Jumat, Agustus 27, 2010










MENCINTAI LITURGI
Frans Sugiono
Cet.1, 2010, 125 x 190 mm, 153 hlm, KANISIUS
Harga Rp 20.000,-
Harga Member Rp. 18.000,- (disc 10%)
Kategori : Liturgi
ISBN : 978-979-21-2714-0


Ada banyak hal yang perlu dipersiapkan untuk sebuah perayaan liturgy. Ada banyak orang pula yang belum mengetahui apa arti liturgy dan bagian-bagiannya serta apa yang perlu dipersiapkan. Buku ini menjawab kebutuhan para tim liturgy paroki, prodiakon, katekis, dan siapa saja yang mempunyai hari dengan liturgi.

Pemesanan : 021 - 8318633, 8290247
Fax : 021 – 83795929
SMS Center : 021 - 93692428

Daftar menjadi Member : kbr@biblikaindonesia.org








SEHAT MENTAL, SPIRITUAL, DAN JASMANI
I.Bambang Shakuntala
Cet.1, 2010, 150 x 150 mm, 64 hlm, KANISIUS
Harga Rp 15.000,-
Harga Member Rp. 13.500,- (disc 10%)
Kategori : Rohani
ISBN : 978-979-21-2667-9


Api adalah salah satu unsur alam yang tetap memiliki kesucian, diyakini oleh Bambang Shakuntala sebagai wilayah kerendahan hati, keikhlasan member, dan kepasrahan sebagaimana sebauh wawasan yang berada dalam wewenang Tuhan. Selama ini ia telah melintasinya puluhan kali dan membawa ratusan orang menyeberangi wilayah yang selama ini dianggap mustahil itu, untuk mengembalikan rasa percaya diri, iman, serta kesembuhan. Dari anak-anak berusia 3 tahun hingga orang lanjut usia berumur 81 tahun telah dibimbingnya mengalami betapa luar biasa kebesaran Tuhan, tanpa harus belajar kanuragan, ilmu kebal, tanpa mantra dan sesaji. Murni karena karunia Tuhan yang ada dalam tubuh kita sendiri.

Pemesanan : 021 - 8318633, 8290247
Fax : 021 – 83795929
SMS Center : 021 - 93692428

Daftar menjadi Member : kbr@biblikaindonesia.org










MUKJIZAT-MUKJIZAT BUNDA MARIA
Bridget Curran
Cet.1, 2010, 140 x 210 mm, xvi + 259 hlm, OBOR
Harga Rp 50.000,-
Harga Member Rp. 45.000,- (disc 10%)
Kategori : Rohani
ISBN : 978-979-565-554-1


Sudah berabad-abad lamanya Bunda Maria menjadi sumber pengharapan melalui mukjizat-mukjizatnya. Mulai dari peristiwa penampakan yang dramatis hingga perjumpaan indah yang sifatnya pribadi. Ia selalu hadir di saat kita paling membutuhkannya. Maria telah menyatukan berbagai kebudayaan dan keyakinan. Di dalam buku ini menyampaikan secara jujur dan apa adanya oleh orang-orang yang telah mengalami perjumpaan langsung dengan Maria, kisah-kisah ini akan membawa kita untuk mengalami sendiri rahmat serta keindahan yang terkandung di dalam setiap peristiwa tersebut.

Pemesanan : 021 - 8318633, 8290247
Fax : 021 – 83795929
SMS Center : 021 - 93692428

Daftar menjadi Member : kbr@biblikaindonesia.org










BAPA KAMI PEMBEBASAN: Doa Yesus yang Menakjubkan
Vincentius & Theresia Sugiatno
Cet.1, 2010, 105 x 155 mm, x + 99 hlm, OBOR
Harga Rp 15.000,-
Harga Member Rp. 13.500,- (disc 10%)
Kategori : Devosi
ISBN : 978-979-565-553-4


Doa Bapa Kami Pembebasan membantu Anda keluar dari aneka kesulitan hidup. Jangan lupa memanjatkan intense syukur kepada Tuhan setiap kali doa Anda terkabulkan dan menyebarluaskan kabar sukacita atas dahsyatnya kuasa doa ini kepada saudara-saudari seiman agar semakin banyak orang beroleh Kasih Karunia-Nya.


Pemesanan : 021 - 8318633, 8290247
Fax : 021 – 83795929
SMS Center : 021 - 93692428

Daftar menjadi Member : kbr@biblikaindonesia.org

Selasa, Agustus 10, 2010

LATAR BELAKANG PAULUS
Alfons Jehadut

Paulus adalah salah seorang tokoh penting dalam Perjanjian Baru dan kehidupan kristiani. Pengaruhnya tak terhitung sehingga ada yang menyebutnya sebagai pendiri kekristenan yang kedua.1 Sebutan itu mungkin terlalu berlebihan sebab mengabaikan dan merendahkan peran para rasul yang lain.2 Namun, tidaklah diragukan bahwa Paulus memiliki pengaruh dan peran yang sangat besar dalam membangun dan menumbuhkan iman jemaat kristiani.

Meski diakui sebagai salah seorang figur penting, namun kita tetap tidak mudah mengenal latar belakangnya. Paulus sendiri hanya sedikit memberi kesaksian tentang siapa dirinya. Kesaksian itu tersebar dalam surat-suratnya dan Kisah Para Rasul. Bagaimana kita harus merangkai kesaksian yang tersebar-sebar sehingga bisa mendapat gambaran latar belakang kehidupan Paulus? Kita pertama-tama menjadikan surat-suratnya sendiri sebagai sumber utama dan kalau surat-suratnya tidak menyediakan kesaksian yang dibutuhkan, barulah kita mempertimbangkan kesaksian Kisah Para Rasul sebagai sumber lain yang dapat diandalkan untuk melengkapinya.3

Paulus seorang Yahudi

Dalam surat-suratnya sendiri, Paulus beberapa kali menyebutkan hal-hal seputar latar belakang keyahudiannya seperti Flp. 3:4-6, Gal. 1:13-17; 2 Kor. 11:22 and Rom. 11:1. Latar belakang keyahudian itu ditekankan juga dalam Kisah Para Rasul khususnya dalam dua pidatonya di sekitar halaman bait Allah di depan orang Yahudi dan raja Agripa (Kis. 22:3-5; 26:4-5).

Dari beberapa perikop yang menekankan latar belakang keyahudian Paulus, Flp. 3:4-6 dianggap sebagai sebuah perikop yang memuat kesaksian yang lebih lengkap. Dalam perikop ini disebutkan beberapa unsur keyahudian yang sangat penting, yakni “disunat pada hari ke delapan, dari bangsa Israel, dari suku Benyamin, orang Ibrani asli, tentang pendirian terhadap hukum Taurat aku orang Farisi, tentang kegiatan aku penganiaya jemaat, tentang kebenaran dalam mentaati hukum Taurat aku tidak bercacat.” Unsur-unsur penting inilah yang akan menjadi fokus perhatian kita.

Unsur keyahudian yang pertama-tama diungkapkan oleh Paulus adalah disunat pada hari yang ke delapan (Flp. 3:5). Sesuai dengan ketentuan hukum Taurat, Paulus disunat ketika berumur delapan hari (Kej. 17:12; Im. 12:3). Ia mengikuti ketetapan perjanjian yang dilakukan oleh Allah dan Abraham yang berbunyi, “Anak yang berumur delapan hari haruslah disunat, yakni setiap laki-laki di antara kamu, turun-temurun: baik yang lahir di rumahmu, maupun yang dibeli dengan uang dari salah seorang asing, tetapi tidak termasuk keturunanmu” (Kej 17:12). Dengan melaksanakan ketetapan perjanjian sunat, Paulus masuk ke dalam persekutuan umat perjanjian.

Asal-usul keyahudian Paulus diungkapkan secara lebih lanjut dalam pernyataan, “dari bangsa Israel” (Flp. 3:5; 2Kor. 11:22; Rom. 11:1). Kata, “Israel” terkait erat dengan gambaran diri sebagai umat pilihan Allah. Dengan menyebut diri sebagai seorang Israel, Paulus memahami dirinya sebagai seorang yang dipilih dan dibenarkan di hadapan Allah karena berkat perjanjian yang diadakan oleh Allah dengan Abraham dan seluruh keturunannya (Kej. 17:7; 22:18).

Gambaran diri Paulus sebagai seorang yang berasal dari suku Benyamin (Flp. 3:5; Rom. 11:1) menegaskan asal usul keyahudiannya. Benyamin adalah anak Yakub yang paling kecil, suku yang paling kecil di antara dua belas suku Israel. Paulus mungkin menyinggung garis keturunannya ini ketika menyebut dirinya sebagai orang yang terakhir dan paling hina dari semua rasul yang menerima penampakan Tuhan yang bangkit (1 Kor. 15:8-9).4

Asal-usul keyahudian Paulus dipertegas lagi dalam gambaran dirinya sebagai “orang Ibrani asli” (Flp. 3:5). Gambaran diri ini dianggap tumpang tindih dengan gambaran sebagai seorang yang berasal dari bangsa Israel. Akan tetapi, kedua gambaran itu mungkin dimaksudkan untuk memperkuat satu sama lain. Dengan menggambarkan diri sebagai seorang Ibrani, Paulus menegaskan identitas dirinya sebagai seorang yang mempertahankan budaya Yahudi di tengah godaan budaya Yunani.5 Kebudayaan Yahudi yang ingin dipertahakannya tidak hanya berkaitan dengan aspek religiusnya tetapi juga bahasanya. Paulus memakai bahasa ibrani dan karena itu berbeda dari orang Yahudi diaspora yang memakai bahasa Yunani.


Seorang Yahudi dari kelompok Farisi

Asal-usul keyahudian Paulus terungkap juga dalam gambaran dirinya sebagai seorang farisi (Flp. 3:5; bdk. Kis. 23:6; 26:5). Kata “farisi” berasal dari kata Ibrani perush yang berarti “yang dipisahkan” dari kelompok yang lain. Orang farisi memisahkan diri dari semua bentuk etika dan ritus yang dianggap haram. Pemisahan itu tidak hanya berkaitan dengan benda dan hewan yang dianggap haram tetapi juga dengan orang yang dianggap tidak bersih, seperti perempuan yang melahirkan, yang menderita penyakit kusta, yang cacat (Im. 12-14), dan yang telah meninggal (Bil. 19). Mereka juga memisahkan diri dari kelompok lain yang tidak menjaga ketaatan pada hukum Taurat secara ketat. Ketaatan inilah yang menyebabkan mereka terpisah dari kelompok Yahudi yang lain dan yang kadang-kadang memicu mereka untuk bertindak secara kejam (Gal. 1:13-14; Flp. 3:4-6; bdk. Rom. 10:2-3).

Pemisahan diri orang farisi dari kelompok Yahudi lainnya dimaksudkan untuk menjaga kesucian diri mereka. Dalam menjaga kesucian diri, mereka menjadikan YHWH sebagai sumber dan model kesucian. Aspek kesucian sangat ditekanan pada zaman Paulus sehingga tidak seorang Israel pun yang tidak mengenal perintah Tuhan kepada Musa, “Kuduslah kamu, sebab Aku, TUHAN, Allahmu, kudus” (Im. 19:2; 20:7-8, 26; 21:6, 8). Perintah inilah yang mendorong mereka untuk memisahkan diri dari ibadat berhala dan pola laku duniawi. Mereka menghormati dan tidak menodai tempat kudus-Nya, menghormati dan tidak menajiskan nama-Nya yang kudus, dan menyembah-Nya sebagai satu-satunya yang kudus dan tidak bercela.

Ciri lain yang membedakan orang farisi dari kelompok Yahudi lainnya adalah posisi mereka terhadap kitab Taurat. Di samping kitab Taurat, mereka menerima kitab para nabi dan tulisan ahli kitab. Mereka bahkan juga menerima tradisi lisan. Kewibawaan tradisi lisan dianggap sama dengan yang tertulis karena tradisi lisanlah yang memungkinkan mereka menafsirkan dan menyesuaikan kata-kata kitab Taurat dengan situasi dan lingkungan hidup yang baru. Tradisi lisan dilihat sebagai penjelasan lanjutan dari hukum yang tertulis. Mereka juga berpegang pada keyakinan lain yang tidak tertulis dalam hukum Taurat seperti kedatangan Mesias, kebangkitan badan, keberadaan dan peran malaikat, dan persekutuan seluruh umat Israel pada akhir zaman (Kis. 23:8).

Sebagai seorang Yahudi, Paulus mendapat pendidikan di Yerusalem dari seorang guru yang sangat terkenal pada zamannya, yakni Gamaliel (Kis 22:3). Gamaliel terkenal dengan nasihat bijaknya ketika Petrus dan Yohanes diseret ke hadapan Mahkamah Agama karena mengajar dalam nama Yesus (Kis 5:27-28). Pada saat Mahkamah Agama memutuskan untuk menghukum mereka sampai mati, Gamaliel, salah seorang anggota Mahkamah Agama, melawan keputusan rekan-rekannya. Ia mengatakan biarkanlah para rasul berbicara dan mengajarkan dalam nama Yesus sebab jika maksud dan perbuatan mereka berasal dari manusia, tentu akan lenyap, tetapi kalau berasal dari Allah, mereka tidak akan dapat dilenyapkan (Kis 5:34-39).


Seorang penganiaya jemaat

Gambaran diri Paulus sebagai seorang farisi terlihat jelas dalam kegiatannya, “tentang kegiatan aku penganiaya jemaat, tentang kebenaran dalam mentaati hukum Taurat aku tidak bercacat” (Flp. 3:6). Kegiatan penganiayaan itu disebutkan beberapa kali di dalam suratnya (Flp. 3:6; Gal. 1:13; 1Kor 15:9). Namun, keterangan lebih terperinci mengenai bentuk penganiayaan ini tidak diberikan.


Gambaran seputar penganiayaan

Surat-surat Paulus sendiri tidak melukiskan secara rinci bagaimana bentuk penganiayaannya. Gal 1:13, misalnya, hanya memberi keterangan bahwa Paulus menganiaya jemaat Allah dan berusaha membinasakannya dengan tanpa batas. Kata “menganiaya” (diw,kein) ditemukan juga dalam sapaan Yesus kepada Paulus di jalan ke Damsyik (Kis 9:4, 5; 22:7, 8; 26:14, 15). Kata itu memperlihatkan adanya kekerasan fisik. Kekerasan fisik itu diperlihatkan lagi dalam kata “membinasakan” (Yunani: porqein). Kata ini akan diucapkan lagi oleh orang Yahudi di Damsyik yang terheran-heran mendengarkan Paulus memberitakan Yesus sebagai Anak Allah di rumah-rumah ibadat (Kis. 9:21).

Berbeda dengan surat-surat, Kisah Para Rasul melukiskan dengan sangat hidup bagaimana Paulus menganiaya dan membinasakan jemaat kristiani. Dilukiskan bahwa “ia memasuki rumah demi rumah dan menyeret laki-laki dan perempuan ke luar dan menyerahkan mereka untuk dimasukkan ke dalam penjara” (Kis. 8:3). Ia mendukung hukuman mati bagi jemaat kristiani (Kis. 22:4; 26:10) dan memaksa mereka untuk menyangkal imannya (Kis. 26:11). Tindakan penganiayaan ini dikisahkan kembali ketika ia memberi kesaksian kepada orang banyak di Yerusalem: “Aku telah menganiaya pengikut-pengikut Jalan Tuhan sampai mereka mati” (Kis. 22:4)

Demi memuluskan aksinya, Paulus meminta surat kuasa dari Imam besar (Kis. 9:2). Surat itu memungkinkannya untuk bertindak secara kejam terhadap orang Yahudi yang beralih menjadi pengikut jalan Tuhan baik yang tinggal di Yerusalem maupun di kota-kota asing (Kis. 26:11). Seberapa besar pengaruh surat kuasa imam besar tersebut? Legasse berpendapat bahwa sulit dijelaskan bahwa Imam Besar memiliki wewenang untuk memberi izin penangkapan terhadap para pengikut jalan Tuhan di Damsyik dan membawa mereka pulang ke Yerusalem karena hak dan kuasa Imam sebenarnya terbatas pada wilayah Yudea walaupun 1Mak. 15:16-21 mengindikasikan bahwa penguasa Roma bisa memberi kuasa kepada imam besar Yahudi untuk mengejar buronan dengan surat ekstradisi.6 Surat kuasa itu mungkin tidak banyak efeknya untuk menangkap para pengikut jalan Tuhan yang tinggal di diaspora. Maka, surat kuasa itu barangkali bukan sebuah fakta sejarah tetapi sebuah gagasan teologi Lukas untuk menunjukkan bahwa tindakan penganiayaan dan pembinasaan itu sah secara hukum.7

Siapakah yang menjadi target utama penganiayaan Paulus? Pertanyaan ini dijawab secara berbeda-beda oleh ahli tafsir. Menurut Hengel, penganiayaan itu tidak diarahkan kepada semua pengikut jalan Tuhan tetapi hanya kepada yang berlatar belakang Yunani karena pandangan teologis mereka yang menentang bait Allah secara terbuka seperti yang dilakukan oleh Stefanus (Kis. 6:8-8:1a). 8 Stefanus menolak bait Allah sebagai tempat sentral kehadiran Allah sebab sejarah bangsa Israel sebelum pembangunan Bait Allah di Yerusalem memperlihatkan dengan jelas kehadiran Allah yang tidak terbatas pada satu tempat dan bangunan tertentu. Pandangan inilah yang membangkitkan permusuhan dan penganiayaan yang terbuka terhadap orang kristiani yang tinggal di luar Yerusalem.9
Penganiayaan yang semula diarahkan hanya bagi para pengikut jalan Tuhan yang berlatar belakang Yunani yang tinggal di Yerusalem kemudian diperluas. Kisah 8:1 memberi isyarat adanya suatu penganiayaan yang lebih menyeluruh setelah kematian Stefanus, “Pada waktu itu mulailah penganiayaan yang hebat terhadap jemaat di Yerusalem. Mereka semua, kecuali rasul-rasul, tersebar ke seluruh daerah Yudea dan Samaria.” Para rasul selanjutnya tidak lagi dikecualikan dari penganiayaan (Kis. 9: 26-30). Pemimpin penganiayaan itu tidak lain daripada Paulus yang menyaksikan dan menyetujui Stefanus dihukum mati dengan cara dilempari batu sampai mati.


Motivasi yang mendorong penganiayaan

Apa motivasi yang mendorong Paulus melakukan tindakan penganiayaan secara keji bagi para pengikut jalan Tuhan? Schnabel berpendapat bahwa keyakinan dan pewartaan tentang Yesus yang tersalib sebagai Mesias yang telah dijanjikan kepada orang Israel dianggap sebagai suatu penghinaan dan kesalahan fatal bagi Paulus.10 Bagi Paulus, seperti juga bagi setiap orang Yahudi yang lain, keyakinan dan pewartaan tentang Yesus yang tersalib sebagai Mesias yang tersalib bukan hanya sebuah penghinaan bagi harapan mesanik secara politis dan nasional orang Yahudi melainkan juga dianggap keyakinan dan pewartaan yang tidak masuk akal karena Mesias itu seorang yang berkenan bagi Allah sementara orang tergantung pada salib itu seorang yang terkutuk oleh Allah (bdk. Ul. 21:23).11
Penganiayaan Paulus terhadap para pengikut jalan Tuhan harus dipahami dari perspektif “seorang yang giat bekerja bagi Allah” (Kis. 22:3). Semangat religius ini terungkap jelas dalam komitmennya untuk melakukan hukum Taurat. Dalam surat-suratnya, Paulus menunjukkan bukti semangatnya yang berkobar-kobar untuk mengikuti tradisi yang telah diwariskan oleh para leluhurnya (1Kor. 15:9; 1Tim. 1:13). Dalam Kis. 22:3-4 dan 23:6 Paulus mengklaim bahwa dirinya sebagai seorang penganiaya yang giat bekerja bagi Allah dan yang berkomitmen melakukan seluruh hukum Taurat yang diberikan kepada bapa leluhurnya. Semangat bekerja untuk Allah dan hukum Taurat-Nya itu dimaksudkan untuk memulihkan kemurniaan Israel, memulihkan iman dan Bait Allah.

Sebagai seorang yang memiliki semangat yang berkobar-kobar untuk membela hukum Taurat dan tradisi leluhurnya, Paulus mungkin memiliki keyakinan bahwa penganiayaan terhadap para pengikut jalan Tuhan itu sesuai dengan kehendak Allah. Keyakinan semacam ini memiliki akar biblis yang kuat. Dalam tradisi Yahudi, ada beberapa contoh klasik seperti Simon dan Lewi yang tidak hanya membela kehormatan saudari mereka tetapi juga membela integritas Israel sebagai bangsa pilihan Allah melawan orang-orang asing dan kaum kafir (Ydt. 9:2-4); Pinehas, cucu laki-laki Harun, yang tergerak hatinya untuk menikam seorang Israel yang berhubungan dengan seorang perempuan Midian karena semangatnya untuk menghayati hukum Taurat (Bil. 25:11-13); Elia yang karena semangatnya untuk melaksanakan hukum Taurat melawan sinkretisme yang dilindungi oleh Ahab dan Izebel (1Raj. 18; Sir 48:2; 1Mak. 2:58). Semangat untuk melaksanakan hukum Taurat inilah yang sering muncul dalam sejarah pertempuran Makabe melawan upaya orang-orang Siria menghancurkan etnis dan identitas religius Israel (1Mak. 2:19-27; 50; 58; 2 Mak. 4:2).


Paulus seorang Yahudi diaspora

Untuk memahami kata-kata Paulus secara akurat kita harus mempertimbangkan juga warisan kulturalnya, bukan hanya asal-usul keyahudiannya. Secara kultural, Paulus bukanlah seorang Yahudi Palestina tetapi seorang Yahudi diaspora. Kata diaspora biasanya dipakai untuk menunjukkan penyebaran orang Yahudi di antara bangsa yang bukan Yahudi. Mengapa orang Yahudi tinggal di luar tanah Palestina? Alasannya berbeda-beda. Ada yang terpaksa pindah dari tanah kelahiran karena tahanan perang tetapi ada juga yang keluar dari daerah kelahirannya secara suka rela karena alasan ekonomi dan politik seperti kepadatan penduduk, ketidaksuburan tanah, dan persoalan internal lainnya di Palestina. Kendati pindah dari Palestina, namun mereka tetap mempertahankan simbol-simbol religius mereka. Banyak orang yang Yahudi diaspora yang pulang ke Yerusalem untuk merayakan perayaan religius mereka sampai pada waktu bait Allah dihancurkan oleh orang Romawi pada tahun 70 M. Hal ini digambarkan secara jelas dalam Kis. 2:9-11. Banyak orang Yahudi diaspora yang tetap mempertahankan identitas religius mereka dan menolak untuk berasimilasi dengan budaya Yunani.

Latar belakang diaspora Paulus itu jelas terungkap dalam surat-suratnya yang mengutip Perjanjian Lama terjemahan Yunani, Septuaginta (LXX).12 Hal ini memperlihatkan pengaruh bahasa dan budaya Yunani yang besar. Pengaruh besar itu terlihat baik dalam pola pikirnya maupun dalam misinya kepada orang yang bukan Yahudi.13 Melalui bahasa dan budaya Yunani, Paulus mampu mengatasi persoalan dan kesulitan dalam mewartakan injil keluar dari linkungan Yahudi Palestina ke lingkungan kekaisaran Romawi. Pengalaman Paulus hidup di lingkungan kekaisaran Romawi dan perjumpaannya dengan orang Yahudi diaspora dan yang bukan Yahudi memberi kontribusi bagi perjalanan rohaninya sebagai rasul bangsa bukan Yahudi.


Seorang warga Tarsus

Surat-surat Paulus tidak pernah berbicara tentang kota kelahirannya. Kisah yang bersifat otobiografis dalam Gal. 1-2 mencatat bahwa Paulus pertama-tama menyebut Damsyik dan kemudian Arabia. Paulus lalu berbicara tentang Yerusalem, Syria, dan Kilikia dan kembali lagi ke Yerusalem dalam kaitannya dengan konsili apostolik. Tarsus sama sekali tidak disebut. Hal ini menunjukkan bahwa kesaksian surat-surat tidak bisa dijadikan sebagai dasar untuk mengetahui asal-usul Paulus sebagai warga Tarsus, ibu kota provinsi Kilikia.

Darimanakah kita mendapatkan informasi bahwa Paulus berasal dari Tarsus? Kisah Para Rasul menginformasikan bahwa Paulus berasal dari Tarsus, ibu kota provinsi Kilikia (Kis 9:11, 30; 11:25; 21:39; 22:3) tetapi dibesarkan di Yerusalem (Kis 22:3). Istilah “dibesarkan” (avnateqramme,noj) memunculkan suatu pertanyaan, “apakah tahun-tahun awal hidup Paulus dihabiskan di Tarsus ataukah di Yerusalem?” Pertanyaan ini menarik perhatian banyak ahli tafsir karena terkait erat dengan dunia pemikiran Paulus. Apakah Paulus lebih banyak dipengaruhi oleh alam pemikiran Yunani ataukah Yahudi?

Istilah “dibesarkan”, menurut Fitzmyer, mengacu pada masa kanak-kanak Paulus dan bukan pada masa-masa pendidikan formalnya.14 Paulus dibesarkan di Yerusalem sejak fase-fase awal kehidupannya dan dia tidak menghabiskan masa kanak-kanak dan remajanya di Tarsus. Ia datang ke Yerusalem ketika masih anak-anak. Kis 23:16 menginformasikan bahwa Paulus memiliki seorang saudara yang tinggal di Yerusalem. Meski pindah sejak fase-fase awal hidupnya, Paulus kiranya tetap mempertahankan tali persaudaraan dengan sanak keluarganya (Kis. 9:30; 11:25; Gal. 1:21-2:1). 15

Carson, pada sisi lain, memahami bahwa istilah “dibesarkan” terkait erat dengan ungkapan “dididik dengan teliti di bawah pimpinan Gamaliel” yang mengacu pada pendidikan rabinik Paulus.16 Dalam pengertian ini, Paulus menghabiskan fase-fase awal kehidupannya di Tarus dan kemudian pindah ke Yerusalem ketika melanjutkan sekolahnya. Paulus menghabiskan masa kanak-kanak di Tarsus daripada di Yerusalem. Maka, ungkapan “dibesarkan di Yerusalem” mungkin perlu dipahami sebagai sebuah teologi Lukas yang ingin menggambarkan kesinambungan Paulus dengan Yudaisme.17

Orang Yahudi yang tersebar di diaspora tidak kebal terhadap pengaruh bahasa dan budaya Yunani. Mereka sama sekali tidak terisolasi dari ruang bahasa dan budaya tempat tinggalnya. Mereka menyampaikan pesan pewartaan melalui bahasa dan kebudayaan lingkungan hidupnya. Pola pikir mereka sangat dipengaruhi oleh pola pikir Yunani. Mereka mengunakan kitab suci terjemahan Yunani. Paulus sebagai seorang Yahudi diaspora tidak terlepas dari pengaruh budaya Yunani. Perjumpaannya dengan orang Yahudi diaspora dan orang bukan Yahudi di Tarsus memiliki pengaruh penting bagi panggilannya sebagai rasul bangsa yang bukan Yahudi dan bagi pandangannya tentang tentang kekristenan.


Seorang warga negara Roma

Surat-surat Paulus sendiri tidak pernah berbicara tentang statusnya sebagai warga Roma. Kisah Para Rasullah yang memberi informasi tentang status Paulus sebagai warga negara Roma ketika ia ditangkap dan dipukul karena dituduh sebagai pemberontak bangsa Israel dan hukum Taurat (Kis. 21:27-36). Penangkapan yang disertai tindakan anarkis itu mendorong Paulus untuk mengajukan keberatan kepada perwira Roma, “Bolehkah kamu menyesah seorang warga negara Roma, apalagi tanpa diadili?” (Kis. 22:25). Keberatan ini lalu disampaikan kepada kepala pasukan yang kemudian mengingatkan sidang pengadilan dengan berkata, “Apakah yang hendak engkau perbuat? Orang itu warga negara Roma.” Atas peringatan itu sidang pengadilan meminta klarifikasi langsung dari Paulus, “Katakanlah, benarkah engkau warga negara Roma?” (Kis 22:27). Paulus menjawab bahwa dirinya benar-benar warga negara Roma dan status itu diperoleh karena kelahirannya (Kis 22:28).

Pengkauan Paulus tentang statusnya sebagai warga negara Roma karena kelahiran telah memunculkan banyak diskusi. Jika Paulus berstatus warga Roma karena kelahiran, bagaimana ayahnya mendapatkan status tersebut dan bagaimana Paulus sendiri membuktikannya? Polhill berasumsi bahwa keluarga Paulus mendapat status sebagai warga Roma melalui pelayanan yang mereka berikan untuk kegiatan militer karena mereka berprofesi sebagai pembuat tenda.18 Sebagai pembuat tenda, keluarga Paulus berurusan dengan tentara-tentara Roma yang sering memakai tenda-tenda untuk kepentingan militer mereka. Mungkin juga status itu diperoleh karena ayahnya atau kakeknya telah dibebaskan dari perbudakan oleh majikannya.19 Inilah cara yang paling umum pada waktu itu untuk mendapat status warga Roma.

Kebenaran historis klaim Paulus sebagai warga negara Roma sulit dibuktikan. Roetzel berkeratan dengan klaim tersebut karena memberi status warga negara kepada orang Yahudi pada zaman itu sesuatu yang sangat jarang. Status itu biasanya hanya diberikan kepada orang kaya, orang yang pengaruh, dan orang yang telah memberikan pelayanan yang luar biasa bagi Roma.20 Keberatan itu didukung oleh Legasse yang berpendapat bahwa ketaatan Paulus dan keluarganya pada hukum Taurat tidak dapat didamaikan dengan kewajiban warga negara Roma untuk berpartisipasi dalam ibadat pemujaan kepada kaisar dan memberikan persembahkan kepada dewa-dewi Roma.21 Oleh karena itu, status Paulus sebagai warga Roma mungkin lebih baik dilihat sebagai suatu gagasan teologis Lukas yang mau menunjukkan bahwa Paulus dan ajarannya tidak bersalah; ia tidak sedang melakukan kegiatan untuk mengulingkan kekuasaan yang ada.
1 W. Wrede, Paul (London: Philip Green, 1970), 180.
2 D. A. Carson, An Introduction to the New Testament (England: Apollos 2005), 354.
3 Calvin J. Roetzel, Paul: the Man and the Myth (Columbia: University of South Carolina Press, 1998), 11-12.
4 Klaus Haacker, ‘Paul’s life’ dalam James D. G. Dunn, The Cambridge Companion to St Paul (Cambridge: Cambridge University Press, 2003), 21.
5 John McRay, Paul: His Life and Teaching (Grand Rapids: Baker Academic, 2003), 28.
6 Simon Legasse, Paul’s Pre-Christian Career According to Acts, in Richard Bauckham (ed.), The Book of Acts in its First Century Setting, pp. 388-389.
7 Joseph A. Fitzmyer, The Acts of the Apostles: A New Translation with introduction and Commentary (New York : Doubleday, 1998), 423.
8 Martin Hengel, Earliest Christianity: Containing Acts and the History of Earliest Christianity and Property and Riches in the Early Church (London: SCM Press, 1979), 75.
9 N. T. Wright, Jesus and the Victory of God (Minneapolis: Fortress Press, 1996), pp. 405-427.
10 Eckhard J. Schnabel, Early Christian Mission: Paul and the Early Church, Vol. 2. Downers Grove: InterVarsity Press, 2004), 928.
11 Ronald Y. K. Fung, The Epistle to the Galatians (Grand Rapids: William B. Eerdmans, 1998),59.
12 Terjemahan kitab Taurat dalam bahasa Yunani dilakukan pada pertengahan abad ke-3 SM. Terjemahan itu diberi nama Septuaginta (LXX). Nama itu berasal dari sebuah legenda yang mengisahkan bahwa ada tujuh puluh penatua yang masing-masing melakukan terjemahan secara sendiri-sendiri. Meski dikerjakan sendiri-sendiri, hasil terjemahan itu identik satu sama lain. Makna dan nilai terjemahan itu sangat penting sebab hasil terjemahan itulah yang memungkinkan misi pewartaan kepada orang Yahudi diaspora dan orang bukan Yahudi yang menggunakan bahasa Yunani sebagai bahasa percakapan.
13 Joseph A. Fitzmyer, According to Paul: Studies in the Theology of the Apostle, 7-8.
14 Fitzmyer, The Acts of the Apostles: A New Translation with introduction and Commentary, 704.
15 I. Howard Marshall, The Acts of the Apostles: Tyndale New Testament Commentaries (Grand Rapids: William B. Eerdmans, 1994), 353-354.
16 Carson, An Introduction to the New Testament, 356.
17 Hengel, The Pre-Christian Paul, 21-25.
18 John B. Polhill, Paul and His Letters (Nashville: Broadman and Holman, 1999), 16.
19 Hengel, The Pre-Christian Paul, 6-15.
20 Calvin J. Roetzel, Paul: the Man and the Myth, 19-22; Udo Schnelle, Apostle Paul: His Life and Theology, 60-62.
21 Simon Legasse, Paul’s Pre-Christian Career According to Acts, in Richard Bauckham (ed.), The Book of Acts in Its Palestinian Setting, 371.

Jumat, Juli 30, 2010

Mazmur 23

KISAH ORANG PALING MALANG SEDUNIA
Jarot Hadianto

“TUHAN adalah gembalaku, takkan kekurangan aku” (Mzm. 23:1)


Situasi yang kuhadapi saat ini tampaknya sederhana bagi orang lain, tapi tidak bagiku. Aku diminta setiap pagi mengantar setumpuk koran dari stasiun kereta ke kios majalah di pertigaan jalan. Untuk pekerjaan itu, aku akan mendapat uang jasa sebesar dua ribu rupiah per hari. Jarak antara dua tempat itu tidak jauh, hanya sekitar 300 langkah. Jadi kelihatannya mudah saja, bukan?

Tapi untuk melakukan kerja sederhana itu aku punya tiga masalah besar. Pertama, jalan yang akan kulalui itu sempit, namun selalu padat oleh manusia, mobil, dan motor yang hilir mudik menuju stasiun kereta. Kedua, tidak ada teman yang bisa mendampingiku, aku harus berjalan sendiri. Dan ketiga, mengapa dua hal sepele itu menjadi soal, tidak lain karena aku tidak bisa melihat. Aku ini buta.


Orang paling malang sedunia

Kalau begitu keadaannya, lalu untuk apa aku harus mengambil risiko berjalan sendirian, membawa setumpuk koran yang berat, hanya demi selembar uang dua ribu rupiah? Terus terang saja, uang sebanyak itu sangat berarti bagiku. Aku ini pengemis. Pendapatan harian yang kuperoleh tidak banyak dan tidak pernah bisa dipastikan. Saat tanggal muda, kantong celanaku bisa penuh oleh koin, buah pemberian orang-orang kantoran yang murah hati. Tapi ketika tanggal tua tiba, jangan harap itu terjadi.

Pagi ini misalnya, pemasukan tercatat nol rupiah. Padahal, aku sudah beroperasi sejak pagi-pagi buta dan sekarang dalam keadaan lapar. Apakah tanggal tua telah tiba? Aku menduga demikian. Tuan-tuan dan nona-nona muda yang menanti kereta di stasiun ini rasanya tidak berminat melihat aku. Akibatnya, mangkok di tanganku masih kosong melompong. Koin seratus perak pun tak ada! Jadi, apa boleh buat, ketika ada orang yang mau memakai jasaku untuk mengantar koran ke kios di pinggir jalan, aku segera saja menerimanya.

Menjadi pengemis memang menyedihkan. Menjadi pengemis yang buta, itu lebih menyedihkan lagi. Tapi ya, begitulah nasibku. Sering aku merasa, aku ini orang paling malang sedunia. Entah kenapa Tuhan tega menciptakan aku seperti ini. Aku sudah lelah bertanya-tanya kepada-Nya tanpa jawaban. Sekarang ini, selain bersikap pasrah dan menjalani hidup apa adanya, aku punya keyakinan baru yang kupegang erat-erat: “Tuhanlah gembalaku, aku takkan kekurangan. Tuhan akan membimbing dan menuntun aku ketika aku berjalan dalam kegelapan.” Ah, bagaimana bisa pengemis buta seperti aku punya insight – begitu orang pintar sering mengatakannya – sehebat itu? Sebentar lagi kalian akan mengetahuinya.


Perjalanan dimulai

Koran-koran yang harus kuantar sekarang sudah berada di tanganku. Di luar dugaan, jumlahnya banyak sehingga sungguh merepotkan. Aku menjepitnya dengan tangan kiri, sementara tangan kanan sudah punya tugas yang tetap, yakni menggenggam tongkat. Setelah meneguhkan hati dengan mengulang-ulang mantra suci: “Tuhanlah gembalaku,” aku memulai perjalanan yang mendebarkan ini. Dalam kegelapan, aku melangkah setapak demi setapak. “Tuhan, semoga aku sampai ke tujuan dengan selamat!” seruku dalam hati. Kalau tugas perdana ini berjalan lancar, besok-besok aku bisa mengawali hari-hariku dengan gembira, sebab setiap pagi dua ribu rupiah sudah pasti ada di tangan.

Aku rasa hari mulai terang, sebab udara mulai terasa hangat. Seperti sudah kuduga, pada jam-jam begini, jalan yang kulalui sudah dipadati orang yang hendak menuju ke tempat kerjanya masing-masing. Sambil berjalan melawan arus, aku menajamkan telinga, mengamati langkah mereka yang serba terburu-buru, takut ketinggalan kereta. Tapi raja jalan sempit tanpa trotoar ini bukanlah orang-orang itu, melainkan tukang ojek. Ya, tukang-tukang ojek adalah penguasa sejati jalur ini dengan motor-motor mereka yang melaju bak kereta ekspres. Demi memburu penumpang, mereka suka bertingkah gila-gilaan, serobot sana serobot sini, dan ngebut sesuka hati seolah-olah sedang berlaga di sirkuit balapan.

Aku terus melangkah dengan perlahan. Telingaku kupasang baik-baik, mewaspadai para tukang ojek dan motor-motor mereka yang liar itu. Begitu mendengar suara mendengung seperti lebah, itu artinya pasukan ojek mendekat dan aku harus minggir. Tapi pendengaranku yang tajam menangkap suara-suara lain juga. Yang kumaksud ialah seruan-seruan kecil seperti “Wah”, “Hah”, “Oh”, “Astaga”, “Ya ampun”, dan sejenisnya. Semua seruan itu tertuju kepadaku. Aku rasa itulah ekspresi kekagetan orang melihat ada orang buta berjalan sendiri di keramaian. Mereka mungkin terkejut, heran, atau prihatin. Melihat aku membawa setumpuk koran, bisa jadi mereka juga merasa aneh dan lucu. Orang buta dan koran memang bukan pasangan yang tepat.


Melepas lelah di samping gereja

Pada langkah ke-109, aku memutuskan untuk beristirahat. Berjalan penuh kewaspadaan ternyata membuat urat-uratku tegang. Aku jadi cepat lelah dan indra keenamku jadi kurang berfungsi dengan baik. Beberapa kali aku bergeser ke tengah jalan, yang mana hal tersebut membuat ibu-ibu penjual pastel yang berjejer di situ berteriak histeris dan buru-buru menyeretku kembali ke tepi. Aku berterima kasih atas pertolongan mereka. Diam-diam aku berdoa semoga pastel, donat, dan lemper yang mereka jual hari ini laku habis tak bersisa.

Sebenarnya pemilihan tempat istirahat ini bukan suatu kebetulan. Langkah ke-109 dari stasiun kereta adalah suatu tempat yang teduh karena dinaungi pohon akasia nan rindang. Pada hari tertentu, yakni hari Minggu, aku biasa mangkal di tempat ini. Kenapa harus hari Minggu, tidak lain karena di situ ada sebuah gereja yang tentunya dipenuhi orang hanya pada hari Minggu. Aku pikir, aneh juga ada gereja kok terletak di dekat stasiun, di samping jalanan yang sempit dan padat. Apa mereka bisa berdoa dalam suasana yang begitu ramai, berisik, berhiaskan bunyi klakson di sana-sini? Tapi apa peduliku. Di tempat ini, banyak orang bermurah hati memberiku sedekah. Di tempat ini pula untuk pertama kalinya aku mendengar lagu “Tuhanlah Gembalaku” itu.

“TUHAN adalah gembalaku, takkan kekurangan aku. Ia membaringkan aku di padang yang berumput hijau, Ia membimbing aku ke air yang tenang; Ia menyegarkan jiwaku. Ia menuntun aku di jalan yang benar oleh karena nama-Nya. Sekalipun aku berjalan dalam lembah kekelaman, aku tidak takut bahaya, sebab Engkau besertaku; gada-Mu dan tongkat-Mu, itulah yang menghibur aku.”

Saat itu, ketika orang-orang di dalam gereja menyanyikan lagu tersebut, telingaku langsung berdiri tegak. Waahh… lagu itu begitu indah, syairnya begitu dalam! Aku sangat terkesan dan merasa tersapa olehnya. Sebagai orang buta yang selalu “berjalan dalam lembah kekelaman”, lagu itu langsung meresap ke dalam batinku, sebab sesuai sekali dengan situasi kehidupanku. Sejak saat itu, aku suka menyenandungkan lagu “Tuhanlah Gembalaku” berulang-ulang. Sikapku pun berubah. Yang tadinya sering mengeluh, sekarang jadi riang dan penuh semangat. Berkat lagu “Tuhanlah Gembalaku”, aku jadi yakin bahwa Tuhan pasti setia menuntun aku, memberi jalan bagiku, dan mencukupi aku dalam kekuranganku. Bukankah Dia yang menciptakan aku? Aku percaya, Dia pun mengasihi aku, peduli terhadapku, dan senantiasa memperhatikan aku.


Terkapar di tengah jalan

Begitulah, duduk satu dua menit di tempat ini membuat aku bersemangat lagi. Rasa lelahku lenyap dan aku pun melanjutkan perjalananku menuju pos terakhir, yakni kios koran di pertigaan sana. 191 langkah lagi. Ah, tidak jauh itu. Dengan spirit “Tuhanlah Gembalaku”, aku pasti bisa melakukannya.

Aku melangkah setapak demi setapak dengan gembira, sambil mengangguk-anggukkan kepala menyanyikan lagu kesayanganku tersebut. Tapi mungkin gara-gara itulah konsentrasiku jadi hilang. Aku bergeser agak ke tengah, lalu tiba-tiba ada suara mendengung melaju kencang ke arahku, dan guabruuuuuusssssss……..!!! Tukang ojek sialan itu benar-benar menabrak diriku.
Aku menjerit. Orang-orang juga menjerit. “Ya Tuhan!”, “Masya Allah!”, “Tuhan Yesus!” Demikianlah kami semua menyerukan nama Tuhan kami masing-masing. Si tukang ojek beda. Tak mau dipersalahkan, yang seketika ia lontarkan adalah sumpah serapah terhadapku, “Buta kamu ya! Matamu ditaruh di mana?” Lha, memang aku buta, bagaimana sih orang ini? Begitu menyadari bahwa yang ditabraknya benar-benar orang buta, ia langsung terdiam, tidak meneruskan caci makinya. Lagi pula saat itu orang-orang mulai datang berkerumun. Sebagian menolong aku, yang lain gantian memarahinya.

Terkapar di jalanan, aku sendiri tak bisa berbuat apa-apa. Rasa sakit mendera seluruh tubuhku. Tongkatku terlempar entah ke mana, dan tangan kiriku kehilangan barang yang dijepitnya. Barang itu! Ya Tuhan, koran itu! Aku yang sudah mau pingsan langsung tidak jadi. “Koran! Koran! Di mana korannya?!!” begitu aku berteriak, sambil tanganku meraba ke mana-mana mencari-cari benda yang terbuat dari kertas. Satu dua lembar berhasil kudapat. Oh, koran itu berceceran di sana-sini, kotor oleh debu, air, dan tanah, tak ada yang utuh lagi!


Penutup

Membayangkan kemarahan si pemilik koran, aku ketakutan setengah mati. Ia pasti menuntutku membayar ganti rugi. Nilai koran-koran ini pasti sampai ratusan ribu. Ya Allah, dari mana aku mendapat uang sebanyak itu? “Aduh…, aduh…, Tuhanku…, Tuhankuuuu…!!!” Aku menangis dan meraung keras-keras. Orang-orang yang menolongku jadi kebingungan. Si tukang ojek malah jadi pingsan. Ia mengira orang yang ditabraknya sedang sekarat.

Aku tidak tahu separah apa luka yang kuderita. Yang ada di pikiranku hanyalah koran-koran itu. Ya Tuhan, pemilik koran itu pasti akan membunuhku. Kalaupun tidak, dia pasti tak akan memberiku pekerjaan lagi. Lalu bagaimana aku bisa makan? Aku merasa sangat putus asa. “Ya Tuhan, aku dalam bahaya! Kasihanilah aku, Tuhan. Kasihanilah aku sekali ini saja! Sudah terlalu lama Engkau mendiamkan aku. Tuhanku, Gembalaku, maukah kali ini Engkau menolong aku?”***


Bacaan Pendukung
Barth, Marie Claire, dan B.A. Pareira. Tafsir Alkitab: Kitab Mazmur 1-72. Jakarta: BPK Gunung Mulia, 1999.
Harun, Martin. Berdoa Bersama Umat Tuhan: Berguru pada Kitab Mazmur. Yogyakarta: Kanisius, 1998.
Mays, James L. Psalms. Louisville: John Knox Press, 1994.
Stuhlmueller, Carroll. Psalms 1. Delaware: Michael Glazier, Inc, 1983.

Rabu, Juli 07, 2010

PANGGILAN DAN PERUTUSAN YEREMIA
(Yer. 1:4-10)
Alfons Jehadut

Perikop ini umumnya dianggap sebagai sebuah “cerita panggilan dan perutusan” Yeremia menjadi seorang nabi. Di sini kita menemukan ciri-ciri yang biasanya muncul dalam sebuah cerita panggilan dan perutusan seorang untuk suatu tugas khusus. Ciri-ciri standar itu mencakup inisiatif ilahi (ay. 5), penolakan dari orang yang dipanggil (ay. 6), bantahan dan janji Allah (ay. 7-8), dan tindakan perutusan secara fisik (ay. 9a) dan isi pokoknya (ay. 9b-10).


Inisiatif ilahi

Yeremia menceritakan kembali panggilan dan perutusan menjadi seorang nabi bagi bangsa-bangsa dalam sebuah dialog antara Allah dan dirinya. Dalam dialog itu Allah berkata kepada Yeremia, “Sebelum Aku membentuk engkau dalam rahim ibumu, Aku telah mengenal engkau, dan sebelum engkau keluar dari kandungan, Aku telah menguduskan engkau, Aku telah menetapkan engkau menjadi nabi bagi bangsa-bangsa” (ay. 5). Allah telah mengenal Yeremia bahkan sebelum ia dikandung dalam rahim ibunya; Allah telah menguduskan Yeremia untuk suatu misi khusus sebelum ia dilahirkan; dan Allah telah menetapkannya untuk melaksanakan tugas kenabian yang sangat besar kepada semua bangsa. Dengan dipanggil dan ditetapkan sebagai nabi bagi bangsa-bangsa, kotbah dan nubuat Yeremia tidak hanya terbatas untuk suku Yehuda saja tetapi juga diperuntukkan bagi seluruh dunia. Yeremia melihat kemerosotan dan penyembahan berhala sebagai suatu penyakit pandemik yang melanda seluruh bangsa manusia karena itu kotbah dan kata-kata nubuatnya ditujukan kepada seluruh bangsa manusia.

Kata-kata Allah di atas tidak perlu dilihat sebagai sebuah laporan atas apa yang sesungguhnya terjadi tetapi sebagai sebuah lukisan pengalaman Yeremia yang percaya bahwa dirinya telah lama dipanggil dan diangkat oleh Allah untuk menjadi seorang nabi bagi bangsa-bangsa. Dengan mengutip kata-kata Allah, Yeremia mengungkapkan keyakinannya bahwa panggilan dan perutusannya menjadi seorang nabi tidak datang dari keinginan dan pilihan hidupnya sendiri tetapi lahir dari rencana dan kehendak Allah jauh sebelum ia sendiri menyadarinya. Jauh sebelum dibentuk dalam rahim ibunya, Allah telah mengenalnya, menguduskannya, dan menetapkannya menjadi seorang nabi bagi bangsa-bangsa. Penegasan tentang asal-usul panggilan dan perutusan ini mungkin dimaksudkan agar para pendengar atau pembacanya mendengar dan mempercayai apa yang akan dikatakannya. Jika seorang nabi tidak dipanggil dan diutus oleh Allah maka tidak ada alasan bagi umat untuk mendengarkan dan mempercayai kata-kata nubuatnya. Yeremia berinisiatif memanggil dan mengutus Yeremia menjadi nabi dan tugas kenabian itu sesuai rencana Allah sejak semula.


Penolakan Yeremia

Setelah melukiskan keyakinan tentang asal-usul panggilan dan perutusannya menjadi seorang nabi, Yeremia lalu mengungkapkan keberatannya kepada pada pendengar dan pembacanya. “Ah, Tuhan ALLAH! Sesungguhnya aku tidak pandai berbicara, sebab aku ini masih muda” (ay. 6) Keberatan yang serupa kita temukan juga dalam cerita panggilan dan perutusan Musa untuk memimpin bangsa Israel keluar dari perbudakan Mesir, “Ah, Tuhan, aku ini tidak pandai bicara, dahulu pun tidak dan sejak Engkau berfirman kepada hamba-Mu pun tidak, sebab aku berat mulut dan berat lidah” (Kel. 4:10). Baik Musa maupun Yeremia mengajukan keberatan atas tugas yang diberikan karena mereka tidak fasih berbicara. Keberatan Musa ditanggapi oleh Allah dengan menyediakan Harun sebagai juru bicaranya.

Umur yang masih muda, ketidakmampuan untuk berkomunikasi, dan ruang lingkup tugas kenabian yang sangat luas merupakan alasan yang masuk akal secara manusiawi untuk mengajukan keberatan atas panggilan dan perutusan Allah. Yeremia yang masih sangat muda merasa belum matang dan belum sanggup sebab di Israel kuno tua-tualah yang memberi perintah dan nasihat yang patut dihormati dan bukan seorang yang masih muda. Namun, ruang lingkup tugas yang luas, usia yang masih muda, dan kefasihan berbicara itu tidak diperhitungkan oleh Allah sebagai alasan untuk menolak panggilan dan pengangkatan-Nya. Yeremia bukanlah satu-satunya orang yang dipanggil dan diangkat menjadi nabi pada usia yang sangat muda. Samuel juga masih sangat muda pada waktu pertama kali dipanggil oleh Allah untuk menjadi nabi (1Sam 3:1-4:1a). Seorang nabi tidak dituntut batasan umur dan keahlian tertentu karena Allah yang meletakkan kata-kata ke dalam mulutnya.



Bantahan dan janji Allah

Yeremia menolak panggilan dan perutusannya menjadi seorang nabi bagi-bangsa dengan mengungkapkan kekurangan dan keterbatasannya. Kekurangan dan keterbatasan itu tidak diterima oleh Allah sebagai alasan menolak panggilan dan perutusannya dengan mengutip apa yang telah dikatakan oleh Allah kepadanya. Allah berkata kepada Yeremia, “Janganlah katakan Aku ini masih muda, tetapi kepada siapa pun engkau Kuutus, haruslah engkau pergi, dan apa pun yang Kuperintahkan kepadamu, haruslah kausampaikan. Janganlah takut kepada mereka, sebab Aku menyertai engkau untuk melepaskan engkau” (ay. 7-8).

Dengan mengutip kata-kata bantahan Allah di atas Yeremia menunjukkan kepada kita bahwa tidak ada pilihan lain baginya selain menerima panggilan dan tugas perutusannya. Sebagai seorang yang telah dipanggil dan diutus menjadi nabi bagi bangsa-bangsa, Yeremia harus pergi kepada siapapun ia diutus dan menyampaikan apapun yang diperintahkan oleh Allah kepadanya. Perjalanan misinya diarahkan bukan oleh kehendak dan keinginan pribadinya melainkan oleh rencana dan kehendak Allah semata-mata. Kata-kata yang keluar dari mulutnya juga tidak berasal dari dirinya sendiri tetapi dari Allah. Yeremia di sini lagi-lagi mengungkapkan keyakinannya bahwa dirinya hanyalah menyampaikan firman Allah dan perjalanan misinya dikendalikan seluruhnya oleh Allah sendiri.

Yeremia lalu diminta oleh Allah untuk tidak takut dalam menjalankan panggilan dan perutusannya karena Allah akan menyertainya. “Janganlah takut kepada mereka, sebab Aku menyertai engkau untuk melepaskan engkau” (ay. 8). Janji yang memberikan peneguhan ini sangat diperlukan agar Yeremia tidak takut untuk pergi kepada siapa pun ia diutus dan untuk menyampaikan apapun yang diperintahkan oleh Allah kepadanya. Dengan janji ini Yeremia dibawa ke dalam persekutuan dengan nenek moyang Israel yang juga telah menerima peneguhan yang sama seperti Yakub (Kej. 28:15), Musa (Kel. 3:12); Yosua (Yos 1:5); Gideon (Hak. 6:16), dan lain-lain. Janji yang sama ini akan disampaikan lagi kepada Yeremia (Yer. 1:19; 15:20) dan akan diperluas kepada bangsa Israel (Yer. 30:11). Janji inilah yang akan menjadi sumber pengharapan bagi Yeremia menghadapi penderitaannya yang berat (Yer. 20:11-13).



Tindakan perutusan dan isi pokok tugas perutusannya

Yeremia kembali menceritakan interaksi Allah dengan dirinya. Diceritakan bahwa “TUHAN mengulurkan tangan-Nya dan menjamah mulutku” (ay. 9) sehingga mulutnya pantas untuk mewartakan sabda Allah. Tindakan Allah ini mirip tindakan yang lakukan oleh seorang malaikat dalam kisah panggilan Yesaya. Malaikat menyentuh bibir Yesaya dengan bara api untuk membuatnya pantas mewartakan sabda Allah (Yes. 6:6-7). Tindakan Allah ini dapat dilihat sebagai suatu bentuk perutusan secara fisik. Melalui tindakan ini panggilan dan perutusan Yeremia sebagai seorang nabi yang menjadi juru bicara dan penafsir Sabda Allah diperkuat kembali. Namun, ada juga yang melihat tindakan Allah ini berfungsi untuk mengubah pola pikir Yeremia bersifat manusia ke dalam pola pikir Allah sendiri.

Selain mengulurkan tangan-Nya dan menjamah mulut, Allah juga menaruh sabda-Nya ke dalam mulut Yeremia, “Aku menaruh perkataan-perkataan-Ku ke dalam mulutmu” (ay. 9). Tindakan Allah ini mengingatkan kita pada janji Allah tentang seorang nabi seperti Musa dalam Ul. 18:18, “seorang nabi akan Kubangkitkan bagi mereka dari antara saudara mereka, seperti engkau ini; Aku akan menaruh firman-Ku dalam mulutnya, dan ia akan mengatakan kepada mereka segala yang Kuperintahkan kepadanya.” Janji seorang nabi seperti Musa terpenuhi dalam diri Yeremia. Allah telah menaruh sabda-sabda-Nya dalam mulut Yeremia. Keberatan Yeremia bahwa dirinya tidak pandai bicara karena usianya masih sangat muda diatasi oleh Allah dengan menempatkan kata-kata secara langsung dalam mulutnya.

Setelah menempatkan kata-kata ilahi ke dalam mulutnya, Yeremia lalu mengetahui isi pokok perutusannya. “Ketahuilah, pada hari ini Aku mengangkat engkau atas bangsa-bangsa dan atas kerajaan-kerajaan untuk mencabut dan merobohkan, untuk membinasakan dan meruntuhkan, untuk membangun dan menanam.” Tugas pokok perutusannya sebagai nabi bagi bangsa-bangsa adalah “untuk mencabut dan merobohkan, untuk membinasakan dan meruntuhkan, untuk membangun dan menanam.” Di sini Allah memberikan suatu tugas ganda, yakni meruntuhkan dan membangun. Dalam konteks kitab Yeremia dan pesannya secara keseluruhan, tugas ganda ini diungkapkan secara berbeda-berbeda untuk pendengarnya yang berbeda-beda (12:14-17; 18:7-9; 24:6; 31:28; 31:40; 42:10; 45:4). Kedua tugas ganda ini mengungkapkan kompleksitas pesan yang akan disampaikan oleh Yeremia – kadang-kadang penghakiman dan kadang-kadang pengharapan; kadang-kadang kepada orang Israel dan kadang-kadang kepada bangsa-bangsa lain. Kepada bangsa dan kerajaan yang berdosa karena melakukan kejahatan, ia harus menubuatkan penghukuman Tuhan yang membangkitkan penyesalan. Sebaliknya, kepada bangsa dan kerajaan yang bertobat dari kejahatannya, ia harus menubuatkan pengampunan Tuhan yang membangkitkan pengharapan.



Amanat

Secara keseluruhan kisah panggilan dan perutusan Yeremia menampilkan sebuah dialog. Allah dan Yeremia berbicara satu sama lain seperti seorang teman. Dialog semacam itu mengindikasikan adanya suatu kepercayaan dan kedekatan antara Allah dan Yeremia. Allah mempercayakan Yeremia dengan sebuah panggilan dan misi perutusan khusus meski Yeremia pada awalnya berkeberatan. Keberatan itu ditolak oleh Allah dan berjanji untuk menyertainya. Penyertaan Allah terlihat dalam tindakan mengulurkan tangan-Nya, menjamah mulutnya, dan meletakkan sabda-Nya di dalam mulut Yeremia. Melalui penyertaan ini kita sungguh-sungguh percaya pada kredibilitas dan kewibawaan Yeremia sebagai seorang nabi. Yeremia benar-benar diberi kuasa dan wewenang oleh Allah dan akan bertindak dengan kekuasaan Allah sendiri.

Kisah panggilan dan perutusan Yeremia ini juga memberi suatu pemahaman bagi kita tentang Allah. Allah digambarkan sebagai seorang yang mengenal, menguduskan, dan menetapkan Yeremia sebagai seorang nabi. Jauh sebelum dibentuk dalam rahim ibunya, Allah telah mengenalnya, menguduskannya, dan menetapkannya menjadi seorang nabi bagi bangsa-bangsa. Gambaran ini memperlihatkan bahwa Allahlah berinisiatif dalam memilih, memanggil, dan mengutus Yeremia sebagai seorang nabi yang tidak hanya diutus kepada bangsa Israel tetapi juga kepada bangsa-bangsa lain. Allah yang berinisiatif itu terus bekerja secara aktif untuk memimpin, membimbing, dan menyertai orang yang telah dipanggil dalam menjalankan liku-liku misi perutusannya.

Allah memanggil Yeremia bukan untuk mendapatkan hak istimewa tetapi untuk mendapatkan suatu tugas khusus. Walau Yeremia berkeberatan dengan tugas yang diberikan sama seperti yang sering kita lakukan dalam menerima tugas-tugas gereja, namun Allah tidak menerima keberatannya sebagai alasan untuk melarikan diri dari tugas yang berikan karena Allah berjanji untuk menyertai kita. Yeremia sama seperti kita mungkin berkeberatan karena kelemahan dan kekurangan kita, namun Allah berjanji untuk menyertai kita dalam melaksanakan panggilan dan perutusannya. Allah tidak akan membiarkan kita berjuang sendiri. Ia selalu memimpin dan membimbing kita jika kita menerima panggilan dan perutusannya dengan setia.



Sumber-sumber Bacaan

Boadt, Lawrence. Jeremiah 1-25. Wilmington: Michael Glazier, 1982.
Brueggemann, Walter, To pluck up, to tear down: a Commentary on the book of Jeremiah 1-25. Grand Rapids: Eerdmans, 1988.
Dempsey, Carol J. Jeremiah: Preacher of Grace, Poet of Truth. Collegeville: Liturgical Press, 2006.
Thompson, J. A. The Book of Jeremiah. Grand Rapids: Eerdmans, 1980.
Weems, Renita J. “Jeremiah” dalam Daniel Patte, ed. Global Bible Commentary. Nashville: Abingdon Press, 2004.