Selasa, April 30, 2013

30 Apr – Hari Biasa Pekan V Paskah- (Kis. 14:19-28; Yoh. 14:27-31a)  

Teks Kitab Suci
27 Damai sejahtera Kutinggalkan bagimu. Damai sejahtera-Ku Kuberikan kepadamu, dan apa yang Kuberikan tidak seperti yang diberikan oleh dunia kepadamu. Janganlah gelisah dan gentar hatimu.28 Kamu telah mendengar, bahwa Aku telah berkata kepadamu: Aku pergi, tetapi Aku datang kembali kepadamu. Sekiranya kamu mengasihi Aku, kamu tentu akan bersukacita karena Aku pergi kepada Bapa-Ku, sebab Bapa lebih besar dari pada Aku.29 Dan sekarang juga Aku mengatakannya kepadamu sebelum hal itu terjadi, supaya kamu percaya, apabila hal itu terjadi.30 Tidak banyak lagi Aku berkata-kata dengan kamu, sebab penguasa dunia ini datang dan ia tidak berkuasa sedikit pun atas diri-Ku.31 Tetapi supaya dunia tahu, bahwa Aku mengasihi Bapa dan bahwa Aku melakukan segala sesuatu seperti yang diperintahkan Bapa kepada-Ku, bangunlah, marilah kita pergi dari sini."

Renungan oleh 
Romo Yosef Aris, MSF

Yesus mewariskan damai sejahtera kepada kita, para muridNya. Damai sejahtera yang berbeda dengan yang diberikan dunia. Damai sejahtera Yesus adalah damai yang tahan zaman, tidak pernah usang, tidak pernah musnah. Damai sejahtera yang membuat harapan dan semangat baru bergelora. Yang putus asa, bangkit. Yang menderita, tidak mati sia-sia. Yang ketakutan dan kawatir, menjadi teguh dan berani. Yesus pun memberi peneguhan yang mendalam, janganlah gelisah dan gentar hatimu! (Yoh 14:27). Yesus sungguh menjadi andalan dalam hidup. Ia tidak akan meninggalkan murid-muridNya dalam penderitaan, ketidakpastian, keragua-raguan. Sebab Yesus akan datang kembali. Yesus telah memberikan teladan bagaimana kedamaian hatiNya telah membuat sukacita banyak orang berkat ketaatNya kepada Allah Bapa. Ia menunjukkan secara benar, sikap mengasihi Bapa, yakni dengan taat kepada kehendakNya. 

Kita dapat bertanya pada diri sendiri, sungguhkah damai sejahtera Yesus hidup dan berkembang dalam diri kita? Apakah aku bebas dalam mengasihi pasangan, keluarga, tugas, pelayanan , dan pekerjaanku? Kita diudang dengan terang iman, agar mengasihi Allah makin berkobar-kobar tatkala kita berani berkorban, menanggung penderitaan, kesetiaan dalam proses hidup, ketekunan dalam usaha, ketulusan dalam pengampunan, kegairahan dalam pekerjaan, kegembiraan dalam pelayanan.

Senin, April 29, 2013

29 Apr – Pw S. Katarina dr Siena, PrwPujG- (Kis. 14:5-18; Yoh. 14:21-26)  

Teks Kitab Suci
21 Barangsiapa memegang perintah-Ku dan melakukannya, dialah yang mengasihi Aku. Dan barangsiapa mengasihi Aku, ia akan dikasihi oleh Bapa-Ku dan Aku pun akan mengasihi dia dan akan menyatakan diri-Ku kepadanya."22 Yudas, yang bukan Iskariot, berkata kepada-Nya: "Tuhan, apakah sebabnya maka Engkau hendak menyatakan diri-Mu kepada kami, dan bukan kepada dunia?"23 Jawab Yesus: "Jika seorang mengasihi Aku, ia akan menuruti firman-Ku dan Bapa-Ku akan mengasihi dia dan Kami akan datang kepadanya dan diam bersama-sama dengan dia.24 Barangsiapa tidak mengasihi Aku, ia tidak menuruti firman-Ku; dan firman yang kamu dengar itu bukanlah dari pada-Ku, melainkan dari Bapa yang mengutus Aku.25 Semuanya itu Kukatakan kepadamu, selagi Aku berada bersama-sama dengan kamu;26 tetapi Penghibur, yaitu Roh Kudus, yang akan diutus oleh Bapa dalam nama-Ku, Dialah yang akan mengajarkan segala sesuatu kepadamu dan akan mengingatkan kamu akan semua yang telah Kukatakan kepadamu.

Renungan oleh 
Romo Yosef Aris, MSF

Manusia dianugerahi akal budi dan hati nurani. Ia masih juga mempunyai iman untuk percaya pada penyelenggaraan ilahi. Bahkan, lebih lagi, manusia dikaruniai Roh Kudus agar memahami firmanNya. Yesus mengajarkan kepada kita, bahwa tindakan mengasihi Allah harus terwujud dalam menuruti firmanNya (Yoh 14:21). Dalam kerangka mengasihi dan menuruti firman Tuhan, terkandung pula sikap mau mendengarkan dan menghidupi (taat) aturan/perintah Tuhan. Jarang sekali bahkan sulit dimengerti bila seseorang mengasihi sesama, kok tidak pernah mendengarkan kata-kata yang dikasihi. Mengasihi dengan menuruti perintah Tuhan, membutuhkan kebebasan hati (bebas dari keperpaksaan), kesadaran pribadi, kejernihan pikiran. Ia sadar bahwa sungguh-sungguh mengasihi Allah. 

Kesadaran dan kesungguhan mengasihi Allah diteladankan pula oleh St. Katarina dari Siena. Ia mempersembahkan dirinya. Ia melayani Allah melalui pelayanan kepada orang sakit dan dalam penjara. Ia menemukan Yesus dalam hatinya, sehingga ia penuh rahmat. Ia juga menjadi pemersatu antara kerajaan dan Paus yang bersitegang. Ia betul-betul menututi perintah Allah. Ia gagah berani mencintai Allah dan mengasihi sesama. Ia mencapai kekudusan. Mari kita makin taat kepada perintah Allah dalam firman-firmanNya dengan kesadaran dan kesungguhan. Taat itu indah dan mendatangkan sukacita.

Minggu, April 28, 2013

28 Apr – HARI MINGGU PASKAH V- (Kis. 14:21b-27; Yoh. 13:31-33a,34-35)  

Teks Kitab Suci
13 Kamu menyebut Aku Guru dan Tuhan, dan katamu itu tepat, sebab memang Akulah Guru dan Tuhan.14 Jadi jikalau Aku membasuh kakimu, Aku yang adalah Tuhan dan Gurumu, maka kamu pun wajib saling membasuh kakimu;15 sebab Aku telah memberikan suatu teladan kepada kamu, supaya kamu juga berbuat sama seperti yang telah Kuperbuat kepadamu.16 Aku berkata kepadamu: Sesungguhnya seorang hamba tidaklah lebih tinggi dari pada tuannya, ataupun seorang utusan dari pada dia yang mengutusnya.17 Jikalau kamu tahu semua ini, maka berbahagialah kamu, jika kamu melakukannya.18 Bukan tentang kamu semua Aku berkata. Aku tahu, siapa yang telah Kupilih. Tetapi haruslah genap nas ini: Orang yang makan roti-Ku, telah mengangkat tumitnya terhadap Aku.19 Aku mengatakannya kepadamu sekarang juga sebelum hal itu terjadi, supaya jika hal itu terjadi, kamu percaya, bahwa Akulah Dia.20 Aku berkata kepadamu: Sesungguhnya barangsiapa menerima orang yang Kuutus, ia menerima Aku, dan barangsiapa menerima Aku, ia menerima Dia yang mengutus Aku."21 Setelah Yesus berkata demikian Ia sangat terharu, lalu bersaksi: "Aku berkata kepadamu, sesungguhnya seorang di antara kamu akan menyerahkan Aku."22 Murid-murid itu memandang seorang kepada yang lain, mereka ragu-ragu siapa yang dimaksudkan-Nya.23 Seorang di antara murid Yesus, yaitu murid yang dikasihi-Nya, bersandar dekat kepada-Nya, di sebelah kanan-Nya.24 Kepada murid itu Simon Petrus memberi isyarat dan berkata: "Tanyalah siapa yang dimaksudkan-Nya!"25 Murid yang duduk dekat Yesus itu berpaling dan berkata kepada-Nya: "Tuhan, siapakah itu?"26 Jawab Yesus: "Dialah itu, yang kepadanya Aku akan memberikan roti, sesudah Aku mencelupkannya." Sesudah berkata demikian Ia mengambil roti, mencelupkannya dan memberikannya kepada Yudas, anak Simon Iskariot.27 Dan sesudah Yudas menerima roti itu, ia kerasukan Iblis. Maka Yesus berkata kepadanya: "Apa yang hendak kauperbuat, perbuatlah dengan segera."28 Tetapi tidak ada seorang pun dari antara mereka yang duduk makan itu mengerti, apa maksud Yesus mengatakan itu kepada Yudas.29 Karena Yudas memegang kas ada yang menyangka, bahwa Yesus menyuruh dia membeli apa-apa yang perlu untuk perayaan itu, atau memberi apa-apa kepada orang miskin.30 Yudas menerima roti itu lalu segera pergi. Pada waktu itu hari sudah malam.31 Sesudah Yudas pergi, berkatalah Yesus: "Sekarang Anak Manusia dipermuliakan dan Allah dipermuliakan di dalam Dia.32 Jikalau Allah dipermuliakan di dalam Dia, Allah akan mempermuliakan Dia juga di dalam diri-Nya, dan akan mempermuliakan Dia dengan segera.33 Hai anak-anak-Ku, hanya seketika saja lagi Aku ada bersama kamu. Kamu akan mencari Aku, dan seperti yang telah Kukatakan kepada orang-orang Yahudi: Ke tempat Aku pergi, tidak mungkin kamu datang, demikian pula Aku mengatakannya sekarang juga kepada kamu.34 Aku memberikan perintah baru kepada kamu, yaitu supaya kamu saling mengasihi; sama seperti Aku telah mengasihi kamu demikian pula kamu harus saling mengasihi.35 Dengan demikian semua orang akan tahu, bahwa kamu adalah murid-murid-Ku, yaitu jikalau kamu saling mengasihi."

Renungan oleh 
Romo Yosef Aris, MSF

Anak Manusia dipermuliakan, dan Allah dipermuliakan di dalam Dia (Yoh 13:31). Kemuliaan Allah hadir dan nyata dalam hidup Yesus. Kemuliaan Allah nampak nyata dalam kepedulianNya terhadap hidup manusia. Kemuliaan Allah terungkap dalam kasiNya kepada manusia. Yesus menegaskan kemuliaan yang Ia bawa terwujud dalam hidup saling mengasihi. Yesus menunjukkan atau memberi teladan kasih kepada semua orang. Orang sakit disembuhkan, orang lapar dikenyangkan, orang mati dihidupkan. Yesus memberi perhatian kepada mereka yang terasing, tertindas, dan tersingkirkan. Dengan hidup dalam kasih, martabat seseorang menjadi terangkat. Mereka yang terpuruk mendapat kekuatan baru untuk bangkit. 

Hidup saling mengasihi menjadikan seseorang mengalami sukacita . kebaikan dan cinta yang berkembang dalam dunia, menjadikan setiap orang mengalami kebaikan Allah dan dihantar kepada pengenalan akan Allah yang baik. Oleh sebab itu, setiap murid Kristus diajak untuk mengikuti dan meneladan Yesus yang memuliakan Allah dengan mencintai sesama manusia. Ie rela menderita karna cinta kepada Allah Bapa dan kepada manusia. Memuliakan Allah berarti pula berani berkorban dan berbela rasa kepada sesama tanpa pamrih. Mari kita mengembangkan sikap mengasihi sesama sebagai keutamaan hidup. Dalam konteks pastoral : saling mengasihi sebagai pastoral unggulan.

Sabtu, April 27, 2013

27 Apr – Hari Biasa Pekan IV Paskah- (Kis. 13:44-52; Yoh. 14:7-14) 

Teks Kitab Suci
7 Sekiranya kamu mengenal Aku, pasti kamu juga mengenal Bapa-Ku. Sekarang ini kamu mengenal Dia dan kamu telah melihat Dia."8 Kata Filipus kepada-Nya: "Tuhan, tunjukkanlah Bapa itu kepada kami, itu sudah cukup bagi kami."9 Kata Yesus kepadanya: "Telah sekian lama Aku bersama-sama kamu, Filipus, namun engkau tidak mengenal Aku? Barangsiapa telah melihat Aku, ia telah melihat Bapa; bagaimana engkau berkata: Tunjukkanlah Bapa itu kepada kami.10 Tidak percayakah engkau, bahwa Aku di dalam Bapa dan Bapa di dalam Aku? Apa yang Aku katakan kepadamu, tidak Aku katakan dari diri-Ku sendiri, tetapi Bapa, yang diam di dalam Aku, Dialah yang melakukan pekerjaan-Nya.11 Percayalah kepada-Ku, bahwa Aku di dalam Bapa dan Bapa di dalam Aku; atau setidak-tidaknya, percayalah karena pekerjaan-pekerjaan itu sendiri.12 Aku berkata kepadamu: Sesungguhnya barangsiapa percaya kepada-Ku, ia akan melakukan juga pekerjaan-pekerjaan yang Aku lakukan, bahkan pekerjaan-pekerjaan yang lebih besar dari pada itu. Sebab Aku pergi kepada Bapa;13 dan apa juga yang kamu minta dalam nama-Ku, Aku akan melakukannya, supaya Bapa dipermuliakan di dalam Anak.14 Jika kamu meminta sesuatu kepada-Ku dalam nama-Ku, Aku akan melakukannya."

Renungan oleh 
Romo Surip, OFMCap

Ketidakpuasan orang dalam mengerti Allah yang tidak kelihatan mendorongnya untuk menghadirkan Allah itu dalam bentuk patung. Namun segala patung kayu dan batu tidak pernah dapat mewakili Allah, tetapi daging dan darah manusia Yesus dapat menjelmakan-Nya: “Barangsiapa telah melihat Aku, ia telah melihat Bapa.” Yesus bersatu sedemikian rupa dengan Bapa, sehingga rupa-Nya sendiri memperlihatkan karakter dan realitas Bapa. Untuk itu Yesus meminta Filipus mempercayai bahwa Dia di dalam Bapa dan Bapa di dalam Dia, sehingga apapun yang Ia katakan bukan dari diri-Nya sendiri, tetapi dari Bapa yang diam di dalam Dia. Agar keabsahan kata-kata-Nya tidak dapat disangkal, Yesus mengatakan bahwa pekerjaan-pekerjaan-Nya yang disertai berbagai mukjizat adalah bukti nyata dari kuasa Allah yang berkerja dalam diri-Nya. Karena itu barangsiapa percaya kepada Yesus, ia akan melakukan juga pekerjaan-pekerjaan yang dilakukan-Nya, dan ia akan menjadi saksi bagi imanensi Bapa di dalam Yesus. 

Kedatangan Yesus memperkenalkan Bapa kepada dunia, maka janji “jika kamu meminta sesuatu kepada-Ku dalam nama-Ku, Aku akan melakukannya”, berkaitan dengan penyelesaian penyataan dari Bapa itu, yang sudah dimulai dengan inkarnasi/penjelmaan. 

Mengapa kita kadang masih mempertanyakan keberadaan Allah Bapa? Yesus telah menunjukkan bahwa Dia di dalam Bapa dan Bapa di dalam Dia. Apa mau kita sekarang?

Jumat, April 26, 2013

26 Apr – Hari Biasa Pekan IV Paskah- (Kis. 13:26-33; Yoh. 14:1-6) 

Teks Kitab Suci
1 "Janganlah gelisah hatimu; percayalah kepada Allah, percayalah juga kepada-Ku.2 Di rumah Bapa-Ku banyak tempat tinggal. Jika tidak demikian, tentu Aku mengatakannya kepadamu. Sebab Aku pergi ke situ untuk menyediakan tempat bagimu.3 Dan apabila Aku telah pergi ke situ dan telah menyediakan tempat bagimu, Aku akan datang kembali dan membawa kamu ke tempat-Ku, supaya di tempat di mana Aku berada, kamu pun berada.4 Dan ke mana Aku pergi, kamu tahu jalan ke situ."5 Kata Tomas kepada-Nya: "Tuhan, kami tidak tahu ke mana Engkau pergi; jadi bagaimana kami tahu jalan ke situ?"6 Kata Yesus kepadanya: "Akulah jalan dan kebenaran dan hidup. Tidak ada seorang pun yang datang kepada Bapa, kalau tidak melalui Aku.

Renungan oleh 
Romo Surip, OFMCap

Buku Rahasia-rahasia Henokh melukiskan surga sebagai istana besar yang memiliki banyak kamar: “Di dalam dunia yang akan datang ada banyak kamar yang disediakan bagi manusia; kamar baik untuk orang yang baik dan kamar jahat untuk orang yang jahat.” Yesus berkata: “Di rumah Bapa-Ku banyak tempat tinggal. Aku pergi ke situ untuk menyediakan tempat bagimu.” Tempat tinggal di rumah Bapa maksudnya adalah surga dan Yesus pembuka jalan menuju surga agar kita dapat memasukiya. Bahkan Yesus sendiri adalah jalan ke surga itu. Ia bukan hanya mengatakan bahwa Ia mengetahui jalan, kebenaran dan hidup, tetapi Ia sendiri adalah “jalan dan kebenaran dan hidup”. 

Dalam Perjanjian Lama telah tercatat tentang jalan-jalan Tuhan: “Segenap jalan, yang diperintahkan kepadamu oleh TUHAN, Allahmu, haruslah kamu jalani, supaya kamu hidup…” (Ul 5:33 bdk. Ul 31:29; Yes 30:21; 35:8; Mzm 27:11). Yesus adalah jalan itu, sebab melalui dan di dalam Dia, manusia dibawa kembali kepada Allah dan mencapai tujuan akhir. Pemazmur mengatakan: “Tunjukkanlah kepadaku jalan-Mu, ya TUHAN, supaya aku hidup menurut kebenaran-Mu” (Mzm 86:11 bdk. Mzm 26:3; 119:30). Yesus adalah kebenaran itu, sebab segala ajaran moral nyata dalam sikap, perkataan dan perbuatan-Nya. Dalam buku Amsal tertulis: “Siapa mengindahkan didikan, menuju jalan kehidupan” (Ams 10:17; 6:23). Yesus adalah hidup itu, sebab Dialah vitalitas rohani yang berasal dari Allah dan yang menebus dosa-dosa manusia. 

Mengapa kita kadang masih memilih-milih jalan yang tepat menuju Allah? Yesus telah menunjukkan bahwa diri-Nya sendiri adalah jalan, kebenaran dan hidup itu. Apa mau kita sekarang?

Kamis, April 25, 2013

25 Apr – Pesta S. Markus, PenInj- (1Ptr. 5:5b-14; Mrk. 16:15-20) 

Teks Kitab Suci
15 Lalu Ia berkata kepada mereka: "Pergilah ke seluruh dunia, beritakanlah Injil kepada segala makhluk.16 Siapa yang percaya dan dibaptis akan diselamatkan, tetapi siapa yang tidak percaya akan dihukum.17 Tanda-tanda ini akan menyertai orang-orang yang percaya: mereka akan mengusir setan-setan demi nama-Ku, mereka akan berbicara dalam bahasa-bahasa yang baru bagi mereka,18 mereka akan memegang ular, dan sekalipun mereka minum racun maut, mereka tidak akan mendapat celaka; mereka akan meletakkan tangannya atas orang sakit, dan orang itu akan sembuh."19 Sesudah Tuhan Yesus berbicara demikian kepada mereka, terangkatlah Ia ke sorga, lalu duduk di sebelah kanan Allah.20 Mereka pun pergilah memberitakan Injil ke segala penjuru, dan Tuhan turut bekerja dan meneguhkan firman itu dengan tanda-tanda yang menyertainya.

Renungan oleh 
Romo Surip, OFMCap

Setelah kebangkitan-Nya, para murid yakin bahwa Yesus adalah Tuhan. Mereka pun percaya, bahwa Yesus itu akan datang kembali dan saat itulah Allah akan membereskan dunia dan menyelamatkan segala bangsa, termasuk orang-orang kafir. Karena itu mereka memahami perintah Yesus: “Pergilah ke seluruh dunia, beritakanlah Injil kepada segala makhluk.” Paulus telah membuka jalan dengan misinya ke daerah-daerah orang kafir dan membawa mereka beriman kepada Yesus. Para murid harus memberitakan wafat dan kebangkitan Yesus bagi “segala makhluk”, yaitu segala bangsa, sebab hanya manusia dapat mendengar dan menerimanya dengan iman. Tujuannya, agar manusia bertobat, lalu percaya dan menyatakan imannya itu dengan memberikan dirinya dibaptis. Iman yang harus dinyatakan di hadapan umum dengan pembaptisan itulah syarat bagi keselamatan. Sebab pada hari kedatangan Yesus untuk kedua kalinya “yang tidak percaya akan dihukum”. Tanda dari orang-orang yang percaya itu dapat mengusir setan, berbahasa roh, luput dari malapetaka dan mampu menyembuhkan orang sakit. Semua itu nyata dalam diri Paulus dan Barnabas, juga orang-orang Kristen lain yang mengadakan berbagai mukjizat, mengusir setan dan berbahasa roh, karena Roh Kudus berkarya langsung dalam diri mereka. Mereka telah meneruskan karya-karya Yesus, sementara Ia pulang ke rumah Bapa di surga, duduk di sebelah kanan Allah sebagai Tuhan. Sejak itulah Yesus yang pernah hidup sebagai manusia di bumi berkomunikasi dan berkarya dalam hati setiap manusia, sehingga para murid-Nya dapat pergi ke segala penjuru dunia. 

Murid-murid Yesus itu rela meninggalkan segala sesuatu yang mereka sukai, yang mereka anggap baik dan mapan, dan pergi dengan membiarkan diri dibentuk oleh keadaan yang dihadapi dan Yesus yang berkarya dalam diri mereka. 

Mengapa kita kadang masih membiarkan diri tenggelam dalam kemapanan hidup? Yesus telah mengingatkan bahwa banyak orang masih haus mendengarkan penginjilan kita. Apa mau kita sekarang?

Rabu, April 24, 2013

24 Apr – Hari Biasa Pekan IV Paskah- (Kis. 12:24-13:5a; Yoh. 12:44-50) 

Teks Kitab Suci
44 Tetapi Yesus berseru kata-Nya: "Barangsiapa percaya kepada-Ku, ia bukan percaya kepada-Ku, tetapi kepada Dia, yang telah mengutus Aku;45 dan barangsiapa melihat Aku, ia melihat Dia, yang telah mengutus Aku.46 Aku telah datang ke dalam dunia sebagai terang, supaya setiap orang yang percaya kepada-Ku, jangan tinggal di dalam kegelapan.47 Dan jikalau seorang mendengar perkataan-Ku, tetapi tidak melakukannya, Aku tidak menjadi hakimnya, sebab Aku datang bukan untuk menghakimi dunia, melainkan untuk menyelamatkannya.48 Barangsiapa menolak Aku, dan tidak menerima perkataan-Ku, ia sudah ada hakimnya, yaitu firman yang telah Kukatakan, itulah yang akan menjadi hakimnya pada akhir zaman.49 Sebab Aku berkata-kata bukan dari diri-Ku sendiri, tetapi Bapa, yang mengutus Aku, Dialah yang memerintahkan Aku untuk mengatakan apa yang harus Aku katakan dan Aku sampaikan.50 Dan Aku tahu, bahwa perintah-Nya itu adalah hidup yang kekal. Jadi apa yang Aku katakan, Aku menyampaikannya sebagaimana yang difirmankan oleh Bapa kepada-Ku."

Renungan oleh 
Romo Surip, OFMCap

Penulis buku tentang iman Kristiani mengakhiri bukunya dengan pertanyaan: Apa yang akan terjadi jika orang mengabaikan berita kekristenan ini? Jawabnya adalah hukuman menyusul. Hukuman itu akan lebih berat lagi karena engkau telah membaca buku ini. Semua yang telah kauketahui dan tidak kaulakukan, pada akhirnya akan menjadi saksi yang melawanmu. Yesus berkata: “Barangsiapa percaya kepada-Ku, ia bukan percaya kepada-Ku, tetapi kepada Dia, yang telah mengutus Aku.” Percaya kepada Yesus adalah jalan untuk mendekatkan diri kepada Allah. Maka mendengarkan Yesus berarti mendengarkan Allah dan melihat Yesus berarti melihat Allah. Dalam Yesus itu Allah menjumpai manusia dan manusia berjumpa dengan Allah. Percaya kepada Yesus pun membebaskan dari kuasa kegelapan dosa, karena Ia datang sebagai terang bagi dunia. Karena itu pula Yesus datang bukan untuk menghukum, tetapi untuk menyelamatkan. Namun kedatangan-Nya itu tidak bisa dilepaskan dari penghakiman. Sebab dengan sikapnya terhadap Yesus, orang telah menghakimi dirinya sendiri. Firman yang telah dikatakan Yesus itulah hakimnya: “Barangsiapa menolak Aku, dan tidak menerima perkatakan-Ku, ia sudah ada hakimnya, yaitu firman yang telah Kukatakan.” 

Perkataan Yesus adalah harapan bagi orang yang percaya dan hukuman bagi orang yang tidak percaya. Sebab Yesus berkata-kata bukan dari diri-Nya sendiri, tetapi dari Bapa yang mengutus-Nya. Karena itu menaati perintah Yesus mendatangkan hidup yang kekal. 

Mengapa kita kadang masih begitu gampang mengabaikan ajaran Yesus? Yesus telah menunjukkan bahwa perkataan-Nya berasal dari Allah yang akan menghakimi kita. Apa mau kita sekarang?