Rabu, September 29, 2010

Mazmur 6

AIR MATA DI ATAS RANJANG

Jarot Hadianto


“Setiap malam aku menggenangi tempat tidurku, dengan air mataku aku membanjiri ranjangku.”
(Mzm. 6:7)

Ya Tuhan, janganlah menghukum aku dalam murka-Mu

00.00. Detik berganti detik, menit berganti menit, jam berganti jam, dan kini tanpa terasa hari baru telah tiba. Suasana senyap senantiasa mengiringi pergantian hari di kampung kecil ini, tak terkecuali malam ini. Semua orang telah terlelap di rumahnya masing-masing. Yang terdengar hanyalah desiran angin malam, juga suara jangkrik yang menyanyi bersahut-sahutan dari tengah sawah. Bagiku yang sedang gelisah dan tak bisa memejamkan mata, merekalah penghibur malam yang sejati.

00.05. Kalau ada yang berkata, “Kesusahan sehari cukuplah untuk sehari,” baiklah ia tahu bahwa nasihat itu mudah untuk diucapkan, tapi sulit untuk menjadi kenyataan. Ranjang tempatku berbaring adalah saksinya. Sudah sejak senja aku merebahkan diri di situ, tapi sampai tengah malam tiba jiwaku tak kunjung terbang ke alam mimpi. Ini sudah berlangsung berhari-hari! Ya, hari-hari belakangan ini aku memang susah tidur. Badanku hanya terbolak-balik di atas ranjang, kadang ke kanan, kadang ke kiri, persis yang dilakukan oleh tukang martabak. Ranjang kayu yang tua ini berderak-derak sepanjang malam sebagai akibatnya. Kalau ia bisa ngomong, pasti ia sudah protes dan menyuruhku pindah ke lantai saja.

00.10. Tiba-tiba air mataku mengalir. Untuk kesekian kalinya, lagi-lagi aku menangis. Hari baru ini aku awali dengan air mata, tanda bahwa bagiku hari ini akan sama saja dengan hari-hari sebelumnya yang penuh dengan duka dan kepedihan. Anakku, anakku, ini gara-gara aku memikirkan dirimu. Mengapa anakku, mengapa engkau membuatku seperti mendapat murka dari Yang Kuasa? Mengapa engkau membuat ibumu yang sudah tua ini jadi begini?


Sembuhkanlah aku Tuhan, sebab tulang-tulangku gemetar

00.15. Terbayang-bayang wajahnya, aku makin terisak-isak. Dia adalah anakku yang bungsu. Dulu dialah matahari keluarga ini. Keberadaannya, juga sikap dan tingkah lakunya, senantiasa mengharumkan nama seisi rumah. Dialah satu-satunya anak yang bisa kubanggakan. Bagaimana tidak, melihat si sulung, aku lebih sering mengelus dada. Anak itu berandalan dan suka membuat onar. Susah payah disekolahkan, eh ujung-ujungnya jadi preman pasar. Adiknya sama saja. Dia tak sempat sekolah tinggi karena SD saja tidak lulus-lulus. Kini ia masih tinggal bersamaku. Kerjanya makan, tidur, dan main remi bersama teman-temannya. Tapi si bungsu ini sungguh berbeda. Tidak seperti kakak-kakaknya, ia rajin, cerdas, dan punya pendirian. Selepas SMA, dengan berani ia menentukan jalan hidupnya: masuk seminari, ingin jadi imam.

00.30. Kubalikkan badan ke sebelah kanan sambil mengingat-ingat perjalanan anakku tersayang dalam menanggapi panggilan Tuhan. Jalan yang ditempuhnya sangat panjang. Sepuluh tahun! Teman-temannya sudah berguguran laksana daun di musim kemarau, tapi ia tetap bertahan. Pada akhirnya, ia mengundangku hadir dalam upacara tahbisan yang tak mungkin pernah bisa kulupakan. Begitu besar, begitu megah, begitu meriah! Tergetar hatiku melihat Bapak Uskup meletakkan tangan di atas kepalanya. Tergetar jiwaku melihat begitu banyak umat yang hadir memberinya dukungan. Tergetar jantungku melihat makanan dan minuman yang melimpah ruah, yang pastinya cukup untuk orang satu kecamatan. Luar biasa! Betapa besar harapan dan kepercayaan diletakkan di pundak anakku yang bungsu ini. Air mata bahagia mengalir dari kedua mataku. Ayahnya yang sudah beristirahat di surga sana pasti merasakan hal yang sama.

00.45. Tapi lima tahun kemudian, hal-hal aneh terjadi. Dia mulai sering pulang ke rumah, katanya untuk berlibur. “Libur kok sebulan sekali? Seperti orang gajian saja,” tanyaku. Ia tertawa saja, dan malah ganti menanyakan kesehatanku, apakah aku kira-kira punya penyakit jantung, atau darah tinggi, atau mungkin stroke. Tentu saja aku jadi heran mendengarnya, apalagi ketika ia mulai berbicara dengan bahasa-bahasa filsafat yang tidak aku mengerti, tentang perubahan, tentang pencarian jati diri, tentang pergulatan memahami panggilan Tuhan, juga tentang jalan hidup yang lain. Dua minggu lalu, keheranan itu mendapat jawabannya. Selembar surat datang darinya suatu siang, mengabarkan bahwa ia mengundurkan diri dari imamatnya. Tubuhku gemetar hebat dibuatnya. Saat itu juga aku jatuh pingsan.


Mataku rabun karena semua lawanku

01.00. Sampai saat ini, aku tetap tidak mengerti mengapa ia mengambil keputusan itu. Anakku, apa yang sesungguhnya terjadi? Mengapa engkau merasa bahwa jalan Tuhan itu bukan panggilanmu? Apakah hatimu kini terpikat pada hal-hal duniawi? Ataukah dirimu sekarang telah pindah ke lain hati? Apa mungkin engkau mundur karena telah melanggar kaul kemurnian, kemiskinan, dan ketaatan yang dulu engkau janjikan? Ah, sakit hatiku memikirkan kemungkinan-kemungkinan itu. Bukan hanya itu, badanku lalu ikut-ikutan sakit. Dulu aku darah rendah, sekarang jadi darah tinggi. Keadaanku menurun drastis. Kini tak banyak yang bisa kulakukan, selain melamun sambil tidur-tiduran di atas ranjang.

01.30. Erangan si manis dari pojok kamar sejenak mengagetkanku. Kucing hitam itu rupanya merasakan kegelisahan majikannya. Ya, bagaimana aku tidak gelisah? Segudang pertanyaan memenuhi kepalaku, tak satu pun ada jawabannya. Aku berharap anakku itu segera pulang untuk menemuiku dan menjelaskan segalanya. Tapi hal itu tidak terjadi. “Ibu, untuk pulang, aku perlu waktu,” tulisnya dalam surat yang terakhir. Menurutnya, ia harus mempersiapkan batin terlebih dahulu, sebab banyak orang – apalagi di kampung kecil seperti kampung kami ini – belum bisa menerima kehadiran mantan pastor.

02.00. Alasan itu tampaknya ada benarnya. Mendengar anakku tak lagi jadi imam, cerita ini dan itu mulai tersebar ke seluruh penjuru desa. Panas telingaku mendengarnya, sebab tak ada hal bagus di dalamnya. “Dengar-dengar ada skandal rahasia lo,” bisik si tukang gosip saat doa rosario lingkungan. “Katanya sih, dia kurang kuat menghadapi godaan,” sambung yang lain memeriahkan suasana. Kejengkelanku semakin memuncak ketika orang-orang mulai menyoroti rumahku, “Wah Bu, kok rumahnya tiba-tiba diperbaiki? Ada yang rusak ya? Waduh, gentengnya juga baru nih?” Meski dilontarkan dengan nada ramah, batinku teriris-iris mendengarnya. Pertanyaan atau sindirankah itu? Di depanku orang-orang itu tersenyum, tapi aku yakin di belakangku mereka mengolok dan menghina diriku. Tuhan, kasihanilah kami…


(Semoga) Tuhan mendengar tangisku

04.00. Kokok ayam jantan di kejauhan membangunkan diriku. Untuk beberapa saat rupanya aku terlelap, mungkin karena terlalu lelah memikirkan beban yang luar biasa berat. Tapi lumayan, badanku jadi terasa agak segar. Ini bekal berharga bagiku untuk menjalani hari-hari kelabu selanjutnya. Aku akan berhadapan lagi dengan tatapan sinis para tetangga; aku akan mendengar lagi mereka berbisik-bisik membicarakan anakku. Tuhan, aku putuskan untuk menyerahkan ini semua kepada-Mu. Kupercayakan diriku pada belas kasih-Mu, kupercayakan pula anakku pada kemurahan-Mu. Dampingilah dia, Tuhan. Jangan biarkan ia sedih sendirian. Mungkin Engkau kecewa karena ia telah meninggalkan jalan-Mu, tapi percayalah Tuhan, ia akan menemui-Mu lagi di jalan yang lain.

04.30. Perlahan-lahan hari mulai terang. Dengan susah payah, aku beranjak dari ranjangku. Kubuka jendela kamar, dan kutatap fajar yang mulai menyingsing. Wajah anakku tersayang terbayang di sana. Pulanglah, Nak. Aku menantimu, aku ingin memelukmu. Ceritakanlah semua, berkeluh-kesahlah, aku akan mendengarkannya. Jangan merasa sendirian, apalagi terbuang. Kita akan menghadapi masa-masa sulit ini bersama. Banyak pintu mungkin tertutup untukmu, tak bisa kaumasuki. Tapi satu hal kukatakan kepadamu: pintu rumah ini akan selalu terbuka bagimu.***


Kepustakaan

Barth, Marie Claire, dan B.A. Pareira. Tafsir Alkitab: Kitab Mazmur 1-72. Jakarta: BPK Gunung Mulia, 1999.
Mays, James L. Psalms. Louisville: John Knox Press, 1994.
Stuhlmueller, Carroll. Psalms 1. Delaware: Michael Glazier, Inc, 1983.

Selasa, September 07, 2010

PANGGILAN DAN PERTOBATAN PAULUS

Di sini kita akan berfokus pada pengalaman istimewa Paulus di jalan menuju ke Damsyik. Dikatakan istimewa karena melalui pengalaman itu arah hidup Paulus diubah. Dia yang sebelumnya menyandang status sebagai seorang penganiaya pengikut jalan Tuhan kini beralih menjadi seorang rasul bagi bangsa-bangsa bukan Yahudi. Dia yang sebelumnya melihat Yesus sebagai yang terkutuk dan ancaman bagi Yudaisme kini melihat Yesus sebagai pusat hidupnya. Peristiwa istimewa ini akan dibahas dengan pertama-tama melihat bagaimana Paulus sendiri melukiskannya dalam surat-suratnya(1 Kor 9:1; 15:8; Gal. 1:15-17 ). Lukisan ini kemudian dilengkapi dengan apa yang ditampilkan dalam Kisah Para Rasul (Kis 9:1-19a; 22:1-16; 26:9-18).


Melihat Tuhan yang telah bangkit

Panggilan dan pertobatan Paulus terjadi dalam sebuah perjumpaan dengan Kristus di jalan dekat kota Damsyik. Perjumpaan itu dilukiskannya sebagai sebuah penampakan. Kristus menampakkan diri kepadanya (1Kor. 15:8; bdk. Kis 9:17; 26:16) sehingga ia bisa melihat Kristus (1Kor. 9:1). Penampakan Kristus itu dianggap sama seperti penampakan Kristus yang bangkit kepada para murid dan karena itu ia menghitung dirinya sebagai salah seorang di antara para saksi kebangkitan Tuhan (1Kor. 15:5-11).

Pengalaman melihat Kristus yang bangkit memberi jaminan bagi status dan kewibawaan Paulus sebagai seorang rasul. Melihat Kristus yang bangkit merupakan kualifikasi penting bagi seorang rasul. Kualifikasi ini terkait erat dengan tugas seorang rasul untuk menjadi saksi kebangkitan bersama-sama dengan rasul-rasul yang lainnya (Kis. 1:22). Kualifikasi ini dipenuhi oleh Paulus karena ia memperhitungkan dirinya sebagai salah seorang saksi di antara para saksi kebangkitan. “Dan yang paling akhir dari semuanya Ia menampakkan diri juga kepadaku” (1Kor 15:8).

Penampakan Tuhan yang bangkit terjadi ketika Paulus mendekati kota Damsyik (Kis 9:3; 22:6; 26:13). Sekitar tengah hari, tiba-tiba cahaya memancar dari langit mengelilinginya. Cahaya itu digambarkan lebih terang dari cahaya matahari (Kis. 26:13; bdk. 2Kor 4:4-6), menyilaukan dan mengelilingi Paulus (Kis. 22:6) dan teman-teman seperjalanannya (Kis. 26:13). Gambaran ini merupakan tanda khas penampakan ilahi seperti yang terjadi ketika Allah memanggil seorang nabi di dalam Perjanjian Lama (Kel. 19: 16; Yeh. 1:4, 7, 13, 28; Dan. 10:6).

Tanggapan Paulus atas penampakan ilahi mirip dengan nabi Yehezkiel ketika mendapat penglihatan kemuliaan Allah (Yeh. 1:28). Ia rebah ke tanah sebagai suatu bentuk persiapan untuk mendengarkan Kristus berbicara mengingat penampakan Tuhan selalu disertai dengan suatu suara (bdk. Kel. 3:4-10; Kej. 31:11-13; Kis. 2:5-13). Suara itu biasanya menyingkapkan masa depan nabi. Namun, seperti Musa yang mendengar suara Allah dari tengah-tengah semak duri yang memperkenalkan diri-Nya, “Akulah Allah ayahmu, Allah Abraham, Allah Ishak dan Allah Yakub” sebelum menyingkapkan tugas perutusannya (Kel. 3-4), demikianlah juga Paulus mendengar suara Kristus yang memperkenalkan diri-Nya, “Akulah Yesus yang kauaniaya itu” sebelum menyingkapkan tugas perutusannya.


Diangkat dan diutus menjadi seorang rasul bangsa-bangsa bukan Yahudi

Pengalaman perjumpaan dengan Kristus yang menampakkan diri sering dibicarakan oleh Paulus sebagai sebuah pengangkatan dan perutusan bagi dirinya untuk menjadi seorang rasul daripada sebuah pertobatan. Kristus yang bangkit menampakkan diri kepada Paulus untuk mengangkatnya menjadi seorang rasul meski ia menganggap dirinya tidak pantas untuk disebut rasul karena telah menganiaya para pengikut jalan Tuhan (1Kor 15:8; 9:1).

Apakah Paulus mendengar suara yang mengangkat dan mengutusnya menjadi seorang rasul di jalan dekat kota Damsyik (Kis. 26:11-18)? Kemungkinan besar suara pengangkatan dan perutusan itu didengarnya pada waktu penampakan Kristus yang bangkit. Kemungkinan itu diperkuat oleh kesaksian Perjanjian Lama yang tidak mengenal penampakan tanpa pewahyuan dengan kata-kata dan Paulus kemungkinan besar menganggap penampakan Kristus kepadanya sama seperti penampakan-penampakan kebangkitan lainnya yang sering disertai dengan kata-kata kesaksian Yesus tentang diri-Nya atau pengangkatan dan perutusan para rasul (Mat. 28:9-10; 28:16-20; Mrk. 16:14-18; Luk. 24:13-35; 36-43; Yoh. 20:19-29; 21:1-23; Kis. 1:3-9).1

Anggapan ini dibenarkan oleh lukisan Paulus sendiri tentang penampakan Kristus di jalan dekat kota Damsyik dalam Gal. 1:16: Allah “berkenan menyatakan Anak-Nya di dalam aku, supaya aku memberitakan Dia di antara bangsa-bangsa bukan Yahudi” (bdk. 2:7; Rom. 1:5; 15:15). Dari lukisan ini jelas bahwa penampakan Kristus di jalan dekat kota Damsyik menjadi dasar pewartaan injilnya tentang Yesus yang disalibkan sebagai Mesias dan dibangkitkan dari antara orang mati dan dimuliakan sebagai Tuhan (Gal. 1:12) dan kerasulannya kepada bangsa-bangsa bukan Yahudi. Kesadaran akan pengangkatan dan perutusannya sebagai seorang rasul bangsa-bangsa lain melekat dalam peristiwa penampakan Kristus. Kesadaran itu tidak lahir dari suatu refleksi atas perkembangan kerasulannya di antara orang Yahudi dan bukan Yahudi. Dengan demikian, Paulus bukan baru menyadari panggilan dan perutusannya karena misinya gagal di antara orang Yahudi dan berhasil di antara orang yang bukan Yahudi di Antiokhia.

Penampakan Kristus di Damsyik itu tidak hanya momen pengangkatan dan perutusannya tetapi juga fondasi dari injil yang akan diwartakannya. “Injil yang kuberitakan itu bukanlah injil manusia. Karena aku bukan menerimanya dari manusia, dan bukan manusia yang mengajarkannya kepadaku, tetapi aku menerimanya oleh penyataan Yesus Kristus” (Gal. 1:11-12). Pernyataan ini menekankan bahwa Kristus yang menampakkan diri di jalan dekat kota Damaskus merupakan isi injilnya. Menerima injil tentang Yesus Kristus itu bagian yang tak terpisahkan dari pengangkatan dan perutusannya sebagai seorang rasul bagi bangsa-bangsa bukan Yahudi. Hal ini tidak hanya menunjukkan bahwa injil yang diwartakannya dan perutusannya sebagai seorang rasul bangsa-bangsa bukan Yahudi tidak dapat dipisahkan satu sama lain tetapi juga menunjukkan bahwa keduanya berakar dalam peristiwa penampakan di jalan dekat kota Damsyik. Tidaklah masuk akal kalau dikatakan bahwa Paulus menerima injilnya pada waktu penampakan Kristus di jalan dekat kota Damsyik dan kesadarannya sebagai rasul bangsa-bangsa bukan Yahudi baru muncul di kemudian hari setelah gagal bermisi di antara orang Yahudi.


Allah telah memilih Paulus sebelum dilahirkan

Dalam Gal. 1:15-21, Paulus menafsirkan panggilannya dalam terang panggilan para nabi (Yes. 49:1-6; Yer. 1:5). Penafsiran ini tidak dimaksudkan untuk melawan pandangan bahwa Paulus menerima panggilan dan perutusannya untuk menjadi rasul bangsa-bangsa bukan Yahudi pada saat Kristus yang bangkit menampakan diri kepadanya di jalan dekat Damsyik. Hampir sulit dipercaya bahwa hanya melalui meditasi atas teks yang berbicara tentang panggilan Yeremia dan Yesaya dalam Perjanjian Lama Paulus sampai pada suatu keyakinan tentang panggilan dan perutusannya sendiri. Namun, sangatlah wajar untuk berpikir bahwa setelah menerima panggilan dan perutusan pada waktu Kristus menampakan diri kepadanya di jalan dekat Damsyik Paulus merenungkan teks panggilan nabi Yeremia dan Yesaya untuk memahami arti penting panggilannya sendiri.

Dalam terang panggilan nabi Yesaya dan Yeremia, Paulus melihat panggilannya sebagai sebuah undangan dari Allah untuk menjalankan misi khusus. Seperti Yesaya dan Yeremia, Paulus dipanggil untuk menjalankan misi khusus sejak dari kandungan ibunya (Yes. 49:1, 5; Jer. 1:5; Gal. 1:15).2 Seperti Yesaya dipanggil untuk menjadi terang bagi bangsa-bangsa bukan Yahudi (Yes 49:1; 5) dan Yeremia diangkat menjadi seorang nabi bagi bangsa-bangsa (Yer. 1:5), demikianlah juga Paulus dipanggil oleh Allah untuk mewartakan injil di antara bangsa-bangsa bukan Yahudi (Gal 1:15). Paulus menemukan dalam figur nabi Yesaya dan Yeremia suatu pralambang bagi panggilan apostoliknya untuk mewartakan injil kepada orang-orang bukan Yahudi.

Mengatakan bahwa Paulus dipanggil dan diutus sejak Kristus menampakan diri kepadanya di jalan dekat kota Damsyik itu tidak mengabaikan proses perkembangan kesadaran dan pemahamanan terhadap panggilan dan perutusannya. Gagasan bahwa misi kerasulan kepada bangsa-bangsa memerlukan waktu yang cukup lama supaya bisa terpenuhi tidak diabaikan sama sekali. Tidaklah realistis untuk berargumen bahwa jika Paulus telah dipanggil dan diutus sejak Tuhan menampakkan diri di jalan dekat Damsyik, ia seharusnya segera melaksanakannya. Dikatakan tidak realitis karena ketika menerima tugas perutusan tersebut ia tidak memiliki model untuk berpikir tentang bagaimana cara melaksanakannya. Dalam situasi semacam ini sangatlah wajar jika ia kembali pergi ke sinagoga-sinagoga dan berharap untuk menemukan banyak orang yang bukan Yahudi.

Selama beberapa tahun setelah dipanggil dan diutus, Paulus mengajar dan mewartakan injil di sinagoga-sinagoga (Kis. 9:19-22). Pengajaran dan pewartaan itu sama sekali tidak membantah pandangan bahwa ia telah diangkat dan diutus untuk menjadi rasul bangsa-bangsa bukan Yahudi. Secara reguler, ia memulai kotbah dan pengajarannya di sinagoga (Kis. 13:5-14; 14:1; 17:1, 10, 17; 18:4, 19; 19:8). Kenyataan ini sungguh-sungguh memperlihatkan realitas historis. Secara historis Paulus memang mengajar baik orang Yahudi maupun bukan Yahudi selama karya misi kerasulannya di kemudian hari (1Kor 9:20, 32; 2 Kor 11:24; 1Tes 2:15). Sinagoga dapat dilihat sebagai suatu tempat yang disediakan oleh Allah untuk mempersiapkan karya misinya kepada bangsa-bangsa bukan Yahudi karena ada suatu kebiasaan dari pengurus sinagoga untuk mengundang seorang yang dianggap pantas untuk memberikan nasihat atau kata-kata bijak setelah membacakan hukum Taurat dan kitab nabi-nabi (bdk. 13:14-52).

Pada tahun-tahun awal setelah diangkat dan diutus sebagai rasul bagi bangsa-bangsa, Paulus tidak hanya mengajar dan mewartakan injil di sinagoga-sinagoga diaspora tetapi berangkat ke tanah Arab, yakni kerajaan Nabataea, untuk mengajar dan mewartakan injil. Setelah kembali dari Arab, Paulus kembali ke Damsyik dan mungkin langsung mengajar dan mewartakan injil di sinagoga di antara orang yang takut akan Allah, orang-orang Yahudi, dan orang Kristiani Yahudi Helenis (Kis. 9:19b-25). Dari Damsyik Paulus mengunjungi Petrus selama empat belas hari di Yerusalem dan kemudian pergi ke daerah Siria dan Kilikia (Gal 1:21; Kis 9:30) setelah tiga tahun pertobatannya (Gal. 1:18). Di daerah Siria dan Kilikia, ia berkarya selama tiga belas tahun sampai kunjungannya yang kedua ke Yerusalem (Gal. 2:1). Dari beberapa data ini terlihat bahwa Paulus segera mulai mewartakan injil kepada bangsa-bangsa Yahudi meski mungkin sebagian besar pewartaannya dilakukan di sinagoga-sinagoga.


Ekskursus: Pertobatan atau panggilan

Perjumpaan Paulus dengan Tuhan yang bangkit di jalan dekat kota Damsyik umumnya dianggap sebagai sebuah pertobatan. Anggapan ini jelas tidak berdasarkan pada apa yang dikatakan oleh Paulus sendiri. Dia tidak pernah mengacu pada peristiwa Damsyik sebagai sebuah pertobatan. Karena itu, para penafsir surat-surat Paulus dan Kisah bertanya, “apakah pengalaman Paulus di jalan menuju Damsyik itu diidentifikasikan sebagai sebuah pertobatan atau panggilan?”

Ada yang mengidentifikasikan pengalaman di jalan mendekati kota Damsyik itu sebagai sebuah panggilan daripada sebuah pertobatan karena kata pertobatan memiliki beberapa arti yang berbeda.3 Kita biasanya memakai kata pertobatan untuk mengartikan bahwa seseorang telah mengubah agamanya dari satu agama ke agama lain atau seorang telah berubah dari tidak percaya menjadi orang yang percaya. Kita juga biasanya juga mengartikan perubahan hidup seseorang dari yang jahat menuju orang yang baik. Pengalaman Paulus di jalan menuju Damaskus tidak dimengerti sebagai sebuah pertobatan seperti yang kita pahami dalam kehidupan sehari-hari. Paulus tidak pernah mengubah agamanya dan tidak pernah menganggap dirinya sebagai orang yang jahat.

Meski argumen di atas menyakinkan, namun ada juga yang berpendapat istilah “panggilan” hanya melukiskan salah satu aspek dari perubahan hidup Paulus dari seorang penganiaya kepada seorang rasul. Kata itu tidak mencakup pengakuannya akan Yesus sebagai Mesias dan perubahan radikalnya. Roetzel melihat bahwa pewahyuan Kristus mentransformasi Paulus dari seorang penganiaya menjadi seorang pendukung gereja dan transformasi itu telah menata kembali cara ia melihat asal-usul dan tradisi keyahudiannya.4 Transformasi ini lebih dipahami sebagai suatu pengevaluasian kembali daripada sebuah penolakan terhadap keyahudiannya.

Dari diskusi perbedaan pemahaman dalam mengidentifikasikan peristiwa perjumpaan dengan Tuhan yang bangkit di jalan menuju Damsyik di atas, kita sebaiknya menggarisbawahi dua aspek penting dari pengalaman tersebut, yakni panggilan dan pertobatan. Berupaya untuk memisahkan panggilan Paulus dari pertobatannya itu sesuatu yang keliru karena dua aspek penting itu tidak dapat dipisahkan. Mungkin tepat kalau kita memahami peristiwa perjumpaan istimewa di jalan menuju Damsyik itu sebagai sebuah panggilan dan pertobatan.


1 Seyoon Kim, The Origin of Paul’s Gospel (Tubingen: Mohr, 1981), 57.
2 Thomas R. Schreiner, Paul Apostle of God’s Glory in Christ: a Pauline Theology (Illinois: InterVarsity Press, 2001), 43-49.
3 Thomas H. Tobin, The Spirituality of the Paul (Wilmington: Michael Glazier, 1987), 43-60
4 Calvin J. Roetzel, Paul: a Jew on the Margins (Louisville: John Knox Press, 2003), 13,

Senin, Agustus 30, 2010










MARILAH, MAKANLAH HIDANGKU …: Hikmat Israel dalam Amsal, Ayub, dan Pengkhotbah

Martin Harun, OFM
Cet.1, 2010, 145 x 210 mm, viii + 148 hlm, LAI
Harga Rp 53.000,-
Harga Member Rp. 47.700,- (disc 10%)
Kategori : Alkitab
ISBN : 978-979-463-830-9


Memperkenalkan sastra kebijaksanaan Israel bukanlah tugas yang sederhana, karena jenisnya banyak dan batasnya tidak selalu jelas. Buku ini membatasi diri pada tiga kitab utama, yakni Amsal, Ayub, dan PEngkhotbah, yang masing-masing mengungkapkan sisi hikmat yang berlainan. Bukannya buku tafsir, buku ini mengajak kita untuk membaca dan menikmati bagia-bagian terpilih. Tentu maksudnya antara lain agar sesudah itu dapat membaca keseluruhan kitab dengan dasar yang lebih mantap. Disusun sebagai bahan kursus, buku ini cocok pula untuk studi pribadi.

Pemesanan : 021 - 8318633, 8290247
Fax : 021 – 83795929
SMS Center : 021 - 93692428

Daftar menjadi Member : kbr@biblikaindonesia.org

Jumat, Agustus 27, 2010

Mazmur 69

HANGUS KARENA CINTA
Jarot Hadianto

“Sebab cinta untuk rumah-Mu menghanguskan aku…” (Mzm. 69:10)

Pintu gereja kubanting dan kukunci dengan terburu-buru. Setelah itu, aku bersandar di situ sambil terengah-engah. Di luar sana, teriakan-teriakan penuh kemarahan semakin membahana. Mereka mengumpat, mencaci, anehnya sambil tak henti-henti memuliakan kebesaran Tuhan. Ngeri. Keringatku mengalir deras mendengarnya. Ya Tuhan, apa yang bisa kuperbuat? Sayangnya tidak ada, tidak ada lagi yang bisa kuperbuat. Aku tidak berdaya, dan keadaanku sungguh-sungguh gawat.

Tiba-tiba saja batu pertama terlontar. Kaca jendela jebol dan pecah berantakan dibuatnya. Mulutku ternganga, sementara nafasku makin memburu. Segera sesudah itu, batu-batu lain datang menyusul. Prrraang! Prrrraaang!! Prrraaaaang!!! Kiamat seakan telah tiba, dan aku hanya mampu memandangnya sambil terduduk di balik pintu. Badanku bergetar hebat, ketakutan melanda diriku, dan hatiku rasanya seperti disayat-sayat. Rumah yang kucintai, rumah yang kusayangi, rumahku yang kujunjung tinggi … hancur lebur seluruhnya tak bersisa!


Mengabdi di rumah Tuhan

Pertama-tama, baiklah aku memperkenalkan diri terlebih dulu. Aku ini seorang pemuda desa yang hidupnya sederhana dan biasa-biasa saja. Ketika teman-temanku pindah ke kota untuk meneruskan pendidikan ke tingkat yang lebih tinggi, aku terpaksa bertahan di desa yang sunyi dan terpencil ini. Apa boleh buat, biaya untuk sekolah tak ada lagi. Aku harus puas hanya memegang ijazah sekolah menengah pertama. Sedih? Pasti. Tapi sudahlah. Ijazah sering kali hanya selembar kertas yang tak ada hubungannya dengan kualitas hidup seseorang, bukan?

Ketika pastor paroki datang ke stasi kami, aku memberanikan diri menemuinya untuk meminta pekerjaan. Kebetulan di stasi ini memang baru saja didirikan sebuah gereja kecil. Aku dengar pastor sedang mencari-cari orang yang tepat untuk menjaganya. Mula-mula pastor merasa ragu menerimaku. Apakah aku tidak terlalu muda untuk menjadi penjaga gereja? Apakah aku bisa memikul tanggung jawab yang besar? Apakah aku cukup bisa dipercaya? Syukurlah, melihat semangat dan kesungguhanku, akhirnya ia berkenan memberiku kesempatan.

Tanpa terasa, sudah setengah tahun lamanya aku mengabdi di rumah Tuhan ini. Tugasku macam-macam, bahkan sebenarnya aku mengerjakan semuanya: menjaga gereja siang-malam, merawatnya agar selalu bersih, menjadi koster saat ada misa, termasuk melaksanakan pesan khusus pastor, “Jangan lupa mencabuti rumput di halaman gereja!” Gaji? He… he… kata orang, bekerja di kebun anggur Tuhan tak pantas berbicara soal gaji. Yang jelas, diberi berapa pun selalu aku terima, lalu aku cukup-cukupkan untuk memenuhi kebutuhanku.

Pastor tampak gembira melihatku bekerja dengan penuh semangat. Dia sendiri hanya sebulan sekali mengunjungi stasi ini. Itu karena banyaknya urusan yang harus ia tangani di pusat paroki, juga di Jakarta, sebuah tempat yang dari namanya saja sudah ketahuan kalau letaknya jauh. Kalau kutanya ada apa gerangan di Jakarta, ia selalu menjawab, “Mau ketemu Bapak Uskup.” Suatu ketika aku bertanya, bukankah Bapak Uskup kita tinggal di ibu kota provinsi, bukan di Jakarta? Seketika matanya mendelik dan aku pun terdiam. Dia memang agak galak, jadi sejak itu aku lebih banyak diam, tidak pernah bertanya-tanya lagi.


Karena Engkaulah aku menanggung cela

Meskipun sudah dipakai misa bulanan, gereja kecil ini sebenarnya belum sepenuhnya jadi. Temboknya belum dicat, lantainya juga masih berupa tanah. Penyelesaian dilakukan sedikit demi sedikit, tergantung banyaknya sumbangan yang masuk. Meski situasinya masih serba terbatas, aku sudah merasa cukup senang. Rumah Tuhan ini kucintai dengan sepenuh hati, aku merawatnya seperti merawat rumahku sendiri.

Tapi ada satu hal yang membuatku gelisah. Keberadaan gereja ini sebenarnya membuat murka sejumlah pihak. Sudah sejak rencana pembangunan dulu, mereka tidak terima dan melancarkan penolakan. “Ini jelas upaya kristenisasi!” tuduh seorang yang berbakat jadi provokator. “Hati-hati, kita sedang menghadapi gerakan pemurtadan!” timpal yang lain memanaskan suasana. “Nanti kami dikasih mi instan dan dibujuk jadi Kristen!” kata seorang ibu tak mau kalah.

Aku mengeluh dalam hati, apa sih maunya orang-orang ini? Kami berdoa rosario bersama di rumah-rumah, mereka marah; kami latihan kor, katanya berisik; sekarang kami beribadah di tempat yang khusus pun mereka masih protes. Alhasil, ibadah kami senantiasa diiringi kecemasan. Desa ini terletak di pegunungan yang sejuk dan asri, tetapi aroma kebencian merebak di mana-mana!

Lebih dari yang lain, rasanya aku paling sering menjadi sasaran pelampiasan kebencian mereka. Ketika gereja dilempari batu malam-malam, tak jarang batu-batu itu mampir ke kamarku yang terletak tepat di sampingnya. Aku pikir, ini risiko pekerjaan menjadi seorang penjaga gereja. Yang jelas, tak sedikit pun aku bersalah terhadap mereka. Mereka membenci aku hanya karena aku punya keyakinan yang berbeda. Sungguh alasan yang tak masuk akal.


Aku tersesak, segeralah menjawab aku!

Entah bagaimana ceritanya, kemarahan mereka suatu ketika memuncak sampai ke ujung kepala. Mereka panas dan tak sudi lagi melihat ada gereja berdiri di desa ini. Pasti ada peran satu dua penghasut dalam hal ini. Maka terjadilah, pada hari itu, segerombolan besar orang datang berbondong-bondong mengepung gereja kami. Masing-masing menggenggam sesuatu di tangannya: batu, parang, kayu, bambu runcing, seperti zaman perang kemerdekaan saja.

Celakanya, di gereja hanya ada aku seorang diri. Isu penyerbuan memang sudah beredar kencang sejak kemarin. Umat sudah bubar, menjauh dari desa ini untuk sementara, masing-masing mencari tempat yang aman. Aku bisa saja ikut pergi. Tapi, masa rumah Tuhan kutinggalkan begitu saja? Mana tanggung jawabku? Tadi malam aku menelepon ke gereja paroki untuk minta nasihat pastor, tapi rupanya ia sedang berkunjung ke Bapak Uskupnya yang ada di Jakarta. Jadi sudahlah, aku putuskan untuk tetap bertahan. Siapa tahu, keadaan akan membaik.

Tapi keadaan justru makin buruk. Siang itu, di bawah terik matahari yang panas menyengat, massa yang beringas sudah bersiaga di sekeliling gereja, siap meruntuhkannya. Karena di situ hanya ada aku seorang, mereka segera menyeretku ke tengah-tengah kerumunan. Aku disidang, dituduh sebagai penyembah patung, penyembah Allah yang jumlahnya tiga, dan macam-macam hal lainnya. Tak lupa mereka menuding-nuding aku dengan parang dan mendorong aku ke sana-kemari. Semua berjalan begitu cepat, aku tak bisa berbuat apa-apa.

Puas menyengsarakan diriku, mereka berkata bahwa gereja ini harus dirobohkan. Aku disuruh pergi kalau mau selamat. Tapi aku bergeming tak bergerak. Kubulatkan tekadku untuk tidak melangkah pergi satu tapak pun. Aku tak rela Tuhan sendirian manakala rumah-Nya dihancurkan. Aku akan menemani-Nya.

Melihat aku tidak memedulikan perintah mereka, orang-orang itu jadi marah. Seorang yang tampaknya kepala gerombolan itu segera maju, mencengkeram kerah bajuku, dan berteriak persis di depan mukaku, “Hai, Kafir! Jangan cari mati! Darahmu itu halal untuk ditumpahkan, tahu? Pergi sana!”

Mendengar itu, emosiku langsung membara. Aku beriman kepada Tuhan dengan sepenuh hati. Aku bukan orang kafir! Jari-jari tanganku mendadak mengepal dengan sendirinya, lalu – tanpa disuruh – tinjuku melayang, menghantam muka orang itu dengan derasnya, “Jebreeeetttt…….!!!”

Aku teringat, Yesus pernah berkata, “Janganlah kamu melawan orang yang berbuat jahat kepadamu, melainkan siapa pun yang menampar pipi kananmu, berilah juga kepadanya pipi kirimu.” Tuhan, maafkan aku. Aku terlalu muda untuk memahami perintah itu. Lagi pula, semuanya terjadi begitu saja, aku tak sempat berpikir panjang. Ya, aku mungkin telah bertindak bodoh. Tapi itu belum seberapa. Yang lebih bodoh lagi, begitu orang yang kutinju itu jatuh berguling-guling dan menjerit-jerit kesakitan, aku segera meloloskan diri dari kerumunan, lalu lari masuk ke dalam gereja!

Jadi, begitulah asal mula diriku terkurung di tempat ini. Tentu saja tinjuku tadi membuat kemarahan mereka makin meluap-luap. Mereka langsung saja memburuku, berusaha mendobrak masuk. Sambil terengah-engah di balik pintu, aku berharap Tuhan menyingkirkan mereka, seperti Ia menyingkirkan pasukan Mesir yang mengejar Musa, tapi itu tidak terjadi. Aku juga berharap Tuhan membuat mata mereka buta, seperti yang dilakukan-Nya pada orang-orang yang mengepung rumah Lot, tapi itu pun tidak terjadi. Yang terjadi, orang-orang di luar sana makin lama makin kalap. Mereka melemparkan aneka jenis bebatuan dan mulai menumbuk-numbuk tembok gereja. Lalu tiba-tiba saja, aku menyadari diriku sudah dikepung api…


Penutup: Cinta untuk rumah-Mu menghanguskan aku

Bumi diliput senja, matahari mulai terbenam. Gereja yang tadinya berdiri tegak kini telah menjadi timbunan puing. Tidak satu batu pun yang dibiarkan terletak di atas batu yang lain. Semuanya telah diruntuhkan, rata dengan tanah.

Amuk massa telah berakhir. Orang-orang itu telah kembali ke rumahnya masing-masing dengan rasa puas karena hasratnya telah terpenuhi. Umat yang tercerai-berai belum berani datang berkunjung, mereka menunggu sampai situasi benar-benar aman. Pastor yang berada di Jakarta sangat terkejut mendengar tragedi itu. Ia ingin segera pulang, namun kehabisan tiket pesawat. Sunyi. Yang tersisa sore itu hanyalah kepalan asap dan kesunyian yang mencekam.

Aku memandangi diriku yang tertelungkup ditimpa pintu gereja. Tubuhku sekarang hitam legam seperti arang, hangus dibakar api. Mati dengan cara demikian pastinya tidak menjadi cita-cita banyak orang, termasuk aku. Tapi, apa boleh buat? Suatu ungkapan dari kitab Mazmur terlintas dalam ingatanku, “Cinta untuk rumah-Mu menghanguskan aku.” Itulah yang terjadi pada diriku. Aku mencintai rumah Tuhan, dan cinta itu membuatku hangus, benar-benar hangus.

Kemudian aku menengok ke atas, menanti-nanti malaikat Tuhan datang menjemputku. Apakah aku akan dibawanya ke surga? Ataukah tinjuku tadi akan mengantarku ke neraka? Atau mungkin aku akan dibawa dulu ke api penyucian untuk dimurnikan? Hmmm, kita lihat saja nanti…***


Kepustakaan

Barth, Marie Claire, dan B.A. Pareira. Tafsir Alkitab: Kitab Mazmur 1-72. Jakarta: BPK Gunung Mulia, 1999.
Mays, James L. Psalms. Louisville: John Knox Press, 1994.
Stuhlmueller, Carroll. Psalms 1. Delaware: Michael Glazier, Inc, 1983.









DIALOG INTERRELIGIUS : Historisitas, Tesis, Pergumulan, Wajah
Prof. Dr. E. Armada Riyanto CM
Cet.1, 2010, 147 x 210 mm, xvi + 259 hlm, KANISIUS
Harga Rp 80.000,-
Harga Member Rp. 72.000,- (disc 10%)
Kategori : Teologi
ISBN : 978-979-21-2713-3


Buku ini sebagai sebuah studi tentang dialog dari berbagai perspektif: historisitas, tesis-sistemasi doctrinal, pergumulan dan peziarahan eksistensial, serta kesaksian wajah pelaku utama dialog, yaitu Gereja local, buku ini barangkali terbilang pertama dalam hal keluasan dan kedalaman kontribusi eksploratifnya dalam khasanah teologis Indonesia.

Pemesanan : 021 - 8318633, 8290247
Fax : 021 – 83795929
SMS Center : 021 - 93692428

Daftar menjadi Member : kbr@biblikaindonesia.org









Kumpulan Anekdot dan Lelucon: PASTOR GOKIL
Fred Soesilo
Cet.1, 2010, 150 x 150 mm, xvi + 88 hlm, KANISIUS
Harga Rp 16.000,-
Harga Member Rp. 14.400,- (disc 10%)
Kategori : Inspirasi
ISBN : 978-979-21-2765-2


Buku ini berisikan kumpulan-kumpulan anekdot dan lelucon yang lucu, menggembirakan, menyegarkan, relevan dengan keseharian hidup kita. Smoga buku ini bisa menjadi salah satu inspirasi dan Anda jadi terhibur.

Pemesanan : 021 - 8318633, 8290247
Fax : 021 – 83795929
SMS Center : 021 - 93692428

Daftar menjadi Member : kbr@biblikaindonesia.org










MENCINTAI LITURGI
Frans Sugiono
Cet.1, 2010, 125 x 190 mm, 153 hlm, KANISIUS
Harga Rp 20.000,-
Harga Member Rp. 18.000,- (disc 10%)
Kategori : Liturgi
ISBN : 978-979-21-2714-0


Ada banyak hal yang perlu dipersiapkan untuk sebuah perayaan liturgy. Ada banyak orang pula yang belum mengetahui apa arti liturgy dan bagian-bagiannya serta apa yang perlu dipersiapkan. Buku ini menjawab kebutuhan para tim liturgy paroki, prodiakon, katekis, dan siapa saja yang mempunyai hari dengan liturgi.

Pemesanan : 021 - 8318633, 8290247
Fax : 021 – 83795929
SMS Center : 021 - 93692428

Daftar menjadi Member : kbr@biblikaindonesia.org