Senin, Januari 24, 2011

PERJALANAN MISI KERASULAN PETRUS
Alfons Jehadut


Kematian Stefanus dan penganiayaan terhadap komunitas kristiani di Yerusalem telah memaksa mereka meninggalkan Yerusalem. Mereka semua, kecuali rasul-rasul, tersebar ke seluruh daerah Yudea dan Samaria. Mereka menjelajah seluruh negeri itu sambil memberitakan Injil tentang Kerajaan Allah. Mereka tetap menjalankan tugas yang telah diberikan oleh Yesus yang bangkit, yakni menjadi saksi-Nya di Yerusalem dan di seluruh Yudea dan Samaria dan sampai ke ujung bumi (Kis. 1:8), meski mereka dianiaya.

Kisah penyebaran injil di luar Yerusalem dimulai dengan kisah perjalanan dan kegiatan misi kerasulan Filipus ke beberapa kota di Samaria (Kis. 8:4-25). Perjalanan dan kegiatan misi ini tidak perlu dianggap sebagai awal pewartaan injil kepada orang yang bukan Yahudi sebab orang Samaria masih dianggap sebagai keturunan Abraham dan menaati hukum Taurat meski mereka saling bermusuhan.

Meski Filipus adalah orang pertama yang memulai langkah perjalanan dan kegiatan misi kerasulan di Samaria, Lida, dan Yope, namun kita tidak boleh melupakan peran penting Petrus. Bagaimana Lukas melukiskan peran Petrus dalam kegiatan misi kerasulan di Samaria, Lida, dan Yope? Bab ini akan berfokus pada perjalanan dan kegiatan misi kerasulan Petrus di Samaria, Lida, dan Yope. Perjalanan dan kegiatan misi di tempat-tempat ini dilihat sebagai suatu bentuk persiapan dan langkah awal misi kerasulannya kepada orang-orang yang bukan Yahudi.

1. Misi kerasulan Petrus di Samaria (Kis. 8:14-25)

Alur kisah perjalanan dan kegiatan misi kerasulan Petrus di Samaria (8:14-25) dapat dibagi dalam dua bagian. Pertama, kisah seputar kedatangan Petrus dan Yohanes dari Yerusalem dan kegiatan penumpangan tangan mereka di atas kepala orang-orang Samaria yang belum menerima Roh Kudus (ay. 14-17). Kedua, kisah tentang upaya Simon untuk membeli kuasa pencurahan Roh Kudus (ay. 18-25).

1.1. Petrus menumpangkan tangannya atas orang-orang Samaria

Para rasul di Yerusalem mendengar informasi bahwa orang Samaria telah menerima firman Allah. Ungkapan “menerima firman Allah” mungkin berarti bahwa mereka telah menjadi pengikut jalan Tuhan. Mereka menjadi pengikut jalan Tuhan berkat pewartaan Filipus yang bukan salah seorang rasul (Kis. 1:3), tetapi salah seorang dari tujuh diakon (6:5).

Filipus mewartakan Mesias kepada orang-orang Samaria (Kis. 8:5-13). Perwartaannya ini membangkitkan daya tarik para pendengarnya. Mereka tertarik karena pengharapan akan kedatangan seorang pembebas pada masa yang akan datang merupakan bagian dari teologi mereka (Yoh. 4:25). Daya tarik mereka dibangkitkan juga oleh apa yang mereka lihat. Mereka melihat tanda-tanda ajaib yang dilakukan oleh Filipus. Seperti Petrus (Kis. 5:16), Filipus mengusir roh-roh jahat, menyembuhkan orang lumpuh dan timpang di Samaria.

Dampak pewartaan Filipus yang disertai tanda-tanda ajaib adalah banyak orang memperhatikan apa yang diwartakannya dengan sepenuh hati. Mereka percaya pada pewartaan injilnya tentang kerajaan Allah dan nama Yesus. Mereka lalu memberi diri mereka untuk dibaptis, baik laki-laki maupun perempuan. Simon yang sejak lama telah melakukan sihir sekalipun menjadi percaya dan dibaptis. Ia takjub ketika melihat tanda-tanda dan mukjizat-mukjizat besar yang dilakukan oleh Allah dengan perantaraan Filipus ia senantiasa bersama-sama dengan Filipus setelah dirinya dibaptis.

Menanggapi informasi bahwa orang Samaria telah menerima firman Allah, para rasul di Yerusalem mengutus Petrus dan Yohanes untuk mengamati peristiwa pertobatan tersebut. Tanggapan serupa diberikan ketika mereka mendengar informasi keberhasilan pewartaan injil di antara orang Yunani di Antiokhia (Kis. 11:20). Mereka mendengar bahwa ada sejumlah besar orang menjadi percaya dan berbalik kepada Tuhan berkat perwartaan yang dilakukan oleh beberapa murid yang tidak disebutkan namanya. Maka, para rasul mengutus Barnabas untuk mengamati dan mengevaluasi peristiwa tersebut (Kis. 11:22).

Tanggapan para rasul di Yerusalem dengan mengirim utusan di atas barangkali mau menegaskan peran kepemimpinan dan pengawasan mereka. Sebagai pemimpin dan pengawasan, para rasul kadang-kadang didatangi oleh jemaat untuk melaporkan dan mendapatkan persetujuan atas pewartaan dan pengajaran (Kis. 9:27; 11:2; 15:2). Para rasul kadang-kadang juga mengirim utusan untuk menyelidiki pewartaan para murid di luar Yerusalem (8:14; 11:22-24). Mengirim utusan mungkin harus dipandang sebagai suatu cara lain untuk mengatakan bahwa para rasul memiliki peran untuk memberi pembenaran dan pengesahan bagi perkembangan dan perluasan misi pewartaan di tempat yang baru.

Ketika tiba di Samaria, Petrus dan Yohanes berdoa supaya orang Samaria beroleh Roh Kudus. Mereka menyadari bahwa karunia Roh Kudus hanya datang dari Allah. Karunia Roh Kudus dijanjikan oleh Allah bagi orang yang memintanya dalam doa (Luk. 11:13). Yesus sendiri menerima Roh Kudus ketika sedang berdoa (Luk. 3:21-22), para rasul menantikan Roh Kudus dalam doa (Kis. 1:14), dan para murid dipenuhi oleh Roh Kudus sebagai jawaban atas doa mereka (Kis. 4:31). Sambil berdoa, mereka menumpangkan tangan atas orang Samaria. Penumpangan tangan di sini dilihat sebagai sebuah gerakan liturgis yang dimaksudkan untuk memohon karunia Roh Kudus dan pada saat yang sama mencurahkannya kepada orang-orang Samaria yang telah percaya pada pewartaan Filipus dan dibaptis dalam nama Yesus.

Penumpangan tangan sesungguhnya tidak hanya berkaitan dengan pencurahan Roh Kudus, tetapi juga dengan pelayanan dan kegiatan misi kerasulan khusus. Ketika mengangkat tujuh orang untuk suatu tugas pelayanan khusus kepada orang kristiani yang berbicara bahasa Yunani di Yerusalem, para rasul berdoa dan menumpangkan tangan (Kis 6:6). Di sini penumpangan tangan mungkin memiliki dua makna. Pertama, suatu bentuk sikap doa untuk mohon karunia dan rahmat khusus supaya bisa melayani komunitas dengan baik. Kedua, suatu tanda persekutuan antara para rasul dengan tujuh orang yang dipilih secara khusus untuk melakukan tugas dan tanggung jawab bagi kesejahteraan komunitas kristiani. Dengan menumpangkan tangan, para rasul mau membawa orang-orang yang baru saja terpilih ke dalam relasi persekutuan yang istimewa dengan mereka dan memberi mereka suatu bagian pelayanan pastoral bagi kawanan umat Kristus.

Penumpangan tangan juga terjadi ketika Roh Kudus meminta gereja Antiokhia untuk mengkhususkan Barnabas dan Saulus bagi tugas misi kerasulan yang akan ditentukan-Nya (Kis 13:2-3). Menanggapi permintaan ini jemaat Antiokhia berdoa dan berpuasa. Mereka lalu menumpang tangan di atas kepala Barnabas dan Saulus. Penumpangan tangan ini tidak boleh dilihat secara anakronistik sebagai suatu bentuk tahbisan, tetapi sebagai suatu pengangkatan dan pengutusan untuk menjalankan karya misi pewartaan yang khusus. Semua jemaat Antiokhia terlibat dalam pengutusan Barnabas dan Saulus. Karena telah diangkat dan diutus oleh gereja Antiokhia, maka mereka disebut “rasul” yakni utusan resmi yang mewakili gereja Antiokhia untuk suatu misi yang khusus (Kis. 14:4, 14).

Mengapa Petrus dan Yohanes berdoa dan menumpangkan tangan atas orang Samaria supaya mereka menerima Roh Kudus? “Sebab Roh Kudus belum turun di atas seorang pun di antara mereka, karena mereka hanya dibaptis dalam nama Tuhan Yesus” (ay. 16). Alasan ini tampaknya aneh karena baptisan dalam nama Yesus biasanya disertai dengan penerimaan Roh Kudus (Kis. 2:38). Kisah pertobatan orang Samaria memperlihatkan bahwa baptisan dalam nama Yesus tidak otomatis menerima Roh Kudus. Bagaimana kita bisa menjelaskan penundaan penerimaan Roh Kudus atas orang Samaria meski mereka telah dibaptis dalam nama Yesus?
Shepherd menjelaskan penundaan penerimaan Roh Kudus dari sudut pandang inkonsistensi Lukas dalam menggambarkan hubungan antara baptisan, penumpangan tangan, dan penerimaan Roh Kudus. Inkonsistensi ini memperlihatkan bahwa cara kerja Roh Kudus tidak bisa dirumuskan dalam suatu pola kerja tertentu. Roh Kudus memiliki pola kerjanya sendiri dan bertindak secara bebas tanpa terpaku dalam satu pola yang bisa dijelaskan secara logis. Pola kerja dan tindakan Roh Kudus itu amat kompleks sehingga tidak bisa dirumuskan secara jelas dan tegas.

Penjelasan Shepherd di atas terkait erat dengan pandangan Talbert yang mengatakan bahwa tidak ada rangkaian prosedural yang baku untuk menerima karunia Roh Kudus. Pandangan ini ditarik dari sejumlah kisah penerimaan karunia Roh Kudus. Dalam Kis. 2:38, karunia Roh diterima secara bersamaan pada waktu baptisan dalam nama Yesus. Hal ini berbeda dengan kisah baptisan orang Samaria (Kis. 8:15-17). Roh Kudus tidak langsung diterima pada waktu baptisan. Roh Kudus baru diterima setelah Petrus dan Yohanes menumpangkan tangan. Di tempat lain, Roh Kudus diterima oleh Paulus pada saat Ananias menumpangkan tangan atasnya sebelum dibaptis dalam nama Yesus (Kis. 9:17-18). Orang-orang yang mendengarkan pewartaan Petrus di rumah Kornelius juga menerima Roh Kudus sebelum mereka dibaptis dalam nama Yesus (Kis. 10:44-48). Dari kisah-kisah terlihat jelas bahwa karunia Roh Kudus tidak dapat dibingkai dan dirumuskan dalam rangkaian prosedur tertentu.

Berbeda dengan kedua penjelasan di atas, Tannehill menjelaskan penundaan pencurahan Roh Kudus dari sudut pandang hubungan timbal balik antara Filipus sebagai pemrakarsa (initiator) dan Petrus sebagai penguji kebenaran (verifier) kegiatan misi kerasulan. Hubungan timbal balik ini memperlihatkan adanya jalinan kerja sama dalam kegiatan misi kerasulan antara Filipus sebagai pemrakarsa dan Petrus sebagai penguji kebenaran kegiatan misi kerasulan.

Hubungan timbal balik antara Filipus dan Petrus itu dijelaskan secara lebih lanjut oleh Spenser dengan model relasi antara seorang yang mempersiapkan jalan (forerunner) dengan seorang yang akan datang lebih kemudian (culminator). Model relasi ini mungkin mengadopsi relasi Yohanes Pembaptis dengan Yesus. Yohanes Pembaptis adalah seorang yang mempersiapkan jalan bagi kedatangan Yesus dengan mewartakan dan membaptis orang yang bertobat dengan baptisan air. Yesus yang datang lebih kemudian akan membaptis mereka dengan baptisan Roh Kudus.

Dalam model relasi Yohanes Pembaptis dan Yesus, Filipus dilihat sebagai seorang yang mempersiapkan jalan bagi kedatangan Petrus dengan mewartakan injil dan membaptis orang Samaria yang percaya dengan baptisan air. Petrus yang datang lebih kemudian akan berdoa dan menumpangkan tangan untuk mencurahkan Roh Kudus kepada mereka yang telah dibaptis. Pola relasi ini lebih menekankan hubungan timbal balik yang seimbang daripada hubungan subordinasi sebab Filipus dan Petrus menjalankan misi kerasulan yang berbeda-beda. Maka, tidak ada alasan untuk berasumsi bahwa penumpangan tangan untuk mencurahkan Roh Kudus yang dilakukan oleh Petrus lebih penting daripada pewartaan dan baptisan yang dilakukan oleh Filipus.

Dari beberapa penjelasan di atas kita bisa simpulkan bahwa tidak ada tahap baku yang harus dilalui sebelum menerima Roh Kudus. Penundaan penerimaan Roh Kudus yang dialami oleh orang Samaria bukan karena Filipus lupa menumpangkan tangannya atas mereka. Penumpangan tangan bukanlah syarat mutlak untuk menerima karunia Roh Kudus (Kis. 2:38). Kuasa untuk mencurahkan Roh Kudus itu juga bukanlah monopoli para rasul. Ananias yang bukan seorang rasul menumpangkan tangannya atas Paulus sehingga bisa melihat lagi dan dipenuhi dengan Roh Kudus (Kis. 9:17). Peran penting Filipus dalam mewartakan injil dan membaptis orang Samaria yang percaya pada pewartaannya sama sekali tidak berkurang karena tidak menumpangkan tangan untuk mencurahkan Roh Kudus.

1.2. Tanggapan Petrus atas permintaan Simon

Simon, seorang yang memiliki kekuatan dan kuasa sihir, telah bertobat dan memberikan dirinya untuk dibaptis. Ia telah percaya, dibaptis, dan membaktikan dirinya secara lebih dekat dengan Filipus. Pewartaan dan tanda-tanda yang dilakukan Filipus telah membuatnya bertobat dari masa lalunya. Namun, apakah Simon sungguh-sungguh telah bertobat?

Melihat Petrus dan Yohanes menumpangkan tangan untuk mencurahkan Roh Kudus kepada orang-orang Samaria yang telah percaya dan dibaptis, Simon meminta kepada Petrus kuasa untuk mencurahkan Roh Kudus dengan menumpangkan tangannya. Simon tidak meminta karunia Roh Kudus, tetapi kuasa untuk mencurahkan Roh Kudus kepada orang lain. Untuk mendapatkan kuasa itu ia menawarkan uang.

Mengapa Simon menawarkan sejumlah uang untuk mendapatkan kuasa untuk mencurahkan Roh Kudus? Alasan karena ia berpikir bahwa Roh Kudus dapat dibeli dengan uang. Pola pikir ini terlihat jelas dalam tanggapan Petrus, “engkau menyangka, bahwa engkau dapat membeli karunia Allah dengan uang” (ay. 20). Pola pikir ini masih mencerminkan pola pikirnya sebagai seorang tukang sihir yang biasanya meminta bayaran atas jasa kekuatan sihirnya. Di sini ia mungkin bercita-cita untuk menjadi seorang tukang sihir kristiani melalui kuasa untuk mencurahkan Roh Kudus kepada orang lain.

Pola pikir Simon di atas mendatangkan teguran keras dan kutukan dari Petrus, “Binasalah kiranya uangmu itu bersama dengan engkau!” (ay. 20). Teguran keras ini menunjukkan bahwa Roh Kudus tidak dapat dibeli dengan uang. Uang sebagai salah satu simbol kekuasaan manusiawi tidak bisa mengontrol kekuasaan untuk mencurahkan Roh Kudus. Allah sendirilah yang mengontrol karunia Roh Kudus. Para rasul sekalipun tidak memiliki kuasa untuk mengontrol Roh Kudus. Dengan berdoa mohon pencurahan Roh Kudus, mereka mengakui bahwa mereka sendiri tidak bisa mencurahkan Roh Kudus dengan kekuatan dan kuasa mereka sendiri. Mereka hanya dapat meminta Allah untuk memberikan Roh Kudus-Nya sesuai dengan kehendak-Nya. Roh Kudus diberikan secara bebas dan cuma-cuma kepada orang yang berkenan kepada-Nya.

Teguran keras Petrus disertai dengan sebuah dakwaan kepada Simon. “Tidak ada bagian atau hakmu dalam perkara ini, sebab hatimu tidak lurus di hadapan Allah” (ay. 21). Simon tidak bisa mengambil bagian dalam tugas kerasulan seperti yang dipercayakan kepada para rasul. Ia juga tidak bisa berpartisipasi dalam tawaran keselamatan yang dijanjikan kepada semua orang meski telah beriman dan dibaptis sebagai seorang kristiani. Dakwaan ini sejajar dengan dakwaan yang diberikan kepada Yudas Iskariot yang telah berkhianat (Kis 1:17). Faktor keuangan ada dibalik kehilangan statusnya sebagai orang rasul dan tugas pelayanannya bersama dengan para rasul.

Simon kemudian diminta untuk bertobat dan berdoa kepada Tuhan sebab hatinya telah seperti “empedu yang pahit dan terjerat dalam kejahatan” (ay. 23). Baik ungkapan “seperti empedu yang pahit” maupun “terjerat kejahatan” dipakai untuk memperlihatkan bahwa hati Simon berada di bawah pengaruh kuasa Setan. Pertobatan adalah satu-satu jalan yang harus dilakukan supaya terlepas dari pengaruh kuasa setan dan dosanya diampuni. Di sini pertobatan dengan jelas mengacu pada suatu perubahan cara berpikir dan bertindak berkaitan dengan penggunaan uang yang benar.

Tawaran pertobatan di atas ditanggapi oleh Simon dengan meminta Petrus dan Yohanes berdoa bagi dirinya supaya bebas dari semua dakwaan. Permintaan ini memperlihatkan bahwa Simon menolak untuk bertindak demi kepentingannya sendiri. Simon meletakkan tanggung jawab untuk menyelamatkan jiwanya kepada Petrus dan Yohanes. Simon ingin bebas dari hukuman atas dosa yang telah dilakukannya, tetapi tidak mau bertanggung jawab bagi pertobatannya sendiri.

Akhir perikop ini menyisakan sebuah masalah yang tidak terpecahkan karena tidak menceritakan tanggapan Petrus atas permintaan Simon. Perikop ini berakhir dengan sebuah catatan tentang bagaimana para rasul sendiri bersaksi dan mewartakan injil di desa-desa di Samaria pada waktu mereka pulang ke Yerusalem. Kegiatan misi kerasulan kepada orang-orang Samaria yang telah dimulai oleh Filipus diteruskan oleh para pemimpin gereja di Yerusalem. Catatan akhir ini menegaskan bahwa para rasul mengambil bagian dalam memperluas misi kerasulan kepada orang-orang Samaria. Dengan berbuat demikian, mereka telah memenuhi tugas yang diberikan oleh Yesus Kristus yang bangkit (Kis. 1:8).

2. Perjalanan misi Petrus ke Lida dan Yope (Kis. 9:32-43)

Perjalanan misi Petrus ke Lida dan Yope mengindikasikan bahwa secara geografis injil telah diwartakan di Yerusalem, Yudea, dan Samaria sehingga injil berada di ambang pintu keluar menuju ke “ujung bumi” (Kis. 1:8). Maka, perjalanan Petrus ke daerah pesisir pantai ini dilihat sebagai sebuah persiapan bagi perjalanan dan kegiatan misi kepada seorang yang bukan Yahudi, Kornelius, seorang perwira pasukan, di Kaisarea.

Lukas mempersiapkan kisah pertobatan Kornelius dengan menceritakan dua kisah mukjizat Petrus, yakni penyembuhan Eneas di Lida (Kis. 9:32-35) dan kebangkitan Tabita di Yope (Kis. 9:36-42). Kedua kisah mukjizat ini menggemakan peristiwa yang pernah dilakukan oleh Yesus (Kis. 9:32-35//Luk. 5:18-26; Kis. 9:36-42//Luk 8:40-56). Dengan demikian, kuasa penyembuhan Yesus hadir secara berkesinambungan dalam diri para rasul.

2.1. Penyembuhan Eneas di Lida (Kis. 9: 32-35)

Kisah penyembuhan Eneas dibuka dengan pernyataan bahwa “Petrus berjalan keliling, mengadakan kunjungan ke mana-mana” (ay. 32). Perjalanan keliling itu dapat dilihat baik sebagai perjalanan misi maupun penyelidikan atas kehidupan gereja yang telah dibangun oleh orang lain. Dalam perjalanan keliling itu Petrus singgah kepada orang-orang kudus di Lida, sebuah kota di Yudea (1Mak. 11:34), yang terletak di antara Yerusalem dan Yope. Ungkapan “orang-orang kudus” mengisyaratkan bahwa sudah ada umat kristiani di Lida karena umat kristiani sering disebut sebagai orang-orang kudus dalam berbagai kesempatan (Kis. 9:13, 32, 4217, 20:32; 26:10).

Siapa yang mewartakan injil di Lida? Meski perikop ini tidak memberitahukan siapa yang melakukan misi kerasulan di sana, namun ada yang berasumsi bahwa gereja di sana muncul sebagai hasil dari misi kerasulan Filipus. Asumsi itu masuk akal karena kita telah diinformasikan bahwa Filipus meneruskan perjalanannya ke daerah-daerah pesisir dari Asdod sampai ke Kaisarea sambil mewartakan injil di semua kota yang dilaluinya (Kis. 8:40).

Di antara umat kristiani di Lida, Petrus bertemu dengan Eneas yang telah delapan tahun terbaring di tempat tidur karena lumpuh. Memberitahukan lamanya waktu sakit barangkali mau menunjukkan bahwa Eneas sakit serius dan penyembuhan tampaknya tidaklah mudah. Walau tidak mudah, Petrus ternyata bisa menyembuhkannya dengan mudah. Mukjizat penyembuhan itu terjadi pada waktu ia berkata, “Eneas, Yesus Kristus menyembuhkan engkau” (ay. 34). Kata-kata ini diikuti dengan sebuah perintah, “bangunlah dan bereskanlah tempat tidurmu!” (ay. 34). Perintah ini menekankan bahwa penyembuhan benar-benar telah terjadi.

Mukjizat penyembuhan Eneas berdampak luas. Semua penduduk Lida dan Saron berbalik kepada Tuhan. Lukas sering menggunakan istilah “berbalik” untuk mengacu pada pertobatan orang Yahudi (Kis. 3:19; 9:35; 26:20; bdk. 2Kor. 3:16) dan bukan Yahudi (Kis. 11:21; 14:15; 15:19; 26:18, 20; bdk. 1Tes 1:19). Klaim bahwa “semua penduduk” berbalik kepada Tuhan mungkin perlu dilihat sebagai sebuah gaya bahasa hiperbola atas fakta bahwa ada banyak orang yang bertobat di antara penduduk Lida dan Saron. Banyaknya orang yang bertobat itu bukan karena mereka menyaksikan sendiri peristiwa mukjizat melainkan karena mereka melihat Eneas telah sembuh dan berpartisipasi kehidupan bermasyarakat. Diandaikan bahwa mukjizat penyembuhan Eneas tidak disaksikan oleh orang banyak tetapi hanya oleh sebagian kecil anggota komunitas kristiani di Lida.

2.2. Kebangkitan Tabita (Kis. 9: 36-42)

Selain di Lida, orang kristiani sudah ada di Yope. Kota Yope disebutkan secara berulang-ulang kali dalam Kisah Para Rasul (9:36, 38, 42, 43, 10:5, 8, 23, 32; 11:5, 13). Sebutan berulang-ulang itu dimaksudkan untuk menekankan pentingnya kota tersebut. Kota itu penting mungkin karena penduduknya didominasi oleh orang-orang bukan yang Yahudi. Dengan demikian, kisah ini dipersiapkan Lukas untuk membaca kisah perjumpaan Petrus dengan Kornelius yang bukan seorang Yahudi di Kaisarea (Kis. 10:1-11:18).

Salah seorang murid yang disebutkan secara khusus di Yope adalah seorang perempuan yang bernama Tabitha. Tabita digambarkan sebagai seorang murid yang mengabdikan hidupnya pada karya kebaikan dan kasih dengan memberi sedekah. Ia jatuh sakit dan akhirnya meninggal. Jenazahnya lalu dimandikan dan ditempatkan di ruang atas.

Menempatkan jenazahnya di ruang atas merupakan tindakan yang tidak lazim dalam tradisi Yahudi. Jenazah yang telah dimandikan biasanya diletakkan di tempat yang lebih umum di dalam rumah atau di luar rumah. Tindakan yang tidak lazim ini mungkin perlu dilihat dari sudut pandang Lukas tentang ruang atas sebagai tempat untuk berdoa (Luk. 22:12; 1:13-14; Kis. 10:9). Ruang atas dilihat sebagai sebuah tempat yang biasa dipakai oleh orang-orang kristiani untuk berkumpul dan berdoa.

Pada saat Tabitha meninggal, para murid lain mendengar bahwa Petrus berada di Lida. Para murid itu mengirim dua orang utusan untuk mengundangnya agar segera datang. Tekanan pada aspek waktu yang tidak boleh ditunda-tunda (ay. 38) mungkin terkait dengan praktek penguburan orang Yahudi yang dilangsungkan pada hari yang sama dengan hari kematian seseorang (Ul. 21:23). Undangan ini mengisyaratkan adanya sebuah pengakuan secara tidak langsung bahwa Petrus dianugerahi kemampuan untuk membangkitkan orang mati.

Petrus lalu datang bersama dengan dua orang utusan dan dibawa ke ruang atas tempat jenazah Tabitha dibaringkan. Ruangan tempat jenazah Tabitha dibaringkan itu dipenuhi oleh para pelayat yang secara khusus disebutkan para janda. Para janda itu menunjukkan kepada Petrus pakaian yang dibuat oleh Tabitha. Memperlihatkan baju sebagai barang bukti merupakan sesuatu yang umum dalam Kitab Suci. Saudara Yusuf membawa pakaian Yusuf yang ternoda darah kepada Yakub sebagai bukti kematiannya (Kej. 37:31-33); Istri Potifar memperlihatkan kepada suaminya mantel Yusuf sebagai barang bukti bahwa ia telah bersetubuh dengannya (Kej. 39:11-20). Dengan memperlihatkan pakaian yang dibuat oleh Tabitha, para janda mungkin mau menunjukkan bukti perbuatan baik yang telah dilakukannya kepada mereka.

Ketika sampai di ruang atas, tempat jenazah Tabita dibaringkan, Petrus meminta semua orang yang melayatnya untuk meninggalkan ruangan (bdk. Mrk. 5:40, Luk. 8:54). Permintaan ini mungkin dimaksudkan supaya ia bisa berdoa seorang diri. Dengan berdoa, ia memperlihatkan bahwa kebangkitan Tabitha terjadi tidak terjadi karena kekuatan dan kuasanya tetapi karena kekuatan dan kuasa Allah. Setelah berdoa Petrus lalu memanggil nama perempuan yang sudah meninggal tersebut, “Tabita, bangkitlah!” (ay. 40). Panggilan dan perintah ini ditanggapinya dengan membuka mata dan duduk. Petrus lalu memegang tangannya untuk membantunya berdiri. Membuka mata, duduk, dan berdiri adalah tanda-tanda yang jelas bahwa Tabitha hidup lagi.

Dampak mukjizat kebangkitan Tabita sama seperti mukjizat penyembuhan Eneas. Menyaksikan dan mendengar kisah kebangkitan Tabita, banyak orang menjadi percaya kepada Tuhan (ay. 42). Mukjizat kebangkitan Tabitha telah membawa banyak orang percaya kepada Tuhan. Banyaknya orang yang percaya kepada Tuhan ini secara implisit mengungkapkan pengakuan bahwa kekuatan dan kuasa yang bekerja melalui Petrus tidak berasal dari dirinya sendiri, tetapi berasal dari Yesus Kristus.

Kisah mukjizat kebangkitan Tabitha diakhiri dengan informasi bahwa Petrus tinggal di Yope selama beberapa hari di rumah seorang Yahudi yang bernama Simon, penyamak kulit. Profesi sebagai penyamak kulit dianggap najis karena berhubungan dengan darah dan bangkai binatang (Im. 11:39-40). Informasi ini mungkin dimaksudkan sebagai antisipasi untuk kisah selanjutnya (Kis. 10:6, 17).

Ekskursus: Pertobatan Sida-sida Etiopia (Kis. 8:26-40)

Di sini kita tidak akan membicarakan secara detail kisah pertobatan Sida-sida Etiopia. Fokus perhatian hanya diberikan pada status religiusnya karena Lukas tidak menginformasikannya secara jelasnya. Fokus ini dimaksudkan untuk mengidentifikasi siapakah orang pertama dari orang yang berlatar belakang bukan Yahudi yang bertobat menjadi pengikut jalan Tuhan dan siapakah orang pertama yang membuka jalan misi kerasulan kepada orang-orang yang bukan Yahudi.

Kisah pertobatan sida-sida Etiopia telah memunculkan diskusi di antara para ahli tafsir. Ada sebagian ahli tafsir melihat Filipus sebagai perintis jalan misi kerasulan kepada orang-orang yang tidak bersunat karena sida-sida Etiopia dianggap sebagai seorang bukan Yahudi pertama yang bertobat menjadi pengikut jalan Tuhan. Sida-sida memang tidak diakui sebagai proselit Yahudi (Ul. 23:1) dan karena itu Lukas mungkin menganggapnya sebagai seorang bukan Yahudi. Namun, sebagian ahli tafsir lain menganggap sida-sida Etiopia sebagai seorang Yahudi diaspora dan karena itu Filipus bukanlah perintis misi kerasulan kepada orang-orang yang berlatar belakang bukan Yahudi.

Dari kedua pandangan di atas saya melihat pandangan yang terakhir lebih masuk akal. Gambaran bahwa sida-sida Etiopia sedang dalam perjalanan pulang dari Yerusalem dan duduk dalam keretanya sambil membaca kitab Yesaya mengisyaratkan status religiusnya sebagai seorang proselit atau seorang Yahudi diaspora. Isyarat itu diperkuat lagi oleh kenyataan bahwa Filipus tampaknya tidak sulit menjelaskan injil tentang Yesus Kristus kepadanya dengan bertolak dari perikop yang sedang dibacanya. Kenyataan ini mengindikasikan bahwa latar belakang religiusnya sebagai seorang Yahudi diaspora telah cukup mempersiapkannya untuk memahami pewartaan injil Filipus.

Pola kisah penyebaran injil dari Yerusalem kepada orang-orang yang tidak bersunat sebagaimana digambarkan oleh Lukas memperlihatkan suatu kemungkinan yang sangat besar bahwa sida-sida Etiopia ditempatkan sebagai seorang proselit atau seorang Yahudi diaspora. Penyebaran injil itu mula-mula bergerak di antara orang Yahudi lalu diteruskan kepada orang-orang Samaria, para proselit (sida-sida Etiopia), orang-orang yang tidak bersunat yang takut akan Tuhan (Kornelius), dan akhirnya kepada orang-orang yang tidak bersunat (Antiokhia). Dari pola ini terlihat bahwa kisah pertobatan sida-sida Etiopia digunakan oleh Lukas untuk mengarahkan pembacanya secara lebih dekat pada misi kerasulan kepada orang-orang yang tidak bersunat. Pertobatan sida-sida Etiopia dianggap sebagai pengantar bagi pertobatan seorang bukan Yahudi yang bernama Kornelius.

Rangkuman

Melintasi batas-batas religius dan budaya merupakan suatu aspek penting dalam memulai misi kerasulan di daerah atau lingkungan yang baru. Langkah awal Petrus melintasi batas religius dan budaya terjadi ketika ia diutus bersama dengan Yohanes oleh gereja Yerusalem ke Samaria. Langkah awal ini mempersiapkannya untuk mewartakan injil kepada orang-orang yang bukan Yahudi.

Petrus bersama dengan Yohanes diutus ke Samaria sebagai representasi dari para rasul di Yerusalem. Kehadiran mereka melengkapi kegiatan misi pewartaan yang telah dimulai oleh Filipus dengan berdoa dan menumpangkan tangan untuk mencurahkan Roh Kudus. Melalui doa dan penumpangan tangan mereka, Allah mencurahkan Roh Kudus kepada orang-orang Samaria sama seperti yang dicurahkan kepada para rasul dan para murid di Yerusalem. Di sini, Filipus dan kedua rasul yang diutus oleh para rasul di Yerusalem, yakni Petrus dan Yohanes, tampil sebagai rekan kerja yang saling melengkapi dalam tugas mewartakan injil.

Karya misi kerasulan Petrus di luar Yerusalem dilukiskan secara lebih lanjut dalam perjalanan misi kerasulannya di daerah pesisir pantai seperti Lida dan Yope yang didominasi oleh orang-orang yang bukan Yahudi. Di sini, Petrus melakukan dua karya mukjizat yang membawa banyak orang menjadi percaya kepada Tuhan dan dibaptis dalam nama Yesus.

1. Ungkapan “kecuali rasul-rasul” itu memunculkan diskusi di antara para ahli tafsir modern tentang siapa yang menjadi target utama penganiayaan? Penganiayaan itu tampaknya tidak diarahkan kepada semua pengikut jalan Tuhan, tetapi diarahkan secara selektif kepada orang kristiani yang berasal dari latar belakang Yunani. Mereka dianiaya karena mengkritik hukum Taurat dan bait Allah sebagaimana disampaikan oleh Stefanus (Kis 6:8-8:1a). Stefanus mengkritik pandangan yang menganggap bait Allah sebagai satu-satunya tempat kehadiran Allah. Bagi Stefanus, kehadiran Allah dalam sejarah bangsa Israel tidak terbatas pada satu tempat dan bangunan tertentu. Kritikan ini akhirnya melahirkan permusuhan dan penganiayaan yang tidak lagi bersifat selektif, tetapi menyeluruh kepada semua pengikut jalan Tuhan, baik jemaat maupun pemimpinnya yang dalam hal ini adalah para rasul (Kis. 9:26-30). Imam Besar memberi kuasa bagi Paulus untuk menganiaya semua pengikut jalan Tuhan (Kis 9:1-2). Bdk. Martin Hengel, Earliest Christianity: Containing Acts and the History of Earliest Christianity and Property and Riches in the Early Church (London: SCM Press, 1979), 75.

2. Andrew C. Clark, “The Role of the Apostles,” in Witness to the Gospel: the Theology of Acts (Grand Rapids: Eerdmans, 1998), 176.

3. Sullivan, “The Laying on of Hands in Christian Tradition” dalam Spirit and Renewal: Essays in Honor of J. Rodman Williams (Sheffield: Sheffield Academic Press, 1994), 45.

4. William H. Shepherd, The Narrative Function of the Holy Spirit as a Character in Luke-Acts (Atlanta: Scholars Press, 1994), 183-184.

5. Robert C. Tannehill, The Narrative Unity of Luke-Acts: A Literary Interpretation, vol. 2 (Minneapolis: Fortress Press, 1990), 104-105.

6. F. Scott Spencer, The Portrait of Philip in Acts: a Study of Roles and Relations (Sheffield: Sheffield Academic Press, 1992), 241.

Selasa, Januari 18, 2011

KURSUS KITAB SUCI Jan-Feb 11New!



KURSUS KITAB SUCI Jan-Feb 11



Yayasan Lembaga Biblika Indonesia membuka Kursus Kitab Suci (Tematik) periode Januari - Februari 2011. Kursus diadakan setiap Senin & Kamis pkl. 09.00-11.00 WIB. Tema Kursus Kitab Suci periode ini; Sahabat Yesus; Kisah Para Rasul


Pengantar Perjanjian Lama >>> Setiap Senin pkl 09.00 - 11.00
  1. Berkenalan dengan Kitab Suci
  2. Tanah Perjanjian
  3. Sejarah Umat Perjanjian
  4. Hidup Sehari-hari
  5. Ciri Corak Kitab Suci
  6. Tiga Tokoh Kunci
*Buku Utama: Groenen, C. Pengantar ke Dalam Perjanjian Lama. Yogyakarta: Kanisius, 1989.


Pengantar Perjanjian Baru >>> Setiap Kamis pkl 09.00 - 11.00

  1. Apa Yang “Baru”


Informasi : 021 - 8318633, 8290247
Fax : 021 – 83795929
SMS Center : 021 – 93692428
Email : kks@biblikaindonesia.org

Senin, Desember 20, 2010

Mazmur 145

UNTUK SETERUSNYA DAN SELAMANYA
Jarot Hadianto

“Aku hendak mengagungkan Engkau, ya Allahku, ya Raja,
dan aku hendak memuji nama-Mu untuk seterusnya dan selamanya.” (Mzm. 145:1)

“Masuk biara banyak tantangannya, aku tahu itu,” kataku dengan letih lesu kepada teman yang ada di hadapanku. Saat itu, senja mulai turun. Langit berwarna kemerahan, dan kegelapan mulai menyelimuti bumi.

Sore itu kami mengadakan acara sharing panggilan. Kegiatan ini dilakukan setelah ibadat sore, lamanya kira-kira setengah jam. Dua belas frater dibagi menjadi enam kelompok. Kami lalu bertukar pikiran berdua-dua, terinspirasi oleh dua orang murid Yesus yang berjalan menuju Emaus dalam kegelisahan. Aku dan seorang teman mengambil tempat di depan biara. Kami duduk lesehan di situ. Tema yang harus kami diskusikan kali ini adalah tantangan dalam hidup membiara, dan aku memulainya dengan kisah yang suram.

“Aku tahu, di biara aku harus memperbaiki hidupku, harus tahan menanggung godaan, harus mendekatkan diri kepada Tuhan, harus latihan meditasi dan mengolah hidup rohani. Aku tahu itu semua dan aku siap menghadapinya,” kataku lagi.

Temanku tak kunjung memberi tanggapan. Dari tadi ia hanya memandangiku, kelihatannya tidak antusias. Sesekali ia berlama-lama memejamkan mata, mungkin bertanya-tanya, mimpi apa semalam hingga sore ini dihujani keluh-kesah dan persoalan hidup orang lain.

“Tapi ada satu masalah besar yang tidak pernah aku sangka sebelumnya. Masalah ini sangat mengganggu!” demikian aku terus berbicara, kali ini dengan berkobar dan berapi-api. Nada suaraku sengaja kutinggikan agar temanku itu jadi punya minat untuk mendengarkan.
“Wah! Masalah apa itu?” tanya temanku penasaran. Pancinganku rupanya berhasil.
“MENYANYI! Aku tidak tahu bahwa di biara, orang harus bisa menyanyi! Dan aku tidak bisa menyanyi!” jawabku.

Yang namanya sharing mestinya didengarkan dengan hikmat dan penuh pengertian. Sayangnya temanku ini mungkin tak pernah mendengar anjuran tersebut. Pengakuanku disambutnya dengan ledakan tawa yang mengagetkan. Bahkan saking lucunya (menurut dia lucu, menurut aku tidak), tawanya tak kunjung berhenti walau sudah berlangsung 5 menit. “Sungguh makhluk tak berperasaan!” umpatku dalam hati.

Tapi, tanpa mengindahkan penderitaanku, ia terus saja tertawa sampai menangis dan memegangi perutnya yang mulai terasa sakit. Aku hanya dapat memandanginya dengan kesal. Anak ini rupanya masih mengingat kejadian saat ibadat sore tadi.


Setiap hari aku hendak memuji Engkau


Ibadat sore tadi memang berujung pada kekacauan. Dan yang patut dipersalahkan tidak lain dan tidak bukan adalah aku sendiri, sebab akulah yang memimpin ibadat itu. Sebagai pemimpin, mestinya aku dapat menciptakan suasana sedemikian rupa sehingga kami semua dapat beribadat dengan tenang dan hikmat. Tapi – maafkan aku, Tuhan – aku gagal.

Suasana rusuh sudah terasa sejak awal, yakni ketika aku melantunkan seruan pembuka: ‘Ya Allah, bersegeralah menolong aku.’ Not yang dipakai dalam seruan ini sebenarnya tidak banyak dan simpel saja: do-re-do-si-do-do. Aku cuma harus mengingat bahwa do pertama ditarik panjang-panjang, lalu antara nada si dan do ada ‘ayunan’ yang harus diwaspadai. Tapi, ya Tuhanku, karena tegang luar biasa dan karena pada dasarnya aku tak bisa menyanyi, rangkaian not sederhana itu di bibirku spontan berubah menjadi komposisi rumit dengan bunyi yang tidak karuan, miring ke sana dan miring ke sini. Frater-frater mulai menutup mulut, terkikik-kikik menahan tawa.

Kehancuran terjadi 15 menit kemudian, saat aku tampil lagi untuk ‘mengangkat’ Kidung Zakharia. Secara teknis, rangkaian nada dalam kidung ini memang lebih kompleks daripada dalam seruan pembuka. Bayangkan saja, di bagian belakang ada lima not dengan nada naik turun yang harus aku titi dengan tepat, tak boleh meleset, tak boleh terdengar fals. Sanggupkah aku? Aku ragu dan jadi gemetar. Tapi apa boleh buat, aku tak bisa mundur. Maka aku pun membulatkan tekad: aku hendak menyanyi untuk memuji nama Tuhan! Haleluya! Aku pasti bisa!

Maka, kupejamkan kedua mataku dan kutarik nafas dalam-dalam. Sesaat kemudian mulailah aku membuka mulut untuk melantunkan untaian syair yang indah penuh makna … dan habislah semuanya. Entah bagaimana caranya, aku membuat do jadi sol, sol jadi mi, dan mi jadi re. Konon kabarnya, dari mulutku keluar juga nada-nada baru yang belum pernah terdengar sebelumnya di alam semesta ini.

Pada saat itu, tanpa dikomando, seisi kapel langsung meledak. Teman-temanku tak kuat lagi menahan tawa. Sebagian berusaha menutup wajahnya dengan buku brevir, sebagian yang lain buru-buru keluar ruangan untuk tertawa sepuasnya di luar sana. Doa jadi kacau, ibadat sore bubar dengan sendirinya. Untung saat itu tak ada Pater Magister!


Tuhan itu panjang sabar dan besar kasih setia-Nya


Kalau hanya terjadi satu dua kali, tak apalah. Tapi peristiwa macam ini sudah terjadi berulang-ulang, dan sedihnya kemungkinan besar akan terus terjadi di masa mendatang. Bagaimana tidak, suaraku memang payah, tak bisa diperbaiki lagi. Jangan bilang aku malas berusaha, sebab aku sudah berdaya upaya sepanjang waktu untuk memperbaikinya. Setiap kali mendapat giliran memimpin ibadat, aku selalu mempersiapkan diri dengan sebaik-baiknya. Sehari sebelumnya aku pasti mengurung diri dalam kamar untuk latihan menyanyi sepanjang hari. Hasilnya, ya itu tadi, nol besar.

Pater Magister sebenarnya tak terlalu peduli apakah aku bisa menyanyi atau tidak. Dia ini orangnya keras, tapi hanya menyangkut hal-hal yang prinsip, nyanyi-menyanyi tidak termasuk di dalamnya. Yang tidak sabar melihat diriku adalah wakilnya, Socius Magister, atau yang biasa kami panggil Pater Socius. Maklum, dia ini seniman ulung dan penyanyi hebat tiada tara. Suaranya sangat merdu bagaikan suara malaikat yang turun dari surga. Dan jangan lupa, vibrasi suaranya itu lo. Kalau dia menyanyi, kaca-kaca jendela sampai bergetar dibuatnya. Pater Socius sangat peduli pada lagu-lagu Gregorian yang disebutnya ‘warisan luhur dari Bunda Gereja yang suci’. Ia sungguh tidak rela lagu-lagu surgawi itu turun martabatnya gara-gara suaraku yang sember.

Pertama kali mendengar aku menyanyi, Pater Socius spontan mengelus dada. Ia mengaku telinganya langsung sakit sampai-sampai pendengarannya terganggu selama seminggu. Setelah itu, disingkirkannya aku dari grup paduan suara, karena katanya suaraku ‘semerdu burung gagak yang tengah mencari makan di tengah sawah’. Kala teman-temanku menyanyi di gereja, ia malah menyuruhku jadi misdinar saja. Alasannya, ‘ini kor dengan empat suara, kalau ada kamu nanti jadi lima suara’. Lain kesempatan, ia marah mendapatiku mengacaukan ibadat. Dicelanya aku karena menyanyi seperti ‘orang yang sedang berkumur-kumur’. Suaraku, katanya dengan emosi, ibarat ‘jeritan roh jahat yang datang dari neraka’.

Lama-lama aku jengkel diejek demikian. Memangnya menyanyi itu adalah segala-galanya? Memangnya menyanyi itu syarat masuk surga? Memangnya biarawan yang baik diukur dari caranya menyanyi? Dari suaranya yang bagus? Lihat dari cara hidupnya dong, bukan dari caranya menyanyi!

Ah, bukan berarti aku membenci Pater Socius. Dia itu sebenarnya orang baik. Dulu, menyadari bahwa aku ini manusia bersuara sumbang, ia berusaha melatihku habis-habisan. Pertama-tama, ia mengajari aku untuk melafalkan kata dengan baik. Ini penting, sebab aku suka sekali mengubah huruf f menjadi p. Akibatnya, lagu bagus dari Spice Girls yang berjudul Viva Forever saat kunyanyikan berubah menjadi Pipa Poreper. Di mata Pater Socius, sang seniman sejati, apa yang kulakukan itu tak ubahnya pelecehan terhadap karya seni. Itu dosa besar! Ia terpanggil untuk mempertobatkan diriku agar kembali ke jalan yang benar.

Soal pelafalan kata, Pater Socius boleh dibilang sukses mendidik diriku. Sekarang aku bisa membedakan mana huruf f, mana huruf p. Tapi soal penguasaan nada, bimbingan darinya gagal total. Sejauh masih berurutan do-re-mi-fa-sol-la-si-do, not-not itu memang tidak menjadi masalah bagiku. Tapi kalau aku diminta menyanyikan lagu dengan not yang naik turun, meliuk-liuk, dan berbelit-belit, semuanya pasti kacau balau. Apa boleh buat, aku benar-benar tuna nada!

Kegusaran Pater Socius memuncak ketika aku bisa-bisanya mendapat tugas untuk membawakan Mazmur Tanggapan. Saat itu, kami mengadakan misa intern di kapel biara. Untung tak dapat diraih, malang tak dapat ditolak. Begitu aku bersuara dari atas mimbar, seketika seisi kapel dinaungi oleh suasana horor yang mencekam. Nada-nada yang kusenandungkan membuyarkan konsentrasi semua orang. Syukur tak ada yang sampai tertawa terbahak-bahak. Selain karena sudah kauancam sebelumnya, teman-temanku tampaknya sangat menghormati keluhuran perayaan Ekaristi. Mereka hanya buru-buru menunduk di kursinya masing-masing, setengah mati menahan tawa.

Tidak demikian halnya dengan Pater Socius. Ia murka dan sangat kecewa. Suaraku saat itu agaknya hancur-hancuran. Mendengarnya, Pater Socius jadi merasa bahwa usahanya selama ini sama sekali tak berguna. Jerih payahnya mengajariku menyanyi sia-sia belaka! Ia sangat marah karenanya dan langsung keluar dari kapel sambil membanting pintu. Tuhan kasihanilah kami…


Tuhan itu penopang bagi semua orang yang jatuh


“Tak kusangka ketidakmampuanku dalam bernyanyi akan membebani perjalanan panggilanku,” keluhku lagi melanjutkan sharing-ku. “Bayangkan, berdoa lima kali sehari, tujuh hari seminggu, semuanya dinyanyikan! La, ini kan ordo para pengemis bukan para penyanyi!”
“Kalau begini caranya, aku kan jadi repot. Mana tahan aku ditertawakan kalian semua terus-menerus. Terus terang ya, gara-gara itu aku pernah berpikir untuk mundur saja. Tapi masak keluar dari biara gara-gara tak bisa nyanyi? Alasan itu kurang berbobot!” Puas benar sore ini aku mencurahkan seluruh persoalan yang mengganjal hatiku.

Setelah itu, suasana mendadak hening. Aku sudah selesai dengan kisahku yang panjang lebar, sementara temanku yang tadi terkekeh-kekeh sekarang tampak berpikir-pikir dengan serius. Agaknya ia kini prihatin melihat diriku yang tengah pusing tujuh keliling. Tapi mengapa dia terus saja tersenyum-senyum kecil?
“Ah teman,” katanya sambil nyengir, “Kamu tak harus menyanyikan semuanya. Baca saja kah.”
“Tapi kebiasaan dalam tarekat kita kan begitu. Doa-doa harus dinyanyikan dengan indah. Semua orang meyakini bahwa menyanyi itu sama dengan berdoa dua kali!” kataku mengutip sebuah pepatah Latin.

“Itu kalau suaramu bagus,” tukas temanku. “Suaramu kan hancur. Kalau kau menyanyi, itu artinya kau tidak berdoa,” katanya sambil tertawa-tawa lagi.
“Lagi pula jangan kecil hati kah,” lanjutnya. “Yang suaranya jelek justru kelak akan jadi uskup. Biasanya begitu. Lihat saja, uskup-uskup kan biasanya tak bisa menyanyi.”
Wah, benarkah itu? Perkataan terakhir temanku menjadi penghiburan bagiku. Aku bisa tersenyum lagi dan sepanjang malam membayangkan asyiknya menjadi uskup. Hmmm…


Dua belas tahun kemudian


Hari ini aku bertemu dengan temanku itu lagi. Aku berdiri di depan altar, sementara ia kulihat duduk manis di bangku umat. Ya, setelah melalui perjalanan yang panjang, setelah jatuh bangun berjuang menghadapi aneka macam tantangan, pada akhirnya aku boleh ditahbiskan menjadi imam. Temanku itu tidak ada di antara kami, frater-frater yang ditahbiskan, sebab ia telah memilih untuk menempuh jalan hidup yang lain. Sayang sekali, padahal ia anak yang pandai.

Tentang diriku, aku sungguh tidak menyangka boleh menerima anugerah sebesar ini dari Tuhan. Padahal sebagai seorang pribadi, aku sungguh memiliki banyak kekurangan. Aku merasa tak layak menjadi hamba-Nya. Namun, kebesaran dan kebaikan hati Tuhan menutupi semua kekurangan itu.

Atas karunia yang melimpah ini, tak henti-hentinya hatiku memuji Dia, “Ya Tuhan, aku hendak mengagungkan nama-Mu untuk seterusnya dan selamanya!”
Aku pun bertekad untuk membalas kebaikan itu. Kujanjikan kepada-Nya, “Ya Tuhan, umat-Mu yang Kaupercayakan kepadaku akan kugembalakan dengan sebaik-baiknya! Siang dan malam!”
Setelah misa selesai, di tengah-tengah serbuan umat yang ingin mengucapkan selamat, aku berkesempatan bertemu dan berbincang-bincang dengan temanku itu. Wah, tak terasa kami sudah tidak bertemu selama belasan tahun! Maka dengan gembira kami bersalaman, saling menepuk bahu, dan berbasa-basi menanyakan kabar satu sama lain. Sayangnya perbincangan itu tak bisa berlangsung lama. Panitia sudah menyeret-nyeretku untuk berfoto bersama umat. Maka, pertemuan kami untuk sementara terpaksa mesti diakhiri.
“Omong-omong,” katanya sebelum berpisah “prefasi yang kaunyanyikan tadi adalah prefasi terburuk yang pernah kudengar.”
“Suaramu masih saja mengerikan, baca saja kah.”
Kali ini kami tertawa bersama-sama.***

Kepustakaan
Barth, Marie Claire, dan B.A. Pareira. Tafsir Alkitab: Kitab Mazmur 73-150. Jakarta: BPK Gunung Mulia, 1999.
Mays, James L. Psalms. Louisville: John Knox Press, 1994.
Stuhlmueller, Carroll. Psalms 2. Delaware: Michael Glazier, Inc, 1983.
Van Harn, Roger E., dan Brent A. Strawn (ed.). Psalms for Preaching and Worship. Grand Rapids: William B. Eerdmans, 2009.






Jumat, Desember 17, 2010

PERJALANAN MISI PAULUS YANG KEDUA
Alfons Jehadut

Berangkat dari Antiokhia Siria

Sebelum meninggalkan Antiokhia Siria, Paulus dan Barnabas berpisah. Barnabas ingin membawa Yohanes Markus lagi, tetapi Paulus menolaknya karena Yohanes Markus telah meninggalkan mereka di Pamfilia dan tidak bekerja bersama-sama lagi dengan mereka (Kis. 15:38). Setelah terjadi perselisihan yang tajam, tetapi sayangnya Lukas tidak memberitahukan apa alasan sebenarnya, Barnabas dan Yohanes Markus berlayar ke Siprus, sementara Paulus dan Silas berlayar ke Galatia selatan. Kegiatan misi pewartaan Barnabas dan Yohanes Markus tidak ditampilkan secara lebih spesifik, sementara kegiatan misi Paulus dan Silas ditampilkan secara spesifik. Paulus dan Silas meneguhkan jemaat dan mengajarkan kepada mereka hasil keputusan konsili Yerusalem (Kis. 15:41).

Setelah mendapat restu dari komunitas Antiokhia Siria untuk meneruskan pewartaan injil kepada bangsa-bangsa lain (Kis. 15:40), Paulus dan Silas meninggalkan Antiokhia Siria dan pergi ke gereja-gereja di Siria dan Kilikia untuk menyampaikan hasil keputusan konsili Yerusalem. Mereka juga datang ke Derbe dan Listra. Di Listra, Paulus menemukan rekan kerjanya lain, Timotius, yang disuruhnya sunat karena ibunya seorang Yahudi. Bersama dengan dua rekan misionarisnya ini, Paulus terus mewartakan injil di daerah Galatia selatan dan menyampaikan hasil keputusan konsili Yerusalem.

Lukas mencatat bahwa jemaat-jemaat yang dikunjungi oleh Paulus, Silas, dan Timotius diteguhkan dalam iman dan jumlah mereka bertambah dari hari ke hari (Kis. 16:5). Pertumbuhan jumlah ini kemungkinan besar hasil pembaruan misi perwartaan injil yang dilakukan oleh Paulus dan rekan-rekan misionarisnya, tetapi mungkin juga hasil dari kegiatan misi gereja-gereja di daerah tersebut. Pertumbuhan jemaat baru ini mungkin juga ditonjolkan oleh Lukas untuk menunjukkan bahwa solusi konflik yang diambil oleh konsili Yerusalem mengenai sunat antara orang kristiani Yahudi dan yang bukan Yahudi telah berhasil.


Rencana bermisi di provinsi Asia dan Bitinia

Setelah meninggalkan kota-kota di Galatia Selatan, yakni Ikonium, Derbe, Listra, Paulus bersama dengan Silas dan Timotius berencana untuk langsung pergi mewartakan injil di provinsi Asia, yakni Efesus, tempat pemerintahan gubernur Romawi (Kis. 16:6). Namun, rencana itu gagal karena Roh Kudus mencegah mereka mungkin melalui sebuah mimpi atau penglihatan. Roh Kudus juga mencegah mereka untuk mewartakan injil di provinsi Bitinia. Di sini Roh Kudus berperan sebagai pembatasan aktivitas misi pewartaan injil. Melalui pembatasan ini kita melihat bahwa arah misi pewartaan injil sesungguhnya tidak ditentukan oleh keinginan para misionaris, tetapi oleh Roh Kudus.

Karena rencana misi pewartaan injil di provinsi Asia dan Bitinia telah dicegah oleh Roh Kudus, Paulus dan rekan-rekannya pergi ke Troas melalui Misia. Di daerah ini Paulus dan rekan-rekannya mungkin tidak mewartakan injil, jika kita menghubungkan larangan Roh Kudus untuk bermisi di Asia dengan seluruh kota di provinsi Asia. Tetapi, jika Paulus dan rekan-rekannya hanya dilarang untuk melakukan karya misi pewartaan injil di ibu kota provinsi Asia, Efesus, maka mereka mungkin telah mewartakan injil di kota-kota yang mereka lalui.

Di Troas, Paulus mendapat sebuah penglihatan. Dalam penglihatan itu ia melihat seorang Makedonia berdiri dan memohon kepadanya, “Menyeberanglah kemari dan tolonglah kami!” (Kis. 16:9). Dari penglihatan ini ia dan rekan-rekannya menyimpulkan bahwa Allah memanggil mereka untuk mewartakan injil di Makedonia. Di sini penglihatan dilihat sebagai sarana yang dipakai oleh Allah untuk menyampaikan pesan dan kehendak-Nya. Dengan demikian, misi pewartaan injil di Makedonia bukanlah keinginan Paulus dan rekan-rekannya tetapi kehendak Allah sendiri.


Karya misi di Filipi

Setelah tiba dari Neapolis, Paulus, Silas, dan Timotius melakukan perjalanan misi pewartaan injil ke Filipi. Kisah itu diceritakan dalam Kis 16:12-40. Di Filipi, mereka mencari komunitas Yahudi lokal untuk beribadat pada hari sabat dan mewartakan injil pertama-tama kepada orang Yahudi. Mereka ke luar pintu gerbang kota dan menyusuri tepi sungai dan menemukan tempat sembahyang (Yunani: proseukhe) atau sinagoga (Kis. 16:13). Di sini mereka hanya bertemu dengan sekelompok perempuan yang berkumpul untuk berdoa. Pernyataan ini mungkin berarti bahwa laki-laki dan perempuan berdoa pada waktu yang berbeda-beda.

Di antara sekelompok perempuan, Lukas menyebut Lidia, seorang penjual kain ungu dari kota Tiatira (bdk. Why. 2:18-29). Ia digambarkan sebagai seorang yang beribadah kepada Allah. Ia memperhatikan apa yang dikatakan oleh Paulus dan rekan-rekan misionarisnya dan percaya kepada Yesus Kristus sehingga ia dibaptis bersama-sama dengan seisi rumahnya (Kis. 16:15). Iman dan baptisan ini dimungkinkan oleh karena Allah membuka hati mereka. Di sini kita melihat keyakinan teologis Lukas bahwa orang dapat beriman kepada Yesus Kristus hanya kalau Allah membuka hatinya (Kis. 11:18). Iman itu bukan hanya sebuah keputusan pribadi, melainkan juga hasil karya Allah. Iman itu diikuti dengan tindakan mengabungkna diri dalam persekutuan umat Allah melalui baptisan. Lidia bersama dengan seluruh isi rumahnya dibaptis, termasuk para pelayan, hamba, dan keturunan mereka.

Selain bertemu dengan sekelompok perempuan, Paulus dan rekan-rekan misionarisnya menjumpai seorang budak perempuan yang mempunyai roh tenung. Budak perempuan itu mengikuti mereka selama beberapa hari sambil berseru, “Orang-orang ini hamba Allah Yang Mahatinggi. Mereka memberitakan kepadamu jalan keselamatan” (Kis. 16:18). Seruan budak perempuan ini dilihat secara berbeda-beda oleh para penafsir. Beberapa penafsir melihatnya secara positif sebagai seorang yang memiliki peran penting dalam menyiarkan arti pesan yang benar dari pewartaan Paulus dan rekan-rekan misionarisnya kepada warga kota Filipi. Namun, roh tenungnya kemudian diusir karena mereka tidak menginginkan seorang yang tidak beriman menjadi media pewartaan injil. Pandangan positif ini tampaknya tidak masuk akal karena Paulus dan rekan-rekannya merasa terganggu sehingga mereka mengusir roh tenungnya dalam nama Yesus. Mereka terganggu karena sapaan Allah Yang Mahatinggi bagi warga kota Filipi yang bukan Yahudi dikaitkan dengan dewa Zeus. Hal ini berbahaya bagi pewartaan mereka karena bisa dipahami secara salah sebagai sintekretisme agama.

Ketika tuan-tuan budak perempuan yang telah dibebaskan melalui pengusiran roh tenungnya melihat harapan mereka untuk mendapat penghasilan telah lenyap, mereka lalu menangkap Paulus dan rekan-rekan misonarisnya dan menyeret mereka kepada para pembesar kota. Tuan-tuan perempuan ini melukiskan diri mereka sebagai warga Roma. Mereka menuduh Paulus dan rekan-rekan misionarisnya sebagai pengacau wilayah jajahan Roma di Filipi karena mengajarkan adat-istiadat yang tidak boleh dituruti oleh orang Roma. Adat-istiadat yang dimaksudkan di sini mungkin mengacu kepada ajaran mengenai ibadat dan penyembahan kepada Allah yang Esa yang tidak diterima dan diakui oleh penguasa Roma. Hukum Roma memang melarang siapapun untuk memiliki dewa-dewinya sendiri dan dewa-dewi baru atau asing selain yang diakui secara resmi oleh negara. Tuduhan ini menyebabkan para pembesar kota menyuruh tuan-tuan budak perempuan dan massa yang mendukung mereka untuk menelanjangi, mendera, dan melemparkan Paulus dan rekan-rekan misionarisnya ke dalam penjara (bdk.1Tes. 2:2; 2Kor. 11:23-25).

Ketika berada di penjara, Paulus dan rekan-rekannya memberikan kesaksian tentang iman mereka dengan berdoa dan menyanyikan puji-pujian (Kis. 16:25). Pada saat itulah terjadi gempa bumi dasyat yang melambangkan kehadiran ilahi. Sendi-sendi penjara goyah dan seketika itu terbukalah semua pintu penjara dan terlepaslah belenggu mereka. Ketika kepala penjara terjaga dan melihat pintu-pintu penjara terbuka, ia mau bunuh diri karena berpikir bahwa semua tahanan telah membebaskan diri. Namun, Paulus menghalanginya niatnya untuk bunuh diri, “Jangan celakan dirimu, sebab kami semuanya masih ada di sini.” Kepala penjara berlari masuk ke dalam penjara dan membawa mereka keluar dan bertanya, “Tuan-tuan, apakah yang harus aku perbuat supaya aku selamat?” Pertanyaan kepala penjara ini menggemakan pertanyaan orang-orang Yahudi Yerusalem pada waktu Pentekosta kristiani pertama (Kis. 2:37). Paulus dan Silas memberi jawaban klasik tentang “jalan keselamatan”, yakni percaya kepada Tuhan Yesus Kristus (Kis. 16:17; bdk. 2:21; 11:14). Allah menyelamatkan orang yang percaya kepada Yesus Kristus dan keselamatan ini tersedia juga bagi seisi rumah kepala penjara (bd. 2:21; 4:21; 10:43; 11:14; 15:11).

Setalah gempa bumi dahsyat, para pembesar kota menjadi takut dan menyuruh pejabat-pejabat kota pergi kepada kepala penjara untuk melepaskan Paulus dan Silas (16:35-36). Namun, Paulus dan Silas malah memprotes kebijakan pembesar kota dengan berlandaskan pada status mereka sebagai warga negara Roma (Kis. 16:37). Sebagai warga negara Roma, mereka dilindungi secara hukum dari hukuman cambuk atau deraan secara kejam di depan umum dan orang yang menghukum seorang warga negara dihukum berat. Protes ini ditanggapi oleh para pembesar kota dengan meminta maaf dan meminta mereka meninggalkan kota Filipi dengan damai. Tanggapan ini mengimplikasikan bahwa mereka menyadari kesalahan mereka. Hukuman cambuk atau deraan kepada warga negara Roma di hadapan umum melanggar ketetapan hukum Roma.

Mengapa Paulus dan Silas tidak memprotes saat mereka ditelanjangi, didera, dan dipenjara? Ada tiga alasan yang ditampilkan. Pertama, alasan praktis berkaitan dengan masalah waktu. Jika statusnya sebagai warga negara Roma dikedepankan, maka ada banyak hal yang harus dijelaskan dan membutuhkan waktu yang cukup lama untuk membuktikannya. Walau tidak sulit untuk membuktikan statusnya karena pasti terdaftar di kota asalnya, namun letak kota asalnya sangat jauh dari Filipi sehingga menyulitkannya untuk menujukkan sejumlah dokuman dan saksi karena ia dituduh sebagai seorang Yahudi dan mengakui dirinya sebagai seorang Yahudi yang memiliki status sebagai warga negara Roma. Kedua, alasan religius berkaitan dengan sentimen anti-Yahudi di Filipi. Dengan mengedepankan statusnya sebagai warga negara Roma, orang Yahudi semakin berada dalam situasi terjepit sehingga dihindarinya. Ia tidak pernah menyangkal latar belakang dan warisan keyahudianya dan mewartakan pesan “pewartaan Yahudi” tentang Mesias. Ketiga, alasan misi pewartaan injil. Dengan mengedepankan statusnya sebagai warga Roma, para pembesar dan warga kota dapat menafsirkan misi pewartaannya secara salah. Mereka dapat menafsirkannya sebagai suatu bentuk penerimaan terhadap kebiasaan dan adat-istiadat Romawi dan penolakan terhadap tradisi-tradisi Yahudi. Penafsiran keliru ini tentu sangat menganggu orang yang baru saja percaya kepada Yesus seperti Lidia, orang yang beribadah kepada Allah, dan orang Yahudi yang mungkin sudah percaya kepada Yesus.

Sejarah gereja Filipi diinformasikan secara lebih lanjut oleh Paulus dalam suratnya kepada jemaat di Filipi. Ada tiga perhatian utama Paulus dalam surat ini. Pertama, ia mengingatkan persekutuan jemaat dengannya dalam pemberitaan injil. Persekutuan itu diperlihatkan dalam dukungan finansial yang dibawa Epafroditus bagi karya misinya (Flp. 2:25-30; 4:10-20). Peringatan ini dimunculkannya ketika para misionaris Yahudi-kristiani datang ke Filipi untuk mewajibkan sunat kepada orang kristiani bukan Yahudi (Flp. 3:17-21) dan karena itu harus diwaspadai (Flp. 3:2-21). Kedua, Paulus menasihati jemaat Filipi untuk sabar, setia, dan terus bersatu. Mereka harus berdiri teguh dalam satu roh, dan sehati sejiwa berjuang untuk iman yang timbul dari Injil tanpa digentarkan sedikit pun oleh lawan mereka (Flp. 1:27; bdk. 1:28-30; 2:1-4; 4:2-3). Ketiga, memberi informasi mengenai situasi hidupnya di penjara, kesehatan Epafroditus, utusan jemaat, yang jatuh sakit dan hampir mati, pengutusan Timotius dan rencananya kunjungannya pada masa yang akan datang (Flp. 1:12-20; 2:19-30).


Karya misi di Tesalonika

Dari Filipi melalui Amfipolis dan Apolonia, Paulus melanjutkan perjalanan misi ke Tesalonika, tempat kediaman prokonsul Roma, bersama dengan rekan misionarisnya. Kisah misi di Tesalonika diceritakan secara singkat oleh Lukas dalam Kis. 17:1-9. Tidak ada indikasi bahwa Paulus dan rekannya mewartakan injil di kota-kota yang mereka lalui. Hal ini mungkin karena mereka mengetahui bahwa tidak ada sinagoga di sana. Surat Paulus sendiri mencatat dalam 1Tes. 2:1-2 bahwa wilayah misi pewartaan injilnya setelah Filipi adalah Tesalonika.

Kisah Lukas tentang kunjungan pertama Paulus dan rekan misionarisnya ke Tesalonika terdiri dua bagian. Bagian pertama menceritakan awal kegiatan misi pewartaan (Kis. 17:1-4). Mereka mula-mula mewartakan injil di sinagoga lokal seperti yang biasa dilakukan. Selama tiga hari Sabat berturut-turut, mereka mewartakan injil di sinagoga yang tidak hanya dihadiri oleh orang Yahudi, tetapi juga sejumlah besar orang Yunani yang takut kepada Allah, yakni para simpatisan yang hadir dalam ibadat di sinagoga dan tertarik pada keyakinan iman Yahudi. Tidak sedikit dari simpatisan itu berasal dari perempuan-perempuan terkemuka. Paulus dan rekan misionarisnya meyakinkan para pendengarnya dengan memberikan pendasaran biblis tentang Yesus yang telah mati dan dibangkitkan sebagai Mesias yang dijanjikan. Namun, sayangnya Lukas tidak memberitahukan kepada kita perikop Perjanjian Lama manakah yang mungkin digunakan oleh Paulus.

Lukas menceritakan secara singkat keberhasilan misi pewartaan Paulus dan rekan misionarisnya. Di antara orang Yahudi yang hadir mendengarkan pewartaannya, hanya beberapa yang berhasilkan menjadi percaya dan menggabungkan diri dengan Paulus dan rekan misionarisnya. Keberhasilan kecil di antara orang Yahudi dikontraskan dengan keberhasilan besar di antara orang Yunani yang takut akan Allah dan perempuan-perempuan terkemuka yang berasal dari kaum bangsawan lokal. Keanggotaan gereja Tesalonika yang sebagian besar berasal dari orang-orang yang bukan Yahudi tampaknya dibenarkan oleh suratnya yang pertama kepada jemaat di Tesalonika, yang pertama-tama dialamatkan kepada jemaat kristiani yang bukan Yahudi (1Tes. 1:9).

Bagian kedua menampilkan sebuah kisah kekacuan di kota Tesalonika yang didalangi oleh orang Yahudi yang iri hati dengan keberhasilan pewartaan Paulus dan rekan misionarisnya (Kis. 17:5-9). Mereka menghasut beberapa penjahat Yunani lokal yang berkeliaran di pasar untuk membuat kekacauan di kota (13:50; 14:2, 5; 14:19). Mereka menyerbu rumah Yason dengan maksud untuk menghadapkan Paulus dan Silas kepada sidang rakyat. Identitas Yason tidak dilukiskan secara rinci oleh Lukas sehingga memunculkan sejumlah spekulasi. Ada yang berasumsi bahwa Paulus sudah mengenal Yason sebelum ia tiba di Tesalonika. Lidia dari Filipi yang memperkenalkan Paulus dengan Yosan pada saat meninggalkan Filipi. Yang lain berasumsi bahwa Yason adalah saudara jauh Paulus. Asumsi ini dapat menjelaskan mengapa Lukas tidak memperkenalkan identitas Yason secara lebih detail; mengapa ia tinggal di rumahnya; dan mengapa Yason merelakan dirinya sebagai jaminan bagi Paulus. Namun, Paulus sendiri melukiskan Yosan bersama dengan Lukius dan Sosipater sebagai teman-temannya sebangsa dan bukan sanak keluarga (Rom. 16:21).

Ketika tidak menemui Paulus dan rekan misionarisnya, massa yang dimobilisasi oleh orang Yahudi yang iri hati menyeret Yason dan beberapa orang kristiani yang mungkin sedang berkumpul untuk beribadat ke hadapan pembesar-pembesar kota. Di hadapan para pembesar kota, massa menampilkan dua tuduhan. Pertama, “orang-orang yang mengacaukan seluruh dunia telah datang juga kemari dan Yason telah menerima mereka menumpang di rumahnya” (Kis. 17:6-7a). Di sini Lukas tampaknya menampilkan suatu peristiwa sejarah. Yason dituduh menyedikan tumpangan dan menyiapkan makanan bagi Paulus dan rekan misionarisnya yang dituduh telah membuat kerusuhan di Tesalonika dan daripada di seluruh dunia yang beradab.

Tuduhan bahwa orang yang mengacaukan seluruh dunia jelas tidak mengacu kepada Yason dan beberapa orang kristiani yang sedang berkumpul di rumahnya karena Yason dan berapa orang kristiani berasal dari Tesalonika itu sendiri. Tuduhan ini mengarah kepada Paulus dan dua orang rekan misonarisnya. Tuduhan ini sebenarnya merefleksikan perasaan orang yang bukan Yahudi yang menyembah berhala pada zaman Lukas ketika gereja berkembang cepat di seluruh kekaisaran. Hampir pasti bahwa tuduhan ini tidak pernah muncul ketika hanya ada dua gereja yang telah didirikan oleh Paulus di Eropa. Lukas tampaknya menempatkan tuduhan dan masalah yang muncul pada zamannya ketika Paulus melakukan karya misi pewartaan injil supaya kisah menjadi relavan bagi pembacanya yang juga familiar dengan tuduhan semacam ini.
Kedua, “mereka semua bertindak melawan ketetapan-ketetapan Kaisar dengan mengatakan bahwa ada seorang raja lain, yaitu Yesus” (Kis. 17:7b; bdk. 16:21; Luk. 1:33; 19:11, 12, 15, 38; 22:29-30; 23:2-3, 37). Tuduhan ini ditujukan kepada Paulus dan rekan-rekan misionarisnya. Mereka dituduh melakukan kesalahan karena mewartakan seorang raja lain, yakni Yesus. Dengan pewartaan itu mereka dianggap tidak setia kepada kaisar Roma sebagai penguasa dunia sehingga para pembesar kota menjadi gelisah. Karena situasinya sangat berbahaya, Yason dan saudara-saudara seiman menyuruh Paulus dan rekan-rekan misionarisnya segera meninggalkan kota Tesalonika (bdk. 9:25, 30; 14:6) dan berangkat ke Berea, kota lain di Makedonia.

Kisah lanjutan tentang pewartaan Paulus di Tesonika diceritakan dalam suratnya. Beberapa bulan setelah meninggalkan Tesalonika, Paulus menulis surat untuk dibacakan di hadapan “semua saudara” yakni semua kaum beriman di kota itu (1Tes. 5:27). Ungkapan, “semua saudara” mengindikasi ada dua komunitas kristiani di Tesalonika, yakni komunitas kecil kristiani Yahudi dan komunitas besar kristiani bukan Yahudi. Namun, tidak ada indikasi bahwa komunitas besar kristiani bukan Yahudi terpisah dari komunitas kecil Yahudi. Penafsiran yang lebih masuk akal untuk ungkapan “semua saudara” adalah bahwa kota Tesalonika memiliki beberapa gereja-rumah yang mungkin sudah terbentuk pada waktu Paulus pertama kali mewartakan injil di kota tersebut. Maka, surat yang ditulisnya setelah meninggalkan Tesalonika harus dibaca oleh beberapa gereja-rumah di sana.


Karya misi di Berea

Setelah mereka meninggalkan kota Tesalonika secara terburu-buru, Paulus dan Silas tiba di Berea. Kisah melukiskan karya misi pewartaan injil Paulus di Berea dalam Kis. 17:10-14. Seperti biasanya, Paulus pertama-tama pergi ke rumah ibadat orang Yahudi, sinagoga. Lukas menceritakan bahwa orang-orang Yahudi Berea lebih siap mendengarkan pewartaan Paulus dan rekan-rekan misionarisnya tentang Yesus Kristus sebagai Mesias daripada orang-orang Yahudi di Tesalonika. Mereka menerimanya dengan segala kerelaan hati dan setiap hari mereka menyelidiki Kitab Suci untuk mengetahui apakah hal-hal yang dikatakan Paulus dan Silas itu benar atau tidak.

Lukas mencatat keberhasilan misi pewartaan injil di Berea. Ada banyak orang Yahudi yang menjadi percaya dan tidak sedikit di antaranya adalah orang Yunani yang terkemuka, baik perempuan maupun laki-laki. Keberhasilan ini memperlihatkan gereja ketiga di Makedonia dibangun berkat perwartaan Paulus dan rekan misionarisnya. Namun, orang-orang Yahudi Tesalonika yang telah menentang pewartaan Paulus dan rekan-rekan misionarisnya datang juga ke Berea untuk menghasut orang di sana. Kedatangan mereka ini memperlihatkan adanya kontak yang baik antara orang Tesalonika dan Berea. Ketika mendengar bahwa Paulus dan rekan misionaris telah mewartakan injil di Berea, mereka mengirim utusan untuk menghasut dan mengelisahkan hati orang banyak di kota Berea dan berharap bahwa Paulus dan rekan-rekan misionarisnya dituduh sebagai penyebab kekacauan dan para pembesar kota mengambil suatu tindakan keras.

Niat jahat utusan-utusan Yahudi Tesalonika terbaca oleh orang-orang kristiani di Berea yang baru saja bertobat. Dengan cepat mereka meminta Paulus segera berangkat menuju ke Pidna, pelabuhan Berea, sementara Silas dan Timotius tetap tinggal di Berea. Paulus ditemani oleh beberapa anggota gereja Berea berlayar dengan perahu ke Atena (Kis. 17:14-15). Beberapa anggota gereja Berea kemudian pulang lagi dengan membawa pesan kepada Silas dan Timotius untuk sesegera mungkin bergabung bersama Paulus. Dengan demikian, misi pewartaan injil di Makedonia berakhir.


Karya misi di Atena

Paulus menunggu Silas dan Timotius di Atena (Kis. 17:15), yang masih tinggal di Berea (Kis. 17:14), untuk bergabung kembali bersamanya. Silas dan Timotius mungkin bertemu lagi dengannya di Atena. Mereka kemudian diutusnya untuk kembali ke Makedonia dengan suatu tugas baru. Timotius diutusnya ke Tesalonika (1Tes. 3:15) dan Silas ke Filipi (2Kor 11:9; Flp. 4:4). Mereka kemudian bergabung lagi di Korintus. Lukas menceritakan karya misi pewartaan injil di Atena secara panjang lebar dalam Kis. 17:16-34.

Pada saat menunggu Silas dan Timotius untuk bergabung dengannya, Paulus memiliki kesempatan untuk melihat kota Atena (bdk. 1Tes. 3:1). Ia melihat ada banyak kuil, patung-patung berhala, dan altar-altar persembahan bagi dewa-dewi. Sebagai seorang kristiani Yahudi, ia sangat terpukul dengan penyembahan berhala di seantera kota tersebut. Reaksi ini berasal dari latar belakang monoteis Yahudinya (bdk. Kel. 20:4; Ul. 5:6-10) dan keyakinannya bahwa persembahan yang diberikan orang Atena kepada dewa-dewi adalah persembahan kepada roh-roh jahat, bukan kepada Allah (1Kor. 10:20).

Menanggapi apa yang dilihatnya, Paulus seperti biasa dilakukannya di kota-kota lain pergi ke sinagoga pada hari Sabat untuk mewartakan injil kepada orang Yahudi dan simpatisan Yahudi (bdk. Kis. 13:5, 14, 43; 14:1; 16:13; 17:1, 10, 17; 18:4, 19; 19:8). Namun, kita tidak mendengar adanya perlawanan atau pertobatan di antara orang Yahudi dan simpatisan Yahudi sebagai dampak dari pewartaannya di sana. Ia juga berdialog “di pasar setiap hari dengan orang-orang yang dijumpainya di situ.” Di antara orang-orang itu ada beberapa ahli pikir dari golongan Epikuros dan Stoa.

Epikuros dan Stoa mewakili dua sekolah filsafat yang terkemuka pada zaman itu. Epikuros yang didirikan oleh Epikuros (sekitar tahun 300 SM) menyangkal keberadaan Allah dan hidup setelah mati. Mereka meyakini bahwa hidup ini hanya sebatas dunia ini dan karena itu hidup harus dinikmati sebelum mereka mati. Bagi mereka, kenikmatan adalah kebajikan yang paling tinggi. Moto mereka adalah “makan, minum, dan menikah sebab besok kita mati.” Sementara Stoa yang didirikan oleh Zeno (sekitar tahun 300 SM) meyakini bahwa Allah hadir dalam semua ciptaan. Allah ada dalam batu, pohon, langit, dan segala sesuatu yang ada di sekitar kita. Sikap mereka terhadap hidup adalah pasrah dan berusaha untuk hidup sesuai dengan hukum alam dalam hidup sehari-hari.

Perwartaan dan perdebatan Paulus dengan dua aliran filsafat memunculkan dua tanggapan yang berbeda. Ada yang menganggapnya sebagai seorang pembual. Anggapan ini merupakan sebuah ejekan yang umumnya diberikan kepada pengkotbah atau pewarta jalanan yang hanya mengangkat kekayaan intelektual orang lain dan tidak memiliki pengajaran yang berguna bagi diskusi publik tentang agama yang benar. Yang lain menganggapnya sebagai pemberita ajaran dewa-dewa asing karena ia mewartakan injil tentang Yesus dan kebangkitannya (Kis. 17:18). Pewartaannya tentang Yesus dan kebangkitannya didengar oleh orang Atena seperti nama dari dua orang dewa, yakni “Yesus” dan “Anastasis” annya (Yunani: anastasis). Kedua tanggapan ini memperlihatkan bahwa filsuf Epikuros dan Stoa salah memahami pewartaan Paulus di pasar. Kegagalan mereka disebabkan karena mereka tidak mengetahui sejarah agama Yahudi sehingga pewartaannya tidak berhasil membuat mereka terkesan.

Paulus kemudian dibawa oleh orang Atena ke hadapan sidang Areopagus untuk mempresentasikan ajaran barunya. Areopagus adalah sebuah bukit kecil yang terletak di sebelah barat Akropolis atau benteng di mana ada sebuah ruang yang cukup untuk diadakan sidang dewan atau debat publik. Terkesan pasar yang sebelumnya dijadikan sebagai tempat untuk berdiskusi dengan siapa saja yang dijumpainya tidak lagi mencukupi untuk mengakomodasi orang banyak yang tertarik pada ajaran Paulus yang mereka anggap sebagai sesuatu yang baru. Di sinilah tempat yang tepat baginya untuk membuktikan keahliaannya sebagai pengkotbah dan kebenaran ajarannya yang dianggap baru.

Anggota sidang meminta Paulus untuk menjelaskan ajarannya, “Bolehkah kami tahu ajaran baru mana yang kauajarkan ini?” (17:19). Dalam pertanyaan ini tuduhan kepada Paulus sebagai seorang yang mengajarkan dewa-dewa baru diganti dengan keinginan mereka untuk untuk mempelajari sesuatu dari ajaran baru Paulus (Kis. 17:19). Rasa ingin tahu orang Atena menjadi alasan mengapa mereka memintanya untuk menjelaskan ajarannya yang mereka anggap baru. Maka, apa yang dikatakannya di hadapan sidang Areopagus bukanlah sebuah pembelaan atas tuduhan-tuduhan yang dilontarkan kepadanya, melainkan sebuah pewartaan misinya di hadapan orang Atena.

Berdasarkan permintaan sidang Areopagus yang haus terhadap segala sesuatu yang baru, Paulus berdiri di tengah-tengah mereka dan menyapa para pendengarnya secara langsung dengan nama. “Hai orang-orang Atena, aku lihat bahwa dalam segala hal kamu sangat beribadah kepada dewa-dewa Sebab ketika aku berjalan-jalan di kotamu dan melihat-lihat barang-barang pujaanmu” (Kis. 17:22-23). Ia tidak langsung mencela penyembahan berhala mereka, tetapi memuji ketertarikan mereka pada hal-hal rohani karena ia telah melihat barang-barang pujaan mereka ketika berjalan-jalan di kota mereka. Pujian ini perlu dilihat sebagai suatu taktik untuk menarik perhatian dan minat pendengar.

Paulus kemudian menegaskan bahwa ia sama sekali tidak bermaksud untuk memperkenalkan dewa-dewi dan ajaran baru sebagaimana yang dituduhkan kepadanya. Ia dengan cerdas memanfaatkan tulisan pada sebuah altar, “Kepada Allah yang tidak dikenal” (Kis. 17:23). Allah yang tidak mereka kenal, tetapi mereka puji dan sembah itu diperkenalkannya sebagai pencipta langit, bumi dan segala isinya; Tuhan atas langit dan bumi; dan pemberi nafas kehidupan (Kis. 17:24-25). Di sini ia menyingkapkan suatu kebenaran yang mendalam bagi orang Atena. Allah hanya satu dan Dialah pencipta segala sesuatu. Allah tidak diciptakan oleh manusia; Dialah yang menciptakan manusia dan segala sesuatu yang ada di alam semesta; Dialah sumber dan asal dari segala sesuatu. Dia tidak tinggal dalam kuil-kuil buatan tangan manusia. Gagasan ini mungkin menggemakan doa raja Salomo pada waktu peresmian bait Allah yang mengakui bahwa bait Allah tidak cukup sebagai rumah untuk tempat Allah berdiam (1Raj. 8:27; Yes. 57:15; Yer. 7:1-12). Allah yang tidak bisa dibatasi oleh ruang itu tidak membutuhkan barang apapun (2Mak. 14:35). Sebaliknya, Dialah yang menjadi sumber nafas kehidupan (Yes. 42:5; bdk. Kej. 2:7). Allah yang tidak membutuhkan barang apapun ini bertentangan dengan ajaran penyembahan berhala yang mengatakan bahwa dewa-dewi membutuhkan kurban persembahan dari manusia.

Paulus selanjutnya memperlihatkan cara Allah menciptakan manusia (Kis. 17:26-27). Diperlihatkan bahwa semua bangsa dan umat manusia diciptakan oleh Allah dari satu orang saja. Satu orang yang dimaksudkan adalah Adam dan Hawa (ay. 26; bdk. Kej. 1:24-25; Rom. 5:12-14). Allah yang telah menciptakan manusia juga menentukan musim-musim dan batas-batas untuk membatasi eksitensi manusia. Semuanya ini dilakukan supaya semua orang mencari Allah. Mencari Allah itu bukan untuk memperoleh banyak pengetahuan tentang Allah, melainkan untuk memuji dan menyembah-Nya dengan benar dalam iman, pengharapan dan kasih.

Mencari Allah itu bukan sesuatu yang mustahil karena Allah sungguh-sungguh dekat dengan kita. Dalam Dia kita hidup, bergerak, ada. Pernyataan ini menggarisbawahi fakta bahwa keberadaan kita tergantung secara total kepada Allah. Gagasan ini bukanlah sesuatu yang asing sebab di antara pujangga Atena ada yang mengucapkannnya. Di sini Paulus mungkin mengutip perkataan pujangga Stoa yang umumnya memahami bahwa dewa-dewi mengilfiltrasi alam semesta dan akal budi manusia. Pemahaman ini sesungguhnya ada juga dalam Perjanjian Lama terutama dalam kitab Mazmur. “Ke mana aku dapat pergi menjauhi roh-Mu, ke mana aku dapat lari dari hadapan-Mu? Jika aku mendaki ke langit, Engkau di sana; jika aku menaruh tempat tidurku di dunia orang mati, di situ pun Engkau. Jika aku terbang dengan sayap fajar, dan membuat kediaman di ujung laut, juga di sana tangan-Mu akan menuntun aku, dan tangan kanan-Mu memegang aku” (Mzm. 139:7-10).

Berlandaskan fakta bahwa manusia diciptakan oleh Allah dari satu orang saja, Paulus menarik sebuah kesimpulan bahwa penyembahan berhala merupakan sebuah tindakan kebodohan dan karena itu dilarang. Kita tidak boleh berpikir bahwa Allah serupa dengan patung-patung emas atau perak atau batu, ciptaan kesenian dan keahlian manusia. Apapun yang kita ciptakan tidak dapat mewakili Allah yang menciptakan kita. Allah yang menciptakan alam semesta dan segala isinya tidak bisa diwakili oleh barang ciptaan. Patung-patung berhala yang tidak bernyawa tidak dapat mewakili Allah yang hidup.

Paulus mengakhiri pidatonya di hadapan sidang Areopagus dengan meminta semua orang untuk bertobat (Kis. 30-31). Semua orang diminta untuk mengubah pola pikir, tingkah laku, dan masa lalu yang digambarkan sebagai zaman kebodohan karena tidak mengenal Allah yang benar. Zaman kebodohan telah berakhir dan mereka diminta untuk berbalik dari penyembahan terhadap patung-patung berhala buatan tangan mereka sendiri. Mereka harus kembali kepada Allah yang hidup yang membangkitkan Yesus dari antara orang mati dan menangkat-Nya menjadi hakim atas semua berhala. Pentingnya pertobatan diberi pendasaran yang kuat, yakni Allah telah menetapkan suatu hari ketika Ia dengan adil akan menghakimi dunia melalui tangan seorang yang telah ditentukan-Nya (Kis. 17:31). Seorang yang telah ditentukan itu adalah Yesus yang telah dibangkitkan oleh Allah dari antara orang mati dan ditetapkan sebagai hakim bagi semua manusia.

Lukas mencatat secara singkat tanggapan para anggota sidang Areopagus terhadap pidato Paulus. Ada beberapa yang tidak berhasil diyakinkannya seperti terlihat dalam ungkapan, “Lain kali saja kami mendengar engkau berbicara tentang hal itu” ketika mereka mendengar tentang kebangkitan orang mati. Mereka tidak menerima klaim tentang kebangkitan orang mati. Meski mereka menerima keabadian jiwa, namun gagasan tentang kebangkitan badan dianggap sebagai sesuatu yang asing bagi mereka karena tubuh dianggap sebagai sesuatu yang jahat.

Namun, ada beberapa juga yang berhasil diyakinkannya oleh pidatonya. Ada “beberapa orang menggabungkan diri dengan dia dan menjadi percaya, di antaranya juga Dionisius, anggota majelis Areopagus, dan seorang perempuan bernama Damaris, dan juga orang-orang lain bersama-sama dengan mereka” (Kis. 17:34). Pertobatan beberapa orang ini memunculkan persoalan historis karena Paulus menulis bahwa Stefanas dan keluarganya adalah “orang-orang yang pertama bertobat di Akhaya” (1Kor. 16:15). Ia mungkin lupa pada fakta bahwa ada beberapa orang yang bertobat di Atena ketika menulis surat Korintus. Ada juga yang berpendapat bahwa acuan kepada Stefanas dan keluarganya sebagai “orang-orang yang pertobat bertobat di Akhaya” perlu dipahami dalam arti terbentuknya sebuah gereja sementara pertobatan beberapa orang di Atena belum menyebabkan terbentuknya sebuah gereja di sana.


Karya misi di Korintus

Paulus meninggalkan Atena dan kemudian pergi ke Korintus. Ia menjalankan misi pewartaan injil di sana selama satu tahun enam bulan. Lukas mengisahkannya dalam Kis. 18:1-18. Dikisahkan bahwa Paulus pertama-tama bertemu dengan sebuah keluarga Yahudi, Aquila dan Priskila, yang baru saja datang dari Italia karena kaisar Klaudius mengusir semua orang Yahudi dari Roma sekitar tahun 49 Masehi. Pernyataan bahwa semua orang Yahudi diusir dari Roma tampaknya berlebih-lebihan karena Kis. 28:17 mengandaikan masih ada orang Yahudi di Roma. Lebih masuk akal kalau dikatakan bahwa hanya orang yang dianggap sebagai pengacau menurut pandangan orang Roma saja yang diusir.

Suetonius, sejarawan Roma, menceritakan bahwa kaisar Klaudius mengusir orang Yahudi dari Roma karena kekacauan yang disebabkan oleh seorang yang bernama “Khrestus.” Cerita ini kemungkinan besar mengacu pada tindakan beberapa orang kristiani Yahudi Yerusalem yang mewartakan bahwa Kristus Yesus adalah Mesias. Dengan demikian, pengusiran orang Yahudi di Roma disebabkan oleh kegiatan misi pewartaan injil orang kristiani Yahudi. Karena baik Kisah maupun 1Korintus tidak menyebutkan bahwa Aquila dan Priskila dibaptis oleh Paulus, maka lebih aman kalau kita mengandaikan bahwa pasangan ini telah menjadi kristiani dan terlibat secara aktif dalam misi pewartaan injil sebelum diusir oleh Kaisar Klaudius.

Ketika berada di Korintus, Paulus tinggal bersama dengan Aquila dan Priskila danbekerjasama dengan mereka untuk membuat tenda dari kulit. Dari pekerjaan inilah ia mendapatkan uang untuk kelangsungan hidup (Kis. 18:2) dan pewartaan injilnya. Pernyataan ini diperkuat oleh kesaksiannya dalam 1Tes. 2:9, “Sebab kamu masih ingat, Saudara-saudara, akan usaha dan jerih payah kami. Sementara kami bekerja siang malam, supaya jangan menjadi beban bagi siapa pun juga di antara kamu, kami memberitakan Injil Allah kepada kamu.” Ia mencari uang sendiri untuk kelangsungan hidup dan pewartaan injilnya meski kadang-kadang ia mendapat dukungan finansial dari gereja-gereja yang telah didirikannya.

Pada hari Sabat, Paulus mengunjungi sinagoga Korintus untuk berkotbah dan mengajar selama beberapa hari Sabat dengan maksud untuk meyakinkan orang Yahudi dan Yunani supaya mereka percaya bahwa Yesus adalah Mesias yang dinanti-nantikan. Orang Yunani yang dimaksudkan di sini adalah orang yang takut akan Allah dan hadir dalam ibadat sinagoga. Kotbah dan pengajarannya berhasil menyakinkan beberapa orang Yahudi dan Yunani. Secara khusus, Lukas mencatat pertobatan Titius Yustus yang rumahnya berdampingan dengan rumah ibadat dan Krispus, kepala rumah ibadat, bersama-sama dengan seisi rumahnya (Kis. 18:7-8).

Ketika Silas dan Timotius datang dari Makedonia (Kis. 17:14-16), Paulus mewartakan injil dengan semakin intensif karena mendapat bantuan finansial baginya dari gereja-gereja Makedonia (Flp. 4:15; 2Kor. 11:8-9). Ia lalu meninggalkan pekerjaannya sebagai tukang tenda untuk sementara waktu dan menfokuskan diri pada pengajaran iman kristiani. Namun, pada saat inilah ia dimusuhi dan dihujat oleh orang Yahudi (Kis. 18:6, bdk. Kis 13:45; 26:11). Orang Yahudi melawan pewartaannya tentang Yesus yang tersalib sebagai Mesias karena bertentangan dengan keyakinan mereka. Bagi mereka, seorang yang tersalib adalah seorang yang dikutuk oleh Allah (Ul. 21:23). Mereka juga menuduhnya sebagai penghujat karena mengajar bahwa orang Yunani dapat diselamatkan tanpa harus disunat dan mengikuti hukum Taurat (bdk. Kis. 6:11).

Apa reaksi Paulus atas perlawanan dan hujatan orang Yahudi? Ia mengebaskan debu dari pakaiannya yang menunjukkan bahwa persahabatannya dengan meraka telah diputus (Kis. 18:6; bdk. Neh. 5:13; Kis. 13:51). Tindakan ini memperlihatkan bahwa orang Yahudi yang menolak pewartaan injilnya tidak lebih baik daripada orang yang bukan Yahudi karena orang Yahudi biasanya melakukan tindakan serupa untuk melawan orang yang bukan Yahudi. Tindakan simbolis ini disertai dengan sebuah pernyataan profetis, “Biarlah darahmu tertumpah ke atas kepalamu sendiri” (Kis. 18:6; bdk Yeh. 33:4). Di sini “darah” dipahami sebagai sebuah kiasan untuk kesalahan (Mat. 27:25). Kesalahan mereka ditanggung oleh mereka sendiri sebab Paulus telah memenuhi tanggung jawabnya untuk mewartakan injil kepada mereka.

Karena tidak mungkin meneruskan pewartaan dan pengajaran injil di sinagoga, Paulus akhirnya beralih kepada bangsa-bangsa lain. Tindakan simbolis mengebaskan debu dari pakaian dilanjutkan dengan pindah ke rumah Titius Yustus (Kis. 18:7), seorang yang takut akan Allah. Ada yang berasumsi bahwa Titus Yustus identik dengan Gayus yang disebutkan oleh Paulus dalam 1Kor. 1:14 dan Rom. 16:23. Ia bertobat karena pewartaan Paulus dan kemudian menawarkan rumahnya untuk menjadi gereja-rumah pertama di Korintus. Di rumah gereja inilah seorang kepala rumah ibadat yang bernama Krispus bersama-sama dengan seisi rumahnya bertobat dan memberi diri mereka dibaptis (Kis. 18:8; bdk. 1Kor. 1:14-16). Baptisan ini menunjukkan bahwa Paulus tidak menolak orang Yahudi secara keseluruhan setelah berpaling kepada bangsa-bangsa lain.

Setelah beralih dari sinagoga ke gereja-rumah Titius Yustus, perlawanan dan hujatan terhadap Paulus tetap belum berakhir. Hal itu tersirat dalam penglihatan yang diterimanya pada suatu malam (Kis. 18:9-10). Yesus menyampaikan kata-kata yang khas dalam sebuah penampakkan dan pengangkatan seseorang untuk menjalankan suatu misi khusus, yakni "Jangan takut! Teruslah memberitakan firman dan jangan diam!” (Kis. 18:9; bdk. Kis. 4:29; 5:20). Ia tidak perlu takut dan diam karena Tuhan sendiri menyertainya (bdk. Yos. 1:9; Yes. 41:10; 43:5; Yer. 1:8; Mat. 28:20; Luk. 1:28, 66; Kis. 7:9; 10:38) dan melindunginya secara fisik sehingga tidak ada seorang pun akan menyentuh dan menganiayanya. Tuhan juga memberinya semangat dengan mengatakan bahwa ada banyak umat Allah di kota Korintus. Perkataan ini menunjukkan bahwa Tuhan telah mengetahui keberhasilan karya misi pewartaan injilnya dan Tuhan sendiri memilih umatnya sebagai anggota umat Allah yang baru.

Perlawanan dan hujatan yang diisyaratkan dalam sebuah penglihatan akhirnya menjadi kenyataan. Orang Yahudi bersatu menyerang Paulus dan membawanya di hadapan sidang pengadilan ketika “Galio menjadi gubernur di Akhaya” (Kis. 18:12) sekitar tahun 51 M. Sebagai seorang pejabat kaisar Roma, Galio pertama-tama bertanggungjawab untuk mempertahankan ketentraman publik dan karena itu ia harus mempertimbangkan kebiasaan yang diterapkan dalam provinsinya. Ia mengizinkan orang Yahudi hidup sesuai dengan kebiasaan dan tradisi mereka dan melindungi mereka ketika diganggu oleh warga kota Yunani. Namun, tidak ada bukti mengenai status keistimewaan orang Yahudi di daerah jajahan Roma di Korintus.

Di hadapan gubernur Galio, orang Yahudi mengajukan sebuah tuduhan tentang Paulus dengan berkata, “Ia ini berusaha meyakinkan orang untuk beribadah kepada Allah dengan jalan yang bertentangan dengan hukum Taurat” (Kis. 18:13). Dari sudut pandang Yahudi, tuduhan ini berkaitan dengan pewartaannya tentang Yesus yang tersalib sebagai Mesias. Pewartaan ini bertentangan dengan pandangan hukum Taurat yang melihat seorang yang tersalib sebagai seorang yang dikutuk oleh Allah (Ul. 21:23). Dengan tuduhan ini mereka tidak lagi menganggapnya sebagai bagian dari komunitas Yahudi Korintus, meski tetap tidaklah jelas apakah mereka mengekskomunikasinya secara resmi dari sinagoga. Mereka menganggapnya sebagai penganggu kedamaian dalam menjalankan adat istiadat mereka.

Galio menerima orang Yahudi Korintus dan mendengarkan tuduhan mereka. Namun, sebelum Paulus membela dirinya, ia berkata, “Hai orang-orang Yahudi, sekiranya dakwaanmu mengenai suatu pelanggaran atau kejahatan, sudah sepatutnya aku menerima perkaramu, tetapi kalau hal itu adalah perselisihan tentang perkataan atau nama atau hukum yang berlaku di antara kamu, maka hendaklah kamu sendiri menyelesaikannya; aku tidak sudi menjadi hakim atas perkara yang demikian” (ay. 15-16). Kata-kata ini menunjukkan bahwa ia melihat tidak adanya tindakan kriminal atau kejahatan serius yang melawan hukum negara dan berbahaya bagi kedamaian publik. Tuduhan yang dilontarkan lebih berkaitan dengan perselisihan mengenai ajaran Yahudi, teristimewa perselisihan tentang seorang yang bernama Yesus dan identitasnya. Tuduhan itu berada diluar wewenangnya sebagai pejabat Roma sehingga tidak ingin tampil sebagai seorang hakim untuk mengadilinya. Ia tidak berkompeten untuk menjadi hakim atas pertentangan teologis antara orang kristiani dan Yahudi.

Galio akhirnya membubarkan orang Yahudi dari ruang pengadilan. Tidaklah jelas apa yang terjadi setelahnya. Menurut hukum Romawi, seorang yang terbukti salah menuduh orang lain akan dihukum dengan hukuman yang dijatuhkan pada tersangka jika tuduhannya terbukti benar. Namun, ketentuan hukum ini tampaknya tidak diterapkan di sini karena mereka malah menyerbu Sostenes, kepala rumah ibadat yang mungkin menggantikan Krispus ketika ia menjadi kristiani. Mereka lalu memukulinya di depan ruang pengadilan tanpa intervensi dari Galio (Kis. 18:7). Sostenes diserbu dan dipukuli mungkin karena bersimpati dengan pewartaan dan pengajaran Paulus dan kemudian bergabung dengan komunitas kristiani. Jika orang Yahudi sendiri hanya menyerbu dan memukul kepala rumah ibadat mereka sendiri, maka kita dapat berasumsi bahwa Paulus mendapat perlindungan tertentu segera setelah Galio membubarkan orang Yahudi dari ruang pengadilan atau ia mungkin telah meninggalkan ruang pengadilan pada saat orang Yahudi masih “menyelidiki” penyebab kegagalan mereka dengan menyerbu pemimpin mereka.


Kembali ke Antiokhia, Siria

Dengan kembali ke Antiokia, Siria, Lukas mengakhiri kisah tentang perjalanan misi Paulus yang kedua (18:18-22). Dikisahkan bahwa Paulus tinggal selama beberapa waktu lagi Korintus sebelum meninggalkannya melalui pelabuhan Kengkrea, pelabuhan yang terletak di sebelah timur Korintus. Ia ditemani oleh Priskila dan Aquila yang memberinya tumpangan dan mempekerjakannya selama di Korintus. Tidaklah diceritakan apa alasan sehingga keluarga ini menemaninya ke Efesus. Tujuan perjalanannya adalah kembali ke Antiokhia Siria, tempat ia memulai perjalanan misi yang kedua bersama dengan Silas (Kis. 15:40).

Di pelabuhan Kengkrea, Paulus memenuhi nazarnya dengan mencukur rambut. Walau isi dan relevansinya tidak diberitahukan, namun satu-satunya nazar yang melibatkan tindakan mencukur rambut adalah nazar orang Nazir. Upacara untuk memenuhi nazar umumnya dilakukan di bait Allah Yerusalem, meksi tradisi yang lebih kemudian memungkinkan untuk dilakukan di luar bait Allah Yerusalem. Maka, mencukur rambut mungkin mengisyaratkan bahwa Paulus telah mengucapkan nazar orang nazir untuk mengkhusukan dirinya bagi Allah selama periode waktu tertentu (Bil. 6:1-12; Hak. 13:5-7). Tujuan Lukas menceritakan tindakan Paulus memenuhi nazarnya kepada Allah dengan mencukur rambut adalah untuk memperlihatkan bahwa Paulus terus menjalankan praktek hidup sebagai seorang Yahudi saleh meski dihujat sebagai seorang yang beribadah kepada Allah dengan jalan yang bertentangan dengan hukum Taurat (Kis. 18:13; 21:21).

Setelah memenuhi nazarnya, Paulus yang ditemani oleh Aquila dan Priskila berlayar ke Efesus yang pada waktu itu menjadi tempat pemerintahan gubernur Romawi di provinsi Asia. Pada waktu tiba di Efesus, ia sendiri pergi ke sinagoga dan berdiskusi dengan orang Yahudi. Dengan mengatakan bahwa Paulus sendiri pergi ke sinagoga, Lukas mau menunjukkan bahwa pewarta kristiani pertama di Efesus adalah Paulus, bukan Apolos atau seseorang yang lain. Ia pertama-tama mewartakan injil kepada orang Yahudi. Pewartaan di sinagoga Efesus memperlihatkan bahwa tindakannya mengebaskan debu dari pakaiannya dan pewartaannya di rumah seorang anggota gereja (Kis. 18:6-7) tidak melawan orang Yahudi secara keseluruhan, tetapi hanya melawan orang Yahudi di singaoga Korintus.

Orang Yahudi di sinagoga Efesus menerima pewartaan Paulus dengan baik. Mereka memintanya untuk tinggal lebih lama bersama dengan mereka. Namun, ia menolaknya karena ia memiliki rencana lain dan berjanji untuk kembali lagi jika Allah menghendakinya. Ia kemudian bertolak dari Efesus menuju Antiokhia melalui Kaisarea. Setelah naik ke darat dan memberi salam kepada jemaat di Yerusalem, ia berangkat ke Antiokhia di Siria, tempat ia memulai perjalanan misinya yang kedua (Kis. 15:35-41). Tujuannya adalah meneguhkan hati semua murid yang baru saja bertobat dan percaya kepada Allah melalui Yesus Kristus (Kis. 18:23; bdk. Kis. 14:21-23).

*******************************Bersambung**********************************

PERALANAN MISI YANG KETIGA

Pewartaan injil di Efesus

Paulus mengunjungi Efesus untuk pertama kalinya selama perjalanannya dari Korintus kembali ke Antiokhia Siria pada akhir musim panas tahun 51. Pasangan kristiani yang bernama Priskila dan Aquila menemaninya Paulus dari Korintus ke Efesus. Ia tinggal di kota itu hanya untuk suatu periode waktu yang singkat, tetapi ia mewartakan injil di sinagoga. Paulus menjumpai pendengar di sinagoga yang penuh perhatian dan ingin mendengarkannya lebih. Orang-orang Yahudi, kemungkinan besar pejabat sinagoga, meminta Paulus untuk tinggal lebih lama dan meneruskan pengajaran. Namun, ia menolaknya karena ia ingin kembali ke Antiokhia dan mengunjungi Yerusalem.

Priskila dan Aquila yang tiba bersama-sama dengan Paulus dari Antiokhia (18:18), tetap berada di Efesus. Setelah Paulus meninggalkan Efesus dan pergi ke Siria, mereka berjumpa dengan Apolos, yang mengunjungi Efesus. Apolos, seorang Yahudi yang berpendidikan dari Aleksandria yang berpengetahuan luas dalam tulisan Kitab Suci, mengajar di singago di Efesus dengan akurat tentang Yesus, tetapi ia hanya mengenal baptisan Yohanes (Kis. 18:24-26a). Apolos jelas seorang kristiani yang kurang memiliki pemahaman teologis dalam beberapa hal. Lukas menyatakan bahwa Aquila dan Priskila menjelaskan kepadanya jalan Tuhan dengan teliti (Kis. 18:26b).

Ketika Paulus kembali ke Efesus beberapa bulan kemudian, pada musim semi tahun 52, ia menjumpai “beberapa orang murid” di kota itu (Kis. 19:1-3). Istilah “murid” ditafsirkan sebagai orang-orang Yahudi kristiani yang telah bertobat sebagai dampak dari pelayanan Apolos. Istilah muri-dalam berbagai cara. Secara tradisional, penafsir menafsirkannya sebagai murid Yohanes Pembaptis. Beberapa penafsir melihat bahwa Paulus pada awalnya percaya bahwa “para murid ini” adalah orang kristiani, hanya untuk menyadari bahwa ini



1 Ada yang mengusulkan bahwa alasan paling mendasarnya adalah Barnabas menyesuaikan diri dengan posisi teologis utusan gereja Yerusalem yang bertentangan dengan Paulus (Gal. 2:13). Penyesuaian diri ini dicela oleh Paulus sebagai suatu kemunafikan. Celaan ini memperlihatkan bahwa Barnabas telah bertindak melawan keyakinannya sendiri yang sesungguhnya sama dengan Paulus ketika ia menyesuaikan diri dengan utusan gereja Yerusalem yang datang ke Antiokhia. Penyesuaian diri ini mungkin menyebabkan Paulus sangat terpukul karena Barnabas telah mendukungnya di hadapan para rasul di Yerusalem (Kis. 9:26-28), melibatkannya dalam karya misi pewartaan injil di Antiokhia (Kis. 11:25-30), dan bersama-sama mewartakan injil di Siprus dan Galatia Selatan (Kis. 13:2-14:26). Richard N. Longenecker, Galatians (Dallas, Texas: Word Books, 1990), 76.
2 Schnabel, Early Christian mission: Paul and the early Church, 1131
3 Tidak ada penjelasan yang ditawarkan oleh Lukas dalam Kisah Para Rasul untuk pembatasan ruang lingkup kesaksian dan pewartaan injil Paulus dan rekan-rekannya di provinsi Asia dan Bitinia, tetapi ada yang berasumsi bahwa pembatasan itu berhubungan dengan penolakan dan perlawanan publik yang didukung oleh penguasa seperti yang dialami oleh Paulus ketika ia melakukan karya misi pewartaan injil di Antiokhia Pisidia, Ikonium, dan Listra. Penolakan dan perlawanan ini menimbulkan banyak kesulitan bagi karya misi perwartaannya. Yang lain berasumsi bahwa injil telah diwartakan oleh Petrus atau seorang yang melihat dirinya sebagai Petrus di provinsi Asia dan Bitinia (1Ptr 1:1) dan karena itu Paulus dan rekan-rekannya dilarang oleh Roh Kudus untuk mewartakan injil atau memperkuat kegiatan misi pewartaan injil di daerah-daerah tersebut sehingga perasaan saling bersaing di antara para rasul dihindari. Howard Clark Kee, Good News to the Ends of the Earth: Theology of Acts (London: SCM Press, 1990), 38.
4 Joseph A. Fitzmyer, The Acts of the Apostles: A New Translation with Introduction and Commentary (New York: Doubleday, 1998), 587
5 Gerhard A. Krodel, Acts (Minneapolis: Augsburg Publishing House, 1986), 314.
6 Schnabel, Early Christian mission: Paul and the early Church, 1156-1157
7 Krodel, Acts,318.
8 Beberapa ahli tafsir melihat bahwa ahli-ahli pikir yang dijumpai Paulus di pasar bukanlah maksud dan target utama pendengarnya. Namun, pandang ini kurang meyakinkan karena ia berdialog setiap hari dengan mereka yang dijumpainya di pasar. Hal ini mengindikasikan bahwa ia ingin meyakinkan warga kota Atena yang bukan Yahudi tentang kebenaran injil Yesus Kristus, termasuk beberapa ahli pikir dari golongan Epikuros dan Stoa. Ia mewartakan pesan injil yang sama seperti yang telah diwartakannya di kota-kota lain: “Ia memberitakan Injil tentang Yesus dan kebangkitan-Nya” (Kis. 17:18).
9 Anthony B. Robinson dan Robert W. Wall, Called to be Church: The Book of Acts for a New Day (Grand Rapids: Eerdmans, 2006),212.
10 Ada yang melihatnya bahwa Paulus dibawa ke sidang Areopagus untuk menyelidiki tuduhan yang dilontarkan kepadanya sebagai pewarta ajaran dewa-dewa baru. Anggota sidang Areopagus mungkin berpikir bahwa jika ajarannya mendapat sambutan luas warga kota Atena, ia bisa meminta tempat bagi dewa-dewanya dalam kuil yang dibangun untuk semua dewa. Ia juga bisa membeli sebidang tanah untuk mendirikan tempat ibadat atau sekurang-kurangnya sebuah altar untuk kurban persembahan bagi dewa-dewanya. Yang lain melihat bahwa ia dibawa ke sidang Areopagus dengan maksud untuk memperlihatkan kompetensinya sebagai seorang orator. Pendapat ini didukung oleh sebuah data dari dunia Mediterania timur yang mencatat bahwa para orator diundang oleh para pembesar kota untuk memperlihatkan kemampuan orasi dan orientasi filosofis mereka. Para orator biasanya diberitahukan sehari sebelumnya untuk mempersiapkan pidato dengan topik yang telah ditentukan. Mereka harus menyusun, menulis, menghafal pidatonya karena pada waktu tampil tmereka idak boleh memakai catatan. Naskah pidato semacam itu sering digandakan dan diedarkan di dalam kota. Maka, sangatlah mungkin bahwa pidato Paulus dalam Kis. 17:22-31 merupakan sebuah ringkasan pidato tertulisnya. Itu berarti apa yang dicatat dalam Kis. 17:22-31 tidak dipahami sebagai ringkasan pewartaan injil yang disampaikannya di hadapan bangsa-bangsa lain, tetapi sebuah pidato dalam suatu konteks yang spesifik. Schnabel, Early Christian mission: Paul and the early Church, 1177-1178.
11 Ada yang melihatnya bahwa Paulus dibawa ke sidang Areopagus untuk menyelidiki tuduhan yang dilontarkan kepadanya sebagai pewarta ajaran dewa-dewa baru di Atena. Anggota sidang Areopagus mungkin berpikir bahwa jika ajarannya tentang dewa-dewi baru mendapat sambutan luas warga kota Atena, ia bisa meminta tempat bagi dewa-dewanya dalam kuil yang dibangun untuk semua dewa. Ia juga bisa membeli sebidang tanah untuk mendirikan tempat ibadat atau sekurang-kurangnya sebuah altar untuk kurban persembahan bagi dewa-dewanya. Yang lain melihat bahwa ia dibawa ke sidang Areopagus dengan maksud untuk memperlihatkan kompetensinya sebagai seorang orator. Pendapat ini didukung oleh sebuah data dari dunia Mediterania timur yang mencatat bahwa para orator diundang oleh para pembesar kota untuk memperlihatkan kemampuan orasi dan orientasi filosofis mereka. Para orator biasanya diberitahukan sehari sebelumnya untuk mempersiapkan pidato dengan topik yang telah ditentukan. Mereka harus menyusun, menulis, menghafal pidatonya karena pada waktu tampil tmereka idak boleh memakai catatan. Naskah pidato semacam itu sering digandakan dan diedarkan di dalam
kota. Maka, sangatlah mungkin bahwa pidato Paulus dalam Kis. 17:22-31 merupakan sebuah ringkasan dari pidato tertulisnya. Itu berarti apa yang dicatat dalam Kis. 17:22-31 tidak dipahami sebagai ringkasan pewartaan injil yang disampaikannya di hadapan bangsa-bangsa lain, tetapi sebuah pidato dalam suatu konteks yang spesifik. Schnabel, Early Christian mission: Paul and the early Church, 1177-1178.
12 Krodel, Acts,327.
13 Schnabel, Early Christian mission: Paul and the early Church, 1179-1180.
14 I. Howard Marshall, Acts (Grand Rapids: Eerdmans, 1980)294.
15 Menurut Philip Towner, petunjuk ilahi dalam sebuah penglihatan memungkinkan kita untuk menyimpulkan bahwa Paulus telah mengubah strategi misinya. Namun, kita tidak boleh menyimpulkan secara tegas perubahan strategi misi Paulus antara perjalanan misi yang pertama dengan yang kedua. Selama karya misinya di Galatia, ia memang pertama-tama mewartakan injil di sinagoga lokal dan banyak orang yang bertobat dan percaya baik yang berlatar belakang Yahudi maupun yang bukan Yahudi yang takut akan Allah. Keberhasilan ini memunculkan perlawanan dan penolakan dari anggota komunitas Yahudi, yang pada gilirannya mendorongnya untuk berpaling kepada orang yang bukan Yahudi dan memaksanya berangkat secara mendadak. Namun, di Korintus, ia diberi petunjuk untuk tidak segera pergi dari kota tersebut walau orang Yahudi terus melawannya; ia meneruskan karya misinya di luar sinagoga tanpa mengabaikan orang Yahudi.
16 Schnabel, Early Christian mission: Paul and the early Church, 1195.
17 Mikeal C. Parsons, Acts (Grand Rapids: Baker Academic, 2008), 261.
18 Krodel, Acts,351.