, pangkat, kekuasaan, juga kekayaan – sudah erat tergenggam di tangan Daud. Bagaimana dengan istri? Istri pada masa itu dipandang sebagai hak milik suami. Semakin banyak seorang laki-laki memiliki istri (dan perempuan simpanan), semakin tinggi derajatnya di mata masyarakat. Kalau soal itu, Daud boleh bangga karena istrinya cukup banyak (lih. 2Sam. 3:2-5 dan 12:8), lebih dari enam! Jika itu masih kurang, tidak masalah. Kalau mau – dan kalau kuat – seribu perempuan sekalipun boleh diperistri olehnya. Jadi mengapa ia mesti mengambil istri orang? Dan tentang pembunuhan, astaga, betapa jahatnya Daud ini. Ia merancang kematian Uria, suami Batsyeba, hanya agar aibnya dengan istri orang itu tidak diketahui orang banyak. Yang menyakitkan, Uria adalah abdi Daud yang senantiasa menunjukkan kesetiaan dan dedikasi yang tinggi.

Uria akhirnya tewas, Batsyeba yang mengandung lalu diambil Daud menjadi istrinya. Bagi Daud perkara selesai. Ia lega karena orang lain tidak tahu terjadinya skandal besar (sebenarnya diperkirakan skandal itu diketahui banyak orang, tapi karena yang melakukan raja, mereka diam saja). Namun, kejahatan tak bisa bersembunyi di hadapan Yang Mahatahu. Kejahatan Daud terendus oleh Natan, dan sang nabi tak hendak membiarkan kejahatan itu berlalu begitu saja tanpa hukuman. Natan adalah nabi yang dianugerahi kecerdikan luar biasa, tak ubahnya seorang politikus yang licin dan selalu banyak akalnya. Ia nekat mempertaruhkan nyawanya dengan menghadap raja dan menyajikan sebuah cerita yang dimaksudkan untuk menjebak Daud, penguasa Israel yang tertinggi.

Kisah terlarang Daud dan Batsyeba
Boleh saja Daud dulu mati-matian berusaha menyembunyikan dosa dan kejahatannya, tapi sekarang ini tidak ada yang tidak tahu tindakan buruk apa yang telah dilakukannya. Sampai-sampai kalau orang diminta melengkapi ungkapan “Daud dan ...”, hampir bisa dipastikan bahwa hanya ada dua kemungkinan jawaban yang muncul, yaitu “Daud dan Goliat” atau “Daud dan Batsyeba”. Yang satu melambangkan kejayaan Daud dan imannya yang berkobar-kobar kepada TUHAN, yang lain menggambarkan kejatuhan sang raja dalam kubangan dosa. Bagaimana Daud dan Batsyeba dapat menjadi pasangan sedangkan Batsyeba sudah menjadi istri Uria, Anda tentu sudah tahu kisahnya.

Silakan membaca cerita selengkapnya di 2Sam. 11:1-27. Kisah asmara Daud dan Batsyeba berlatar belakang perang antara Israel dan bani Amon. Latar belakang yang sungguh efektif, sebab perang melawan bani Amon ini dengan gamblang menampilkan Daud sebagai sosok penguasa yang gemar memanfaatkan kekuasaan demi keuntungan dirinya sendiri. Pada masa perang, Raja Daud dengan santai berjalan-jalan di istananya yang asri; sementara prajuritnya berperang, sang raja malah berzina dengan istri sang prajurit; Uria menolak bersenang-senang dengan istrinya karena ingat akan rekan-rekannya di medan perang, Daud persis bertingkah sebaliknya; dan tragisnya, lewat perang pula Daud merancang kematian Uria.

Suatu senja Daud berjalan-jalan di atas sotoh istana untuk menghirup udara segar. Beruntung baginya, selain udara segar ia juga mendapatkan “kesegaran” yang lain. Dari situ ia melihat seorang perempuan cantik yang sedang mandi. Nafsunya seketika bangkit, dan tak dapat dicegah lagi sang raja menginginkan perempuan itu. Daud tidak tahu siapa si perempuan, sampai orang memberitahukan kepadanya bahwa dia itu “Batsyeba binti Eliam, istri Uria orang Het itu”. Yang ditekankan dalam pemberitahuan ini adalah ungkapan “istri Uria”. Batsyeba telah menjadi hak milik Uria, orang lain tidak boleh mengusiknya lagi. Kabar itu semestinya menghentikan usaha Daud. Kalau mau, silakan cari perempuan lain yang masih bebas. Tapi nyatanya tidak. Daud merasa dirinya raja yang semua keinginannya harus dituruti. Ia menyuruh orang menyelidiki identitas sang perempuan idaman; ia juga menyuruh orang mengambil dia. Dengan itu rupanya Daud hendak diperlihatkan sebagai penguasa yang lupa daratan, raja yang memanfaatkan kekuasaannya dengan sewenang-wenang. Ya, dalam kisah Daud dan Batsyeba kita tidak akan menemukan rasa cinta, perhatian, dan kasih sayang. Yang bertaburan di sini tidak lebih dari nafsu seksual, keserakahan, kerakusan, tindak kekerasan, dan penyalahgunaan kekuasaan.

Bagaimana dengan Batsyeba sendiri? Dalam film-film tentang Daud dan Batsyeba (para produser tahu bahwa kisah yang sensasional ini pasti laku dijual), sosok Batsyeba sering kali didramatisir dan dibelokkan habis-habisan. Film David and Bathsheba (Twentieth Century Fox, 1951) misalnya. Di situ Batsyeba dikisahkan sudah mengetahui kebiasaan Daud yang suka berjalan-jalan di atas rumah ketika senja hari tiba. Maka, ia sengaja mandi sore itu dalam rangka menarik perhatian sang raja karena “tidak ada cinta dalam pernikahannya dengan Uria”. Apalagi sepanjang 7 bulan ia menjadi istri Uria, cuma 6 hari ia bertemu dengan sang suami. Selebihnya Uria pergi ke medan perang, meninggalkan Batsyeba dalam sepi. Dalam film King David (Paramount Pictures, 1985), Batsyeba semakin asyik mandi setelah tahu dirinya diintip Raja Daud, yang dimainkan oleh Richard Gere. Sesaat mereka bahkan sempat bertemu pandang, dan istri Uria itu sama sekali tak merasa terganggu. Ketika berhadapan dengan sang raja, Batsyeba mengeluhkan tingkah laku Uria yang sering melakukan tindak KdRT (Kekerasan dalam Rumah Tangga) dalam 5 tahun usia pernikahan mereka. Secara tersirat Batsyeba juga menganjurkan Daud untuk menyingkirkan Uria kalau ingin memilikinya.

Gambaran tentang Batsyeba dalam film-film tersebut hendaknya jangan terlalu dipercaya, sebab sama sekali tidak sejalan dengan yang digambarkan oleh 2Sam. 11. Dalam perikop ini, sosok Batsyeba bahkan sebenarnya kurang diberi perhatian. Penyusun kisah ini tidak berminat menyajikan detail apakah Batsyeba “menikmati” kisah asmaranya dengan Daud; apakah Uria menyadari bahwa Daud bersikap aneh kepadanya; juga pernahkah Uria mendengar bisik-bisik di istana tentang hubungan terlarang antara Daud dengan istrinya. Detail-detail yang sebagian berbau romantis itu diabaikan oleh penyusun yang mau memanfaatkan kisah ini sebagai bahan pengajaran. Karena itu, ia sepenuhnya berfokus pada diri Daud yang melupakan panggilannya sebagai hamba Allah dengan memilih jalan yang salah. Di tangan Raja Daud, sosok Batsyeba, Uria, dan bahkan panglima perang Yoab tak lebih merupakan bidak-bidak catur yang digerakkan ke sana kemari sesuai keinginan hatinya.

Satu kali saja Batsyeba dikisahkan berbicara. Kalimat yang dilontarkannya pendek, namun berjuta maknanya. Melalui orang lain, sebuah kabar buruk disampaikan Batsyeba kepada sang raja: “Aku mengandung.” Seketika itu juga dunia Daud langsung berubah. Diperkirakan, sang raja mula-mula menginginkan Batsyeba hanya demi kepuasan nafsunya saja; mengawini perempuan itu sama sekali tak terlintas dalam pikirannya. Tapi sekarang Batsyeba hamil. Jika Daud tidak segera bertindak, kasus itu akan tersebar luas, ia pun akan dipermalukan. Dan, hukuman apa yang tersedia bagi tindakan zina? “Bila seorang laki-laki berzina dengan istri orang lain, yakni berzina dengan istri sesamanya manusia, pastilah keduanya dihukum mati, baik laki-laki maupun perempuan yang berzina itu” (Im. 20:10).

Daud harus bertindak cepat. Ia pun merancang pertemuan antara Uria dan Batsyeba, agar anak yang ada di dalam perut Batsyeba nantinya disangka anak Uria. Tapi usaha itu gagal. Uria yang punya dedikasi tinggi menolak bercinta-cintaan dengan istrinya sementara rekan-rekannya sedang bertaruh nyawa di medan perang (2Sam. 11:11). Jika ungkapan itu dimaksudkan untuk menyindir Daud, sang raja tampaknya sudah terlalu gelap mata untuk menyadarinya. Perkataan Uria tak membuat Daud terkesan, ia malah kemudian merancang bencana bagi prajuritnya yang setia itu. Kepada Yoab, raja telah menandatangani surat kematian Uria: “Tempatkanlah Uria di barisan depan dalam pertempuran yang paling hebat, kemudian kamu mengundurkan diri dari padanya, supaya ia terbunuh mati” (2Sam. 11:15). Dan, Uria pun tewas...***(bersambung)

Kamis, Oktober 27, 2011

ALLAH MEMBUNUH UZA
Jarot Hadianto

“Ketika mereka sampai ke tempat pengirikan Nakhon, maka Uza mengulurkan tangannya kepada tabut Allah itu, lalu memegangnya, karena lembu-lembu itu tergelincir. Maka bangkitlah murka TUHAN terhadap Uza, lalu Allah membunuh dia di sana karena keteledorannya itu; ia mati di sana dekat tabut Allah itu.”
(2Sam. 6:6-7; bdk. 1Taw. 13:9-10)

Israel, sekitar tahun 1000 SM. Daud telah menjadi raja atas seluruh Israel, telah merebut Yerusalem dan menjadikan kota itu sebagai ibu kota kerajaan, juga telah mendirikan istana yang nyaman untuk dihuni. Namun, bagi Daud, masih ada satu hal lagi yang kurang: tabut Allah belum ada bersamanya, masih “tertinggal” di Baale-Yehuda yang juga disebut Kiryat-Yearim (1Sam. 7:2). Ia pun kemudian memindahkan tabut itu ke Yerusalem dalam suatu prosesi yang sangat meriah (lih. 2Sam. 6:1-5). Pada saat itu, sampai-sampai dikatakan bahwa seluruh kaum Israel – Daud tidak ketinggalan – turut serta sambil menari-nari “dengan sekuat tenaga”. Lagu-lagu pujian dilambungkan dan segala macam alat musik dibunyikan, sehingga bisa kita bayangkan betapa riuhnya suasana perarakan itu.

Namun, belum sampai Yerusalem, keramaian itu ternyata harus berujung pada kesedihan. Sebuah insiden terjadi, nyawa seorang anak manusia melayang, dan nama baik Tuhan menjadi taruhan. Masalahnya, salah seorang yang mengiringi tabut Allah itu melakukan hal yang sangat baik – memegangi tabut agar tidak jatuh – tapi justru karena itu, Allah malah kemudian membunuh dia. Begitu membaca perikop ini, para pencinta Kitab Suci niscaya langsung menggerutu penuh rasa kecewa, “Aneh benar Allah ini!”

Tabut menggenapi kejayaan Daud
Agar rasa kecewa itu tidak berkepanjangan, mari kita melihat duduk masalah yang sebenarnya. Meski menyajikan kisah yang tragis, jika dikaitkan dengan perikop-perikop sebelumnya, penulis melalui 2Sam. 6:1-23 sebenarnya sedang berkisah tentang masa-masa keemasan pemerintahan Raja Daud. Seperti telah disinggung di muka, negeri yang diperintahnya telah memiliki ibu kota yang tepat; situasi politik juga sudah agak stabil; dan Daud sendiri hidup dengan sejahtera bersama istri-istri dan anak-anaknya (poligami, jangan ditiru).

Terasa agak aneh, tiba-tiba saja Daud (atau penulis kisah ini) teringat pada tabut Allah. Sebab, tabut itu sebenarnya sudah sekian lama “tersingkir” dan mungkin juga terlupakan. Sejak dirampas – lalu dikembalikan – oleh orang Filistin dan mendatangkan bencana di tempat-tempat yang disinggahinya, tabut Allah diputuskan untuk “diamankan” di rumah Abinadab di Kiryat-Yearim (1Sam. 7:1-2), lalu sekian lama tidak disebut-sebut lagi. Lebih dari dua puluh tahun sesudah itu, Daud mengingatnya kembali dan sadar bahwa bersama “sang tabut”, legitimasi pemerintahannya akan semakin kokoh. Andai saja tabut Allah ada di Yerusalem, kegemilangan Daud lengkap sudah. Dilihat dari kepentingan politik dan agama, keberadaan tabut Allah di ibu kota negara memang akan sangat menguntungkan. Tidak heran untuk acara pemindahan ini Daud menyelenggarakan prosesi yang sangat meriah, bahkan ikut menari ke sana kemari dengan penuh semangat. Namun, perlu dicatat bahwa dari Alkitab, kita tidak mendapatkan penjelasan yang memadai tentang peran konkret tabut Allah dalam pemerintahan Daud, juga raja-raja sesudahnya.

Misteri kematian Uza
Ada penafsir yang berpendapat bahwa kisah yang memuat insiden tergelincirnya lembu-lembu dan kematian Uza (2Sam. 6:6-8) itu sebenarnya semacam “kisah asal-usul” tempat yang disebut Perez-Uza. Alkisah, Daud dan orang-orang Israel, yang sedang berarak-arak dalam rangka memindahkan tabut Allah ke Yerusalem, sampai di tempat pengirikan Nakhon. Tempat itu dianggap keramat karena biasa dipakai untuk ritual penyembahan berhala terhadap dewa yang disebut Perez.

Roh-roh yang menguasai tempat keramat itu tiba-tiba saja datang mengganggu karena tidak menyukai kehadiran Daud, orang-orang Israel, dan tabut Allah yang mereka bawa itu. Dengan satu dan lain cara, gangguan itu mengagetkan lembu-lembu yang asyik menarik kereta berisi tabut Allah, sehingga hewan-hewan itu pun tergelincir. Akibatnya, tabut Allah nyaris terjungkal ke tanah. “Beruntung” Uza secara spontan mengulurkan tangannya sehingga tabut itu tidak jadi jatuh ke tanah. Sayangnya, Allah tidak berkenan tabut-Nya dipegang-pegang manusia. Ia murka dan langsung membunuh Uza. Demikianlah kisahnya sehingga orang lalu memberi nama tempat itu Perez-Uza.

Legenda yang menarik. Namun, pembaca mungkin masih merasa sedikit penasaran: dengan cara apa Allah membunuh Uza? Atau lebih tepatnya: apa yang menyebabkan Uza tiba-tiba tewas? Perikop 2Sam. 6:6-8 memang tidak memberi penjelasan apa-apa tentang hal itu. Namun, ada yang berpendapat bahwa mungkin saja Uza waktu itu begitu gugup dan tegang melihat tabut Allah hampir jatuh. Begitu tegangnya, sampai-sampai jantungnya “kumat” sehingga ia pun langsung meninggal di tempat. Tafsir lain yang jelas-jelas berusaha menyelamatkan citra Allah menghindari kesan bahwa Uza pernah memegang tabut Allah. Menurut tafsir ini, posisi Uza waktu itu persis di samping kereta. Ketika lembu-lembu itu tergelincir, langsung saja tabut jatuh ke arah samping dan dengan mantap menimpa Uza. Tabut Allah selamat, sedangkan Uza langsung tewas di tempat...

Namun, berdasar kisah dalam kitab 2 Samuel, “fakta” (kalau boleh dikatakan begitu) yang bisa kita pegang adalah (1) Uza memegang tabut Allah dan (2) Uza mendadak mati. Kalimat selanjutnya “maka bangkitlah murka TUHAN terhadap Uza, lalu Allah membunuh dia di sana karena keteledorannya itu...” (ay. 7) tidak bisa disebut sebagai fakta. Sebab, jelas tidak ada orang yang melihat Allah datang sambil marah-marah kepada Uza karena berani pegang-pegang tabut-Nya, lalu membunuh dia. Jika demikian, ungkapan “Allah membunuh Uza” rupanya harus dimengerti dan dilihat dari sudut pandang yang tepat. Sebab, ungkapan itu lebih merupakan suatu tafsir teologis, bukan laporan atas suatu peristiwa yang sungguh terjadi.

YHWH, Allah yang Mahakudus
Maka setelah membaca kisah kematian Uza yang menyedihkan ini, salah sasaran jika pencinta Kitab Suci merasa kecewa terhadap Allah yang tega membunuh orang tidak bersalah. Mestinya pertanyaan yang muncul dalam benak kita adalah: “Mengapa penulis menafsirkan atau menyimpulkan bahwa Uza mati karena dibunuh Allah?” Mendukung perenungan kita, dapat dilihat pula kasus-kasus lain yang mirip dengan kasus Uza, yaitu kematian “beberapa” (tujuh puluh!) penduduk Bet-Semes yang iseng melongok-longok ke dalam tabut (1Sam. 6:19), juga bencana yang menghajar orang-orang Filistin (1Sam. 5). Terhadap siapa saja yang tidak menghargai kekudusan-Nya, Allah tidak segan bertindak keras!

Demikianlah, penulis dengan kisah-kisah itu sebenarnya sedang menguraikan gagasannya tentang “Allah yang Mahakudus”. Kudus saat ini umumnya kita mengerti sebagai kata lain dari suci. Jika seseorang atau sesuatu disebut kudus, itu artinya ia berada dalam keadaan bersih, tanpa cela, bebas dari dosa. Namun, perlu diketahui bahwa kudus pertama-tama berarti “terpisah”. Allah disebut Mahakudus, berarti Dia itu “terpisah” dari manusia. Antara Allah dengan manusia ada jurang perbedaan yang besar. Celakalah orang yang sampai berhadapan muka dengan Allah, sebab maut akan segera mencabut nyawanya (bdk. Kel. 33:20).

Tabut memang hanyalah suatu barang. Namun, bukan sembarang barang, tabut adalah barang yang kudus, sebab melambangkan kehadiran YHWH di tengah-tengah bangsa Israel. Karena itu, tabut tidak boleh diperlakukan secara tidak hormat. Sikap seseorang pada tabut menggambarkan sikapnya pada YHWH sendiri. Termasuk hal yang dilarang adalah menyentuh/memegang tabut Allah. Jika Anda tidak termasuk dalam golongan orang-orang yang dikuduskan (baca: “dipisahkan” dalam rangka melayani Allah atau peribadatan), jangan berani-beraninya menyentuh barang kudus itu. Anda akan dianggap telah melakukan “tindak pelecehan” dan hukuman mati adalah ganjaran yang paling cocok untuk membayar kesalahan Anda itu. Hanya orang-orang tertentu yang diperkenankan berurusan dengan tabut Allah, orang-orang Lewi misalnya, itu pun dengan berbagai ketentuan yang sangat ketat (bdk. Bil. 4:5,15,20; Kel. 25:15). Apa boleh buat, kehadiran Allah rupanya bisa sangat berbahaya bagi manusia!

Naas bagi Uza. Meski dengan tujuan baik – lagi pula terjadi secara spontan – ia telah memegangi tabut yang nyaris jatuh. Itu namanya pelecehan! Maka, ketika setelah itu Uza mendadak meninggal, langsung saja penulis melihat itu sebagai dampak tindakan Uza yang telah melanggar kekudusan tabut Allah. “Allah murka. Ia pun lalu membunuh Uza,” demikian kira-kira katanya. Entah apa maksudnya dengan menambahi keterangan bahwa Uza telah bertindak “teledor” (ay. 7). Yang jelas, pencinta Kitab Suci disarankan untuk tidak memerhatikan aspek-aspek moral (bahwa Uza sebenarnya melakukan hal yang baik) ketika membaca kisah ini. Seorang penafsir memberi perumpamaan yang menarik tentang hal ini. Tindakan Uza yang memegang tabut Allah itu bagaikan seseorang yang secara tidak sengaja memegang kabel listrik. Entah orang itu berniat baik atau jahat, yang namanya berurusan dengan listrik, tetap saja ia akan hangus terbakar...

Penutup: Allah tak bisa diperalat
Jika pembaca sedih hati melihat nasib malang yang menimpa Uza, masih ada yang lebih menyedihkan lagi: penulis agaknya tidak terlalu peduli dengan Uza. Sebab, meski bercerita tentang Uza, sosok yang lebih ia perhatikan dalam perikop ini sebenarnya adalah Daud.

Daud berniat memindahkan tabut Allah ke Yerusalem. Pembaca jangan buru-buru menilai bahwa hal itu pertama-tama terdorong oleh kesalehan hati Daud. Sebagian besar penafsir meyakini bahwa pemindahan itu sedikit banyak memiliki nuansa politis. Raja Daud ingin memanfaatkan tabut Allah sedemikian rupa agar pemerintahan dan kekuasaannya atas Israel semakin kokoh dan legitimate. Namun, mungkinkah Allah berkenan dikendalikan oleh manusia?

Kematian Uza membuat kaget semua orang, termasuk Daud. Sang raja menyadari bahwa kuasa Allah yang luar biasa besar hadir dalam dan melalui tabut-Nya yang kudus. Dari kematian Uza yang terjadi di depan matanya, Daud tampaknya mengambil pelajaran bahwa Allah tidak mau diperalat oleh manusia. Bukan manusia yang berkuasa mengatur Allah, tapi sebaliknya Allahlah yang berkuasa atas diri manusia. Karena itu, Daud pun menjadi “takut” kepada Allah (ay. 9). Prosesi dihentikan dan untuk sementara, pemindahan tabut Allah ke Yerusalem ditunda. Mungkin agar kegemparan atas kematian Uza terlebih dahulu reda, mungkin juga agar Daud dapat melihat-lihat apakah kehadiran tabut itu membawa berkah atau bencana. Yang jelas ada waktu yang cukup bagi Daud yang (semoga) dimanfaatkannya untuk merenungkan kembali motivasinya mengangkut tabut itu ke Yerusalem. Ah, setidaknya Uza tidak mati sia-sia...***

1.Kalau pembaca tidak mengenal arti “pengirikan”, Mat. 3:12 atau Luk. 3:17 mungkin bisa membantu.
2.Penulis kitab 1 Tawarikh memberi tafsir teologis lain atas kematian Uza. Menurutnya (dititipkan dalam perkataan Daud), Allah murka karena waktu itu yang mengangkut tabut-Nya bukan orang-orang Lewi. Mereka tidak menghadiri prosesi pemindahan tabut Allah itu (lih. 1Taw. 15:11-14).

Selasa, September 27, 2011

NEKROMANSI: MEMANGGIL ARWAH SAMUEL
Jarot Hadianto

“Carilah bagiku seorang perempuan yang sanggup memanggil arwah;
maka aku hendak pergi kepadanya dan meminta petunjuk kepadanya.” (1Sam. 28:7)

Nekromansi. Belum pernah mendengar kata ini? Meski begitu, jika dijelaskan, Anda pasti dengan segera akan sadar bahwa praktik yang melibatkan nekromansi sebenarnya tidak asing dalam masyarakat kita. Zaman memang sudah modern, ilmu pengetahuan dan teknologi berkembang pesat, namun anehnya hal-hal berbau mistik tetap saja digemari masyarakat. Buktinya, film-film seram yang dibintangi pocong dan kuntilanak selalu ramai diserbu penonton; kesan angker juga tidak bisa hilang manakala kita melewati kuburan dan rumah tua; selain itu masih banyak orang yang mengunjungi orang-orang pintar guna bertanya tentang jodoh dan nasib mereka di masa depan. Tentang yang disebut terakhir, dukun-dukun itu dengan mudah dapat kita temukan di berbagai tempat. Praktik mereka laris manis diserbu klien yang tidak percaya lagi pada logika dan akal sehat. Si dukun akan komat-kamit membaca mantra, membakar dupa, kalau perlu menyembelih ayam hitam guna menghadirkan arwah mbah ini atau mbah itu yang bisa memecahkan masalah kliennya tersebut. Nah, itulah praktik nekromansi: memanggil arwah untuk dimintai nasihatnya.

Dunia perdukunan yang melibatkan ilmu sihir dan nekromansi ternyata laku juga di Israel. Jejak-jejaknya dapat kita temukan dalam Alkitab, misalnya dalam sebuah kisah yang melibatkan raja Israel pertama, Saul. 1Sam. 28:3-25 menceritakan, dalam situasi terjepit, Saul meminta seorang dukun memanggil arwah Samuel untuk dimintai pertolongan. Inikah bukti bahwa arwah orang mati bisa dipanggil, dan bahwa ada orang yang memiliki kemampuan untuk melakukan hal itu? Sebelum menunjuk 1Sam. 28:3-25 sebagai bukti keabsahan praktik mereka, saya mengajak para dukun sekalian – juga Anda – untuk mendalami perikop ini baik-baik.

Saul di titik nadir
Semenjak Samuel menyatakan bahwa TUHAN “memecat” Saul dari posisinya sebagai raja Israel (1Sam. 15), Saul terus-menerus mengalami kemunduran. 1Sam. 28:3-25 boleh dibilang mengisahkan titik terendah dalam kehidupan sang raja. Hidup dan pemerintahannya memasuki saat-saat akhir. Saul saat itu sedang menghadapi pertempuran yang sulit melawan orang Filistin. Posisinya tampak tidak terlalu menguntungkan karena sempat dikatakan bahwa ia merasa takut dan “hatinya sangat gemetar” (28:5).

Pasukan Filistin berkemah di dekat Sunem, di bagian utara dataran Yizreel, sementara pasukan Israel posisinya ada di sebelah selatan Sunem, di kaki Gunung Gilboa. Kekuatan pasukan Saul sebenarnya tidak dapat dikatakan lemah. Daud saja masih menganggapnya berbahaya sehingga lebih memilih menghindar (27:1). Tapi, sekuat apapun sebuah pasukan, sia-sia belaka jika pemimpinnya belum-belum sudah merasa takut. Entah apa yang membuat Saul gemetaran ketika melihat pasukan Filistin dari kejauhan. Pasukan musuh mungkin jumlahnya jauh lebih besar dan persenjataannya lebih lengkap, sementara Saul telah ditinggalkan pendukung-pendukungnya yang utama, seperti Daud, Samuel, dan TUHAN sendiri. Jadi, ketika balatentara Filistin yang dahsyat menyerbu pasukan Israel, siapa gerangan yang akan membantu raja yang kesepian itu berlaga di medan perang?

Dalam pandangan penyusun kisah ini (tradisi Deuteronomis), posisi Saul memang telah berubah. Dari sosok raja pilihan Allah, ia kini menjadi sosok antagonis yang tidak menarik hati. Orang Benyamin itu tidak lagi punya masa depan; dia adalah penguasa lama yang sudah waktunya diganti. Ini terjadi karena ketidaktaatan Saul pada kehendak Allah (1Sam. 13; 15), sampai akhirnya Samuel sebagai tokoh penting dalam kehidupan agama dan politik Israel menjatuhkan keputusan final, “TUHAN telah mengoyakkan darimu jabatan raja atas Israel pada hari ini dan telah memberikannya kepada orang lain yang lebih baik darimu” (15:28; bdk. 13:14). Samuel memang telah mati, tapi tuah perkataannya selalu menghantui Saul, terutama di saat-saat genting seperti waktu itu.

Hanya, jangan lalu menilai Saul itu seratus persen jahat. Dalam ketakutannya, Saul pertama-tama tetap lari kepada TUHAN. Ia masih menempatkan dirinya sebagai hamba Allah yang berharap mendapat pertolongan dari-Nya. Dicobanya semua sarana legal untuk berkomunikasi dengan Allah: secara pribadi (melalui mimpi), lewat perantaraan imam (dengan membuang undi), dan perantaraan nabi (nubuat). Sayang, TUHAN tak mau memberikan jawaban. Kejamkah Allah karena berlaku demikian? Sebaiknya situasi ini dilihat sebagai buah ketidaktaatan Saul. Dulu ia mengabaikan kehendak Allah, sekarang ia harus menanggung kehancuran sebagai akibatnya.

Didiamkan Allah tidak membuat Saul hilang akal. Ia terus berjuang mendapatkan dukungan dari yang ilahi sebelum maju ke medan perang, kali ini dengan cara yang sama sekali salah: menemui seorang pemanggil arwah.

Praktik nekromansi di Israel
Sejumlah teks Alkitab menunjukkan bahwa praktik nekromansi memang berlangsung di kalangan masyarakat Israel. Bukan hanya itu, dunia perdukunan di sana disemarakkan pula oleh kehadiran tukang tenung, peramal, penyihir, juga pemantra. Padahal Taurat jelas-jelas melarang keberadaan mereka (Ul. 18:10-14; Im. 19:31). Kontak dengan dunia gaib dan mendapatkan manfaat darinya dipandang sebagai sebuah kekejian karena membuat orang Israel berpaling dari TUHAN.

Para pemanggil arwah sebenarnya telah dibasmi oleh Saul (28:3). Hanya, banyak yang melihat bahwa tindakan Saul ini tak lepas dari faktor Samuel. Sebagai nabi yang mengurapi Saul menjadi raja Israel, keberadaan Samuel juga berfungsi sebagai “pengawas” untuk memastikan sang raja memerintah sesuai dengan kehendak TUHAN. Maka, tindakan Saul menyingkirkan para pemanggil arwah itu tampaknya tidak pertama-tama didorong oleh kesalehan dirinya, melainkan karena pengaruh Samuel. Tak heran, setelah Samuel mati, Saul berminat memanfaatkan jasa seorang dukun, suatu hal yang dulu dilarangnya sendiri. Dalam posisi terdesak, ia terkesan mau melakukan apa saja demi keselamatan dirinya.

En-Dor pada suatu malam
Sebelum maju perang, Saul terlebih dulu harus tahu apakah TUHAN berkenan mendukung dirinya atau tidak. Untuk itulah jasa seorang pemanggil arwah dibutuhkan. Saul pun menuju ke sebuah tempat bernama En-Dor. Di sana ada seorang perempuan pemanggil arwah yang lolos dari pembasmian yang dilancarkannya dulu.

Perjalanan ke En-Dor menggambarkan betapa buruknya situasi Saul. Dari awal saja, niat Saul untuk menemui pemanggil arwah sudah merupakan hal yang buruk. Sang raja dengan begitu melanggar ketentuannya sendiri, menunjukkan pribadinya yang plin-plan, imannya yang pudar, dan hidupnya yang gagal. Melengkapi hal itu, perjalanan Saul juga tidak kalah buruknya. Untuk mencapai En-Dor yang terletak di kaki Gunung Tabor di sebelah utara Sunem, Saul mesti menempuh jalan yang berputar-putar agar terhindar dari orang Filistin. Agar aman ia pun menyamar, jangan sampai ketahuan bahwa ia adalah raja. Pertemuan dengan pemanggil arwah itu akhirnya terjadi dalam kegelapan malam. Semua serba sembunyi-sembunyi dan diam-diam, sungguh tidak pantas bagi seorang raja. Tampaknya memang itu yang mau disampaikan: Saul tidak lagi pantas disebut raja. Dia orang yang kacau tanpa pegangan.

Tapi setidaknya niat Saul akhirnya terwujud, ia berhasil menemui si pemanggil arwah. Ritual nekromansi akan segera berlangsung. Tapi sebelumnya Anda perlu tahu bahwa kisah ini lemah dalam detail, tepat di adegan klimaks. Detail-detail yang agak kabur itu antara lain: (1) Karena takut, perempuan itu tadinya menolak ketika diminta memanggil arwah. Ia bersedia setelah Saul memberikan jaminan. Karena Saul sedang menyamar, bagaimana bisa perempuan itu mempercayai jaminan orang biasa?; (2) Tidak digambarkan bagaimana persisnya perempuan itu memanggil arwah Samuel; (3) Tidak diketahui juga bagaimana perempuan itu bisa tahu bahwa yang ia hadapi adalah Saul hanya dengan melihat Samuel.

Maka saran saya, ketika membaca perikop ini jangan buang-buang waktu dengan memperdebatkan detail ritual pemanggilan arwah, kemampuan perempuan itu dalam memanggil arwah, juga apakah arwah orang mati sebenarnya bisa dipanggil atau tidak. Perhatikan saja fokus perikop ini, yakni perkataan Samuel.

Suara dari alam maut
Dengan cara yang tidak dijelaskan, perempuan itu berhasil mendatangkan arwah Samuel (kenapa Samuel? Apa Saul lupa bahwa Samuellah yang memecatnya sebagai raja Israel?). Celaka, Samuel ternyata datang dari dunia orang mati sambil marah-marah, “Mengapa engkau mengganggu aku dengan memanggil aku muncul?” Dengan awal yang buruk seperti ini, harapan Saul untuk mendapatkan bantuan tampaknya segera berubah jadi bencana.

Kepada Samuel, Saul mengungkapkan kesulitan yang tengah dihadapinya. Perang dengan orang Filistin sedang berkecamuk, tapi TUHAN tak membantunya. Karena itulah Saul sungguh membutuhkan bantuan Samuel. Penyusun kisah ini tampak mengolok-olok kebodohan Saul yang berharap Samuel akan menolongnya, padahal TUHAN sudah berpaling darinya. Sebagai hamba TUHAN, mana mungkin Samuel bisa menolong orang yang tidak dikehendaki TUHAN? Tapi setidaknya Samuel tidak keberatan mengungkapkan rahasia masa depan Saul. Jangan dikira kabar baik, berita yang disampaikan Samuel itu benar-benar buruk. Pertama, sudah dinyatakan dari dulu bahwa Saul akan kehilangan takhtanya akibat sikapnya yang tidak menaati TUHAN. Nubuat tersebut akan digenapi hari itu juga. Kedua, dalam pertempuran melawan orang Filistin, pasukan Israel akan kalah, sedangkan Saul dan anak-anaknya akan tewas.

Mendengar nubuat tragis tersebut, Saul langsung ambruk ke tanah. Ia lemas karena divonis mati (tapi juga karena tidak makan seharian). Sebelum dikalahkan pasukan musuh, Saul sudah dikalahkan dirinya sendiri.

Bukan soal memanggil arwah
Jadi tentang apakah 1Sam. 28:3-25? Tentang kesaktian seorang dukun yang bisa memanggil arwah? Bukti bahwa arwah orang mati bisa dipanggil kembali? Bukan, bukan itu. Tak dapat disangkal, adanya ritual nekromansi membuat perikop ini jadi perhatian dan perdebatan banyak orang. Sejumlah orang dengan penuh semangat mendiskusikan kemampuan perempuan pemanggil arwah itu mendatangkan roh Samuel. Sebagian berpendapat bahwa itu terjadi berkat campur tangan Allah, bukan karena kesaktian perempuan itu; yang lain mengatakan bahwa itu pasti pekerjaan Iblis; yang lain lagi mengatakan Samuel tidak benar-benar datang karena perempuan itu menipu Saul. Bolehlah, tapi diskusi demikian kurang berguna.

Beberapa pokok keyakinan Israel tentang kehidupan sesudah mati memang bisa kita tarik dari kisah ini: (1) Diyakini bahwa orang-orang mati beristirahat di bumi bagian bawah dan tidak mau diganggu; (2) Setelah mati, semua orang menuju ke tempat yang sama, tidak peduli ia orang baik atau jahat; (3) Meski praktik pemanggilan arwah dilarang, orang Israel – termasuk penyusun kisah ini – umumnya percaya bahwa itu bisa terjadi.

Namun, perikop ini tidak punya minat pada praktik pemanggilan arwah, dan tidak bisa dijadikan bukti bahwa arwah orang mati bisa dipanggil datang ke dunia ini. Paling jauh dapat disimpulkan, perikop ini menunjukkan keyakinan orang waktu itu bahwa arwah orang mati dapat dipanggil kembali. Penyusun sendiri sekadar menjadikan ritual pemanggilan arwah ini sebagai latar belakang kisahnya tentang akhir kejayaan Raja Saul. Sesaat lagi Saul akan mati secara tragis (1Sam. 31), dan TUHAN telah menetapkan penggantinya, yakni Daud.

Maka alih-alih soal mistik, fokus kisah ini adalah perkataan Samuel, yang mengajak kita merenungkan hubungan antara kekuasaan raja dan kekuasaan TUHAN. Raja punya kekuasaan yang besar, tapi ia tidak boleh lupa bahwa kekuasaan tertinggi ada di tangan TUHAN. Saul mengabaikan hal itu. Kejatuhan sang raja semakin dalam dengan ulahnya mendatangi seorang pemanggil arwah. TUHAN mau digantikan dengan roh-roh gaib? Orang yang berani-beraninya melakukan itu pasti akan berakhir dengan kehancuran. Tepat inilah yang terjadi pada diri Saul. Dia mestinya bertobat, bukannya mendatangi dukun!***

Kepustakaan
Bergant, Dianne, dan Robert J. Karris (ed.). 2002. Tafsir Alkitab Perjanjian Lama. Yogyakarta: Kanisius.
Brueggemann, Walter. 1990. First and Second Samuel. Louisville: John Knox Press.
Conroy, Charles. 1983. 1-2 Samuel 1-2 Kings. Delaware: Michael Glazier, Inc.
Groenen, C. 1992. Pengantar ke dalam Perjanjian Lama. Yogyakarta: Kanisius.
Robinson, Gnana. 1993. Let Us Be Like The Nations: 1 & 2 Samuel. Grand Rapids: William B. Eerdmans Publishing Company.


Rabu, Agustus 24, 2011

DICARI: PEMBUNUH GOLIAT

“Dan terjadi lagi pertempuran melawan orang Filistin, di Gob;
Elhanan bin Yaare-Oregim, orang Betlehem itu, menewaskan Goliat, orang Gat itu,
yang gagang tombaknya seperti pesa tukang tenun.” (2Sam. 21:19)

Betapa senang hati Steve Popovich. Bulan Mei 2005 lalu, perusahaan rekaman miliknya, Cleveland Records Company, menang berperkara melawan raksasa industri musik dunia, Sony Music. Seperti dilaporkan Koran Tempo Senin, 30 Mei 2005, gara-gara alpa mencantumkan logo Cleveland Records di sampul album grup Meat Loaf, Sony harus membayar US$ 5 juta kepada Popovich, sebagai pihak yang turut merilis album tersebut. Mengomentari putusan pengadilan itu, Steve Popovich menyebut sebuah kisah tersohor dalam Alkitab untuk mengumpamakan pengalamannya. Ia berkata, “Hari ini Daud menghantam Goliat.”

Begitulah, ketika ada perseteruan antara orang kecil melawan pihak yang kuat kuasa, kita akan segera teringat pada kisah Daud dan Goliat. Hampir semua orang mengenal cerita itu sehingga tidak perlu ditanya-tanya lagi, tentu saja kita tahu bahwa akhirnya Goliat yang perkasa itu berhasil dikalahkan oleh Daud. Akan tetapi, meskipun Daud “diimani” sebagai pembunuh Goliat, ada satu hal penting yang mengganjal. Menurut 2Sam. 21:19, tersangka pembunuh pahlawan orang Filistin itu ternyata adalah Elhanan bin Yaare-Oregim. Jadi, siapakah gerangan yang membunuh Goliat? Daud atau Elhanan?

Daud vs. “orang Filistin itu”

Duel antara Daud dan Goliat diceritakan secara panjang lebar dalam 1Sam. 17. Jika Anda perhatikan, dalam kisah itu, nama Goliat disebut 2 kali saja (ay. 4 dan 23), selebihnya (puluhan kali) ia disebut sebagai “orang Filistin itu”. Nilai sejarah perikop ini menjadi masalah karena akan terjadi ketidakselarasan jika dihubungkan dengan perikop-perikop sebelumnya. 1Sam. 17 tidak tahu-menahu bahwa Daud telah diurapi menjadi raja oleh Samuel (16:1-13), menjadi pemain kecapi di istana Saul, juga tidak tahu bahwa Daud adalah seorang prajurit, pahlawan yang gagah, dan menjadi pembawa senjata Raja Saul (16:14–23). Daud dalam gambaran 1Sam. 17 adalah anak muda penggembala domba yang tak punya pengalaman militer dan sama sekali tidak mengenal Saul. Dari sini disimpulkan bahwa perikop ini berasal dari tradisi lain yang kemudian ditambahkan dalam rangkaian kisah yang menunjukkan kepahlawanan Daud.

Alkisah, suatu ketika pasukan Filistin dan Israel berhadap-hadapan di suatu tempat antara Sokho dan Lembah Tarbantin, sekitar 9 km dari Betlehem. Dengan segenap kekuatan yang ada, orang Filistin berada di atas angin, apalagi mereka memiliki pendekar gagah perkasa yang bernama Goliat. Betapa luar biasanya Goliat dijelaskan lengkap oleh penulis: tingginya enam hasta sejengkal (ay. 5), memakai baju zirah bersisik seberat lima ribu syikal tembaga (yang berarti bahwa baju itu kuat sekali, ay. 6), dan bersenjatakan tombak yang spektakuler (ay. 7). Itu semua untuk memperlihatkan bahwa Goliat adalah pribadi yang hebat, penuh kejayaan, dan tak terkalahkan. Melihat raksasa yang aslinya berasal dari Gat itu, orang Israel tentu saja jadi menggigil ketakutan. Sungguh kontras dengan pihak Filistin yang sangat bersemangat berhubung kemenangan rasanya sudah ada di depan mata. Goliat dengan gagah menantang duel satu lawan satu dan dari pihak Israel tidak seorang pun berani menanggapi tantangan itu. Dalam situasi yang kritis itu tampillah seorang penolong yang dilihat dari fisik dan pengalamannya sama sekali tidak andal, yaitu Daud. Anak muda ini betul-betul tidak kompeten. Ia hanyalah seorang gembala, datang ke situ pun karena kebetulan disuruh ayahnya menengok kakak-kakaknya di medan perang. Tetapi, dengan segala keterbatasannya, Daud tetap berani maju menghadapi Goliat dan cerita selanjutnya Anda sudah tahu. Karena disertai oleh Tuhan semesta alam, Daud mengalahkan Goliat, hanya dengan katapel dan sebuah batu!

Elhanan membunuh Goliat

Kepahlawanan Daud terusik oleh 2Sam. 21:19 yang melaporkan bahwa Elhanan bin Yaare-Oregim, asal Betlehem, adalah orang yang membunuh Goliat. Laporan itu memang sangat pendek dan sederhana. Penggambaran Goliat juga tidak terlalu dahsyat. Ia hanya dikatakan bersenjatakan tombak yang gagangnya “seperti pesa tukang tenun”. Tetapi, dari situ saja, pembaca sudah mendapat informasi bahwa Goliat membawa senjata yang luar biasa dan karena pesa tukang tenun itu berat, tentunya hanya orang yang fisiknya kuat saja yang bisa membawa tombak dengan gagang seperti itu. Jangan lupa bahwa waktu itu, pembuatan senjata memang sengaja dimonopoli orang Filistin (bdk. 1Sam. 13:19–22) agar kekuatan militer orang Israel lemah tidak berdaya.

Ada banyak usaha untuk menerangkan perbedaan 1Sam. 17 dan 2Sam. 21:19. Kita dapat menemukannya bahkan dalam Perjanjian Lama sendiri. Penulis Tawarikh yang dikenal keberpihakannya pada dinasti Daud berusaha menyelaraskan perbedaan itu dengan mengatakan bahwa “... Elhanan bin Yair menewaskan Lahmi, saudara Goliat, orang Gat itu, yang gagang tombaknya seperti pesa tukang tenun” (1Taw. 20:5). Dalam rangka menegaskan kepahlawanan Daud, penulis Tawarikh menghadirkan figur Lahmi, yang disebutnya saudara Goliat, sebagai korban yang dibunuh Elhanan. Sementara itu, tradisi Yahudi berpendapat bahwa Elhanan tidak lain adalah Daud sendiri. Elhanan, dalam pandangan mereka, adalah nama Daud sebelum ia menjadi raja. Beberapa peneliti berpendapat bahwa Goliat bukanlah nama pribadi, melainkan nama untuk jenis atau kelompok tertentu. Jadi, wajar saja jika ternyata ada banyak orang yang disebut sebagai Goliat. Terakhir, ada juga yang menyimpulkan bahwa memang ada dua raksasa yang sama-sama bernama Goliat.

Penjelasan atas 1Sam. 17

Kesimpulan yang lebih dapat diterima banyak pihak menyatakan bahwa 2Sam. 21:19 tampaknya merupakan teks yang paling tua usianya dan memiliki nilai historis yang lebih kuat dibanding 1Sam. 17. Dengan dasar itu, ada dua penjelasan yang mungkin bagi perikop 1Sam. 17:

1. Perikop itu aslinya mengisahkan pertempuran antara Daud dan prajurit Filistin yang namanya tidak diketahui. Dalam perjalanan waktu, kisahnya diperluas guna menegaskan kepahlawanan Daud. Dalam rangka itu, penulis “meminjam” nama Goliat dan model senjata yang dipakainya dari 2Sam. 21:19.

2. Penulis menyusun 1Sam. 17 sebagai sebuah karya teologi berbentuk narasi dengan mengadaptasi 2Sam. 21:19. Tujuannya, untuk menggambarkan peran Daud sebagai hamba pilihan yang telah ditentukan Tuhan menjadi pemimpin umat-Nya.

Sudut pandang baru

Dengan begitu, pembaca Kitab Suci perlu memandang kisah Daud dan Goliat dengan sudut pandang yang baru. Alih-alih memperlakukannya sebagai peristiwa sejarah, perhatikanlah pesan teologis yang oleh penulis dititipkan dalam perkataan-perkataan Daud (ay. 36b-37 dan 45-47), sebab itulah intisari kisah Daud melawan Goliat. YHWH, Allah Israel, adalah Allah Bala Tentara, Allah Yang Mahakuasa. Tidak ada kekuatan militer setangguh apa pun di dunia ini yang akan sanggup menghadapi-Nya. Dengan jalan yang mustahil di mata manusia, YHWH bertindak untuk menyelamatkan umat-Nya. Jadi, meskipun Daud adalah anak muda yang tidak berpengalaman, ia dapat mengalahkan musuh yang kuat karena perlindungan Tuhan semesta alam. Gambaran betapa lengkapnya persenjataan musuh sengaja ditampilkan guna memperlihatkan besarnya kekuatan Goliat dan lebih besar lagi kekuatan Allah yang sanggup mengatasinya.

Di lihat dari sisi lain, penulis juga mau menonjolkan Daud sebagai raja Yehuda-Israel, raja pilihan Allah. Iman dan kepercayaannya kepada Allah sungguh luar biasa dan tak tergoyahkan sampai akhir hayat. Tidak heran bahwa kemudian Saul, para pegawainya, Yonatan, serta segenap rakyat memujinya setinggi langit (1Sam. 18:1-5). Jika demikian, siapa lagi yang lebih baik dan yang paling layak menjadi raja Yehuda-Israel di masa depan selain Daud?

Penutup

Kesuksesan Daud mengalahkan Goliat menjadi kisah klasik yang mengajarkan apa yang akan dapat diraih oleh seseorang jika ia memiliki iman yang teguh. Bin Sirakh berkata, “Bukankah di masa mudanya ia membunuh seorang raksasa serta mengambil nista dari bangsanya dengan melemparkan batu dari pengumban dan mencampakkan kebanggaan Goliat? Sebab berserulah ia kepada Tuhan Yang Mahatinggi, yang memberikan kekuatan kepada tangan kanannya, sehingga Daud merebahkan orang yang gagah dalam pertempuran, sedangkan tanduk bangsanya ditinggikannya” (Sir. 47:4–5). Namun, meskipun Daud tampak begitu gemilang, jangan lupa untuk tidak memujinya terlalu tinggi. Sebab, tokoh utama dalam cerita ini tetaplah Allah sebagai sumber segala kekuatan. Daud berhasil hanya karena Allah Bala Tentara turun tangan, maju berperang demi Israel, umat pilihan-Nya.***

1. Dimuat di Wacana Biblika, Vol. 5, No. 4, Oktober-Desember 2005.

Rabu, Juli 27, 2011

SERIAL DAUD 02

KASIH SETIA TUHAN TIDAK AKAN HILANG DARINYA
Kisah Hidup Daud, Raja Israel yang Kedua
Jarot Hadianto

Sosok Daud menurut Perjanjian Lama

Lebih dari tokoh-tokoh yang lain, kisah tentang Daud boleh dibilang sangat lengkap dan melimpah. Dalam Perjanjian Lama, kita dapat menemukannya dalam kitab 1-2 Samuel dan 1 Tawarikh. Daud di sini benar-benar dijadikan tokoh utama. Ia ditampilkan sebagai sosok yang menegakkan kejayaan kerajaan umat Allah. Ketika masih belia, Allah berkenan memilih Daud menjadi raja atas umat-Nya, menggantikan Saul, raja yang pertama. Saul perlu diganti, sebab ia ternyata lebih suka memerintah seturut keinginannya sendiri dan mengabaikan perintah-perintah Allah.

Berbeda halnya dengan Daud. Menaati kehendak Allah merupakan prioritas baginya. Di bawah pemerintahan Daud, perjanjian Allah dengan umat-Nya digambarkan terjalin dengan sangat kokoh. Perjanjian ini hadir dalam bentuk lain, yakni berupa perjanjian antara Allah dan Daud serta keturunannya (2Sam. 7:1-17). Kepada Daud, Allah berfirman, “Keluarga dan kerajaanmu akan kokoh untuk selama-lamanya di hadapan-Ku, takhtamu akan kokoh untuk selama-lamanya” (2Sam. 7:16). Firman ini menggambarkan sosok Daud sebagai hamba Allah yang imannya luar biasa teguh, sampai-sampai Allah sendiri mengaguminya. Karena itulah Ia menjanjikan kelestarian pemerintahan Daud dan keluarganya. Melalui dinasti Daud, Allah akan menghadirkan keselamatan bagi umat-Nya. Bukan hanya itu, Mesias, Juru Selamat yang kelak akan datang, juga dipikirkan sebagai keturunan Daud atau malah Raja Daud yang baru.

Alkitab memang menggambarkan iman Daud kepada Allah seolah tak bercacat. Sementara raja-raja lain mendua hati dengan berpaling kepada dewa-dewi bangsa asing, Daud tidak melakukan hal itu. Sebab itulah Allah berkenan kepadanya dan memberinya berkat melimpah. Umat juga mengagumi sang raja. Meski tak lepas dari dosa dan kelemahan, mereka memandang Daud sebagai pahlawan iman yang sejati dan raja ideal yang diidam-idamkan. Daud mereka lihat pula sebagai peletak dasar bagi perkembangan kerajaan selanjutnya. Raja-raja lain hanya mengikuti dan melanjutkan apa yang telah dimulai olehnya. Dalam hal pembangunan Bait Allah, misalnya. Meski dibangun oleh Salomo, Daudlah yang dipandang sebagai penggagas dibangunnya tempat suci itu, termasuk tata ibadat yang dilaksanakan di dalamnya. Selain itu, Daud juga dijadikan standar untuk menilai baik-buruknya seorang raja. Jika raja itu setia kepada Allah sebagaimana ditelandankan oleh Daud, ia akan dipuji sebagai raja yang benar. Jika yang terjadi sebaliknya, dengan segera kecaman akan dijatuhkan padanya. Ia akan dinilai sebagai raja yang jahat.

Sejarah yang mengajar

Pembedaan antara “gambaran” dan “kenyataan” di atas mungkin membuat banyak orang merasa bingung, termasuk kita sendiri. Jika sebagian dari yang digambarkan Alkitab tentang Daud ternyata melenceng atau tidak sesuai dengan kenyataan, bagaimana kita dapat yakin tentang sosok Daud yang sebenarnya? Lebih lanjut, bagaimana pula kita dapat berkata bahwa Alkitab mewartakan kebenaran?

Titik tolak paling tepat untuk menjelaskan masalah tersebut kiranya dengan memahami makna Alkitab itu sendiri. Alkitab sebaiknya tidak lagi kita mengerti sebagai kitab yang turun dari surga, yang didiktekan Allah sendiri kata demi kata. Sebaliknya, terinspirasi oleh Allah, para pendahulu kita menyusun Alkitab sebagai sarana mengajar, sekaligus mewartakan iman dan keyakinan mereka. Alkitab dengan demikian merupakan kesaksian iman umat Israel (untuk Perjanjian Lama) dan jemaat Gereja Perdana (untuk Perjanjian Baru). Jenis sastra kesaksian itu ada beraneka macam, antara lain sejarah, puisi, nubuat, maupun apokaliptik.

Jenis sastra kisah-kisah tentang Daud jelas sejarah. Namun, sejarah di sini tidak boleh dimengerti secara modern sebagai “kejadian dan peristiwa yang benar-benar terjadi pada masa lampau” atau “pengetahuan atau uraian tentang peristiwa dan kejadian yang benar-benar terjadi di masa lampau” (demikian menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia, edisi ketiga, tahun 2001). Sudah pasti bahwa para penyusun kisah itu tidak terutama bermaksud melaporkan peristiwa-peristiwa sejarah kepada kita. Sebagaimana Alkitab, sejarah dalam hal ini sekadar dipakai sebagai sarana untuk mengajar dan bersaksi. Karena itulah sejarah dalam Alkitab disebut sebagai “sejarah yang mengajar” atau “kisah-kisah sejarah yang berfungsi sebagai sarana untuk mengajar umat”. Kita yang membacanya diharapkan lebih berfokus pada ajaran atau pesan-pesan yang hendak disampaikan, bukan pada fakta-fakta sejarah yang dipaparkan di situ.

Kesimpulan

Kisah-kisah seputar Daud sebagian besar dikumpulkan oleh Tradisi Deuteronomis (D), tradisi yang menyusun kitab Yosua, Hakim-hakim, Samuel, dan Raja-raja. Berkaitan dengan hal ini, John A. Grindel menulis, “Sejarah Deuteronomis tidak ditulis untuk menyimpan ingatan akan masa lalu, tetapi bertujuan untuk memberikan penjelasan teologis mengenai kekalahan kedua kerajaan Israel dan Yehuda, dan untuk menyajikan suatu dasar teologis bagi pengharapan akan masa depan.”

Benar sekali. Tradisi D menghimpun dan menyusun kisah-kisah tersebut ketika kerajaan Israel-Yehuda telah musnah, sementara umat Allah tercerai-berai, dibuang di tanah asing. Mereka berada dalam situasi sulit, situasi yang juga mengancam iman mereka kepada Tuhan. Dalam keadaan semacam ini, yang penting bagi mereka bukanlah kisah-kisah dari masa lalu, melainkan harapan bagi terwujudnya pemulihan di masa depan. Kisah-kisah tentang Daud memainkan peran pentingnya tepat di sini. Dalam perjalanan hidup sang raja, ada saatnya ia meraih keberhasilan, ada saatnya pula ia jatuh dalam kegelapan. Kisah-kisah tentang Daud disajikan bagi orang Israel bukan sekadar untuk diketahui, melainkan agar mereka belajar darinya, dari segala keberhasilan, juga kegagalan yang dialaminya.

Pada akhirnya bagi kita, pembaca Alkitab masa kini, kisah-kisah itu mengajak kita untuk melihat hidup kita sendiri. Seperti Daud, perjalanan iman kita pun naik turun. Kadang iman kita kepada Tuhan kokoh seteguh batu karang, namun di lain kesempatan, tak jarang pula kita merasa jauh dari-Nya. Mari kita jadikan Daud sebagai cermin bagi pergulatan iman kita dalam memahami Tuhan. Dari pengalaman keberhasilannya, kegagalannya, juga perjuangannya untuk bangkit dari kegagalan itu, semoga kita menemukan pencerahan betapa Tuhan itu baik dan setia menjadi hidup kita sepanjang waktu.***

Daftar Pustaka

1.Bergant dan Karris (ed.), 2002:231.
Auld, Graeme A. Kings Without Privilege: David and Moses in The Story of The Bible’s Kings. Edinburgh: T & T Clark, 1994.
Bruggemann, Walter. David’s Truth in Israel’s Imagination & Memory. Minneapolis: Fortress Press, 1985.
Fourman, Larry. The Life of David. Illinois: Brethren Press, 1990.
Groenen C. Pengantar ke Dalam Perjanjian Lama. Yogyakarta: Kanisius, 1992.
Manney, Jim. Raja Daud. Malang: Pertapaan Karmel.

Kamis, Juni 30, 2011

SERIAL DAUD 01

KASIH SETIA TUHAN TIDAK AKAN HILANG DARINYA
Kisah Hidup Daud, Raja Israel yang Kedua
Jarot Hadianto

“Sejak hari itu dan seterusnya berkuasalah Roh TUHAN atas Daud.”
(2Sam. 16:13)

Di antara tokoh-tokoh yang muncul dalam Alkitab, terutama Perjanjian Lama, sosok Daud terasa sangat menonjol. Sejak kecil, melalui guru-guru di Sekolah Minggu, kita sudah berkenalan dengan dia dan dibuat terpesona oleh aksi-aksi kepahlawanan yang dilakukannya. Kisah pertarungan Daud melawan Goliat tentunya takkan pernah kita lupakan (1Sam. 17:40-58). Hanya berbekal batu dan alat pelontar, Daud sanggup menumbangkan Goliat, raksasa Filistin yang gagah perkasa. Sesudah peristiwa itu, kesuksesan Daud terus berlanjut dari hari ke hari. Sebagai puncak, ia dipercaya menjadi raja atas dua kerajaan, yakni Yehuda (2Sam. 2:1-4) dan Israel (2Sam. 5:1-3).

Di samping Musa dan figur yang disebut Mesias, Daud adalah seorang tokoh yang pengaruhnya sangat terasa dalam seluruh sejarah dan kehidupan umat Israel. Dengan segala pencapaian yang diraihnya, putra bungsu Isai ini membuat bangsa itu terkesan, kagum, sekaligus bangga. Memang harus diakui bahwa tidak semua perbuatan Daud merupakan hal yang positif. Ia pernah jatuh dan mempermalukan bangsanya gara-gara menjalin hubungan gelap dengan Batsyeba, istri Uria, prajuritnya sendiri (2Sam. 11:1-27). Namun, meskipun mengecewakan, skandal kelam ini tidak begitu saja meruntuhkan reputasi sang raja. Kebanyakan orang tampaknya berpendapat, toh Daud akhirnya menyesali kesalahannya dengan sungguh, menanggung hukuman yang pantas, dan segera bangkit dari ketepurukannya itu. Alhasil, meski memalukan, kisah Daud dan Batsyeba dengan percaya diri ditampilkan dalam kitab Samuel.

Dengan segala kelebihan dan kekurangannya, tak diragukan lagi, Daud adalah tokoh besar dalam sejarah Israel. Inilah kiranya yang membuat banyak orang terus mengingat dan menceritakan kembali kisah-kisah tentangnya, tanpa terganggu oleh pembedaan apakah kisah itu punya nilai historis yang kuat ataukah lebih merupakan mitos yang biasa mengelilingi kehidupan seorang tokoh terkenal. Kisah-kisah tentang Daud agaknya disusun jauh setelah masa pemerintahan sang raja. Banyak tangan terlibat dalam proses ini, banyak pula motivasi yang melatarbelakangi keterlibatan itu, termasuk menjadikan kisah tentang Daud sebagai propaganda kepentingan politik. Apapun motivasinya, sudah pasti bahwa semua itu lahir terdorong oleh kekaguman akan kebesaran dan keagungan sosok yang diceritakan, yakni Daud, raja Israel yang kedua.

Merekonstruksi sosok Daud

Groenen, dalam bukunya yang berjudul Pengantar Perjanjian Lama, berusaha merekonstruksi perjalanan hidup Daud, mulai dari awal kariernya di istana Raja Saul, sampai dengan akhir pemerintahannya sebagai raja Israel-Yehuda. Oleh Groenen, hal-hal mistis, spektakuler, dan ajaib ditanggalkan dari kisah-kisah tentang Daud, sebab umumnya itu merupakan ciri-ciri suatu mitos ataupun cerita rakyat. Dengan itu, tergambarlah sosok Daud yang tampak lebih manusiawi dan – semoga – lebih mendekati kenyataan.

Daud agaknya mula-mula mengabdi sebagai prajurit di istana Saul, raja Israel yang pertama. Kecakapan dan kemampuannya membuat karier Daud terus menanjak. Lama-kelamaan keberadaan Daud membuat Saul merasa tersaingi, terlebih karena nama Daud semakin populer di kalangan masyarakat. Bentrokan antara kedua orang itu pun tak terhindarkan lagi. Merasa terancam, Daud melarikan diri dari istana, mengembara di padang gurun, dan mengepalai sekelompok prajurit yang berpihak padanya. Karena kecerdikannya, ia bahkan diterima oleh orang Filistin yang merupakan musuh besar orang Israel, dan diizinkan membangun semacam markas di daerah mereka. Karena kecerdikannya pula, Daud selalu bisa menghindari tugas dari orang Filistin untuk memerangi orang Israel, sehingga di mata rakyat, Daud tetaplah pahlawan mereka.

Dalam suatu pertempuran melawan orang Filistin, Raja Saul yang terdesak akhirnya memilih bunuh diri. Suku Yehuda yang tinggal di bagian selatan negeri itu lalu menunjuk Daud, yang memang termasuk suku tersebut, untuk menjadi raja menggantikan Saul, yang dianggap sebagai raja yang gagal. Di bagian utara, Saul digantikan oleh anaknya sendiri, yakni Ishboset, yang tampaknya kurang cakap mengemban jabatan raja. Ishboset terlibat peperangan dengan Daud karena ia berusaha merebut bagian yang dikuasai Daud. Namun, ia lalu dibunuh oleh orang-orangnya sendiri yang berkhianat padanya. Suku-suku Israel yang tinggal di utara akhirnya mengangkat Daud menjadi raja mereka. Demikianlah Daud akhirnya menjadi raja atas dua kerajaan, yakni Kerajaan Yehuda dan Kerajaan Israel. Ia lalu merebut Yerusalem dari tangan orang Yebus dan menjadikannya ibu kota “negara persatuan” itu.

Sang raja rupanya punya perhatian khusus pada bidang keagamaan. Hal itu ia tunjukkan dengan memindahkan Tabut Perjanjian ke Yerusalem, sehingga menjadikan kota itu pusat hidup beragama di Israel. Di bidang politik, Daud tampil sebagai raja yang bijak dan berwibawa. Dua kerajaan menjadi satu di bawah pemerintahannya, meski harus diakui bahwa mereka tetaplah dua negara yang terpisah. Di bidang militer, keunggulan Daud tak perlu diragukan lagi. Di bawah pimpinan Daud, Israel memenangkan peperangan demi peperangan melawan bangsa-bangsa lain di sekitarnya. Orang Filistin yang sekian lama menjadi ancaman dan mengganggu ketenteraman hidup mereka takluk kepadanya. Pada masa pemerintahan Daud, meski Israel hanyalah suatu negara kecil, rakyat menikmati kemakmuran dan kesejahteraan.

Namun, di hari tuanya, Daud rupanya direpotkan oleh pertikaian dan perselisihan di kalangan keluarganya sendiri. Anak-anaknya berebut kekuasaan dan tak segan saling membunuh demi mencapai tujuan yang mereka inginkan itu. Absalom malah berani melancarkan pemberontakan melawan ayahnya. Ia didukung oleh suku-suku di utara yang rupanya mulai tidak puas dengan kepemimpinan Daud. Pemberontakan ini sangat berbahaya dan berhasil memaksa Daud sejenak melarikan diri dari Yerusalem. Hanya karena pengalamannya yang sangat luas, Daud berhasil mematahkan pemberontakan itu. Menjelang akhir hayatnya, Daud lalu mengangkat Salomo menjadi raja menggantikannya. Pengangkatan ini bukan tanpa konflik. Adonia, putra Daud yang lain, tidak terima dengan pengangkatan itu. Ia berusaha menjadi raja tandingan, meski akhirnya bisa digagalkan.***


Daftar Pustaka
1. Groenen, Pengantar Perjanjian Lama, 84-85.
Auld, Graeme A. Kings Without Privilege: David and Moses in The Story of The Bible’s Kings. Edinburgh: T & T Clark, 1994.
Bruggemann, Walter. David’s Truth in Israel’s Imagination & Memory. Minneapolis: Fortress Press, 1985.
Fourman, Larry. The Life of David. Illinois: Brethren Press, 1990.
Groenen C. Pengantar ke Dalam Perjanjian Lama. Yogyakarta: Kanisius, 1992.
Manney, Jim. Raja Daud. Malang: Pertapaan Karmel.