Selasa, April 20, 2010

SURAT-SURAT KEPADA TUJUH GEREJA - Bagian 5

“ENGKAU DIKATAKAN HIDUP, PADAHAL ENGKAU MATI”
Surat kepada jemaat di Sardis (Why 3:1-6)

1 "Dan tuliskanlah kepada malaikat jemaat di Sardis: Inilah firman Dia, yang memiliki ketujuh Roh Allah dan ketujuh bintang itu: Aku tahu segala pekerjaanmu: engkau dikatakan hidup, padahal engkau mati! 2 Bangunlah, dan kuatkanlah apa yang masih tinggal yang sudah hampir mati, sebab tidak satu pun dari pekerjaanmu Aku dapati sempurna di hadapan Allah-Ku. 3 Karena itu ingatlah, bagaimana engkau telah menerima dan mendengarnya; turutilah itu dan bertobatlah! Karena jikalau engkau tidak berjaga-jaga, Aku akan datang seperti pencuri dan engkau tidak tahu pada waktu manakah Aku tiba-tiba datang kepadamu. 4 Tetapi di Sardis ada beberapa orang yang tidak mencemarkan pakaiannya; mereka akan berjalan dengan Aku dalam pakaian putih, karena mereka adalah layak untuk itu. 5 Barangsiapa menang, ia akan dikenakan pakaian putih yang demikian; Aku tidak akan menghapus namanya dari kitab kehidupan, melainkan Aku akan mengaku namanya di hadapan Bapa-Ku dan di hadapan para malaikat-Nya. 6 Siapa bertelinga, hendaklah ia mendengarkan apa yang dikatakan Roh kepada jemaat-jemaat."

Sapaan bagi si teralamat (ay. 1)
Surat ini diawali dengan sapaan kepada si teralamat, yang disebutnya sebagai malaikat jemaat di Sardis. Kota Sardis terletak 30 mil bagian tenggara kota Tiatira. Kota itu terkenal karena kemakmurannya selama berada di bawah Croesus pada abad ke-6 SM dan dianggapnya sebagai salah satu kota yang kuat di dunia kuno. Akan tetapi menjelang abad pertama arti penting kota itu telah menurun meski tetap suatu pusat perdagangan yang penting. Pada tahun 17 M kota itu dihancurkan oleh gempa bumi yang sangat dasyat. Gempa bumi yang dahsyat itu menghancurkan sendi-sendi kehidupan dan perekonomian sehingga Kaisar Tiberius, kaisar Romawi, memberikan sejumlah bantuan kepada rakyat Sardis dan membebaskan mereka dari kewajiban membayar pajak selama lima tahun. Meski sedikit demi sedikit kota itu dibangun kembali, namun ingatan Yohanes rupanya masih melekat kuat pada kemakmuran dan kehancuran kota tersebut. Reputasi masa lalu kota itu digambarkan sebagai kota yang hidup tetapi kini dianggap mati (3:1).

Identifikasi diri pemberi perintah (ay. 1b)
Yesus yang bangkit yang memberi perintah kepada Yohanes untuk menulis surat dan mengirimkannya kepada jemaat di Sardis diidentifikasikan sebagai “yang memiliki ketujuh Roh Allah dan ketujuh bintang” (ay. 1b). Bagian pertama dari identifikasi ini, “Dia yang memiliki ketujuh Roh Allah” berasal dari Why 1:4 meski di sini tidak dikatakan bahwa Yesus memiliki tujuh Roh. Jika tujuh roh itu mewakili Roh Kudus, maka persekutuan yang erat antara Yesus dan Roh Kudus di sini sangat menarik. Sementara bagian yang kedua dari identifikasi itu, “Dia yang memiliki ketujuh binatang” itu berasal dari Why 1:16, 20. Munculnya identifikasi Yesus yang serupa pada perikop-perikop sebelumnya menunjukkan adanya serangkaian penglihatan yang terkait satu sama lain. Tekanan pada angka simbolis “tujuh” di sini mungkin dimaksudkan sebagai sebuah peringatan bahwa tidak ada gereja yang bebas dari penglihatan dan pengamatan Yesus sendiri.

Celaan dan Nasihat (ay. 1c-4)
Tubuh surat dimulai dengan sebuah celaan yang blak-blakan: “Aku tahu segala pekerjaanmu: engkau dikatakan hidup, padahal engkau mati!” Di sini, kata “mati” dipahami dalam arti kehilangan semangat hidup rohani. Pertentangan antara hidup dan mati ini mengingatkan kita pada pernyataan Lukas bahwa anak yang hilang ini telah mati dan menjadi hidup kembali (Luk 15:24) atau pada ungkapan Yakobus bahwa iman tanpa perbuatan adalah mati (Yak 2:17, 26). Paulus juga mengaitkan kematian dengan daging dan dosa, “jika kamu hidup menurut daging, kamu akan mati” (Rom 8:13). Maka, celaan yang blak-blakan ini mengacu pada kematian hidup rohani jemaat.18 Kematian rohani mereka itu diakibatkan oleh penyesuaian diri mereka dengan penghayatan religius orang Yahudi dan Romawi.19
Setelah mencela jemaatnya, Yohanes kemudian memberikan beberapa nasihat, yakni bangunlah dan kuatkanlah apa yang masih tinggal yang sudah hampir mati; ingatlah apa yang telah diterima dan didengar (bdk 2:5); turutilah dan bertobatlah. Nasihat-nasihat ini terkait dengan semangat hidup rohani jemaat. Mereka telah mendengar dan menerima injil tetapi mereka tidak berpegang, mengingat, dan menjaganya. Melalui nasihat-nasihat ini mereka didorong supaya mereka tidak menerima atau tidak berkompromi dengan praktek religius dan politik Yunani-Romawi dalam berbagai bentuknya. Jika mereka masih berkompromi, Yesus akan datang seperti seorang pencuri pada suatu waktu yang tidak mereka ketahui. Meskipun gagasan tentang kedatangan hari Tuhan itu berakar kuat dalam tradisi kristiani perdana (Mat 24:43-44; Luk 12:39-40; 1Tes 5:2, 4; 2Ptr 3:10), namun di sini tidak mengacu pada parousia tetapi pada suatu hukuman sebelum peristiwa parousia.20 Hukum sebelum Parousia ini mungkin menyinggung sejarah masa lalu ketika mereka ditaklukan oleh musuh-musuh mereka sebanyak dua kali, yakni pada tahun 546 SM oleh Cyrus dan tahun 214 SM oleh Antiokhus III. Penaklukan ini disebabkan karena mereka kurang siaga.
Meski semangat hidup rohani jemaat dicela secara blak-blakan, namun Yohanes mengamati bahwa ada beberapa dari antara mereka yang tidak mencemarkan pakaiannya. Ungkapan, “tidak mencemarkan pakaian” harus dimengerti secara simbolis. Dalam Zak 3:3-5 pakaian bersih dan kotor Yosua secara simbolis melambangkan ketidakberdosaan atau keberdosaannya. Dengan demikian, beberapa orang yang tidak mencemarkan pakaian di sini kemungkinan besar mengacu kepada mereka yang menolak untuk berpartisipasi dalam ibadat pemujaan kepada kaisar dan dewa-dewi Romawi. Karena kesetiaan mereka itulah kemuliaan Kristus yang telah dibangkit akan diberikan kepada mereka.

Janji dan panggilan untuk mendengarkan (ay. 5-6)
Kepada orang-orang yang tidak mencemarkan pakaian, Yesus menjanjikan tiga hal. Pertama, mereka akan dipakaikan “pakaian putih” yang akan disebutkan lagi dalam Why 3:18; 4:4. Ungkapan ini juga harus dipahami secara simbolis. Anggota komunitas Qumran juga memakai pakaian putih sebagai simbol kemurnian batin mereka. Kaisar Romawi juga mengenakan pakaian yang putih dalam perayaan kemenangan. Dalam Perjanjian Lama, pakaian putih melambangkan surga (Dan. 7:9) dan kemenangan (2Mak 11:8). Dengan berjalan bersama Yesus dan memakai baju putih, orang-orang yang setia itu akan mendapat bagian dalam kemuliaan Kristus yang telah dibangkitkan.
Kedua, nama mereka tidak akan dihapus dari kitab kehidupan. Kitab kehidupan itu memuat nama orang-orang yang mengambil bagian dalam kepenuhan Kerajaan Allah. Ungkapan “kitab kehidupan” itu sangat umum di lingkungan Yahudi pada zaman itu. Musa diminta untuk dikeluarkan dari kitab kehidupan jika orang-orang Israel setelah peristiwa penyembahan patung anak lembu yang terbuat emas tidak diampuni (Kel 32:32-33; Mzm 69:29). Ungkapan kitab kehidupan memuat gagasan tentang kehidupan setelah kematian (Luk 10:20; Flp 4:3; Ibr 12:23).
Ketiga, Yesus akan mengakui nama mereka di hadapan Bapa-Nya dan para malaikat-Nya (bdk Mat 10:32; Luk 12:8). Kristus akan bersaksi di hadapan pengadilan surgawi tentang kesetiaan mereka selama berada di dunia ini. Sama seperti beberapa orang mengakui nama-Nya di bumi demikianlah juga Kristus akan mengakui nama mereka di surga. Jika mereka tidak mengakui-Nya, maka mereka juga tidak akan diakui di surga. Ketiga janji itu diakhiri dengan sebuah panggilan untuk semua orang beriman, “Siapa bertelinga, hendaklah ia mendengarkan apa yang dikatakan Roh kepada jemaat-jemaat.”

18 M. Kiddle, The Revelation of St John (London: Hodder & Stoughton, 1940), 44-45.
19 Ladd, Revelation, 56.
20 Seán P. Kealy, The Apocalypse of John (Wilmington: Michael Glazier, 1987), 98.

Tidak ada komentar: