Jumat, Februari 15, 2013

New Book! 
Dibakar Semangat Pelayanan 
Heri Kartono OSC 


















Cet. I. Januari 2012 
Cet. II. Februari 2012 
1109 x 174 mm, -141 hlm, PENERBIT OBOR 
Anggota IKAPI – Ikatan Penerbit Indonesia; 
Angota SEKSAMA – Seketariat Bersama Penerbit Katolik Indonesia 

Harga Rp 25.000,- 
Harga Member Rp. 22.500,- (disc 10%) 
Kategori : Rohani 

ISBN: 978-979-565-649-4 

"Menarik, mengagumkan sekaligus mengharukan, tulisan Romo Heri berkisah tentang ciptaan Tuhan yang paling mulia yakni manusia melalui pendekatan rohaniah yang paling mulia, yakni kasih sayang."
(Jaya Suprana, Budayawan, Seniman & Pengusaha) 

" Inspiratif. Lewat tulisan ini Romo Heri ingin memotivasi para pembaca demean gaya bertutur yang khas. Sebuah perjalanan rohani semi jurnalistik, yang wajib dibaca."
(Beni N. Joewono, Wartawan Kompas.com) 

© 

Pemesanan : 021 - 8318633, 8290247 
Fax : 021 – 83795929 
SMS Center : 021 - 93692428 
Daftar menjadi Member : kbr@biblikaindonesia.org
New Book! 
Segi-segi Hidup Beriman 5. 
Komunikasi Dialog Iman dan Budaya 
Mgr. A.M. Sutrisnaatmaka, MSF 

















Nihil Obstat: Mgr. F.X. Prajasuta, MSF. Uskup Emeritus 
(Yogyakarta, 19 September 2012) 
Imprimatur: Mgr. J. Pujasumarta, Pr. Uskup Agung Semarang 
(Semarang, 27 September 2012) 
Editor: Bert Tallulembang 

Cet. I. Desember 2012, 123 x 183 mm, -207 hlm, Yayasan Pustaka Nusatama 
Harga Rp 32.000,- 
Harga Member Rp. 28.800,- (disc 10%) 
Kategori : Rohani 

ISBN: 978-979-719-582-1 

Pada buku kumpulan tulisan tentang Segi-segi Hidup Beriman ini diterbitkan sejumlah bahan yang berkenaan dengan pelbagai macam tema hidup beriman yang dikelompokkan menjadi 5 buku diantaranya; 

Segi-segi Hidup Beriman 5. 
Komunikasi Dialog Iman dan Budaya

© 

Pemesanan : 021 - 8318633, 8290247 
Fax : 021 – 83795929 
SMS Center : 021 - 93692428 
Daftar menjadi Member : kbr@biblikaindonesia.org
New Book! 
Segi-segi Hidup Beriman 4. 
Kepemimpinan dalam Gereja dan Masalahnya 
Mgr. A.M. Sutrisnaatmaka, MSF 
















Nihil Obstat: Mgr. F.X. Prajasuta, MSF. Uskup Emeritus 
(Yogyakarta, 19 September 2012) 
Imprimatur: Mgr. J. Pujasumarta, Pr. Uskup Agung Semarang 
(Semarang, 27 September 2012) 
Editor: Bert Tallulembang 

Cet. I. Desember 2012, 123 x 183 mm, -123 hlm, Yayasan Pustaka Nusatama 
Harga Rp 20.000,- 
Harga Member Rp. 18.000,- (disc 10%) 
Kategori : Rohani 

ISBN: 978-979-719-581-3 

Pada buku kumpulan tulisan tentang Segi-segi Hidup Beriman ini diterbitkan sejumlah bahan yang berkenaan dengan pelbagai macam tema hidup beriman yang dikelompokkan menjadi 5 buku diantaranya; 

Segi-segi Hidup Beriman 4. 
Kepemimpinan dalam Gereja dan Masalahnya

© 

Pemesanan : 021 - 8318633, 8290247 
Fax : 021 – 83795929 
SMS Center : 021 - 93692428 
Daftar menjadi Member : kbr@biblikaindonesia.org
New Book! 
Segi-segi Hidup Beriman 3. 
Liturgi dan Devosi 
(Doa dan Cinta dalam Keluarga bersama Bunda Maria) 
Mgr. A.M. Sutrisnaatmaka, MSF 















Nihil Obstat: Mgr. F.X. Prajasuta, MSF. Uskup Emeritus 
(Yogyakarta, 19 September 2012) 
Imprimatur: Mgr. J. Pujasumarta, Pr. Uskup Agung Semarang 
(Semarang, 27 September 2012) 
Editor: Bert Tallulembang 

Cet. I. Desember 2012, 123 x 183 mm, -187 hlm, Yayasan Pustaka Nusatama 
Harga Rp 30.000,- 
Harga Member Rp. 27.000,- (disc 10%) 
Kategori : Rohani 

ISBN: 978-979-719-583-X 

Pada buku kumpulan tulisan tentang Segi-segi Hidup Beriman ini diterbitkan sejumlah bahan yang berkenaan dengan pelbagai macam tema hidup beriman yang dikelompokkan menjadi 5 buku diantaranya; 

Segi-segi Hidup Beriman 3. 
Liturgi dan Devosi 
(Doa dan Cinta dalam Keluarga bersama Bunda Maria)

© 

Pemesanan : 021 - 8318633, 8290247 
Fax : 021 – 83795929 
SMS Center : 021 - 93692428 
Daftar menjadi Member : kbr@biblikaindonesia.org
New Book! 
 Segi-segi Hidup Beriman 2. 
Misi Evangelisasi dan Inkulturasi
Mgr. A.M. Sutrisnaatmaka, MSF 

















Nihil Obstat: Mgr. F.X. Prajasuta, MSF. Uskup Emeritus 
(Yogyakarta, 19 September 2012) 
Imprimatur: Mgr. J. Pujasumarta, Pr. Uskup Agung Semarang 
(Semarang, 27 September 2012) 
Editor: Bert Tallulembang 

Cet. I. Desember 2012, 123 x 183 mm, -147 hlm, Yayasan Pustaka Nusatama 
Harga Rp 23.000,- 
Harga Member Rp. 20.700,- (disc 10%) 
Kategori : Rohani 

ISBN: 978-979-719-580-5 

Pada buku kumpulan tulisan tentang Segi-segi Hidup Beriman ini diterbitkan sejumlah bahan yang berkenaan dengan pelbagai macam tema hidup beriman yang dikelompokkan menjadi 5 buku diantaranya;  

Segi-segi Hidup Beriman 2. 
Misi Evangelisasi dan Inkulturasi

© 

Pemesanan : 021 - 8318633, 8290247 
Fax : 021 – 83795929 
SMS Center : 021 - 93692428 
Daftar menjadi Member : kbr@biblikaindonesia.org
New Book! 
Segi-segi Hidup Beriman 1. 
EKARISTI 
(Tanda Kesatuan Gereja dan Sumber Cinta Bagi Sesama)
Mgr. A.M. Sutrisnaatmaka, MSF 















Nihil Obstat: Mgr. F.X. Prajasuta, MSF. Uskup Emeritus 
(Yogyakarta, 19 September 2012) 
Imprimatur: Mgr. J. Pujasumarta, Pr. Uskup Agung Semarang 
(Semarang, 27 September 2012) 
Editor: Bert Tallulembang 

Cet. I. Desember 2012, 123 x 183 mm, -165 hlm, Yayasan Pustaka Nusatama 
Harga Rp 26.000,- 
Harga Member Rp. 23.400,- (disc 10%) 
Kategori : Rohani 

ISBN: 978-979-719-584-8 

Pada buku kumpulan tulisan tentang Segi-segi Hidup Beriman ini diterbitkan sejumlah bahan yang berkenaan dengan pelbagai macam tema hidup beriman yang dikelompokkan menjadi 5 buku diantaranya; 

Segi-segi Hidup Beriman 1. 
EKARISTI 
(Tanda Kesatuan Gereja dan Sumber Cinta Bagi Sesama)

© 

Pemesanan : 021 - 8318633, 8290247 
Fax : 021 – 83795929 
SMS Center : 021 - 93692428 
Daftar menjadi Member : kbr@biblikaindonesia.org
New Book! 
Militansi Saksi Kristus
F.X. Didik Bagiyowinadi, Pr 


















Nihil Obstat: Raymundus Sudhiarsa, SVD 
(Malang, 12 Juni 2012) 
Imprimatur: Pius Riana Prapdi, Pr Vikjen KAS 
(Semarang, Juni 2012) 
Layout: Bert Tallulembang 

Cet © 2012, 140 x 208 mm, -84 hlm, Yayasan Pustaka Nusatama 
Harga Rp 15.000,- 
Harga Member Rp. 13.500,- (disc 10%) 
Kategori : Katakese 

ISBN: 978-719-574-0 

“Ikutlah menderita 
 sebagai seorang prajurit yang baik 
dari Kristus Yesus.” 
(2Tim. 2:3) 

Buku kecil ini mencoba memberikan pencerahan dan inspirasi bagaimana membentuk, membina, dan mewujudkan diri sebagai Saksi-saksi Kristus yang millitan dan setia dalam dunia masa kini. Sebuah bacaan rohani yang patut disimak oleh para (calon) krismawan-krismawati dan setiap orang Katolik yang telah menerima Sakramen Krisma. 

© 

Pemesanan : 021 - 8318633, 8290247 
Fax : 021 – 83795929 
SMS Center : 021 - 93692428 
Daftar menjadi Member : kbr@biblikaindonesia.org

Kamis, Februari 14, 2013

New Book! 
Kutemukan Kasih Tanpa Syarat (Kisah Pergumulan Iman di Perantauan) 

Penyunting: Caecilia Triastuti Djiwandono














Cet. I. Januari 2013, 124 x 184 mm, -148 hlm, PENERBIT OBOR 
Anggota IKAPI – Ikatan Penerbit Indonesia; 
Angota SEKSAMA – Seketariat Bersama Penerbit Katolik Indonesia 
Harga Rp 40.000,- 
Harga Member Rp. 36.000,- (disc 10%) 
Kategori : Rohani 

ISBN: 978-979-565-645-6 

Buku ini berisi kisah-kisah bersahaja dari orang-orang Katolik yang sedang merantau ke berbagai belahan dunia. Kisah-kisah pergumulan mereka pun bagai pelangi, mulai dari bagaimana mereka bertahan untuk tetap menjadi seorang saksi Kristus yang baik, memelihara harapan untuk bersandar kepada-Nya di tengah segala kesukaran, hingga pengalaman memahami kebiasan setempat yang turut mewarnai dinamika kehidupan menggereja ditempat itu. 

© 

Pemesanan : 021 - 8318633, 8290247 
Fax : 021 – 83795929 
SMS Center : 021 - 93692428 
Daftar menjadi Member : kbr@biblikaindonesia.org
New Book! 
Gereja Mencari Jawab (Kapita Selekta Sejarah Gereja)
 Dr. Christiaan de Jonge 

















Editor: Staf Redaksi BPK Gunung Mulia 
Setter: Staf Redaksi BPK Gunung Mulia 
Desainer Sampul: Wahyu Dwi Hantoro 

Cet. VI. 2009, 144 x 203 mm, -127hlm, BPK Gunung Mulia 
Harga Rp 24.000,- 
Harga Member Rp. 21.600,- (disc 10%) 
Kategori: Sakramen Gereja 

ISBN: 978-979-415-713-8 

Kapita selekta ini membuat pokok-pokok bahasan yang penting dalam sejarah Gereja: 
• Konsili-konsili oikumenis 
• Gereja dan Negara pada Abad Pertengahan 
• Reformasi Luther dan Calvin, Pietisme 
• Latar belakang beberapa Gereja yang ada di Indonesia 
• Gereja dan kebudayaan sepanjang masa 
• Mengaku percaya 
• Kontektualisasi 
sebagai sejarah Mempelajari pokok-pokok tersebut di atas dari buku-buku teks sejarah Gereja tidaklah mudah dan tentunya menyita waktu dan tenaga yang sangat banyak. Guna menolong para pembaca, baik mahasiswa teologi, pendeta, maupun pemerhati sejarah gereja, untuk menyingkat waktu dan memudahkan pembacaannya, maka penulis menyajikan kapita selekta ini. 

©

Pemesanan : 021 - 8318633, 8290247 
Fax : 021 – 83795929 
SMS Center : 021 - 93692428 
Daftar menjadi Member : kbr@biblikaindonesia.org

Selasa, Februari 12, 2013

New Book! 
Identitas dan Spiritual Katekis
F.X. Didik Bagiyowinadi, PR 










Nihil Obstat: Rm. Stefanus Suryanto CP, Lic. Th 
(Malang, 3 Oktober 2012) 
Imprimatur: Rm. F.X. Sukendar Wignyosumarta, Pr. Vikjen KAS 
(Semarang, 8 Oktober 20) 
Layout: Bert Tallulembang 
Cover: Paulus dan Lidia dkk di kota Filipi (Kis 16) 

Cet. I. Oktober 2012, 124 x 184 mm, -148 hlm, Yayasan Pustaka Nusatama 
Harga Rp 17.000,- 
Harga Member Rp. 15.300,- (disc 10%) 
Kategori : Katekese

ISBN: 978-719-578-3 

Secara khusus buku ini didedikasikan untuk mereka, dimana akan diuraikan identitas, tugas, dan spiritualitas katekis demean belajar pada semangat pewartaan St. Paulus. 

© 

Pemesanan : 021 - 8318633, 8290247 
Fax : 021 – 83795929 
SMS Center : 021 - 93692428 
Daftar menjadi Member : kbr@biblikaindonesia.org
New Book! 
Sejarah Gereja Asia
DR. Anne Ruck 










Editor: Staf Redaksi BPK Gunung Mulia 
Setter: Staf Redaksi BPK Gunung Mulia 
Desainer Sampul: Victor Dayan Lumban Tobing 

Cet. XI. 2011, 144 x 208 mm, -393 hlm, BPK Gunung Mulia 
Harga Rp 69.000,- 
Harga Member Rp. 62.100,- (disc 10%) 
Kategori : Kitab Suci 

ISBN 13: 978-979-415-963-7 

Sejarah Gereja Asia dan kepada para pembaca awam yang berminat memperdalam pengetahuannya tentang sejarah perkembangan kekristenan di Asia. 

© 

Pemesanan : 021 - 8318633, 8290247 
Fax : 021 – 83795929 
SMS Center : 021 - 93692428 
Daftar menjadi Member : kbr@biblikaindonesia.org
New Book! 
Harta dalam Bejana
Thomas Van Den End 











Cet. XXIV. 2012, 144 x 211 mm, -190 hlm, BPK Gunung Mulia 
Harga Rp 72.000,- 
Harga Member Rp. 64.800,- (disc 10%) 
Kategori : Kitab Suci 

ISBN 13: 978-979-415-838-8 

Sejarah Gereja Ringkas Buku ini mengikuti pola Asia-sentris dan Indonesia-sentris, yang tak membuat Belanda dan Eropa sebagai titik pangkal, tetapi Asia dan Indonesia. Pembicaraan sejarah Gereja Belanda sangat dibatasi panjangnya; sejarah Gereja Eropa mendapat tempatnya di samping Gereja di Asia, Afrika, dan Amerika. 

© 

Pemesanan : 021 - 8318633, 8290247 
Fax : 021 – 83795929 
SMS Center : 021 - 93692428 
Daftar menjadi Member : kbr@biblikaindonesia.org
New Book! 
Roh & Kehidupan (Menafsirkan Kitab Suci Secara Aktual)
Scott Hahn 









Penyunting: L. Heru Susanto Pr 
Tata letak: Lusia Susanti 
Desain Sampul: Ginanjar Pratama 

Cet. I. Maret 2010, 140 x 210 mm, -190 hlm, DIOMA 
Harga Rp 38.000,- 
Harga Member Rp. 34.200,- (disc 10%) 
Kategori : Kitab Suci 

ISBN 10: 979-26-1407-9 
ISBN 13: 978-979-26-1407-7 

Scott Hahn, melalui buku ini, ingin mengajak siapa saja agar lebih mencintai Sabda Allah yang tertuang dalam Kitab Suci itu sendiri. 

© 

Pemesanan : 021 - 8318633, 8290247 
Fax : 021 – 83795929 
SMS Center : 021 - 93692428 
Daftar menjadi Member : kbr@biblikaindonesia.org
New Book! 
Ketika Nyawanya Kembali (Kesaksian Iman yang Menakjubkan)
Justinus Juadi, FIC 
Ivone Suryanto 
Yohanes Muryadi 









Editor/Layout: Bert Tallulembang 
Desainer: Gordianus Patut 

Cet. I. September 2012, 136 x 203 mm, -180 hlm, Yayasan Pustaka Nusatama 
Harga Rp 30.000,- 
Harga Member Rp. 27.000,- (disc 10%) 
Kategori : Kitab Suci 

ISBN: 978-719-575-9 

Buku ini merupakan tanggapan atas rekomendasi dari hasil Sidang Agung Gereja Katolik Indonesia (SAGKI) 2010 yang hendak menciptakan model-model baru dalam pewartaan demean metode narasi. Alhasil, kami narasikan 35 kisah iman berisilkisah nyata dari orang-orang yang mendapat ujian, yang mengalami peristiwa yang tidak diinginkan, tetapi diubahnya menjadi jalan keselamatan baginya. “Sekarang di mana saja saya selalu bertemu Tuhan, di mana saja saya didampingi Tuhan. Saya sangat bahagia.” 

© 

Pemesanan : 021 - 8318633, 8290247 
Fax : 021 – 83795929 
SMS Center : 021 - 93692428 
Daftar menjadi Member : kbr@biblikaindonesia.org
New Book! 
Gereja-gereja Tua di Jakarta (Seri: Gedung-gedung Ibadat yang Tua di Jakarta
A. Heuken SJ 










© 

Pemesanan : 021 - 8318633, 8290247 
Fax : 021 – 83795929 
SMS Center : 021 - 93692428 
Daftar menjadi Member : kbr@biblikaindonesia.org
New Book!
KAMUS Ibrani-Indonesia Perjanjian Lama 
Reinhard Achenbach 










Editor: Christian Jonch, Dominggus J. Saekoko
Tranliterasi: Mariam M. Allung
Sampul: Sri Maleniati Astuti 
Tata letak: Arry P. Kristyanto 
Edisi: 1.-2012 (No. D 744/9, referensi Alkitab) 200 x 265 mm, -369 hlm,
Yayasan Komunikasi BINA KASIH 
Ket. Sampul: Benteng Masada; diambil dari Menyelidiki Kesejarahan Yesus. 

Ayat-ayat Alkitab dikutip dari teks Alkitab Terjemahan Baru © Lembaga Alkitab Indonesia, 1974. 

Harga Rp 125.000,- 
Harga Member Rp. 112.500,- (disc 10%) 
Kategori : Kitab Suci 

ISBN: 978-6028009-78-2 

Mencakup lebih dari 8.000 kata lengkap demean transliterasi, arti, dan kutipan nas dalam Alkitab. Menjadi oasis bagi mahasiswa teologi, pelayan gereja, bahkan siapa saja yang berkendala dalam menyelami bahasa Ibrani. Meningkatkan kecakapan hamba Tuhan dalam berkhotbah dan mengajarkan kebenaran firman Tuhan.

© 

Pemesanan : 021 - 8318633, 8290247 
 Fax : 021 – 83795929 
SMS Center : 021 - 93692428 
Daftar menjadi Member : kbr@biblikaindonesia.org
New Book! 
Sistem LEGAISLASI Gereja Katolik
A. Tjatur Raharso 










Imprimatur: Rm. L. Heru Susanto, Pr. Vikjen Keuskupan Malang 
(Malang, 30 Oktober 2012) 
Tata letak: Essa 
Desain sampul: FX. Indra Gunawan 

Cet. I. Oktober 2012, 159 x 239 mm, -331 hlm, DIOMA 
Harga Rp 56.000,-
Harga Member Rp. 50.400,- (disc 10%) 
Kategori : Sakramen Gereja 

ISBN 10: 979-26-0095-7 
ISBN 13: 978-979-26-0095-7 

Secara lugas dan jelas penulis menguraikan perkembangan hukum Gereja, berbagai jenis hukum dan norma, serta sistem perundangan-undangan Gereja yang sangat khas, yang berbeda dengan sistem perundangan lainnya di dunia ini. 

© 

Pemesanan : 021 - 8318633, 8290247 
Fax : 021 – 83795929 
SMS Center : 021 - 93692428 
Daftar menjadi Member : kbr@biblikaindonesia.org
New Book! 
Saat-saat Terakhir HIDUP YESUS (Menurut Yohanes)
Fransiskus Borgias M 











Nihil Obstat: Rm. Martin Harun, OFM 
(Jakarta, 1 Agustus 2012) 
Imprimatur: Rm. Yohanes Subagyo, Pr. Vikjen Keuskupan Agung Jakarta 
(Jakarta, 4 Agustus 2012) 
Editor: Fulgensius Surianto 
Desainer: Gordianus Patut 

Cet. I. November 2012, 146 x 207 mm, -137 hlm, FEDEI PRESS 
Harga Rp 23.000,-
Harga Member Rp. 20.700,- (disc 10%) 
Kategori : Kitab Suci 

ISBN: 978-602-8670-69-2 

Buku ini menyuguhkan kepada kita penafsiran teologis dan pastoral yang sangat sederhana, menarik, jelas, dan mudah dimengerti atas misteri sengsara, wafat, dan kebangkitan Yesus versi Yohanes. 

©

Pemesanan : 021 - 8318633, 8290247 
Fax : 021 – 83795929 
SMS Center : 021 - 93692428 
Daftar menjadi Member : kbr@biblikaindonesia.org
New Book! 
Misi Evangelisasi dalam Perspektif Kitab Suci
P. Hendrik Njiolah, Pr 










Nihil Obstat: Indra P. Dr. John Turing Datang, Pr. Censor Librorum Keuskupan Agung Makasar 
Imprimatur: Mgr. Dr. John Liku-Ada‘‚Pr. Keuskupan Agung Makasar 
Editor: Bert Tallulembang 

Cet. I. Oktober 2006, 139 x 209 mm, -128 hlm, Yayasan Pustaka Nusatama 
Harga Rp 22.000,-
Harga Member Rp. 19.800,- (disc 10%) 
Kategori : Kitab Suci 

ISBN: 978-719-570-8 

Buku ini merupakan salah satu usaha untuk menghidupkan kembali “semangat evangelisasi” dalam perpektif Kitab Suci. Semoga bermanfaat baik bagi para pendamping maupun bagi para penggiat kerasulan Kitab Suci dan pendalaman iman umat 

© 

Pemesanan : 021 - 8318633, 8290247 
Fax : 021 – 83795929 SMS Center : 021 - 93692428 
Daftar menjadi Member : kbr@biblikaindonesia.org
New Book! 
Imamat yang Senpurna 
Eka Darmaputera 










Penyunting: Yessy 
Setter: Daniel Budiantoro 
Desain Sampul: Hendry K 

Cet. I. 2012, 143 x 208 mm, -189 hlm, BPK Gunung Mulia 
Harga Rp 39.000,-
Harga Member Rp. 35.100,- (disc 10%) 
Kategori : Kitab Suci 

ISBN: 978-602-231-058-7 

Buku Imamat yang Senpurna ini mengupas Surat Ibrani secara mendetail. Sebanyak 21 perikop di dalamnya ditelusuri secara teoritis dan kritis, dengan relevansinya terhadap kondisi jemaat sekarang ini yang juga sering menghadapi permasalahan-permasalahan yang mirip dengan yang dihadapi oleh jemaat yang dituju oleh penulis ibrani. 

© 

Pemesanan : 021 - 8318633, 8290247 
Fax : 021 – 83795929 SMS Center : 021 - 93692428 
Daftar menjadi Member : kbr@biblikaindonesia.org

Senin, Februari 11, 2013

New Book! 
Cinta yang Memberi Hidup (Life-Giving LOVE).2 
Kimberly Kirk Hahn 









Penyunting: L. Heru Susanto, Pr, Marcel Lombe, J.C. Wardjoko 
Tata Letak: Ferdy 
Desain Sampul: Tjahyono 

Cet. I. Oktober 2007, 140 x 207 mm, -247 hlm, DIOMA 
Harga Rp 47.000,-
Harga Member Rp. 42.300,- (disc 10%) 
Kategori : Rohani 

ISBN 10: 978-26-1361-7 
ISBN 13: 978-979-26-1361-2 

Buku ini disajikan dengan bahasa yang ringan dan demean berbagai contoh konkret sehingga akan membantu pembaca untuk mencerna isi buku demean mudah. Ajaran-ajaran Gereja mengenai Cinta dan Perkawinan yang di mata banyak orang dirasa berat dan sulit berhasil diuraikan secara ringan oleh Kimberly Kirk Hahn. Sebuah buku yang pantas dimiliki oleh Suami-Istri, para Pembimbing Kursus-kursus Persiapan Perkawinan, Konselor Perkawinan, Pemuka Jemaat awam bahkan para Pastor sekalipun. 

© 

Pemesanan : 021 - 8318633, 8290247 
Fax : 021 – 83795929 
SMS Center : 021 - 93692428 
Daftar menjadi Member : kbr@biblikaindonesia.org
New Book! 
Cinta yang Memberi Hidup (Life-Giving LOVE).1 
Kimberly Kirk Hahn 









Penyunting: L. Heru Susanto, Pr, Marcel Lombe, J.C. Wardjoko 
Tata Letak: Ferdy 
Desain Sampul: Tjahyono 

Cet. I. 2007, 140 x 207 mm, -247 hlm, DIOMA 
Harga Rp 40.000,-
Harga Member Rp. 36.000,- (disc 10%) 
Kategori : Rohani 

ISBN 10: 978-26-1346-3 
ISBN 13: 978-979-26-1346-9 

Buku ini disajikan dengan bahasa yang ringan dan demean berbagai contoh konkret sehingga akan membantu pembaca untuk mencerna isi buku demean mudah. Ajaran-ajaran Gereja mengenai Cinta dan Perkawinan yang di mata banyak orang dirasa berat dan sulit berhasil diuraikan secara ringan oleh Kimberly Kirk Hahn. Sebuah buku yang pantas dimiliki oleh Suami-Istri, para Pembimbing Kursus-kursus Persiapan Perkawinan, Konselor Perkawinan, Pemuka Jemaat awam bahkan para Pastor sekalipun. 

© 

Pemesanan : 021 - 8318633, 8290247 
Fax : 021 – 83795929 
SMS Center : 021 - 93692428 
Daftar menjadi Member : kbr@biblikaindonesia.org
New Book!
Berjalan Zig Zag Menuju Allah 
Fransiskus Borgias M 










Nihil Obstat: Indra Sanjaya Tanurejo, Pr Censor Librorum KAS 
(Yogyakarta, 15 April 2012) 
Imprimatur: Pius Riana Prapdi, Pr Vikjen KAS 
(Semarang, 22 April 2012) 
Editor: Bert Tallulembang 

Cet. I. Desember 2012, 124 x 184 mm, -148 hlm, Yayasan Pustaka Nusatama 
Harga Rp 23.000,-
Harga Member Rp. 20.700,- (disc 10%) 
Kategori : Kitab Suci 

ISBN: 978-719-579-1 

Buku ini lahir dari sebuah keprihatinan di lapangan betapa aspresiasi Mazmur tidak begitu kuat dan mendalamdi kalangan umat Katolik. Jarang sekali Mazmur-mazmur itu dijadikan sebagai inspirasi hidup doa, padahal Mazmur-mazmur adalah kumpulan doa yang juga pernah dipakai oleh Tuhan Yesus sendiri. Melalui buku ini saya mencoba menggali inspirasi spiritualitas doa, tentu demean harapan bahwa dari sana akan muncul pelbagai inspirasi pembaharuan doa umat, terutama umat biasa, atau kaum awam.

© 

Pemesanan : 021 - 8318633, 8290247 
 Fax : 021 – 83795929 
SMS Center : 021 - 93692428 
Daftar menjadi Member : kbr@biblikaindonesia.org

Senin, Februari 04, 2013

DIPUJI KARENA TIDAK JUJUR? 
Jarot Hadianto 

Kalau perumpamaan-perumpamaan dalam Luk. 15 umumnya dikenal baik oleh para pencinta Kitab Suci, terutama perumpamaan tentang anak yang hilang yang mengharukan itu, tidak demikian halnya dengan perumpamaan yang muncul tepat sesudahnya, yaitu tentang bendahara yang tidak jujur (Luk. 16:1-9). Di kalangan umat, perumpamaan ini rupanya kurang begitu populer. Hal ini terjadi mungkin karena situasi yang dikisahkan dalam perumpamaan ini kurang familiar bagi kita, menyangkut seorang yang kaya, bendahara, dan orang-orang yang berutang pada mereka. 

Bukan hanya itu. Ketidaktahuan akan praktik utang piutang pada masa itu membuat banyak orang bingung dan keliru memahami pesan perumpamaan ini. Mengapa si bendahara yang menurunkan jumlah utang dua orang yang berutang pada tuannya malah mendapat pujian? Bukankah itu artinya dia curang dan merugikan tuannya? Mengapa kita dianjurkan untuk bersahabat “dengan mempergunakan Mamon”? Pembaca bisa salah paham, dikiranya Yesus dengan begitu mengajarkan bahwa saat terjepit kita boleh melakukan apa saja – yang tidak halal sekalipun – asal saja diri kita selamat! 

LUKAS 16:1-13 
1Kemudian Yesus berkata kepada murid-murid-Nya, “Ada seorang kaya yang mempunyai seorang bendahara. Kepadanya disampaikan tuduhan bahwa bendahara itu menghamburkan miliknya. 2Lalu ia memanggil bendahara itu dan berkata kepadanya: Apa ini yang kudengar tentang engkau? Berilah pertanggungjawaban atas apa yang engkau kelola, sebab engkau tidak boleh lagi bekerja sebagai bendahara. 3Kata bendahara itu di dalam hatinya: Apakah yang harus aku perbuat? Tuanku memecat aku dari jabatanku sebagai bendahara. Mencangkul aku tidak kuat, mengemis aku malu. 4Aku tahu apa yang akan aku perbuat, supaya apabila aku dipecat dari jabatanku sebagai bendahara, ada orang yang akan menampung aku di rumah mereka. 5Lalu ia memanggil seorang demi seorang yang berutang kepada tuannya. Katanya kepada yang pertama: Berapakah utangmu kepada tuanku? 6Jawab orang itu: Seratus tempayan minyak. Lalu katanya kepada orang itu: Terimalah surat utangmu, duduklah dan tulislah segera: Lima puluh tempayan. 7Kemudian ia berkata kepada yang kedua: Berapakah utangmu? Jawab orang itu: Seratus pikul gandum. Katanya kepada orang itu: Terimalah surat utangmu, dan tulislah: Delapan puluh pikul. 8Lalu tuan itu memuji bendahara yang tidak jujur itu, karena ia telah bertindak dengan cerdik. Sebab anak-anak dunia ini lebih cerdik terhadap sesamanya daripada anak-anak terang. 
9Aku berkata kepadamu: Ikatlah persahabatan dengan mempergunakan Mamon yang tidak jujur, supaya jika Mamon itu tidak dapat menolong lagi, kamu diterima di dalam kemah abadi.” 
10“Siapa saja yang setia dalam hal-hal kecil, ia setia juga dalam hal-hal besar. Dan siapa saja yang tidak benar dalam hal-hal kecil, ia tidak benar juga dalam hal-hal besar. 11 Jadi, jikalau kamu tidak setia dalam hal Mamon yang tidak jujur, siapakah yang akan mempercayakan kepadamu harta yang sesungguhnya? 12 Jikalau kamu tidak setia mengenai harta orang lain, siapakah yang akan memberikan hartamu sendiri kepadamu? 
13Seorang hamba tidak dapat mengabdi kepada dua tuan. Karena jika demikian ia akan membenci yang seorang dan mengasihi yang lain, atau ia akan setia kepada yang seorang dan tidak mengindahkan yang lain. Kamu tidak dapat mengabdi kepada Allah dan kepada Mamon.” 

Struktur Teks 
Perumpamaan ini dikisahkan Yesus khusus bagi murid-murid-Nya. Tentu saja Yesus tidak hendak mengajari mereka untuk melakukan tindakan-tindakan yang tidak jujur. Karena itu, pertama-tama kita harus berpegang pada pernyataan dasar ini: perumpamaan tentang bendahara yang tidak jujur tidak bermaksud memuji tindakan-tindakan atau perbuatan-perbuatan yang tidak jujur. 

Agar kita memahami perumpamaan ini dengan lebih baik, seorang penafsir menganjurkan agar pembacaan Luk. 16:1-13 agak sedikit diubah, menjadi sebagai berikut: 
•16:13 = Larangan untuk mengabdi pada dua “tuan”. 
•16:1-9 = Perumpamaan tentang bendahara yang tidak jujur. 
•16:10-12 = Nasihat untuk setia dalam hal-hal kecil. 

Ulasan Teks 
Mengabdi pada dua tuan 
Dalam perjalanan menuju Yerusalem, Yesus berkali-kali menegaskan pentingnya komitmen dari orang-orang yang bermaksud mengikuti Dia. Mereka dilarang berpamitan pada orang tua (9:61-62), harus “membenci” kaum kerabat (14:26), harus memikul salib (14:27), dan harus melepaskan diri dari segala miliknya (14:33). Dengan itu semua sebenarnya mau dikatakan bahwa para murid Yesus tidak boleh bersikap mendua hati. Orang-orang yang masih terikat dengan hal-hal duniawi (ikatan keluarga, harta benda, dan kepentingan diri sendiri) tidak akan bisa mengabdi Allah sepenuhnya. Padahal, saat kedatangan Allah sudah mendesak. Fokuslah pada Allah dan lepaskan segala ikatan duniawi! 

Namun, mungkinkah komitmen semacam itu dapat diwujudkan? Dalam kenyataan, hidup di dunia itu tidak mudah. Banyak godaan menghampiri manusia sehingga dia tidak bisa mengabdi Allah dengan sepenuh hati. Salah satu godaan yang paling menarik datang dari Mamon atau harta kekayaan. Siapa yang tidak terpesona dengan hidup yang nyaman, serba ada, dan kelimpahan harta? Ada juga orang yang hidupnya “diabdikan” pada usaha untuk menumpuk uang dan harta benda. Perumpamaan tentang bendahara yang tidak jujur mau menunjukkan kepada kita bahwa kalau mau, godaan maut si Mamon dapat saja kita atasi. Mamon bukan segalanya. Buktinya, lihat saja pengalaman seorang bendahara berikut ini. 

Dipuji karena jujur, lagi cerdik 
Alkisah, ada seorang bendahara yang mungkin lebih cocok disebut sebagai “manajer” karena bertugas mengelola harta tuannya. Karena tugasnya itu, ia menangani juga urusan sewa-menyewa tanah milik tuannya (tuan dari bendahara ini agaknya digambarkan sebagai seorang tuan tanah). Melalui si bendahara, orang-orang yang menyewa tanah harus membayar ongkos sewa, biasanya dalam bentuk hasil bumi. Belakangan ketahuan bahwa bendahara itu suka “menghamburkan” kekayaan si tuan tanah. Tidak dijelaskan secara detail apa kesalahan si bendahara, yang jelas di situlah letak ketidakjujurannya. Akibatnya parah, si tuan tanah langsung memecat dia. 

Tentu saja pemecatan itu menjadi musibah bagi bendahara ini. Mulailah ia berpikir-pikir, merancang strategi agar masa depannya tetap terjamin. Mula-mula di benaknya muncul dua pilihan: mau kerja keras (mencangkul) atau kerja enak (menjadi pengemis). Namun, dua-duanya bukan pilihan menarik baginya, sebab yang satu melelahkan, yang lain memalukan. Maka dia membuat keputusan yang besar dan cerdik: dia bermaksud meninggalkan Mamon. 

Penjelasannya demikian: bendahara ini agaknya dulu boleh dikatakan sebagai hamba uang. Terhadap orang-orang yang berutang pada tuannya, ia menetapkan bunga yang tinggi demi keuntungan dirinya sendiri. Boleh diperkirakan bahwa sikap tamak itu juga menjadi penyebab pemecatan dirinya. Begitu dipecat, si bendahara segera memutuskan untuk tidak bergantung lagi pada Mamon, tapi pada persahabatan. Ia memanggil orang-orang yang berutang pada tuannya. Yang berutang 100 tempayan minyak diubahnya menjadi 50 tempayan, yang berutang 100 pikul gandum diubahnya menjadi 80 pikul. Pengurangan utang itu pastinya membuat orang-orang itu girang dan sangat berterima kasih kepada si bendahara. Suatu hari nanti kalau dia butuh tumpangan, mereka pasti akan memberikannya dengan senang hati. Oportunis, tapi cerdik! 

Perlu dicatat bahwa tindakan bendahara mengurangi jumlah utang itu bukanlah suatu “penggelapan”. Harus dibaca bahwa orang-orang itu memang berutang masing-masing 50 tempayan minyak dan 80 pikul gandum. Bendahara yang gila uang itu dulu menggelembungkan utang mereka menjadi 100 tempayan minyak dan 100 pikul gandum demi keuntungan pribadi. Maka yang dilakukannya setelah tidak lagi menganggap Mamon sebagai sesuatu yang penting adalah menghapus “jatah” keuntungan baginya dan membuat orang-orang itu membayar utang mereka dalam jumlah yang semestinya. 

Maka, bendahara yang dulu tidak jujur, sekarang sudah bertindak jujur. Bukan hanya bertobat, bendahara itu telah bersikap “cerdik” dan yang terakhir inilah yang membuat si tuan lalu memberikan pujian baginya (tapi mestinya tetap memecatnya). Bendahara itu sadar bahwa Mamon yang dulu diandalkannya sekarang tak bisa menolongnya lagi. Maka, ditinggalkannya Mamon itu untuk berpaling kepada yang lain, yang dapat menjamin hidupnya, dalam hal ini adalah ikatan persahabatan. 

Setia dalam hal kecil 
Selanjutnya, Lukas merumuskan kembali perumpamaan di atas, kali ini dalam bentuk pepatah: siapa saja yang setia dalam hal-hal kecil, ia setia juga dalam hal-hal besar. Yang disebut hal-hal kecil adalah hal-hal duniawi. Dalam konteks perumpamaan ini, yang dimaksud adalah uang atau harta kekayaan. Uang atau harta kekayaan harus disikapi dengan tepat. Kita tidak boleh memegangnya erat-erat, seolah-olah itu adalah segala-galanya bagi kita. Uang hanyalah hal kecil! Namun, meski kecil, kita harus bersikap “setia” ketika menanganinya. Konkretnya, kita tidak boleh bersikap korup, seperti contoh tindakan bendahara itu di masa lalu. 

Kalau dalam hal-hal kecil – seperti mengurus harta benda – saja kita tidak setia, apalagi dalam hal-hal besar (yaitu hal-hal rohani)? Pasti kita lebih tidak setia lagi! Sebaliknya, kalau kita dapat menangani harta benda dengan tepat dan bijak, siapa tahu kepada kita dipercayakan harta yang lebih besar lagi, yaitu harta surgawi.

Amanat 
Demikian, menjadi jelas bahwa perumpamaan tentang bendahara yang tidak jujur disampaikan dalam rangka mengajak para murid Yesus untuk fokus pada satu hal, yaitu pengabdian pada Allah dengan segenap jiwa dan raga. Pengabdian para murid tidak boleh fifty-fifty: setengah pada Tuhan, setengah pada harta. Sebaliknya, para murid hendaknya tahu menentukan prioritas, yaitu menomorsatukan Allah. Bagaimana dengan harta kekayaan? Si Mamon itu tidak pada tempatnya menjadi sosok yang disembah-sembah; dikejar-kejar setengah mati; dan kalau sudah didapat, dipegang erat-erat. Letakkan posisi Mamon dengan tepat, yaitu sebagai sarana.

Perumpamaan yang dikisahkan Yesus ini boleh dilihat juga sebagai kritik bagi kita, manusia zaman ini, yang sedikit banyak lebih mementingkan uang dan harta di atas segalanya. Pengabdian kita kepada Tuhan bukan hanya setengah-setengah, malah bagi-Nya kita menerapkan “jatah” satu banding enam. Satu untuk Tuhan (hari Minggu, itu pun artinya pergi ke gereja satu jam), enam hari yang lain kita pakai untuk mencari uang sebanyak-banyaknya. 

Bumi bergerak cepat, kebutuhan hidup semakin mendesak, dan karenanya kita memang butuh banyak uang. Dan, jangan salah sangka, penginjil Lukas tidak menganggap uang sebagai barang “najis” yang harus dihindari. Lukas sebenarnya berpendapat bahwa uang dan harta hendaknya disikapi dengan tepat. Menurutnya, baiklah kita bekerja keras mencari nafkah dan memenuhi kebutuhan kita, tapi dengan tetap menyadari bahwa uang bukanlah segalanya. Alih-alih terikat pada Mamon, hendaknya Mamon itu kita “peralat”, kita jadikan sarana untuk kebaikan bersama. Berbagilah, sehingga uang dan kekayaan yang kita miliki dapat turut mengangkat kesejahteraan masyarakat di sekitar kita. 

Agaknya, itu yang disebut cerdik: memanfaatkan hal-hal duniawi untuk kepentingan surgawi.***  
Pertanyaan Pendalaman 
1. Jelaskan bahwa perumpamaan ini tidak bermaksud mengajarkan kepada kita untuk menghalalkan segala cara demi keselamatan diri kita! 
2. Lalu, mengapa bendahara itu mendapat pujian dari tuannya? 
3. Jelaskan makna pepatah: siapa saja yang setia dalam hal-hal kecil, ia setia juga dalam hal-hal besar! 
4. Bagaimana sikap Anda sendiri pada harta benda yang anda miliki? 

MAMON 
Mamon (barangkali seakar dengan kata iman, aman, dan amin) artinya “apa yang diandalkan”. Istilah ini kemudian berkembang dan menunjuk pada “harta kekayaan”. Mamon di sini disebut “tidak jujur”, karena dipandang selalu menggoda manusia untuk menjadi hamba uang. Kalau sudah menjadi hamba uang, hati seseorang akan bercabang. Orang itu lalu kurang percaya pada Allah dan mengabdi Allah tidak dengan sepenuh hati. 

Harun, Martin, Tahun Rahmat Tuhan: Ulasan Injil Hari Minggu Tahun C Masa Biasa, Yogyakarta: Kanisius, 2001, hlm. 194.
PENGALAMAN UMAT ISRAEL SEBAGAI CONTOH DAN PERINGATAN 
(1Kor. 10:1-12) 
Alfons Jehadut 
Bacaan kedua yang kita baca dan renungkan ini masih berkaitan dengan makan makanan yang dipersembahkan kepada berhala yang sudah dibicarakannya dalam 1Kor 8. Paulus menanggapi beberapa anggota jemaat kristiani Korintus yang merasa diri kuat dan bebas pergi ke kuil berhala untuk berpartisipasi dalam pesta perjamuan makan bersama orang-orang yang tidak beriman. Mereka menghadiri perjamuan makan di kuil-kuil dewa kafir seperti yang telah mereka lakukan sebelum menjadi kristiani. 

Bagaimana Paulus menanggapi masalah di atas? Ia menanggapinya dengan mengingatkan jemaat yang merasa diri kuat tentang dampak partisipasi mereka dalam ibadat dan perjamuan makan di kuil-kuil berhala bagi anggota komunitas kristiani yang hati nuraninya lemah. Sikap dan tindakan mereka dapat mendorong yang lemah untuk makan daging yang dipersembahkan kepada berhala karena melihat mereka duduk makan di dalam kuil berhala. Itulah sebabnya, mereka yang kuat dimintanya untuk peduli kepada yang lemah nuraninya sehingga kebebasan mereka tidak menjadi batu sandungan (1Kor. 8:9). Mereka dimintanya pula untuk mengikuti teladannya menanggalkan kebebasannya demi kepentingan orang lain dengan tidak makan makanan yang dipersembahkan kepada berhala supaya tidak menjadi batu sandungan (1Kor. 8:13; 9:22). 

1 Aku mau, supaya kamu mengetahui, Saudara-saudara bahwa nenek moyang kita semua berada di bawah perlindungan awan dan mereka semua telah melintasi laut. 2 Untuk menjadi pengikut Musa mereka semua telah dibaptis dalam awan dan dalam laut. 3 Mereka semua makan makanan rohani yang sama 4 dan mereka semua minum minuman rohani yang sama, sebab mereka minum dari batu karang rohani yang mengikuti mereka, dan batu karang itu ialah Kristus. 5 Sungguhpun demikian Allah tidak berkenan kepada sebagian besar dari mereka, karena mereka dibinasakan di padang gurun. 6 Semuanya ini telah terjadi sebagai contoh bagi kita untuk memperingatkan kita, supaya jangan kita menginginkan hal-hal yang jahat seperti yang telah mereka perbuat 7 dan supaya jangan kita menjadi penyembah-penyembah berhala, sama seperti beberapa orang dari mereka, seperti ada tertulis: "Duduklah bangsa itu untuk makan dan minum; kemudian bangunlah mereka dan bersukaria." 8 Janganlah kita melakukan percabulan, seperti yang dilakukan oleh beberapa orang dari mereka, sehingga pada satu hari telah tewas dua puluh tiga ribu orang. 9 Janganlah kita mencobai Kristus, seperti yang dilakukan oleh beberapa orang dari mereka, sehingga mereka mati dipagut ular 10 Dan janganlah bersungut-sungut, seperti yang dilakukan oleh beberapa orang dari mereka, sehingga mereka dibinasakan oleh malaikat maut.11 Semuanya ini telah menimpa mereka sebagai contoh dan dituliskan untuk menjadi peringatan bagi kita yang hidup pada waktu zaman akhir telah tiba. 12 Sebab itu, siapa yang menyangka bahwa ia teguh berdiri, hati-hatilah supaya ia jangan jatuh 
  
[1] Bagian dari perikop ini (1Kor. 10:1-6, 10-12) dibacakan sebagai bacaan kedua pada hari minggu pra-Paskah III dalam tahun C.

Struktur Teks 
Paulus mengingatkan jemaat Korintus bahwa bahaya partisipasi mereka dalam ibadat dan pesta yang diselenggarakan di kuil-kuil berhala. Baginya bahaya itu sangat nyata meski mereka mengakui satu Allah saja. Mereka bisa jatuh dalam penyembahan berhala jika mereka masih mengambil bagian dalam ibadat dan pesta yang diselenggarakan di kuil-kuil untuk menyembah dewa-dewi kafir. Jika mereka tidak meninggalkan kebiasaan itu, maka mereka akan mendapatkan akibatnya yang sangat mengerikan. 

Bagaimana akibat yang mengerikan itu ditampilkan dalam bacaan kedua hari ini? Paulus menampilkannya dengan tiga cara. Pertama, mengangkat kisah pengalaman umat Israel yang lolos dari perbudakan Mesir dan berkelana di padang gurun untuk menuju tanah terjanji (ay. 1-6; bdk. Kel 13-17;. Bil. 10-15). Kedua, menyebutkan empat sikap dan tindakan umat Israel yang tidak berkenan di hadapan Allah (ay. 7-10). Ketiga, sikap dan tindakan umat Israel di masa lalu dijadikan sebagai contoh dan peringatan bagi jemaat Korintus supaya mereka tidak mengulangi kesalahan seperti yang dulu dilakukan oleh umat Israel (ay. 10-12). 

Ulasan teks 
Kisah pengalaman umat Israel (ay. 1-5) 
Paulus tidak ingin para pembacanya mengabaikan pengalaman bangsa Israel ketika mereka berpikir tentang makan makanan yang dipersembahkan kepada berhala-berhala. Itulah sebabnya pengalaman pembebasan (Kel. 13-14) dan pengembaraan di padang gurun (Kel. 16-17; Bil. 20-22) diangkatnya. Melalui dua pengalaman itu jemaat Korintus diingatkan dan ditegaskan bahwa nenek moyang mereka dilindungi oleh Allah. Allah telah menemani dan menyediakan segala sesuatu yang mereka perlukan di masa lalu sama seperti yang dilakukan-Nya sekarang bagi semua orang kristiani yang menjadi umat-Nya sama seperti orang Israel menjadi umat pilihan Allah pada masa lalu. 

Pengalaman umat Israel yang diangkat oleh Paulus di sini telah diketahui oleh jemaat Korintus dari Perjanjian Lama tetapi mereka belum memahami maknanya secara mendalam sehingga diangkatnya lagi. Ada tiga pengalaman yang diangkatnya. Pertama, pengalaman “nenek moyang kita semua berada di bawah perlindungan awan dan mereka semua telah melintasi laut” (ay. 1). Di sini ia berbicara sebagai seorang Yahudi, tetapi sekaligus memasukkan para pembacanya yang sebagian besar berlatar belakang bukan Yahudi sebagai orang Yahudi. 

Pernyataan “nenek moyang kita semua” ini tampaknya aneh sebab suratnya dialamatkan kepada jemaat Korintus yang sebagian besar berlatar belakang bukan Yahudi. Pernyataan yang tampaknya aneh ini barangkali mau mengungkapkan pemahaman Paulus bahwa semua pembacanya sebagai orang kristiani, apakah keturunan Yahudi atau bukan Yahudi, mengambil bagian dalam warisan rohani bangsa Israel. Orang kristiani bukan Yahudi diyakininya telah digabungkan ke dalam umat perjanjian (Rm. 11:17-24) sehingga mereka bisa disebut sebagai umat Israel milik Allah (Gal. 6:16).[2] Dengan demikian, kisah pembebasan dari perbudakan Mesir dan pengembaraan umat Israel di padang gurun yang dipimpin oleh Musa bagi jemaat kristiani bukan cerita dari dan tentang orang lain, tetapi benar-benar cerita nenek moyang rohani mereka sendiri. Kisah pengalaman umat Israel di masa lalu itu diangkatnya dengan maksud untuk menekankan fakta bahwa jemaat kristiani juga menikmati pembebasan dan perlindungan Allah serta jaminan dalam perjalanan hidup mereka melalui penyelenggaraan-Nya.[3]

Kedua, pengalaman umat Israel dibaptis dalam awan dan dalam laut untuk menjadi pengikut Musa (ay. 2). Baptisan dipahami sebagai sebuah ekspresi lahiriah dari identifikasi diri orang yang percaya dengan orang yang diimaninya (Rm 6:3;. Gal 3:27). Dengan pola berpikir semacam ini Paulus mengatakan bahwa untuk menjadi pengikut Musa umat Israel telah dibaptis dalam awan dan dalam laut. Di sini baptisan dalam awan dan dalam laut harus dipandang sebagai sebuah kiasan, bukan secara harfiah sebab tidak ada kisah tentang umat Israel yang dibaptis dalam nama Musa. Dibaptis dalam awan dan dalam laut untuk menjadi pengikut Musa berarti bahwa umat Israel tunduk kepada otoritas kepemimpinan Musa. Mereka menyatakan diri sebagai pengikut Musa sama seperti ketika jemaat Korintus menanggalkan penyembahan berhala mereka di masa lalu dengan dibaptis menjadi pengikut Kristus. 

Ketiga, pengalaman semua orang Israel, bukan hanya beberapa dari mereka, makan manna dan minum air dari batu karang ketika mengembara di padang gurun. Mereka makan manna selama mereka mengembara di padang gurun (Kel. 16:1-36; Mzm. 78:23-29) dan mereka minum dari batu karang di awal (Kel. 17:1-7) dan di akhir pengembaraan mereka di padang gurun (Bil. 20:2-13; Mzm. 78:13). Paulus menyebut manna dan air sebagai makanan dan minuman rohani karena Allah memberinya secara ajaib. Makanan dan minuman itu dikaitkannya dengan makanan rohani yang datang dari Kristus dan menunjuk kepada diri-Nya sebagai pemelihara dan penopang umat-Nya (bdk. Yoh. 6:35, 48-51, 7:37-38). Ini berarti bahwa makanan dan minuman yang sediakan oleh Allah bagi 

[2] Richard B. Hays, First Corinthians: Interpretation, a Bible Commentary for Teaching (Louisville: John Knox Press, 1997), 160.

[3] Maria A. Pascuzzi, “The Letters to the Corinthians’ dalam Daniel Durken (ed.), The New Collegeville Bible Commentary: New Testament (Collegeville: Liturgical Press, 2009), 520.


umat Israel selama mengembara di padang gurun, bagi Paulus, mengantisipasi perjamuan terakhir Kristus bersama para murid-Nya. Sama seperti jemaat kristiani Korintus mendapat makanan dan minuman rohani dalam perjamuan ekaristi, demikian juga umat Israel diberikan makanan dan minuman rohani, yakni manna dan air dari batu karang, selama mereka mengembara di padang gurun. 

Meski mereka dilindungi dan diberkati oleh Allah selama mereka dibebaskan dari perbudakan Mesir dan mengembara di padang gurun, namun Allah tidak berkenan bagi sebagian besar di antara mereka (ay. 5). Ia tidak mengizinkan seorang pun dari generasi tua yang berumur sekitar dua puluh tahun atau lebih dan bahkan Musa sendiri untuk memasuki tanah yang dijanjikan kecuali Kaleb dan Yosua (Bil. 20:12). Kecuali Kaleb dan Yosua, semua orang dari generasi tua Israel mati di padang gurun. Mayoritas generasi Israel padang gurun tidak berkenan di hadapan Allah sehingga mereka kehilangan privilese untuk hidup dan menikmati tanah terjanji yang digambarkan berlimpah susu dan madu. 

Tiga pengalaman umat Israel di atas diterapkan oleh Paulus bagi jemaat Korintus pada khususnya dan pembaca pada umumnya (ay. 6). Baptisan dalam awan dan dalam laut serta keikutsertaan mereka dalam menikmati makanan dan minuman rohani yang disediakan oleh Allah selama di padang gurun tidak melindungi mereka dari hukuman Allah ketika mereka menginginkan dan melakukan hal-hal yang jahat. Hal yang sama berlaku bagi orang kristiani. Baptisan dan partisipasi kita dalam perjamuan Ekaristi tidak melindungi mereka dari hukuman Allah jika kita menginginkan dan melakukan hal-hal yang jahat. Kita tidak boleh menganggap baptisan dan ekaristi sebagai imunisasi untuk membuat kita kebal dari hukuman Allah ketika kita berbuat dosa melawan rencana dan kehendak-Nya. 

Empat sikap dan tindakan umat Israel (ay. 7-10) 
Paulus selanjutnya menyebutkan empat sikap dan tindakan umat Israel yang membuat mereka bermasalah dengan Allah. Pertama, umat Israel berpartisipasi dalam penyembahan berhala ketika mereka mempersembahkan kurban bakaran dan kurban keselamatan bagi patung lembu emas buatan tangan mereka dan makan bersama di depan patung lembu emas (ay. 7; bdk. Kel. 32:6). Peristiwa ini tampaknya mirip dengan apa yang terjadi ketika beberapa anggota jemaat Korintus menghadiri pesta perjamuan makan yang selenggarakan oleh orang-orang yang tidak beriman di kuil-kuil berhala mereka. Ada suatu bahaya jika mereka berkompromi dengan iman kepercayaan mereka kepada Allah, seperti yang dilakukan oleh umat Israel, ketika mereka berpartisipasi dalam perayaan berhala orang-orang yang tidak beriman. Maka, mereka diingatkan untuk tidak menyembah berhala. 

Kedua, umat Israel terlibat dalam perzinahan dan percabulan ketika mereka berpartisipasi dalam perayaan keagamaan orang Moab (ay. 8; bdk. Bil. 25:1-9). Paulus menyebutkan pada satu hari telah tewas dua puluh tiga ribu orang sebagai dampak dari perzinahan dan percabulan. Sebutan ini tampaknya sedikit berbeda Musa yang melukiskan ada dua puluh empat ribu orang tewas sebagai dampaknya dari wabah yang ditimpakan Allah untuk menghukum orang berbuat zinah (Bil. 25:9). Perbedaan itu tampaknya tidak perlu dipertentangkan sebab tujuan utamanya untuk menampilkan bahaya dari partisipasi dalam perayaan keagamaan orang-orang yang menyembah berhala. Di sini kisah perzinahan dan percabulan umat Israel diangkat sebagai sebuah peringatan bagi jemaat Korintus yang tertarik untuk berpartisipasi dalam penyembahan dan perjamuan berhala orang-orang yang tidak beriman. 

Ketiga, umat Israel mencobai Allah dengan menguji kesabaran-Nya (ay. 9; bdk. Bil. 21:4-9). Sikap nenek ini lagi-lagi dikaitkan dengan makanan meski tidak secara langsung mengacu kepada makanan yang dipersembahkan kepada berhala-berhala. Mereka berbicara melawan Allah dan Musa terkait dengan makanan. “Mengapa kamu memimpin kami keluar dari Mesir? Supaya kami mati di padang gurun ini? Sebab di sini tidak ada roti dan tidak ada air, dan akan makanan hambar ini kami telah muak” (Bil. 21:5). Karena mereka berbicara melawan Allah terkait dengan keinginan untuk menikmati makanan yang sesuai dengan selera mereka, maka mereka dihukum oleh Allah dengan menyuruh ular-ulat tedung memagut mereka. Dengan latar belakang kisah ini Paulus menasihati jemaat Korintus untuk tidak mencobai Allah sehingga tidak mati dipagut ular seperti yang telah menimpa umat Israel. 

Keempat, umat Israel bersungut-sungut melawan Allah sehingga jemaat Korintus dinasihatinya untuk tidak bersungut-sungut (ay. 10). Nasihat ini paling sulit dikaitkan dengan teks spesifik dalam Perjanjian Lama dan paling sulit dihubungkan dengan sikap dan tindakan tertentu dari jemaat Korintus. Namun, kita dapat menduga bahwa Paulus sedang memikirkan tentang umat Israel yang bersungut-sungut melawan Musa dan Harun dan mereka ingin kembali ke Mesir (Bil. 14:2-4). Sungut-sungut merupakan sebuah ungkapan ketidakpuasan dengan apa yang Allah telah berikan kepada mereka. Di sini sungut-sungut dapat dikategorikan sebagai dosa tidak tahu terima kasih. Ketika Allah mendengar sungut-sungut mereka bangkitlah murka-Nya dan mengutus api untuk membakar sebagian di antara mereka di tepi tempat perkemahan mereka (Bil. 11:1-3). Namun, murka Allah di sini tidak dilampiaskan dengan menggunakan api tetapi malaikat maut. Karena seringkali bersungut-sungut, maka mereka dibinasakan oleh malaikat maut.

Sikap dan tindakan umat Israel sebagai contoh dan peringatan (ay. 11-12) 
Setelah mengangkat empat contoh sikap dan tindakan umat Israel yang tidak berkenan di hadapan Allah di atas, Paulus kembali mengungkapkan prinsip umumnya. “Semuanya ini telah menimpa mereka sebagai contoh dan dituliskan untuk menjadi peringatan bagi kita yang hidup pada waktu zaman akhir telah tiba” (ay. 11; bdk. ay. 6). Contoh sikap sungut-sungut umat Israel dan dampaknya diangkat oleh Paulus sebagai contoh dan peringatan bagi jemaat Korintus pada khususnya dan pembaca pada umumnya supaya mereka yang merasa diri kuat sehingga bebas berpartisipasi dalam perayaan berhala orang-orang yang tidak beriman dan dalam makan makanan yang dipersembahkan kepada dewa-dewi berhala mereka waspada sehingga tidak jatuh ke dalam dosa dan tidak menjadi batu sandungan bagi orang lain. 

Amanat 
Dari ulasan teks di atas kiranya masih perlu direfleksikan secara khusus tentang bagaimana Paulus mengangkat kisah umat Israel sebagai pelajaran dan peringatan bagi jemaatnya dalam melihat dan menilai diri mereka. Di sini kisah yang diangkatnya adalah pembebasan dari perbudakan Mesir dan pengembaraan umat Israel di padang gurun sebelum masuk tanah yang dijanjikan. Dengan membaca kisah umat Israel mengembara di padang gurun sebagai sebuah tipologi bagi pengalaman gereja, Paulus meruntuhkan dinding pemisah antara masa lalu dan masa sekarang dan mengundang para pembacanya untuk menata kembali hidup mereka berdasarkan kisah tersebut. 

Paulus tampaknya melihat ada keserupaan antara generasi Israel selama mengembara di padang gurun dengan jemaat Korintus pada khususnya dan gereja pada umumnya. Ada dua keserupaan yang disoroti. Pertama, umat Israel dilindungi dan dibimbing oleh Allah melalui tiang awan dan api selama mengembara di pandang gurun. Mereka diberikan makan dan minum secara ajaib, yakni manna dan air dari batu karang. Segala sesuatu yang mereka perlukan diberikan oleh Allah. Bagi Paulus, tindakan Allah itu tidak hanya dikhususkan bagi umat Israel selama mereka mengembara di padang gurun, tetapi juga berlaku bagi jemaat Korintus pada khususnya dan umat kristiani pada umumnya. Kedua, umat Israel dihukum oleh Allah di padang gurun dengan membiarkan generasi tua Israel mati di sana sebelum memasuki dan menikmati tanah yang dijanjikan. Mereka dihukum karena walau telah diberikan segala sesuatu yang mereka perlukan, namun mereka tetap saja tidak tahu bersyukur dan berterima kasih dengan sering bersungut-sungut melawan Allah dan utusan-Nya. Bersungut-sungut adalah tanda egois dan tidak puas dengan apa yang diberikan oleh Allah sehingga dihukum oleh Allah dengan mendatangkan malaikat maut. Bagi Paulus, hukum Allah ini pula berlaku bagi jemaat kristiani jika mereka menginginkan dan melakukan hal-hal yang jahat meski mereka telah dibaptis dan mengambil bagian dalam perjamuan ekaristi. 

Dua keserupaan di atas diangkat oleh Paulus dengan maksud untuk mengajak kita bertobat. Kita diajak untuk menyadari dan menyesali dosa-dosa kita, berbalik dari kesalahan-kesalahan kita dan menghasilkan buah-buah kasih. Kita yang telah mendengar kisah perlindungan Allah bagi umat Israel diajak untuk menyadari kebaikan, perlindungan, kasih sayang, dan penyelenggaraan-Nya. Kesadaran itu diperlukan untuk menggugah hati kita agar menyadari dosa dan kesalahan kita serta menunjukkan sikap tobat dan tindakan tobat secara konkret. Jika kita masih belum tergugah, maka kita masih juga digugah oleh hukuman dan peringatan keras Allah. Semoga hukuman dan peringatan Allah menggugah hati kita untuk menyadari dosa dan kesalahan kita serta menunjukkan sikap tobat dalam kehidupan yang konkret.