Kamis, Februari 25, 2010

Senandung Mazmur

TIDAK ADA ALASAN UNTUK TIDAK BERSYUKUR
Jarot Hadianto

“Bersyukurlah kepada TUHAN, sebab Ia baik!” (Mzm. 118:1)

Dalam doa-doanya, sering kali manusia menyerbu Tuhan dengan banyak permohonan. Semua diminta dari-Nya, mulai dari hal-hal yang penting dan mendesak (mohon disembuhkan dari penyakit yang berat, misalnya), sampai pada hal-hal sepele yang sebenarnya bisa diusahakan sendiri (misalnya, mohon dibantu untuk menemukan uang seribu rupiah yang terselip entah di mana). Tak terbayangkan, betapa repotnya Tuhan mengurusi kita, orang-orang yang banyak maunya ini. Tapi ini tentu saja bukan gejala yang baru muncul. Buktinya, kitab Mazmur yang ditulis zaman dahulu kala pun didominasi oleh mazmur-mazmur permohonan.
Namun, tidak demikian halnya dengan Mzm. 118. Mazmur ini beda; bukan permohonan yang disampaikannya, melainkan puji syukur yang dipanjatkan dalam suatu ibadat yang meriah. Dari situ saja kita sudah dapat memetik sebuah pesan berharga: jangan hanya bisa menuntut; kita juga harus bisa bersyukur. Saya ingin sekali mengajak Anda sekalian untuk mengidungkan sekaligus mendalami makna mazmur yang indah ini.

Semua orang mesti bersyukur
Bersyukurlah kepada TUHAN, sebab Ia baik! Bahwasanya untuk selama-lamanya kasih setia-Nya. Biarlah Israel berkata: “Bahwasanya untuk selama-lamanya kasih setia-Nya!” Biarlah kaum Harun berkata: “Bahwasanya untuk selama-lamanya kasih setia-Nya!” Biarlah orang yang takut akan TUHAN berkata: “Bahwasanya untuk selama-lamanya kasih setia-Nya!”

Ajakan untuk bersyukur atas segala sesuatu yang terjadi dalam hidup kita menjadi pembuka Mzm. 118. Dasar dari ajakan ini adalah pengakuan bahwa Tuhan itu baik. Segala yang diciptakan-Nya baik, Ia juga menghendaki agar semua ciptaan-Nya hidup dalam keadaan baik. Karena itulah Ia melimpahi kita sekalian dengan berkat dan kasih setia. Dalam segala situasi, Ia mendampingi kita dan berkenan menghadirkan keselamatan bagi kita. Pemazmur sungguh mengimani hal itu. Ia mengajak Israel (umat Allah), kaum Harun (para imam), dan orang yang takut akan Tuhan (di luar dua kelompok yang disebut sebelumnya) untuk memiliki iman yang sama. “Semua orang, siapa saja,” demikian seru pemazmur, “hendaknya mensyukuri kebaikan Tuhan dan beriman kepada-Nya!”

Tiga kesaksian tentang kebaikan Tuhan

Tapi benarkah Tuhan itu baik? Mereka yang hidupnya penuh dengan kebahagiaan, berlimpah dari segi materi, dan disayangi orang-orang di sekitarnya dengan segera akan mengamininya. Namun, tidak demikian halnya dengan mereka yang hidupnya pahit dan penuh dengan penderitaan. Jumlah orang yang keadaannya demikian sangat besar, bahkan bisa jadi kita termasuk di dalamnya. Beban kehidupan yang berat membuat mereka sulit tersenyum. Masalah yang datang tak berkesudahan tidak membuahkan tawa, melainkan cucuran air mata. Seruan pemazmur pastilah akan mereka sambut dengan cibiran. Bersyukur atas kebaikan Tuhan? Kebaikan yang mana?
Sebelum kita ikut-ikutan pesimis memandang kehidupan ini, baiklah kita mendengar tiga kesaksian berikut, yang hendak menunjukkan bahwa kesulitan hidup bukanlah alasan untuk tidak bersyukur. Inilah tiga kesaksian dari orang-orang yang menjalani kehidupan yang tidak mudah. Pengalaman mereka begitu dekat dengan pengalaman kita sehari-hari. Yang mereka alami bahkan bisa jadi jauh lebih parah, sebab situasinya demikian kritis. Mereka terjepit, seakan-akan tak ada lagi jalan keluar. Tapi ternyata dugaan itu salah. Dalam situasi sulit, Tuhan hadir dan berkenan menyelamatkan mereka, memberi mereka kemenangan. Tindakan Tuhan itu sungguh dahsyat; kebaikan-Nya tiada tara. Orang-orang itu terharu dan mensyukuri kebaikan Tuhan tiada henti.

Dalam kesesakan aku telah berseru kepada TUHAN. TUHAN telah menjawab aku dengan memberi kelegaan. TUHAN di pihakku. Aku tidak akan takut. Apakah yang dapat dilakukan manusia terhadap aku? TUHAN di pihakku, menolong aku; aku akan memandang rendah mereka yang membenci aku. Lebih baik berlindung pada TUHAN dari pada percaya kepada manusia. Lebih baik berlindung pada TUHAN dari pada percaya kepada para bangsawan.

Kesaksian yang pertama disampaikan oleh seorang yang mengalami kesesakan hidup. Dengan sebab-sebab yang tidak dijelaskan, ia dibenci oleh orang lain. Karena itulah ia menderita, gerak-geriknya menjadi terbatas karena selalu ditanggapi secara negatif. Kepada siapa ia dapat mengadu? Apakah kepada para bangsawan, yang hartanya melimpah dan karenanya punya pengaruh yang kuat? Orang yang merasa diri hina ini memilih bersikap takwa; ia berserah diri kepada Tuhan. Iman itu ternyata tidak sia-sia. Dengan cara yang juga tidak dijelaskan – tapi yang pasti membuat orang itu terheran-heran – Tuhan menolong dia dan memberinya kelegaan. Ia pun bersukacita, sebab Tuhan senantiasa mendengarkan keluh kesah orang kecil dan lemah.

Segala bangsa mengelilingi aku -- demi nama TUHAN, sesungguhnya aku pukul mereka mundur. Mereka mengelilingi aku, ya mengelilingi aku -- demi nama TUHAN, sesungguhnya aku pukul mereka mundur. Mereka mengelilingi aku seperti lebah, mereka menyala-nyala seperti api duri, -- demi nama TUHAN, sesungguhnya aku pukul mereka mundur.

Kesaksian yang kedua cocok bila lahir dari pengalaman seorang raja atau panglima pasukan yang terjun di medan perang. Bangsa-bangsa bersekutu untuk menghancurkan dia. Pasukan musuh yang demikian kuat mengepung dia dan siap mencabut nyawanya. Mereka seperti lebah dengan sengatnya yang mematikan, atau seperti api yang menghanguskan. Baginya tak ada lagi jalan keluar. Dari sudut pandang manusia, raja atau panglima itu sudah pasti akan hancur remuk, tewas di tangan musuh dengan cara yang mengenaskan.
Namun, betapapun banyak pasukan musuh, betapapun kuatnya mereka, pahlawan kita ini tidak merasa gentar. Ia boleh saja dipandang kecil dan lemah, tapi dengan keyakinan yang teguh akan penyertaan Tuhan, ia maju menyongsong musuh. Dan, penyertaan Tuhan memang terbukti bersamanya. Musuh yang hebat itu akhirnya takluk kepadanya. Pengalaman ini mengingatkan kita pada kisah Daud dan Goliat (lih. 1Sam. 17). Daud adalah seorang muda yang tak punya pengalaman perang. Berhadapan dengan Goliat yang perkasa, ia berseru, “Engkau mendatangi aku dengan pedang dan tombak dan lembing, tetapi aku mendatangi engkau dengan nama TUHAN semesta alam…” (1Sam 17:45). Dan, Goliat pun dikalahkannya.

Aku ditolak dengan hebat sampai jatuh, tetapi TUHAN menolong aku. TUHAN itu kekuatanku dan mazmurku; Ia telah menjadi keselamatanku. Suara sorak-sorai dan kemenangan di kemah orang-orang benar: “Tangan kanan TUHAN melakukan keperkasaan, tangan kanan TUHAN berkuasa meninggikan, tangan kanan TUHAN melakukan keperkasaan!” Aku tidak akan mati, tetapi hidup, dan aku akan menceritakan perbuatan-perbuatan TUHAN. TUHAN telah menghajar aku dengan keras, tetapi Ia tidak menyerahkan aku kepada maut.

Kesaksian yang ketiga agaknya disampaikan oleh seorang yang bukan hanya dibenci, tapi lebih lagi juga ditolak oleh orang lain. Padahal, tak sedikit pun kesalahan ada pada dirinya. Orang-orang menolaknya begitu hebat, sampai-sampai ia jatuh dan tak dapat bangun lagi. Ini mau menggambarkan bahwa untuk bertahan hidup, orang ini sudah berada di batas kemampuannya. Tinggal selangkah lagi, ia akan jatuh ke tangan maut.
Namun hal itu tidak terjadi. Pada saat yang genting, Tuhan mengulurkan tangan dan menolongnya. Penyelamatan Tuhan sungguh luar biasa, hati orang ini pun bersukacita karenanya. Ia memuji-muji keperkasaan Tuhan dengan menyanyikan sebuah lagu, yakni lagu yang dulu dinyanyikan Musa setelah memimpin bangsa Israel menyeberangi Laut Teberau (Kel. 15:1-21). Pengalaman diselamatkan Tuhan dihayati orang ini sebagai panggilan untuk menjadi saksi kebaikan-Nya. Ia bertekad untuk terus menceritakan perbuatan-perbuatan Tuhan kepada orang lain dengan harapan agar kasih setia Tuhan itu dirasakan juga oleh mereka.

Bukakanlah aku pintu gerbang kebenaran, aku hendak masuk ke dalamnya, hendak mengucap syukur kepada TUHAN. Inilah pintu gerbang TUHAN, orang-orang benar akan masuk ke dalamnya. Aku bersyukur kepada-Mu, sebab Engkau telah menjawab aku dan telah menjadi keselamatanku.

Banyak orang memohon-mohon bantuan Tuhan, tapi setelah permohonan itu dikabulkan, Tuhan lalu dilupakan begitu saja. Yang begitu itu adalah model orang yang gampang meminta, tapi sulit bersyukur. Tidak demikian halnya dengan orang-orang yang kesaksiannya telah kita dengar di atas. Kebaikan Tuhan meresap dalam hati mereka dan – karena begitu luar biasa – akan mereka ingat untuk selamanya. Mereka pun menghadap Tuhan di Bait Allah untuk memanjatkan syukur. Syukur bahwa Tuhan peduli kepada orang-orang yang kecil dan lemah; syukur bahwa Tuhan sudi membebaskan mereka dari duka, derita, sengsara, dan ancaman maut. Dengan itu mereka bersaksi bahwa situasi sesulit apapun tidak menjadi halangan bagi manusia untuk bersyukur. Situasi yang sulit justru menjadi “celah” bagi Tuhan untuk menunjukkan kekuasaan dan kebaikan hati-Nya!

Kisah tentang batu penjuru
Batu yang dibuang oleh tukang-tukang bangunan telah menjadi batu penjuru. Hal itu terjadi dari pihak TUHAN, suatu perbuatan ajaib di mata kita.

Masih dalam konteks mengucap syukur, terungkaplah sebaris kalimat yang di kemudian hari menjadi sangat terkenal: “Batu yang dibuang oleh tukang-tukang bangunan telah menjadi batu penjuru.” Orang-orang yang dulunya bernasib malang itu menggambarkan diri mereka sebagai batu yang dibuang tukang-tukang bangunan, yakni masyarakat di sekitarnya. Tukang-tukang bangunan membuang batu yang menurut pandangan mereka rapuh, mudah pecah, dan tidak berharga. Tapi Tuhan punya pendapat berbeda. Diambil-Nya batu yang tercampak itu, lalu dijadikan-Nya batu penjuru, batu yang membuat sebuah bangunan dapat berdiri dengan kokoh. Sudut pandang manusia rupanya berbeda dengan sudut pandang Allah. Yang tidak berharga di mata manusia, justru bernilai tinggi di hadapan-Nya.
Perjanjian Baru sangat menggemari ungkapan tersebut di atas dan menerapkannya pada diri Yesus (lih. Mat. 21:42; Mrk. 12:10; Luk. 20:17; Kis. 4:11; Ef. 2:20; 1Ptr. 2:7). Memang secara keseluruhan, Mzm. 118 adalah salah satu teks Perjanjian Lama yang membantu para murid dan segenap pengikut Yesus untuk memahami sengsara, wafat, dan kebangkitan-Nya. Gereja memandang Mzm. 118 sebagai “Mazmur Paskah” atau “Mazmur Kebangkitan”. Mazmur ini, menurut Gereja, mengungkapkan bagaimana dalam diri Yesus Kristus, Allah mengubah derita dan kematian menjadi sukacita yang penuh dan melimpah.
Yesus mati tergantung di kayu salib. Ditinggal pergi Sang Guru dengan cara demikian, para rasul seketika menjadi bingung dan terpukul. Bukan hanya mereka, perasaan yang sama juga berkecamuk di hati banyak orang yang selama ini mengikuti Dia dan percaya kepada-Nya. Sebelumnya, kehadiran Yesus memang menarik perhatian masyarakat luas. Firman-Nya menyejukkan jiwa dan memberi harapan. Ia juga membuat banyak mukjizat yang memesona sekaligus menyelamatkan. Tak heran, masyarakat lalu memandang-Nya sebagai Mesias yang pada saatnya nanti akan memimpin bangsa itu melawan penjajah Roma. Tapi apa mau dikata, harapan itu tinggallah harapan. Yesus ditangkap, dihukum mati, dan akhirnya menghembuskan nafas terakhir-Nya di ketinggian. Tragis dan menyedihkan. Mengapa Dia, orang yang sangat baik, bisa mati dengan cara seperti itu? Kematian dengan cara yang demikian mengerikan hanya dialami oleh orang yang dikutuk Tuhan!
Pasca-kematian Yesus, para murid yang guncang dan terpukul pun menjadi tercerai-berai. Mereka ketakutan dan berusaha bersembunyi dari kejaran lawan-lawan yang telah membunuh Guru mereka. Kisah perjalanan dua orang murid ke Emaus (Luk. 24:13-35) bahkan mengindikasikan bahwa kelompok murid Yesus sudah siap-siap membubarkan diri. Mereka berniat pulang ke tempatnya masing-masing untuk kembali menekuni pekerjaan sehari-hari yang dulu mereka tinggalkan.
Syukurlah hal itu tidak terjadi. Para murid lebih dulu dikejutkan oleh peristiwa demi peristiwa yang menakjubkan: makam kosong, kesaksian-kesaksian tentang penampakan Yesus, dan pada akhirnya Yesus sendiri menampakkan diri kepada mereka. Pemahaman akan teks Kitab Suci juga menyadarkan mereka bahwa kematian Yesus – juga kebangkitan-Nya – merupakan bagian dari rencana keselamatan yang sedang dikerjakan Allah (bdk. Luk. 24:25-27). Salah satu teks Kitab Suci yang menjadi bahan pertimbangan mereka tentu saja adalah Mzm. 118 yang kita kupas kali ini. Mazmur ini menyadarkan para murid bahwa kematian bukan akhir dari segalanya. Yesus yang disingkirkan oleh “tukang-tukang bangunan” telah diangkat oleh Tuhan, dibangkitkan, dan dijadikan-Nya batu penjuru yang sangat berharga. Setelah itu, para murid pun bangkit dari keterpurukan mereka. Sengsara dan kematian Yesus mereka lihat dengan sudut pandang baru. Tak ada lagi rasa kecewa, apalagi putus asa. Sebab, kematian Yesus justru menjadi awal pengharapan yang baru.

Penutup: Dalam segala situasi, bersyukurlah!
Meminta sesuatu kepada Tuhan tentu boleh saja. Bahkan permohonan kepada Tuhan kadang dilihat sebagai bukti iman seseorang kepada Dia yang senantiasa memperhatikan hidup manusia. Tentang hal ini, Yesus sendiri pernah berkata, “Mintalah, maka akan diberikan kepadamu; carilah, maka kamu akan mendapat; ketuklah, maka pintu akan dibukakan bagimu” (Mat. 7:7). Tapi, terlalu banyak meminta itu namanya “meminta-minta”. Meminta itu baik, meminta-minta tidak. Nah, agar kita tidak menjadi manusia peminta-minta yang merepotkan Tuhan dengan macam-macam tuntutan yang tidak perlu, baiklah kita melengkapi diri kita dengan dua hal, yakni semangat untuk berusaha dan – sebagaimana diajarkan oleh Mzm. 118 – semangat untuk bersyukur.
Pemazmur menyadari bahwa bersyukur bukanlah hal yang mudah. Hidup penuh dengan kepahitan, dan itulah yang menghalangi seseorang untuk sampai pada kesadaran bahwa Tuhan menyayangi dia. Namun, dengan Mzm. 118, pemazmur membantah anggapan bahwa rasa syukur hanya lahir dari diri orang yang hidupnya bahagia. Kesaksian-kesaksian dalam Mzm. 118 menunjukkan, justru orang-orang yang hidupnya penuh masalah, merekalah yang punya alasan kuat untuk menyampaikan syukur, sebab mereka mengalami penyelamatan Tuhan secara langsung.
Dalam peristiwa sengsara, wafat, dan kebangkitan Kristus, umat Kristen memperoleh contoh konkret bagaimana menjalani kehidupan yang tidak mudah ini. Duka dan derita selalu mengiringi kehidupan kita. Itu adalah hal yang wajar, bukan tanda bahwa Tuhan menjauhi, mengabaikan, atau menghukum kita. Dengan iman akan kebaikan hati-Nya, akan keselamatan-Nya yang senantiasa menyertai kita, kita tidak lagi melihat penderitaan sebagai aib, melainkan sebagai “sarana pengajaran”. Bukankah dengan menanggung derita kita menjadi lebih kuat, tegar, dan dewasa?
“Batu yang dibuang oleh tukang-tukang bangunan telah menjadi batu penjuru.” Ini menunjukkan bahwa Allah bekerja dalam segala sesuatu, termasuk dalam saat-saat kehidupan kita yang paling kelam sekalipun. Jika demikian halnya, tidak ada alasan lagi bagi kita untuk tidak bersyukur. Yang sedikit perlu kita lakukan hanyalah membuka hati. Sebab, sering kali penyelamatan Tuhan tidak kita rasakan bukan karena Ia tidak bekerja, melainkan karena kita tidak memberi-Nya kesempatan.***

Kepustakaan
Barth, Marie Claire, dan B.A. Pareira.
Tafsir Alkitab: Kitab Mazmur 73-150. Jakarta: BPK Gunung Mulia, 1999.
Harun, Martin.
Berdoa Bersama Umat Tuhan: Berguru pada Kitab Mazmur. Yogyakarta: Kanisius, 1998.
Mays, James L.
Psalms. Louisville: John Knox Press, 1994.
Stuhlmueller, Carroll.
Psalms 2. Delaware: Michael Glazier, Inc, 1983.
Suharyo, I.
Memahami serta Menghayati Mazmur dan Kidung. Yogyakarta: Kanisius, 1989.

Tidak ada komentar: