Tampilkan postingan dengan label Artikel Alfons. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Artikel Alfons. Tampilkan semua postingan

Selasa, April 22, 2014

APA KATA KITAB SUCI TENTANG RELIKUI

APA KATA KITAB SUCI TENTANG RELIKUI
Alfons Jehadut


Menurut tradisi di dalam atau di bawah altar gereja sedapat-dapatnya disimpan relikui yang terkait dengan kehidupan dan pelayanan Yesus atau dengan para martir dan para kudus lainnya. Itulah sebabnya, apa kata kitab suci tentang relikui perlu dijelaskan.
Tubuh sebagai bait Roh Kudus 
Kata relikui berasal dari bahasa Latin reliquiae yang artinya peninggalan. Peninggalan itu terkait dengan bagian tubuh orang kudus, barang atau benda yang dipakainya, dan benda atau barang yang bersentuhan dengan tubuhnya. Peninggalan para martir dan para kudus lainnya itu dihormati oleh jemaat kristiani.

Apa dasar biblis jemaat kristiani menghormati relikui para martir dan para orang kudus lainnya? Jawabannya ditemukan dalam pandangan Paulus tentang tubuh (Yun. sōma) dalam suratnya yang pertama kepada jemaat Korintus. Baginya, tubuh adalah bait Roh Kudus (1Kor. 6:19). Bagi Dunn, tubuh adalah bait Roh Kudus adalah cara lain untuk mengatakan Roh Kudus ada atau hadir dalam diri jemaat sebab tubuh tidak dipahaminya hanya sebagai tubuh fisik yang seolah-olah berbeda dari seluruh diri, tetapi keseluruhan diri seseorang.[1] Tubuh dilihat sebagai penjelmaan dari keseluruhan diri seseorang. Karena tubuh dipandang sebagai bait Roh Kudus, Roh Kudus hadir dalam diri seseorang, makan tubuh harus diperlakukan dengan hormat, baik sewaktu masih hidup, maupun sesudah mati. Barang atau benda yang terkait dengan tubuh orang kudus itu pula  perlu dihormati. 
Penghormatan relikui para martir atau para kudus lainnya karena tubuh mereka dipandang sebagai bait Roh Kudus itu sebenarnya tidak hanya ditemukan dalam kekristenan, tetapi juga dalam banyak agama dan budaya lain. Relikui Buddha, misalnya, dihormati oleh para pengikutnya. Dalam budaya Yunani kuno, bagian tubuh dan barang yang berhubungan dengan para pahlawan yang telah meninggal dilestarikan dan diabadikan sebagai suatu bentuk penghormatan. Bentuk penghormatan ini tampaknya pula dihayati dalam agama dan budaya Yahudi. Meski kontak dengan tubuh orang [1] James D. G. Dunn, Theology of Paul the Apostle (Grand Rapids: Eermands, 1998), 58.yang telah meninggal diyakini oleh orang-orang Yahudi sebagai salah satu penyebab seorang najis secara ritual sehingga harus dilakukan pentahiran (Bil. 19:11-12), namun mereka seperti terlihat dalam tindakan Musa mengambil dan membawa tulang-tulang Yusuf ketika mereka meninggalkan Mesir untuk pergi ke tanah yang dijanjikan (Kel. 13:19; Yos. 24:32). Yusuf telah meminta kepada saudara-saudaranya dengan sumpah untuk membawa tulang-tulangnya ke tanah terjanji (Kej. 50:25-26). Tulang-tulang Yusuf lalu dikuburkan di Sikhem, di tanah milik yang dibeli Yakub dari anak-anak Hemor, bapa Sikhem, dan yang ditentukan bagi bani Yusuf menjadi milik pusaka mereka (Yos. 24:32). Bagi Propp, tindakan orang Israel yang diwakili oleh Musa ini tidak hanya dipandang sebagai suatu bentuk pemenuhan sumpah dengan leluhur mereka, tetapi juga sebagai suatu pengakuan akan kewajiban terhadap leluhur dan penegasan adanya kesinambungan hubungan dengan leluhur.[2] 

Praktek penghormatan relikui

Kapan praktek penghormatan terhadap relikui Yesus, para martir dan para kudus lainnya dimulai? Kita dapat menelusurinya dalam kehidupan jemaat kristiani abad-abad awal. Salah satu referensi tertulis pertama tentang praktek penghormatan itu ditemukan dalam tulisan yang berjudul, “the Martyrdom of Polycarp”, kemartiran St. Polikarpus, pada pertengahan abad ke dua sekitar tahun 256 M. Dalam tulisan itu diceritakan tentang bagaimana komunitas kristiani di Smirna mengumpulkan secara sembunyi-sembunyi sisa tubuh martir Polikarpus yang dihukum mati dengan cara dibakar hidup-hidup. Sisa tubuhnya dikumpulkan karena mereka menganggapnya jauh lebih mulia dari intan permata dan lebih berharga dari emas. Sisa-sisa tubuhnya disemayamkan di tempat yang pantas untuk menghormati kemartirannya.  
Pada pertengahan abad keempat, penghormatan terhadap relikui para martir dan para orang kudus lainnya tersebar luas termasuk relikui salib Yesus. Menurut tradisi, relikui kayu salib Yesus ditemukan oleh ratu Helene di Yerusalem sekitar tahun 318 M. St. Sirilus dari Yerusalem, menulis beberapa dekade kemudian, mengklaim bahwa relikui salib Yesus telah tersebar di seluruh dunia. Pada abad pertengahan, ziarah ke tempat-tempat suci dan gereja-gereja yang memiliki relikui para [2] William H. C. Propp, The Exodus 1-18: a new translation with introduction and commentary (Anchor Bible, Doudleday: New York, 1999), 489.martir dan para orang kudus lainnya menjadi sangat populer. Akibatnya, penjualan relikui para martir dan para orang kudus lainnya menjadi bisnis yang luar biasa sehingga dilarang keras oleh Gereja dalam Kitab Hukum Kanonik. “Dilarang dengan keras untuk menjual relikui-relikui suci. Relikui-relikui istimewa dan relikui lainnya, yang biasa dihormati oleh banyak umat, tidak bisa dengan sah dialih-milikkan dengan cara apa pun atau dipindahkan untuk selamanya tanpa izin takhta apostolik” (Kan. 1190). 
Relikui diyakini memiliki kekuatan Allah 
Relikui para martir dan para orang kudus lainnya diyakini memiliki kekuatan yang dapat menyembuhkan orang sakit dan menghidupkan orang mati. Keyakinan ini memiliki dasar biblisnya yang sangat kuat. Dalam Perjanjian Lama, kita menemukan kisah mukjizat orang mati dihidupkan kembali oleh Allah melalui kontak dengan relikui tulang-belulang seorang nabi yang sudah lama meninggal. Kitab 2 Raj. 13:21 menceritakan bahwa setelah nabi Elisa meninggal dan dikuburkan, ada orang lain lagi yang meninggalkan dan mayatnya dilemparkan begitu saja ke dalam kuburan Elisa. Ketika menyentuh tulang-belulang nabi Elisa yang sudah tak bernyawa, jasad orang yang baru saja meninggal itu dihidupkan kembali secara ajaib.  Kisah ini memperlihatkan bahwa Allah kuasa yang memberikan kehidupan tidak hanya aktif bekerja ketika Elisa masih hidup seperti terlihat dalam kisah anak seorang perempuan Sunem yang telah meninggalkan dihidupkan kembali (2Raj. 4:32-37; 8:4-5), tetapi juga ketika ia sudah meninggal. Kuasa Allah menghidupkan orang mati melalui nabi Elisa tidak berhenti ketika Elisa sudah meninggal, tetapi berlangsung terus bahkan setelah tidak bernyawa lagi.
Keyakinan bahwa relikui para martir dan para orang kudus lainnya memiliki kekuatan itu dikisahkan pula dalam Perjanjian Baru. Lukas dalam Kisah Para Rasul mengatakan bahwa Allah melakukan tindakan-tindakan penuh kuasa (Yun. dunāmeis) dan luar biasa melalui Paulus. Salah satunya adalah mukjizat penyembuhan dari penyakit dan pengusiran roh-roh jahat dengan meletakkan sapu tangan atau kain yang pernah dipakai oleh Paulus. Keyakinan bahwa kuasa dan kekuatan akan memancar keluar dari pakaian orang yang berkuasa itu sesuatu yang umum. “Melalui tangan Paulus Allah mengadakan mukjizat-mukjizat yang luar biasa, bahkan orang membawa sapu tangan atau kain yang pernah dipakai oleh Paulus dan meletakkannya atas orang-orang sakit, maka lenyaplah penyakit mereka dan keluarlah roh-roh jahat” (Kis. 19:11-12). Lukas melihat mukjizat semacam ini sebagai bukti Allah melakukan tindakan penuh kuasa dan luar biasa.
Mukjizat penyembuhan dari penyakit dan pengusiran roh-roh jahat dengan meletakkan sapu tangan atau kain yang pernah dipakai oleh Paulus itu mengingatkan kita pada kisah injil tentang penyembuhan seorang perempuan yang mengalami pendarahan setelah menyentuh jumbai jubah Yesus dengan penuh iman (Mrk. 5:25-34; Luk. 8:44-46).  Perempuan yang menderita pendarahan kronis yang membuatnya najis menurut hukum Taurat (Im. 15:25) dan siapa pun yang berkontak secara fisik dengannya akan menjadi najis juga (Im. 15:19) disembuhkan hanya dengan menyentuh penuh iman jumbai jubah-Nya. Jubah atau pakaian Yesus bisa menjadi sarana penyalur kuasa penyembuhan Allah bila disentuh dengan iman seperti yang diyakini oleh seorang perempuan yang sakit pendarahan. Baginya Yesus tidak harus meletakkan tangan padanya untuk disembuhkan, tetapi cukup dengan meletakkan tangan pada-Nya bahkan hanya pada jumbai jubah-Nya untuk mendapatkan kuasa penyembuhan-Nya.  
Relikui tidak boleh menjadi objek penyembahan 
Dari uraian di atas, kiranya menjadi jelas bahwa penghormatan terhadap relikui para martir dan para kudus lainnya memiliki dasar biblis. Relikui para martir dan para kudus lainnya yang kini hidup bersama Kristus perlu dihormati, tetapi tidak boleh disembah oleh kaum beriman. Relikui-relikui mereka hanya dapat menjadi objek penghormatan dan tidak pernah boleh menjadi objek penyembahan. Penghormatan terhadap relikui pada akhirnya mesti diarahkan untuk pujian dan penyembahan kepada Allah melalui Yesus Kristus.  Relikui para martir dan para kudus lainnya tidak berarti apa-apa tanpa Allah. Mereka tidak bisa dihormati dan dikenang jika pada saat yang sama Allah sendiri tidak disapa dan disembah. Relikui para martir dan para kudus lainnya tidak bisa dihormati terlepas dari penyembahan dan pujian kepada Allah melalui Yesus Kristus. Jadi, penghormatan relikui para martir dan para kudus lainnya mesti pada akhirnya diarahkan untuk memuliakan dan menyembah Allah melalui Yesus Kristus. 
Sumber-sumber bacaan
Dunn, James D. G. Theology of Paul the Apostle. Grand Rapids: Eermands, 1998. 
Jebadu, Alex, Bukan Berhala! Penghormatan kepada para leluhur. Maumere: Ledalero, 2009.Propp, William H. C. The
Exodus 1-18: a new translation with introduction and commentary. Anchor Bible, Doudleday: New York, 1999.    
Reid, Barbara. What’s Biblical about…Relics? dalam The Bible Today (Vol. 50, September/October 2012):313-314.


Senin, Januari 27, 2014

KATA KITAB SUCI TENTANG BERLUTUT

KATA KITAB SUCI TENTANG BERLUTUT 

Setelah kita mencelupkan jari tangan ke dalam air suci dan membuat tanda salib, kita masuk ke dalam Gereja. Sebelum duduk, kita biasanya berlutut sejenak. Kebiasaan ini perlu diberi penjelasan sehingga tidak hanya dilihat sebagai sebuah kebiasaan belaka. Dalam konteks itulah apa kata kitab suci tentang sikap atau gerak tubuh dalam berdoa dan beribadat akan dijelaskan di bawah ini. 

Sikap atau gerak tubuh 

Patut digarisbawahi bahwa sikap atau gerak tubuh itu sangat penting dalam berkomunikasi. Kita tidak bisa berkomunikasi hanya dengan kata-kata yang keluar dari mulut kita, tetapi juga dengan sikap tubuh kita. Semua budaya memiliki sikap atau gerak tubuh ketika berjumpa dengan Allah dan sesama. Dalam Kitab Suci, kita menemukan beberapa sikap atau gerak tubuh yang berbeda sewaktu berdoa atau beribadat seperti berdiri, berlutut, dan bersujud. Berdiri dan berlutut itu pula sering disertai dengan sikap atau gerak membentang, menadah, atau mengangkat tangan (1Raj. 8:22, 54; 2Taw. 6:13; Mzm. 28:2; Rat. 2:19). 

Makna sikap atau gerak tubuh 

Berdiri dipandang sebagai sebuah sikap atau gerak tubuh yang paling umum dalam berdoa atau beribadat. Hana menyampaikan permohonannya kepada Tuhan sambil berdiri dan Tuhan menjawabnya (1Sam. 1:26). Yosafat berdiri di tengah-tengah jemaah Yehuda dan Yerusalem di rumah TUHAN dan berdoa mohon pembebasan ketika dikepung oleh pasukan gabungan tentara Moab dan Amon (2Taw. 20:5, 13). Ayub juga berdoa kepada Allah dengan berdiri (Ayb. 30:20). 

Menurut kesaksian Perjanjian Baru, orang Yahudi biasa berdoa dengan berdiri dalam rumah-rumah ibadat dan pada tikungan-tikungan jalan untuk memperlihatkan kesalehan mereka (Mat. 6:5). Berdiri pada waktu berdoa itu juga didukung oleh Yesus ketika berkata kepada para murid-Nya, “Jika kamu berdiri untuk berdoa, ampunilah dahulu sekiranya seseorang bersalah terhadap kamu, supaya juga Bapamu yang di surga mengampuni kamu akan kesalahan-kesalahanmu” (Mrk. 11:25). Berdiri pada waktu berdoa mengungkapkan keteguhan iman kepada Allah, kesiagaan di hadapan Allah, dan kesiapan untuk bertemu dan berdialog dengan Allah, penghormatan dan pengakuan kita kepada Allah sebagai raja alam semesta. 

Tidak hanya berdiri, bersujud itu juga biasa dilakukan sewaktu berdoa atau beribadat. Abraham bersujud di hadapan Allah ketika menampakkan diri kepadanya (Kej. 17:3). Hal yang sama dilakukan oleh Musa, Harun, dan Ezra, dan orang Israel (Bil. 20:6; Ul. 9:18; Im. 9:24; 1Raj. 18:39; 2Taw. 29:28-29; Ezra 10:1; Neh. 8:6; Ydt. 6:18). Tiga orang Majus sujud menyembah Yesus, raja orang Yahudi yang baru saja dilahirkan (Mat. 2:11). Yesus sendiri bersujud ketika berdoa di taman Getsemani (Mat. 26:39). Semua malaikat yang mengelilingi takhta Allah itu juga sujud menyembah di hadapan takhta-Nya (Why. 7:11). Sikap dan gerak tubuh sujud memiliki makna simbolis yang mendalam sebagai tanda kerendahan hati dan penghormatan kepada Allah. Selain berdiri dan bersujud, berlutut itu pula sangat umum dalam berdoa dan beribadat. Ada sejumlah tokoh dalam Kitab Suci yang berlutut ketika mereka berdoa seperti Salomo (1Raj. 8:54; 2Taw. 6:13), Daniel (Dan. 6:10), Yesus (Luk. 22:41), Stefanus (Kis. 7:360), Petrus (Kis. 9:40), dan Paulus (Kis. 20:36). Sikap atau gerak tubuh berlutut dalam banyak agama dan budaya telah lama dikaitkan dengan sikap penyesalan, penyerahan, perendahan, kerendahan hati, kepatuhan, penghormatan, dan penyembahan. 

Dalam Kitab Suci, berlutut dikaitkan pertama-tama dengan penghormatan (Est. 3:2, 5) dan tunduk pada otoritas dan kuasa yang lebih tinggi (2Raj. 1:13; Mat. 18:29; Mrk. 10:17). Orang berlutut di hadapan sesamanya (Kej. 41:43) sebagai suatu bentuk pengakuan terhadap kuasa dan otoritas lain atas dirinya. Sikap atau gerak tubuh ini sering kali disertai dengan sebuah permohonan. Seorang perwira pasukan tentara raja berlutut di hadapan Elia dan memintanya untuk berbelas kasih baginya dan para prajuritnya (2Raj. 1:13). Seorang yang sakit kusta berlutut di hadapan Yesus dan memohon penyembuhan (bdk. Mrk. 1:40; 10:17; Mat. 17:14; 27:29). Di sini berlutut tidak dipandang sebagai bentuk pemujaan atau penyembahan, tetapi sebagai sebuah bentuk permohonan yang diungkapkan secara sungguh-sungguh dalam bentuk sikap dan gerak tubuh yang memperlihatkan kepercayaan pada kuasa dan otoritas Yesus yang melampaui kuasa dan otoritas manusia. 

Berlutut dan bersujud tampaknya menjadi sebuah sikap dan gerak tubuh yang otomatis dilakukan ketika seorang berjumpa dengan Allah atau mengalami sebuah pengalaman religius yang luar biasa (Bil. 22:31; Luk. 5:8). Sikap atau gerak tubuh berlutut dan bersujud dapat dikatakan sebagai sesuatu yang lazim dilakukan ketika berdoa dan beribadat (1Raj. 8:54; 2Taw. 6:13; Mzm. 95:6; Yes. 45:23; Dan. 6:11; Rm. 14:11). Yesus sendiri berlutut ketika berdoa di taman Getsemani (Luk. 22:41) dan memohon supaya cawan penderitaan diambil dari hadapan-Nya. Sikap dan gerak tubuh ini serupa diperlihatkan oleh penginjil Matius ketika mengatakan Yesus “sujud dan berdoa” (Mat. 26:39) dan penginjil Markus ketika mengatakan Yesus merebahkan diri ke tanah dan berdoa (Mrk. 14:35). Sikap atau gerak tubuh ini memperlihatkan kepatuhan Yesus pada kehendak Allah. Yesus meletakkan kehendaknya pada kehendak Bapa-Nya. Kehendak manusiawi-Nya ditempatkannya dalam kehendak yang ilahi. 

Petrus, Paulus, dan anggota jemaat perdana lainnya berlutut ketika mereka berdoa. Stefanus berlutut dan berseru dengan suara nyaring kepada Allah sebelum mati sebagai seorang martir (Kis. 7:60). Petrus berlutut dan berdoa bagi Tabitha di depan mayatnya (Kis. 9:40). Paulus berlutut dan berdoa bersama jemaatnya ( Kis. 20:36; 21:5; Ef. 3:14). Kitab Suci bahkan mengklaim bahwa orang mati baik yang ada di surga maupun di dunia bawah berlutut sebagai suatu bentuk sikap yang menunjukkan penghormatan kepada Allah (Mzm. 22:30; Flp. 2:10) meskipun kitab Wahyu hanya menyebutkan tindakan penghormatan yang diberikan oleh orang-orang yang menyembah-Nya di surga (Why. 7:11; 11:16). 

Penutup 

Dari uraian di atas kita dapat menyimpulkan bahwa sikap atau gerak tubuh dalam berdoa dan beribadat memiliki dasar biblis yang sangat kuat. Dalam Kitab Suci kita menemukan keanekaragaman sikap atau gerak tubuh ketika seseorang menyapa Allah dan membawa permohonan kepada-Nya dalam doa atau ibadat. Sikap atau gerak tubuh yang bermacam-macam itu mengungkapkan secara lahiriah perasaan dan pengalaman batin seseorang atau sekelompok orang. Tidak satu pun dari sikap atau gerak tubuh yang bisa mewakili seluruh perasaan dan pengalaman batin seseorang secara kelihatan. Itulah sebabnya, kita menemukan dalam Kitab Suci keanekaragaman sikap dan gerak tubuh ketika seseorang atau sekelompok orang berdoa atau beribadat kepada Allah. 

Sumber-sumber Bacaan 

Lenchak, Timothy A. “What’s Biblical about … Kneeling and Genuflecting?” dalam The Bible Today, Vol. 45 January/February 2007. Ratzinger, Joseph Cardinal “The theology of Kneeling” dalam The Spirit of the Liturgy. San Francisco: Ignatius Press, 2000.

Selasa, April 23, 2013

BERBANGGA DAN BERMEGAH DALAM SALIB 
(Gal. 6:11-18) 
Alfons Jehadut 

11 Lihatlah, bagaimana besarnya huruf-huruf yang kutulis kepadamu dengan tanganku sendiri.12 Mereka yang secara lahiriah suka menonjolkan diri, merekalah yang berusaha memaksa kamu untuk bersunat, hanya dengan maksud, supaya mereka tidak dianiaya karena salib Kristus.13 Sebab mereka yang menyunatkan dirinya pun, tidak memelihara hukum Taurat. Tetapi mereka menghendaki, supaya kamu menyunatkan diri, agar mereka dapat bermegah atas keadaanmu yang lahiriah.14 Tetapi aku sekali-kali tidak mau bermegah, selain dalam salib Tuhan kita Yesus Kristus, sebab olehnya dunia telah disalibkan bagiku dan aku bagi dunia. 15 Sebab bersunat atau tidak bersunat tidak ada artinya, tetapi menjadi ciptaan baru, itulah yang ada artinya. 16 Bagi semua orang yang memberi dirinya dipimpin oleh patokan ini, turunlah kiranya damai sejahtera dan rahmat atas mereka dan atas Israel milik Allah. 17 Selanjutnya janganlah ada orang yang menyusahkan aku, karena pada tubuhku ada tanda-tanda milik Yesus. 18 Anugerah Tuhan kita Yesus Kristus menyertai roh kamu, Saudara-saudara! Amin 

Pengantar 
Dalam penanggalan liturgi tahun C hari Minggu, ada enam bacaan kedua yang diambil dari surat Galatia. Selama enam minggu, Gereja mengajak umatnya untuk membaca dan merefleksikan tanggapan Paulus terhadap krisis yang dialami oleh sejumlah komunitas di Galatia selatan dalam suratnya. Krisis itu ditimbulkan oleh misionaris kristiani Yahudi yang datang tidak lama setelah Paulus pergi dari jemaat yang telah dibentuknya. Para misionaris itu mengajarkan kepada jemaat Galatia bahwa jika mereka ingin diperhitungkan sebagai keturunan Abraham dan menjadi ahli waris janji-janji Allah, maka mereka harus disunat dan melakukan pekerjaan hukum Taurat, terutama peraturan untuk menaati hari Sabat dan peraturan makanan yang halal dan haram. Ajaran para misionaris kristiani Yahudi itu bertentangan dengan ajaran Paulus yang tidak menuntut jemaat Galatia untuk disunat atau untuk mengadopsi gaya hidup Yahudi. Pengalaman pertobatan Paulus telah mengajarkannya bahwa Allah telah melakukan segala sesuatu yang tidak dapat dilakukan oleh hukum Taurat dalam Kristus. Baginya, kebenaran yang memberi hidup diperoleh melalui kematian dan kebangkitan Kristus. Itulah sebabnya Paulus menulis “sekiranya ada pembenaran melalui hukum Taurat, maka sia-sialah kematian Kristus” (Gal. 2:21). Karena jemaat Galatia bukan Yahudi telah menerima dan mengalami karunia Roh Allah (3:1-6), maka mereka telah menjadi keturunan Abraham dan telah menjadi ahli waris janji-janji Allah (3:29). Allah tidak membenarkan seseorang atas dasar pelaksanaan ketetentuan hukum Taurat, tetapi atas dasar iman pada apa yang telah dilakukan oleh Allah melalui kematian dan kebangkitan Anak-Nya. Konsekuensinya, orang-orang bukan Yahudi tidak perlu bagi mengadopsi gaya hidup Yahudi. Apa yang harus mereka lakukan adalah mempertahankan keyakinan iman mereka kepada Yesus dan hidup menurut tuntunan Roh Kudus. 

Struktur Teks 
Pada hari minggu ini kita akan merefleksikan bacaan terakhir yang diambil dari surat Galatia. Bacaan yang diambil adalah bagian penutup suratnya. Meski bacaan kedua hari Minggu ini tidak menampilkan seluruh bagian penutup (Gal. 6:14-18), namun kita sebaiknya membacanya dan mengulasnya secara keseluruhan (Gal. 6:11-18) supaya mendapat gambaran yang lebih lengkap tentang struktur pemikiran dan keprihatinan Paulus. Bagian penutup surat ini dapat diikuti dengan alur sebagai berikut. Pertama, pengakuan bahwa bagian akhir suratnya ditulis dengan tangan sendiri dan dengan huruf-huruf yang besar (ay 11). Kedua, dakwaan bagi para lawan Paulus (ay 12-13). Ketiga, kebanggaan dalam salib (ay 14-15). Keempat, berkat dan permohonannya (ay. 16-18). 

Ulasan Teks 
Menulis dengan tangan sendiri dan dengan huruf-huruf yang besar (ay. 11). 
Paulus mengakhiri suratnya dengan tulisan tangannya sendiri. Dengan tangannya sendiri Paulus juga menulis pada akhir dalam beberapa suratnya (1Kor. 16:21; Flm. 19; Rm. 16:22; Kol. 4:18; 2 Tes. 3:17). Meski surat kepada jemaat di Kolose dan kepada jemaat di Tesalonika yang kedua masih diperdebatkan keasliannya sebagai surat yang ditulis oleh Paulus sendiri, namun tulisan tangan pada bagian akhir itu berfungsi untuk melegitimasi pengarangnya. Dalam surat Galatia, Paulus mengatakan bahwa ia menulis dengan tangannya sendiri dan dengan huruf yang besar-besar. Kata-kata ini memunculkan sebuah pertanyaan mengapa dan apa tujuan Paulus menulis dengan huruf-huruf besar? Huruf-huruf yang lebih besar itu sangat mungkin mirip dengan pemakaian huruf besar atau italik pada zaman sekarang untuk memastikan bahwa para pendengarnya tidak akan mengabaikan kata-kata penutupnya.[1] Penafsir lain mengatakan bahwa tulisan dengan huruf-huruf yang besar itu dimaksudkan untuk memberi tekanan, menggarisbawahi, dan memberi sorotan pada apa yang akan ditulisnya pada bagian penutup.[2] Dengan rumusan sedikit lain, penafsir lain lagi berpendapat huruf-huruf yang lebih besar itu 

1. Charles B. Cousar, Galatians: A Bible Commentary for teaching and Preaching (Atlanta: John Knox Press, 1982), 148. 
2. Richard N. Longenecker, Galatians: Word Biblical Commentary (Dallas: Word Books, 1990), 290.

dimaksudkan untuk menunjukkan bahwa Paulus kini meringkas dan mempertajam keseluruhan isi suratnya sehingga harus diberikan perhatian.[3]

Dakwaan bagi para lawan (ay. 12-13) 
Dalam bagian penutup suratnya, Paulus lagi-lagi melukiskan tiga karakter dari para lawan yang sebelumnya dilukiskannya sebagai saudara-saudara palsu dari Yerusalem yang memaksakan sunat kepada orang-orang bukan Yahudi (Gal. 2:3-4). Di sini para lawan itu tidak disebutkannya dengan nama, tetapi mereka hanya diidentifikasikan oleh motivasi dan tindakan-tindakan mereka. Pertama, mereka suka menonjolkan diri secara lahiriah (ay. 12a). Mereka pergi membawa kabar gembira dengan menaati hukum Taurat kepada orang-orang bukan Yahudi dengan maksud untuk menonjolkan diri mereka. Motivasi mereka sesungguhnya adalah hanya ingin mendapatkan prestise atau gengsi pribadi mereka sendiri. Kedua, mereka memaksakan sunat dengan maksud hanya supaya mereka lolos dari penganiayaan yang menanti orang-orang yang mewartakan salib Kristus (ay. 12b-c). Di sini ditampilkan motivasi lain mengapa mereka memaksakan sunat kepada orang bukan Yahudi yang percaya kepada Yesus. Motivasi mereka adalah supaya mereka lolos dari penganiayaan karena salib Kristus. Dengan memaksakan sunat kepada orang kristiani bukan Yahudi di Galatia, mereka membawa orang kristiani bukan Yahudi ke dalam lingkaran bangsa Yahudi sehingga membebaskan diri mereka sendiri dan orang kristiani Yahudi pada umumnya dari penganiayaan dari sesama Yahudi yang tidak beriman kepada Yesus sebagai Mesias (bdk. 1Tes. 2:14b-16). Ketiga, mereka memiliki sebuah keinginan untuk memegahkan diri ketika memaksakan sunat jemaat kristiani bukan Yahudi di Galatia (ay. 13c). Di sini Paulus menuduh bahwa motif utama mereka ketika memaksakan sunat kepada orang bukan Yahudi bukan untuk menjaga pelaksanaan hukum Taurat, tetapi hanya untuk mendapatkan kebanggaan bagi mereka sendiri sebagai misionaris yang berhasil. Motivasi sesungguhnya dari aktivitas mereka memaksakan sunat kepada orang kristiani bukan Yahudi di Galatia adalah untuk mendapatkan kebanggaan, kemuliaan, atau kemegahan diri sendiri (Yun. kaukhaomai). 

Bermegah dalam Salib Kristus dan tatanan dunia baru (ay. 14-15) 
Paulus secara dramatis mempertentangkan kebanggaan, kemegahan, dan kegembiraan para lawannya yang dianggapnya tidak sehat dengan kebanggaan, kemegahan, dan kegembiraan yang 

3. J. Louis Martyn, Galatians: A New Translation with Introduction and Commentary (New York: The Anchor Bible, Doubleday, 1997), 560. 
dipandangnya sehat dan benar. Pertentangan ini terungkap jelas dalam pernyataan berikut: “Tetapi aku sekali-kali tidak mau bermegah, selain dalam salib Tuhan kita Yesus Kristus, sebab olehnya dunia telah disalibkan bagiku dan aku bagi dunia. Sebab bersunat atau tidak bersunat tidak ada artinya, tetapi menjadi ciptaan baru, itulah yang ada artinya” (ay. 14-15). 
Dalam dua perikop yang bersifat otobiografis di tempat lain dalam surat-suratnya, Paulus menyebutkan sejumlah hal dalam hidupnya yang dapat menjadi alasan bagi dirinya untuk berbangga jika dipandang dari perspektif manusia semata. Pertama, dalam 2 Kor. 11:21b-29 ia berupaya untuk memperlihatkan kesian-siaan dari kebanggaan para pewarta lain, rasul-rasul palsu, pekerja-pekerja curang yang menyamar sebagai rasul-rasul Kristus dan yang menyesatkan jemaat dari kesetiaan yang sejati kepada Kristus dengan menampilkan daftar prestasinya sendiri yang jauh lebih unggul dari mereka. Daftar prestasinya itu ditampilkan dengan maksud untuk mempermalukan mereka. Namun, ia kemudian mengakhiri daftarnya dengan pernyataan, “Jika aku harus bermegah, maka aku akan bermegah atas kelemahanku” (2Kor. 11:30). Kedua, dalam Flp. 3:4-6 ia berupaya untuk melawan orang-orang Yahudi yang membanggakan keyahudian mereka dengan menyebutkan asal-usul atau silsilah keyahudiannya. Namun, ia kemudian mengakhirinya dengan pernyataan mengenai keiginannya yang jauh lebih besar, yakni mengenal Kristus dan mengalami-Nya dalam hidupnya yang dianggapnya lebih mulia dari semuanya (Flp. 3:7-14). Mengenal Kristus dan mengalami-Nya dalam hidup telah mengubahnya secara radikal dalam menilai sesuatu. “Sebab itu, kami tidak lagi menilai seorang pun juga menurut ukuran manusia. Jika kami pernah menilai Kristus menurut ukuran manusia, sekarang kami tidak lagi menilai-Nya demikian” (2 Kor. 5:16). Dari kedua perikop ini kita bisa mengetahui apa yang dibanggakannya. Sebagai seorang kristiani, ia tidak mau berbangga atau bermegah dalam hal-hal fisik, jasmaniah, lahiriah seperti prestasi manusiawi dan keberhasilan dalam perlayanan. Ia hanya mau berbangga dan bermegah dalam hal-hal yang berkaitan dengan salib Kristus. Dasar kebanggan dan kemegahannya tidak terletak pada prestasinya sendiri, tetapi pada sebuah peristiwa yang terpisah dari dirinya, yakni Kristus yang tersalib (Gal. 3:1). Ia tidak membanggakan dirinya. Ia dengan penuh percaya diri membanggakan Tuhan yang tersalib (1Kor. 1:31). 
Mengapa Paulus hanya mau bermegah dan berbangga dalam salib Kristus? Ada dua alasan yang dikemukan. Pertama, “olehnya dunia telah disalibkan bagiku dan aku bagi dunia” (ay. 14b). Dengan alasan ini Paulus mewartakan salib sebagai fondasi dari keyakinannya karena salib – bukan hukum Taurat – diyakini sebagai peristiwa yang menentukan bagi seluruh alam semesta dan yang mempengaruhi segala sesuatu setelahnya. Menempatkan persoalan ini dalam sebuah kesaksian personalnya, Paulus berbicara tentang peristiwa yang menentukan ini dengan mengatakan bahwa melalui salib ia sendiri menderita kehilangan kosmos dan melihat kelahiran kosmos yang lain, yakni ciptaan baru. Selain itu, salib Kristus telah membawa penyaliban dirinya bagi dunia. Maka, ia menggunakan gambaran salib untuk menenkan pemisahan yang mematikan dari identitas dan hal-hal yang membanggakannya sebelumnya. Melalui peristiwa salib, Paulus tidak lagi dikenal oleh yang lain atas dasar tempatnya dalam dunia lama hukum Taurat (Gal. 1:12-16). Ia menjadi semakin aneh bagi para sahabatnya yang lama dan bagi semua orang yang hidup dalam dunia hukum Taurat sehingga dunia mereka sama seperti dunia mereka menjadi sesuatu yang asing baginya (bdk. 1Kot. 4:8-13). 
Kedua, “bersunat atau tidak bersunat tidak ada artinya, tetapi menjadi ciptaan baru, itulah yang ada artinya” (ay. 15). Dengan kematian Kristus, sekat dan jurang antara orang Yahudi dan Yunani, budak dan orang merdeka, laki-laki dan perempuan disalibkan sehingga muncullah ciptaan baru. Dalam pandangan Paulus, ciptaan dan dunia baru itu hanya mungkin terjadi dalam Kristus. Tatanan dunia baru tidak dapat dimengerti secara terpisah dari Kristus (bdk. 2 Kor. 5:7). Dalam konteks jemaat Galatia, ciptaan baru itu mengandung arti bahwa keselamatan tidak dicapai karena pelaksanaan hukum Taurat, tetapi karena Kristus yang disalibkan dan dibangkitkan oleh Allah dan bahwa perbedaan karena sunat dan tidak sunat tidak lagi diperhitungkan dalam tatanan dunia ciptaan baru. Dalam tatanan dunia ciptaan baru tidak ada orang Yahudi atau orang Yunani, tidak ada hamba atau orang merdeka, tidak ada laki-laki atau perempuan, karena kamu semua adalah satu di dalam Kristus Yesus (Gal 3:28). 

Berkat dan permohonan Paulus (ay. 16-18) 
Paulus memberi berkat bagi “semua orang yang memberi dirinya dipimpin oleh patokan ini.” Dalam Gal. 5:25 Paulus menggunakan kata kerja “memberi diri dipimpin oleh patokan atau mengikuti bimbingan dari” (Yun. Stoikhomen) untuk menasihati jemaat Galatia supaya secara konsisten menjalankan hidup harian mereka sesuai dengan bimbingan Roh yang telah ditempatkan oleh Allah dalam hati mereka. Paulus kini menggunakan kata kerja yang sama, tetapi dalam bentuk future tense (Yun. Stoikhesousin). Orang-orang yang memberi diri mereka dipimpin oleh tatanan dunia baru dimohonkannya damai sejahtera dan rahmat dari Allah. Permohonan untuk mendapatkan damai sejahtera dan rahmat dari Allah diikuti dengan sebuah permohonan yang terakhir bagi jemaat Galatia. Dalam beberapa hal, Paulus secara terbuka mengungkapkan kemarahannya terhadap para pengajar palsu dan jemaat Galatia yang mudah percaya kepada ajaran pengajar palsu (1:6; 3:1; 4:19; 5:12). Ia kini mendesak para pengajar palsu dan jemaat Galatia untuk tidak menyusahkannya karena pada tubuhnya ada tanda-tanda milik Yesus. Istilah tanda-tanda (Yun. stigmata) terkait erat dengan bekas luka yang telah diterimanya dari orang-orang yang menganiayanya karena mewartakan injil tentang Yesus yang tersalib (Gal. 5:11; 1Kor. 4:11; 2Kor. 6:4-5; 11:23-27; bdk. Kis. 16:22024).[4] Bekas luka karena dilempari batu oleh orang-orang bukan Yahudi dan karena dicambuk oleh orang Yahudi (2Kor. 11:26-27) dilihatnya sebagai tanda bahwa ia membawa di dalam tubuhnya luka-luka Kristus yang tersalib.Maka, bekas luka dalam tubuhnya dapat dilihat sebagai sebuah tempat di mana orang menemukan sebuah tanda dari tindakan penebus dalam dunia sekarang ini. 
Pernyataan Paulus bahwa pada tubuhnya ada tanda-tanda milik Yesus itu tidak dimaksudkan untuk mengundang rasa belas kasihan para lawannya dan jemaat Galatia. Sebaliknya, pernyataan itu menyoroti relasinya dengan Yesus dan status kerasulannya berasal dari Yesus. Pernyataan itu juga dimaksudkannya untuk memberikan sebuah peringatan bagi orang-orang Yahudi yang memaksakan sunat bagi jemaatnya sebab apa yang terjadi pada jemaatnya mempengaruhinya secara pribadi sebagai rasul dan pewarta di Galatia. Maka, ia mengingatkan bahwa mereka untuk tidak terus menerus menyusahkannya karena ia milik Kristus dan berada dalam perlindungan-Nya. Orang-orang yang terus menerus mengusiknya akan dihakimi dan dibalas oleh Kristus sendiri. 
Permohonan untuk tidak terus mengusiknya disusulkan dengan berkat penutup. Berkat ini tidak hanya ditujukan kepada jemaat Galatia, tetapi juga bagi kita semua yang membaca suratnya. 

4. Dalam dunia kuno, istilah tanda-tanda (Yun. ta stigmata) umum dipakai untuk mengacu kepada tato religius atau cap bagi budak. Dalam arus pemahaman inilah beberapa orang beranggapan bahwa jemaat kristiani perdana pada umumnya dan Paulus khususnya memakai tanda berupa tato atau cap religius untuk menunjukkan bahwa mereka adalah orang-orang kristiani. Mereka mungkin memakai tanda huruf Yunani X untuk menunjuk kepada Kristus (Yun. Khristos). Namun, apa yang ada dalam pikiran Paulus ketika menggunakan istilah stigmata adalalah bekas luka dan noda-noda yang ada pada tubuhnya karena dampak dari penderitaannya sebagai seorang rasul (bdk. 2Kor. 6:4-6; 11:23-30); Gal. 4:13-14).

Anugerah Tuhan kita Yesus Kristus menyertai roh kamu, Saudara-saudara! Ami” (ay. 18). Berkat penutup ini mengikuti pola yang umumnya tampil dalam surat-surat yang lain (1Kor 16:23; Flp 4:23; 1Tes 5:28; 2Tes 3:18; Flm 25; bdk Ef 6:24; Kol 4:18). Hanya yang berbeda dalam surat Galatia adalah tambahan sapaan “saudara-saudara” (Yun. adelphoi) yang menyoroti perasaan kasih sayangnya bagi jemaat Galatia yang baru saja bertobat bahkan di tengah-tengah nada suratnya yang keras dan tegas dan tambahan kata amin yang tidak pernah muncul dalam rumusan berkat penutup dalam surat-suratnya yang lain. Dengan kata amin, Paulus berharap bahwa ketika mendengarkan suratnya dibacakan secara lantang dalam liturgi gereja, jemaat Galatia akan sama-sama berseru amin yang artinya setuju pada apa yang telah dikatakannya dalam suratnya.

Amanat 
Kita semua tentu saja memiliki banyak alasan untuk bisa berbangga dengan diri dan dengan apa yang telah kita lakukan. Jika kita sungguh-sungguh melihat diri pasti ada sesuatu yang masih bisa dibanggakan dan masih ada orang yang bangga pada diri kita dengan segala keterbatasan yang ada selama kita melakukan hal-hal yang baik. Tidak peduli apakah kita lemah, tidak pandai, tidak cantik atau ganteng, tidak kaya, dan bahkan cacat, kita semua pasti ada sesuatu yang masih bisa dibanggakan. Namun, alasan-alasan untuk berbangga itu tidak dimaksudkan untuk menyombongkan diri, tetapi untuk membesarkan hati, menguatkan diri, mensyukuri karunia Allah. Alasan untuk berbangga semacam ini dapat dilihat sebagai suatu bentuk ungkapan lain dari rasa terima kasih dan syukur atas anugerah Allah. 

Dalam bacaan hari kita menemukan satu-satunya alasan bagi Paulus untuk berbangga. Ia bermegah atau berbangga hanya dalam salib Tuhan kita Yesus Kristus. “Tetapi aku sekali-kali tidak mau bermegah, selain dalam salib Tuhan kita Yesus Kristus” (Gal. 6:14). Bagi Paulus, satu-satunya alasan yang sah bagi seorang kristiani untuk berbangga atau bermegah diri adalah “dalam Tuhan”; “di dalam Yesus Kristus.” Ia tidak mempunyai alasan untuk berbangga dengan apa yang telah diperbuat atau dicapainya sebab ia dibenarkan dan diselamatkan karena rahmat melalui penebusan yang dilakukan oleh Yesus Kristus. Maka, apa yang telah dicapai atau dilakukan oleh manusia tidak lagi dapat menjadi alasan bermegah. “Jika demikian, apa dasarnya untuk bermegah? Tidak ada! Berdasarkan azas apa? Berdasarkan azas perbuatankah? Bukan, melainkan berdasarkan azas iman! Karena kami yakin bahwa manusia dibenarkan karena iman, bukan karena melakukan hukum Taurat” (Rm. 3:27-28). “Sebab karena anugerah kamu diselamatkan oleh iman; itu bukan hasil usahamu, tetapi pemberian Allah, itu bukan hasil pekerjaanmu, supaya tidak ada orang yang memegahkan diri” (Ef. 2:8-9). 

*Pertanyaan Pendalaman* 
1. Siapa yang menyebabkan munculnya krisis di sejumlah komunitas kristiani di Galatia Selatan? 

2. Bagaimana Paulus menanggapinya? 

3. Mengapa Paulus hanya mau bermegah dalam salib Tuhan kita Yesus Kristus? 

4. “Tanda-tanda milik Yesus” yang mana yang ada pada diri Paulus? 

5. Bagaimana kita dapat meneladani Paulus yang “bermegah dalam salib Tuhan kita Yesus Kristus?”  

Selasa, Maret 19, 2013

IMAM TUHAN 
Alfons Jehadut 
 
Ketika hadir di gereja untuk merayakan ekaristi atau perayaan liturgis lainnya kita menemukan seorang imam. Keberadaan seorang imam inilah yang mendorong saya bertanya tentang apa kitab suci seputar keberadaannya. Pertanyaan itu ternyata tidak mudah dijawab. Kesulitan itu semakin disadari ketika ingin mengetahui asal-usul dan perkembangan jabatan imam dalam agama Yahudi. Alasannya karena para penulis kitab suci lebih berkonsentrasi pada padangan mereka tentang peran yang seharusnya dimainkan oleh imam daripada apa yang sesuangguhnya terjadi pada masa lalu. Itulah sebabnya, saya membatasi diri untuk menulis tentang empat hal mendasar yang kiranya perlu diketahui tentang imam. Pertama, istilah yang digunakan untuk imam. Kedua, imam dan suku Lewi. Ketiga, fungsi dan peran yang dimainkan oleh imam. Keempat, Yesus imam agung dan imamat kristiani. 

Imam: Kohen, Hiereus 
Kata Ibrani yang digunakan untuk imam TUHAN adalah kohen. Kata kohen itu pula digunakan untuk imam dewa-dewi bangsa-bangsa asing seperti Mesir (Kej. 41:45; 47:22), Filistin (1Sam. 5:5; 6:2), Moab (Yer. 48:7), dan Amon (Yer. 49:3). Kata kohen yang berasal dari akar kata khn muncul sekitar delapan ratus kali dalam Perjanjian Lama. Asal usul kata khn itu banyak diperdebatan dan tidak dapat dipastikan. Ada yang mengaitkannya dengan kata kerja kanu dalam bahasa Akkad, bahasa yang digunakan di Mesopotamia kuno, yang artinya membungkuk, menghormati. Namun, ada juga yang mengaitkan asal usulnya dengan dengan akar kata bahasa Semit kwn, yang artinya berdiri tegak lurus, berlaku jujur. 

Septugianta (LXX) biasanya menerjemahkan kata kohen dalam bahasa Ibrani untuk imam dengan hiereus. Variasi dari kata yang sama digunakan lebih dari 150 kali dalam Perjanjian Baru untuk imam, imam besar, imamat, tindakan seorang imam, dan kegiatan yang berkaitan dengan imamat (misalnya Mat. 2:4; 8:4; Mrk. 1:44; 15:1; Luk. 1:9; Yoh. 1:19; Kis. 9:1; Ibr. 7:11; 1Ptr. 2:5; Why. 1:6; 5:10). Dalam Perjanjian baru, kata hiereus yang diterjemahkan imam muncul tiga puluh satu kali (31x) dan kata majemuk archiereus yang terjemahkan ‘‘imam besar“ muncul seratus dua puluh dua kali (122x). Selain itu, ada dua kata benda abstrak yang biasanya diterjemahkan imam yang masing-masing muncul sebanyak dua kali (2x), yakni hierateia (Luk. 1:9; Ibr. 7:5) dan hierateuma (1Ptr. 2:5, 9) 

Jabatan imam dan Suku Lewi 
Sebelum kita menelusuri jabatan imam dan suku Lewi, kita perlu mulai dengan menegaskan bahwa pada zaman yang berbeda dalam periode kitab suci peran imam diisi dengan cara-cara yang berbeda. Bapa-bapa bangsa Israel sebagai kepala keluarga atau kelompok-kelompok suku menjalankan apa yang mungkin kita anggap menjadi fungsi dan peran imam seperti mempersembahkan kurban (Kej 22; 31:54, 46:1). Kitab Kejadian tidak pernah menyebutkan imam, kecuali ketika mengacu kepada bangsa-bangsa asing yang hidupnya sudah menetap, tidak berpindah-pindah (misalnya, imam Mesir disebut dalam Kej. 41:45; 47: 22 dan raja-imam Salem yang bernama Melkisedek disebut dalam Kej 14:18). Jadi, kita dapat mengatakan bahwa jabatan imamat baru muncul setelah organisasi sosial kemasyarakatan berkembang jauh.[1]

Pada zaman yang lebih kemudian ketika organisasi sosial Israel mulai bertumbuh dan berkembang muncul jabatan imam. Beberapa orang laki-laki mulai membaktikan seluruh atau sebagian besar waktu mereka untuk menjadi imam. Perkembangan ini diilustrasikan dalam kisah Mikha yang membangun kuilnya sendiri dan menjadikan salah seorang anak laki-laki menjadi seorang iman tetapi anaknya kemudian diganti dengan seorang profesional dari suku Lewi yang menyebabkan jabatan iman pada akhirnya menjadi hak istimewa suku Lewi. Kemungkinan besar kelompok imam profesional yang terorganisasir baru ada di Israel sejak Israel masuk ke tanah terjanji.[2]

Ketika orang Israel berada di gunung Sinai, Allah menawarkan dan menjanjikan kepada mereka suatu kerajaan imam dan bangsa yang kudus (Kel. 19:5-6) jika mereka menaati firman Tuhan, hidup menurut petunjuk yang nanti diberikan dalam sepuluh perintah. Sebagai kerajaan imam, semua orang Israel memiliki akses kepada Allah dan mereka melayani sebagai imam bagi bangsa-bangsa lain. Mereka bisa berperan sebagai imam bagi bangsa-bangsa lain hanya ketika hidup suci. Itulah sebabnya Allah menjadikan mereka sebagai suatu bangsa yang kudus, bangsa yang dikhususkan bagi Allah dan dibedakan dari bangsa lain untuk memuji dan melayani Allah. Namun, tawaran dan janji ini tidak dimaksudkan untuk mencegah dan menentang perkembangan jabatan imam menjadi hak istimewa suku tertentu.

[1] Roland de Vaux, Ancient Israel: Its Life and Institutions (London: Darton, Longman & Todd, 1988), 345 
[2] I. Suharyo, Mengenal Alam Hidup Perjanjian Lama (Yogyakarta: Kanisius, 1993)

Sayangnya, tawaran dan janji kerajaan imam itu terganjal karena orang Israel tidak setia pada perintah dan ketetapan dalam perjanjian Sinai. Bangsa Israel memberontak dengan membuat patung anak lembu emas untuk disembah ketika Musa berada di Gunung Sinai (Kel. 32). Hanya suku Lewi yang setia kepada Allah dan tidak berpartisipasi dalam penyembahan berhala dan malah membunuh banyak orang yang terlibat dalam penyembahan berhala (Kel. 32:25-29).Itulah sebabnya, Suku Lewi, keturunan dari Levi, salah seorang anak Yakub (Kej. 29:34) dikhususkan untuk menjalankan pelayanan di tempat-tempat suci (1 Raj. 8:4, Ezr 2:70) sebagai imam. Suku Lewi, yang tidak mendapat tanah warisan sebagai milik pusaka mereka sendiri (Bil. 18:8; 18:21; Ul. 12), dikhususkan dan ditetapkan untuk menjalan pelayanan di tempat-tempat suci setelah insiden pembuatan dan penyembahan patung lembu emas. Musa menabiskan mereka untuk melayani Allah, yakni untuk menjadi imam. “Baktikanlah dirimu mulai hari ini kepada TUHAN, masing-masing dengan membayarkan jiwa anaknya laki-laki dan saudaranya -- yakni supaya kamu diberi berkat pada hari ini“ (Kel. 32:29).

Meskipun semua imam berasal dari suku Lewi, namun tidak semua anggota suku Lewi bisa menjadi imam. Dengan kata lain, menjadi anggota suku Lewi itu tidak secara otomatis membuat seseorang menjadi imam. Hanya orang-orang Lewi dari keluarga Harun yang memenuhi kualifikasi tidak memiliki cacat fisik bisa menjadi imam (Im. 21:18-20). Anggota suku Lewi yang tidak berasal dari keluarga Harun hanya memegang peran pembantu di tempat-tempat suci. Mereka diberi peran untuk mengurusi hal-hal jasmaniah di kenisah seperti memelihara peralatan (Bil. 3:8), menjaga kebersihan (1Taw. 23:28), menyanyi (Ezr. 3:10; Neh. 12:27; 1Taw. 6:31).

Fungsi dan peran imam 
Berkat Musa bagi suku Lewi dalam Ul. 33:8-11 melukiskan tiga fungsi seorang imam Israel yang tampaknya disusun menurut skala prioritas.[3] Pertama, mereka bertugas mengkonsultasikan tentang kehendak Allah di tempat suci melalui tumim dan urim dengan maksud untuk menjawab persoalan yang ditanyakan oleh umat Israel (Ul. 33:8). Urim dan Tumim adalah dua benda yang kemungkinan besar batu yang digunakan oleh imam untuk menanyakan dan menentukan kehendak Allah (Kel. 28:30; Im. 8:8; 1Sam. 14:41-42. Tidak diketahui secara pasti bagaimana dua benda itu digunakan. Namun, 1 Sam. 14:42 memberi indikasi bahwa pemakaian dua benda itu disamakan dengan “pembuangan undi” dan kedua benda itu ditaruh dalam kantong tutup dada
[3] Raymond E. Brown, Priest and Bishop: Biblical Reflections (Oregon: Wipf and Stock publisher, 1999), 10-13. 
yang dikenakan pada imam besar (Kel. 28:30). Karena penggunaannya disamakan dengan pembuangan undi maka disimpulkan bahwa urim dan tumim merupakan dadu yang terbuat dari batu yang sisinya ditandai dengan “ya” dan sisi lainnya ditandai dengan “tidak.”

Kedua, mereka bertugas mengajar dan meneruskan Taurat atau hukum Tuhan kepada umat. “mereka mengajarkan peraturan-peraturan-Mu kepada Yakub, hukum-Mu kepada Israel” (Ul. 33:10). Taurat atau hukum Tuhan yang diajarkan itu memuat instruksi singkat mengenai topik tertentu, misalnya, peraturan praktis dalam bertindak atau lebih tepatnya bagaimana melakukan ibadat. Mereka memberi petunjuk tentang apa yang tahir dan apa yang najis secara kultis (Im. 10:10-11). Namun, tugas pengajaran seorang imam itu sesungguhnya tidak hanya terbatas pada hal-hal yang bersifat kultis. Kompentensi seorang imam dalam mengajar melampaui hal-hal yang bersifat kulits. Taurat Tuhan yang diajarkan secara umumnya mengatur tentang bagaimana manusia berelasi dengan Allah. Imam juga bertugas menafsirkan sabda Allah dengan menyampaikan nubuat (Hak. 18:5; 1 Sam 14:41) meski setelah pembuangan peran menafsirkan hukum Taurat ini bergeser kepada para ahli Taurat.

Ketiga, mereka bertugas untuk mempersembahkan kurban kepada Allah. Tugas ini ditampilkan pada terakhir dalam berkat yang disampaikan oleh Musa bagi suku Lewi. “Mereka menaruh ukupan wangi-wangian di depan-Mu dan korban yang terbakar seluruhnya di atas mezbah-Mu” (Ul. 33:10). Mempersembahkan kurban itu dipandang sebagai peran yang paling mendasar dari seorang imam (bdk. Ibr. 5:1; 8:3). Namun, membunuh hewan kurban itu tidak menjadi previlese seorang imam sebagaimana terungkap dalam perintah Musa kepada beberapa anak muda untuk membunuh hewan kurban (Kel. 24:3-8). Peraturan tentang kurban mengatur secara ekplisit bahwa hewan kurban dibunuh oleh orang yang mempersembahkan kurban (Im. 1:5; 3:2, 8, 13; 4:24, 29, 33). Peran khusus imam baru dimulai ketika mereka harus menggunakan darah yang dianggap sebagai bagian yang terkudus dari hewan kurban (Im. 17:11, 14) dan harus diperciki di altar. Seorang imam juga harus mempersembahkan dan menempatkan di atas altar bagian dari kurban persembahan yang menjadi milik Allah.

Dari tiga tugas dan tanggung jawab imam di atas kita melihat peran imam sebagai mediator, pengantara. Ketika menjalankan tugas dan tanggung jawab menyampaikan nubuat, mengajar serta meneruskan Taurat Tuhan, imam mewakili Allah di depan manusia. Ketika menjalankan tugas dan tanggung jawab mengambil darah untuk diperciki di altar dan membawa daging kurban ke altar, imam mewakili manusia di hadapan Allah. Di sini imam berperan sebagai pengantara atau mediator antara Allah dan manusia. Imam dapat berbicara kepada Allah demi umat dan kepada umat atas nama Allah. Imam berperan dan berfungsi untuk menjembatani jurang yang memisahkan Allah yang kudus dan manusia yang penuh dengan dosa.

Yesus Imam Agung dan Imamat kristiani 
Dalam sejumlah perikop dalam Perjanjian Baru, Yesus mengkritik para imam Israel. Dalam perumpamaan tentang Samaria yang baik hati (Luk 10:29-37), imam dan Lewi dikiritik karena mereka memberikan teladan yang buruk dengan melewati begitu saja seorang yang membutuhkan pertolongan. Mereka juga dikritik secara tidak langsung dalam kata-kata Yesus yang dikutip dari nabi Hosea: “Yang Kukehendaki ialah belas kasihan dan bukan persembahan” (Mat 12:7). Namun, ada juga sejumlah teks yang menampilkan bahwa Yesus menerima peran para imam dalam menafsirkan hukum Taurat, misalanya, ketika mengutus orang-orang yang telah disembuhkan untuk memperlihatkan diri mereka kepada para imam (Mark 1:44; Luk 17:14).

Meski ada sejumlah perikop yang berbicara tentang imam, namun perlu disadari bahwa tidak ada seorang kristiani yang ditunjuk secara khusus sebagai imam dalam periode Perjanjian Baru. Pemakaian istilah imam untuk mengacu kepada seorang yang ditahbiskan untuk menjalankan pelayanan khusus yang dibedakan dari awam itu pula tidak ditemukan dalam periode Perjanjian Baru. Mengapa tidak ada seorang yang ditunjuk sebagai imam dalam periode Perjanjian Baru? Sekurang-kurangnya ada tiga jawaban yang ditawarkan. Pertama, kurban Kristus dilakukan hanya sekali untuk selama-lamanya (Ibr. 10:12-14) sehingga tidak perlu lagi ada seorang yang ditunjuk secara khusus untuk menjadi imam. Yesus adalah seorang imam yang telah menggantikan imam dan kurban Israel dengan mempersembahkan diri-Nya di kayu salib sekali untuk selama-lama dalam rangka menebus dosa-dosa manusia. Kurban darah Yesus di kayu salib itu berdaya efektif untuk menebus dosa semua orang dari segala zaman sehingga tidak perlu dilakukan secara berulang-ulang kali dan karena itu tidak perlu ada lagi imam yang ditunjuk untuk mempersembahkan kurban penebusan dosa. Kedua, semua orang kristiani dipandang sebagai iman sehingga tidak perlu ada lagi seorang yang ditunjuk secara khusus menjadi imam untuk mempersembahkan kurban. Dasar biblis argumen ini ditemukan dalam teks yang berbicara tentang Israel sebagai “kerajaan imam” (Kel. 19:6) yang disoroti lagi dalam Perjanjian Baru.

Dalam 1 Ptr. 2:9, orang kristiani disapa sebagai “bangsa yang terpilih, imamat yang rajani, bangsa yang kudus, umat kepunyaan Allah sendiri” (bdk. Why. 1:6; 5:10; 20:6). Ketiga, para rasul yang memimpin perayaan Ekaristi adalah imam, tetapi tidak menggunakan nama imam sebab terlalu terkait erat dengan imam Yahudi yang melayani kurban berdarah di bait Allah. Para rasul itu memang ditugaskan untuk memimpin perayaan ekaristi sebagaimana tercatat dalam perintah Yesus kepada mereka pada waktu perjamuan terakhir. “Perbuatlah ini menjadi peringatan akan Aku” (Luk. 22:19).

Satu-satunya penulis Perjanjian Baru yang memakai istilah imam untuk pribadi dan karya Yesus sebagai Kristus adalah penulis surat Ibrani. Penulis surat Ibrani melukiskan Yesus sebagai “Imam Besar Agung, yang telah melintasi semua langit” (Ibr. 4:14), yang kurban-Nya sempurna dan abadi (Ibr. 5:9; 7:24) sehingga tidak perlu lagi mempersembahkan kurban apapun (Ibr. 7:27). Ia juga mengetahui bahwa Yesus tidak berasal dari garis keturunan imam. Imamat Israel berasal diturunkan dari suku Lewi terutama dari keturunan Harun dan tidak ada imamat menurut peraturan Melkisedek sehingga Yesus tidak memenuhi syarat untuk menjadi imam Israel (Ibr. 7:13-14). Meski tidak memenuhi syarat menurut imamat Israel, namun penulis surat Ibrani memperlihatkan bahwa Yesus memenuhi syarat menjadi seorang imam dengan melihat asal-usul imamat-Nya menurut peraturan Melkisedek.

Dari mana pemahaman penulis surat Ibrani tentang imamat Yesus menurut peraturan Melkisedek? Ia tampaknya mengangkatnya dari Mazmur. “TUHAN telah bersumpah, dan Ia tidak akan menyesal: ‘Engkau adalah imam untuk selama-lamanya, menurut Melkisedek’” (Mzm. 110:4). Secara kesuruhan, Mazmur ini biasanya digunakan dalam Perjanjian Lama untuk penobatan Tuhan yang bangkit sebagai Mesias. Dalam konteks keseluruhan inilah penulis Ibrani tampaknya mengambil kesimpulan bahwa seorang yang duduk di sisi kanan Allah sebagai Mesias (Mzm. 110:1) adalah juga seorang imam menurut peraturan Melkisedek (Mzm. 110:4; Ibr. 5:10, 6:20).

Bagaimana dan mengapa Yesus disebut sebagai imam besar menurut peraturan Melkisedek? Penulis Ibrani menjelaskan dalam Ibr. 7:1-28 dalam dua bagian. Pertama, ia berargumen bahwa Melkisedek lebih unggul dari Abraham dan karena itu lebih unggul pula dari keturunan imam Lewi Abraham mengakui keunggulan Melkisedek di atas dirinya dan semua keturunannya (ay. 1-10). Kedua, ia menjelaskan mengapa perlu menggantikan imamat suku Lewi dengan imam menurut peraturan Melkisedek (ay. 11-28). Alasannya, imam suku Lewi tidak bisa mencapai kesempurnaan sama seperti hukum Taurat tidak bisa membawa kesempurnaan.

Terlepas dari Mzm 110:4, Melkisedek hanya muncul sekali di tempat lain dalam Perjanjian Lama, yakni dalam kisah Kej. 14:17-20. Dalam perikop ini Melkisedek diidentifikasi sebagai raja Salem (yang diidentifikasi oleh Mzm 76:2 sebagai Yerusalem) dan sebagai imam Allah Yang Mahatinggi. Penulis Ibrani memakai fakta bahwa kisah kitab Kejadian yang tidak menampilkan silsilah Melkisedek sehingga Melkisedek dianggapnya tidak berbapa, tidak beribu, tidak bersilsilah, harinya tidak berawal dan hidupnya tidak berkesudahan, dan karena ia dijadikan sama dengan Anak Allah, ia tetap menjadi imam sampai selama-lamanya (Ibr. 7:3). Ia juga berkesimpulan bahwa Melkisedek lebih tinggi dari Abraham karena Abraham diberkati oleh Melkisedek (7:7). Karena Melkisedek lebih tinggi dari Abraham, Melkisedek dianggapnya lebih tinggi dari Lewi dan imam keturunannya.

Selain dipakai untuk menggambarkan pribadi dan karya Yesus, istilah imam (Yun.hierateuma) dipakai pula untuk para pengikut Yesus dalam surat Petrus (1Ptr. 2:5, 9; bdk Why. 1:6, 5:10, 20:6). Namun, baik penulis Petrus maupun kitab Wahyu memakai istilah imamat rajawi atau kerajaan imam dalam pengertian kiasan atau simbolis. Istilah itu tidak dipakai untuk menjelaskan bahwa semua orang kristiani dipandang sebagai imam sehingga tidak perlu imamat khusus. Istilah imamat rajawi-kerajaan imam bagi orang kristiani dipahami dengan cara yang sama seperti orang lsrael memahami kiasan kerajaan imam dalam Kel. 19:6. Orang Israel memahami istilah itu dalam konteks perjanjian dengan Allah. Karena umat Israel diikat dengan Allah melalui sebuah relasi perjanjian yang khusus, maka mereka dipanggil menjadi umat yang kudus seperti imam. Sama seperti umat Israel dipanggil untuk hidup kudus seperti imam, demikian pula umat kristiani dipanggil untuk mempersembahkan persembahan rohani, sebuah kiasan untuk pola hidup yang suci. Maka, istilah kerajaan imam atau imamat rajawi itu tidak pertama-tama berkaitan dengan fungsi imam dalam ibadat kurban tetapi dengan pola hidup suci.

Sumber-sumber bacaan 
*Brown, Raymond E. Priest and Bishop: Biblical Reflections. Eugene, Oregon: Wipf and Stock Publisher, 1997. 
*de Vaux, Roland. Ancient Israel: Its Life and Institutions. London: Darton, Longman & Todd, 1988 
*Ermatinger, James W. Daily Life in New Testament. USA: Greenwood Press, 2008. 
*Kugler, Robert. “Priest and Levites” dalam The New Interpreter’s Dictionary of the Bible. 
*Nashville: Abingdon Press, 2009. 
*Matera, Frank J. New Testament Theology: Exploring Diversity and Unity. 
*Louisville: Westminster John Knox Press, 2007. 90