Sabtu, Mei 25, 2013

25 Mei – Hari Biasa- (Sir. 17:1-15; Mrk. 10:13-16)  

Teks Kitab Suci
13 Lalu orang membawa anak-anak kecil kepada Yesus, supaya Ia menjamah mereka; akan tetapi murid-murid-Nya memarahi orang-orang itu.14 Ketika Yesus melihat hal itu, Ia marah dan berkata kepada mereka: "Biarkan anak-anak itu datang kepada-Ku, jangan menghalang-halangi mereka, sebab orang-orang yang seperti itulah yang empunya Kerajaan Allah.15 Aku berkata kepadamu: Sesungguhnya barangsiapa tidak menyambut Kerajaan Allah seperti seorang anak kecil, ia tidak akan masuk ke dalamnya."16 Lalu Ia memeluk anak-anak itu dan sambil meletakkan tangan-Nya atas mereka Ia memberkati mereka.

Renungan oleh 
Romo Surip, OFMCap

Ketika orang banyak membawa anak-anak kecil agar Yesus menjamah mereka, murid-murid Yesus memarahi orang-orang itu.Kemarahan para murid itu adalah ungkapan sikap mereka yang meremehkan anak-anak.Para murid Yesus itu masih berpola pikir duniawi. Maka, Yesus menegur mereka: “Biarkan anak-anak itu datang kepada-Ku, jangan menghalang-halangi mereka, sebab orang-orang yang seperti itulah yang empunya Kerajaan Allah.”Kerajaan Allah merupakan rahmat bagi mereka yang terbuka pada pemberian Allah, terutama pada Yesus.Kebanyakan orang Yahudi tidak mau mendengarkan Yesus karena mereka tidak pernah merasa membutuhkan-Nya dan merasa telah memiliki segalanya dengan praktek-praktek kesalehannya.Mereka mengandalkan jasanya untuk memperoleh Kerajaan Allah, pada hal Kerajaan Allah itu karunia belaka. 

Kalau orang-orang yang seperti anak-anak kecil itu disebut empunya Kerajaan Allah, itu bukan karena mereka tidak berdosa, polos, dlsbnya, tetapi karena mereka tidak mengandalkan kemampuan dirinya sendiri dan mereka menggantungkan hidupnya pada Allah, sebagaimana sikap pasrah anak-anak kecil. Untuk itulah Yesus meletakkan tangan-Nya atas mereka, yang berarti memohonkan berkat Allah bagi anak-anak itu. 

Mengapa kita kadang yakin telah memiliki karcis masuk surga karena jasa-jasa kita?Yesus telah menyatakan bahwa masuk Kerajaan Allah itu anugerah bagi yang mendengarkan dan melaksanakan sabda-Nya. Apa mau kita sekarang?

Kamis, Mei 23, 2013

24 Mei – Hari Biasa- (Sir. 6:5-17; Mrk. 10:1-12)  

Teks Kitab Suci
1 Dari situ Yesus berangkat ke daerah Yudea dan ke daerah seberang sungai Yordan dan di situ pun orang banyak datang mengerumuni Dia; dan seperti biasa Ia mengajar mereka pula.2 Maka datanglah orang-orang Farisi, dan untuk mencobai Yesus mereka bertanya kepada-Nya: "Apakah seorang suami diperbolehkan menceraikan isterinya?"3 Tetapi jawab-Nya kepada mereka: "Apa perintah Musa kepada kamu?"4 Jawab mereka: "Musa memberi izin untuk menceraikannya dengan membuat surat cerai."5 Lalu kata Yesus kepada mereka: "Justru karena ketegaran hatimulah maka Musa menuliskan perintah ini untuk kamu.6 Sebab pada awal dunia, Allah menjadikan mereka laki-laki dan perempuan,7 sebab itu laki-laki akan meninggalkan ayahnya dan ibunya dan bersatu dengan isterinya,8 sehingga keduanya itu menjadi satu daging. Demikianlah mereka bukan lagi dua, melainkan satu.9 Karena itu, apa yang telah dipersatukan Allah, tidak boleh diceraikan manusia."10 Ketika mereka sudah di rumah, murid-murid itu bertanya pula kepada Yesus tentang hal itu.11 Lalu kata-Nya kepada mereka: "Barangsiapa menceraikan isterinya lalu kawin dengan perempuan lain, ia hidup dalam perzinahan terhadap isterinya itu.12 Dan jika si isteri menceraikan suaminya dan kawin dengan laki-laki lain, ia berbuat zinah." 

Renungan oleh 
Romo Surip, OFMCap

“Apabila seseorang mengambil seorang perempuan dan menjadi suaminya, dan jika kemudian ia tidak menyukai lagi perempuan itu, sebab didapatinya yang tidak senonoh padanya, ia menulis surat cerai...” (Ul 24:1). Kata “tidak senonoh” sebagai alasan penceraian ditafsir berbeda-beda.Rabi Syammai berpendapat bahwa “tidak senonoh” berkaitan dengan sesuatu yang memalukan secara moral, terutama perzinahan.Rabi Hillel menafsir lebih longgar dan luas sekali hingga hal-hal sepele, seperti memecahkan piring makan, berbicara dengan laki-laki asing, berkata tidak sopan tentang hubungan dengan suaminya dan cerewet.Dengan demikian perceraian bisa terjadi karena alasan-alasan yang sangat sepele, bahkan tanpa alasan. Peraturan dalam Ul 24:1-4 diberikan Musa bukan untuk mengesahkan perceraian, tetapi membatasi akibat-akibat negatif dari tindakan para suami yang tidak bertanggungjawab terhadap isterinya. Musa bukan mengizinkan perceraian, tetapi melarang laki-laki menikahi lagi isteri yang diceraikannya, kalau isteri itu sudah menikah lagi dengan laki-laki lain. Jadi, teks itu sudah mengandaikan adanya perceraian dan hanya menentukan formalitas hukum demi melindungi perempuan dari ketidakadilan. Karena malangnya nasib isteri yang diceraikan dan demi belaskasih terhadapnya, Musa menyuruh memberi surat cerai. Musa mengizinkan perceraian karena dipaksa kaum laki-laki Yahudi yang telah berdosa dan toleran terhadap tindakan-tindakan salah mereka.Toleran itu bukan berarti bahwa Musa membenarkan tindakan salah mereka, tetapi untuk mengatasi ketegaran hati orang Yahudi, membatasi praktek kejahatan dan melindungi kaum perempuan dari akibat buruk penceraian. 

Yesus menolak tegas dispensasi itu dan memaparkan perkawinan yang dikehendaki Allah dengan mengutip Kej 1:27; 2:24. Ia berkata: “...apa yang telah dipersatukan Allah, tidak boleh diceraikan manusia.”Persatuan itu hubungan eksklusif, di mana mereka meninggalkan orang tuanya untuk menjadi satu daging sebagai suami-isteri, sehingga mereka bukan lagi dua melainkan satu. Menjadi satu daging berarti secara total dipersatukan dalam persatuan badani atau seks. Kata daging mengacu pada seluruh pribadi manusia, tetapi fokusnya adalah fisik.Persatuan badani itu tak terbatalkan dan tak ada satu hukum atau kuasa manusiawi dapat menceraikan dua orang yang sudah dipersatukan Allah.Setiap perkawinan adalah karya Allah dan mengungkapkan kehendak-Nya, sebab dalam relasi kasih mereka hadirlah Allah.Konsekuensinya, perceraian dan perkawinan lagi adalah zinah. Penegasan “menceraikan isterinya” pun menunjuk pada kesederajatan antara suami-isteri, sehingga bukan saja isteri yang harus setia pada suami, tetapi juga suami kepada isteri. Hanya dalam kesederajatan dan saling setia itulah mereka berelasi secara benar, sebab relasi yang merendahkan salah satu pihak tidak pernah mendatangkan persatuan. Sedangkan dengan isteri yang menceraikan suaminya dimaksudkan dengan isteri yang meninggalkan suaminya untuk kawin dengan laki-laki lain. Sebab hukum Yahudi tidak membenarkan isteri menceraikan suaminya.Itupun suatu zinah.Dengan demikian perceraian memang tidak dimungkinkan dan suami-isteri harus selalu berusaha mengampuni dan berekonsiliasi. 

Mengapa kita kadang mempermainkan peraturan untuk memperoleh keuntungan pribadi?Yesus telah menyatakan bahwa apa yang telah dipersatukan Allah tidak dapat diceraikan manusia. Apa mau kita sekarang?
23 Mei – Hari Biasa- (Sir. 5:1-8; Mrk. 9:41-50)  

Teks Kitab Suci
41 Aku berkata kepadamu: Sesungguhnya barangsiapa memberi kamu minum secangkir air oleh karena kamu adalah pengikut Kristus, ia tidak akan kehilangan upahnya."42 "Barangsiapa menyesatkan salah satu dari anak-anak kecil yang percaya ini, lebih baik baginya jika sebuah batu kilangan diikatkan pada lehernya lalu ia dibuang ke dalam laut.43 Dan jika tanganmu menyesatkan engkau, penggallah, karena lebih baik engkau masuk ke dalam hidup dengan tangan kudung dari pada dengan utuh kedua tanganmu dibuang ke dalam neraka, ke dalam api yang tak terpadamkan;44 [di tempat itu ulatnya tidak akan mati, dan apinya tidak akan padam.]45 Dan jika kakimu menyesatkan engkau, penggallah, karena lebih baik engkau masuk ke dalam hidup dengan timpang, dari pada dengan utuh kedua kakimu dicampakkan ke dalam neraka;46 [di tempat itu ulatnya tidak akan mati, dan apinya tidak akan padam.]47 Dan jika matamu menyesatkan engkau, cungkillah, karena lebih baik engkau masuk ke dalam Kerajaan Allah dengan bermata satu dari pada dengan bermata dua dicampakkan ke dalam neraka,48 di mana ulat-ulat bangkai tidak mati dan api tidak padam.49 Karena setiap orang akan digarami dengan api.50 Garam memang baik, tetapi jika garam menjadi hambar, dengan apakah kamu mengasinkannya? Hendaklah kamu selalu mempunyai garam dalam dirimu dan selalu hidup berdamai yang seorang dengan yang lain."

Renungan oleh 
Romo Surip, OFMCap

Yesus berkata: “Sesungguhnya barangsiapa memberi kamu minum secangkir air oleh karena kamu adalah pengikut Kristus, ia tidak akan kehilangan upahnya.” Artinya, orang-orang yang bersikap ramah dan melayani para murid Yesus yang aktif mewartakan Injil akan menerima upahnya. Mereka akan mendapat tempat di hati para murid dan melalui murid-murid itu nantinya akan digabungkan dan tinggal bersama Yesus di surga. Para murid akan menjadi berkat bagi orang lain yang bersikap baik terhadap mereka. Namun Yesus juga mengingatkan para murid akan bahaya penyesatan. Mereka akan dihukum bila menyebabkan orang beriman yang lemah, kurang berpendidikan dan sering diremehkan, berbuat dosa dan meninggalkan imannya/murtad. Mereka tidak hanya akan dibuang ke laut, sebagaimana dilakukan oleh para penguasa Romawi terhadap pemberontak, tetapi di lehernya akan diikatkan batu kilangan. Karena itu jika tangan, kaki dan mata menjadi penyebab orang berbuat dosa, maka penggal dan cukil saja.Sebab lebih baik masuk dalam kehidupan kekal Kerajaan Allah dengan tangan kaki puntung dan mata buta, dari pada dengan tangan kaki dan mata utuh masuk ke neraka.Kehidupan jasmani tidak bernilai dibanding kehidupan kekal. 

Anjuran pemenggalan bagian tubuh bukan berarti bahwa Yesus menghendaki agar orang membuat dirinya cacat secara fisik, sebab cacat fisik saja tidak menjamin orang berhenti berbuat dosa. Ia menuntut agar orang menghentikan segala aktivitas yang membuat dirinya berdosa. Ia meminta agar para pengikutnya memiliki roh pengorbanan, menyangkal diri dan hidup berdamai dengan sesama. Itulah artinya mempunyai garam dalam dirinya. 

Mengapa kita kadang tidak mau meninggalkan kebiasaan buruk menghina, menipu, menfitnah dan korup?Yesus telah menunjukkan bahwa untuk memperoleh hidup kekal kita harus menghentikan segala aktivitas jahat. Apa mau kita sekarang?

Rabu, Mei 22, 2013

22 Mei – Hari Biasa- (Sir. 4:11-19; Mrk. 9:38-40)  

Teks Kitab Suci
38 Kata Yohanes kepada Yesus: "Guru, kami lihat seorang yang bukan pengikut kita mengusir setan demi nama-Mu, lalu kami cegah orang itu, karena ia bukan pengikut kita." 39 Tetapi kata Yesus: "Jangan kamu cegah dia! Sebab tidak seorang pun yang telah mengadakan mujizat demi nama-Ku, dapat seketika itu juga mengumpat Aku.40 Barangsiapa tidak melawan kita, ia ada di pihak kita.

Renungan oleh 
Romo Surip, OFMCap

Yohanes lapor kepada Yesus bahwa bersama murid yang lain ia telah melarang orang yang mengusir setan atas nama-Nya. Ini tanda bahwa mereka tidak menangkap misi Yesus yang harus menghancurkan kuasa setan di dunia. Bukankah pengusiran setan dengan nama Yesus itu berarti menggunakan kuasa Yesus sendiri? Orang yang mengusir setan dengan nama Yesus sebenarnya telah menundukkan dirinya kepada kehendak Yesus. Ia membenarkan tindakan orang itu, sebab untuk melawan setan tidak harus terdaftar sebagai pengikut Yesus. 

Siapapun yang memusuhi setan dengan sendirinya telah bergabung dengan Yesus. Karena itu Ia berkata: “Barangsiapa tidak melawan kita, ia ada di pihak kita.” Jawaban ini menjadi peringatan bagi para murid agar tidak eksklusif dan memonopoli iman akan Yesus, lalu memanfaatkannya untuk berkuasa atas orang lain. 

Mengapa kita kadang bertindak dan berhimpun sebagai pengikut Yesus yang eksklusif? Yesus telah menyatakan bahwa Ia datang dan membuka diri bagi siapapun yang percaya.Apa mau kita sekarang?

Selasa, Mei 21, 2013

New Book! 
Melacak Jejak Surga 
Albertus Purnomo, OFM 













Editor: Satriyo Sinubyo 
Desain Sampul dan Isi: Fajar Sungging 

Nihil Obstat: V. Indra Sanjaya, Pr 
(Yogyakarta, 23 Februari 2013) 
Imprimatur: Rm. F.X. Sukendar Wignyosumarta, Pr Vikjen KAS 
(Semarang, 1 Maret 2013) 

Cet. I. 2013, 223 x 223 mm, -83 hlm, Kanisius 
Harga Rp 45.000,- Harga Member Rp. 40.500,- (disc 10%) 
Kategori : Kitab Suci

ISBN: 978-979-21-3523-7 

© 

Pemesanan : 021 - 8318633, 8290247 
Fax : 021 – 83795929 
SMS Center : 021 - 56173345 
Daftar menjadi Member : lembagabiblikaindonesia@yahoo.co.id
21 Mei – Hari Biasa- (Sir. 2:1-11; Mrk. 9:30-37)  

Teks Kitab Suci
30 Yesus dan murid-murid-Nya berangkat dari situ dan melewati Galilea, dan Yesus tidak mau hal itu diketahui orang; 31 sebab Ia sedang mengajar murid-murid-Nya. Ia berkata kepada mereka: "Anak Manusia akan diserahkan ke dalam tangan manusia, dan mereka akan membunuh Dia, dan tiga hari sesudah Ia dibunuh Ia akan bangkit." 32 Mereka tidak mengerti perkataan itu, namun segan menanyakannya kepada-Nya.33 Kemudian tibalah Yesus dan murid-murid-Nya di Kapernaum. Ketika Yesus sudah di rumah, Ia bertanya kepada murid-murid-Nya: "Apa yang kamu perbincangkan tadi di tengah jalan?"34 Tetapi mereka diam, sebab di tengah jalan tadi mereka mempertengkarkan siapa yang terbesar di antara mereka.35 Lalu Yesus duduk dan memanggil kedua belas murid itu. Kata-Nya kepada mereka: "Jika seseorang ingin menjadi yang terdahulu, hendaklah ia menjadi yang terakhir dari semuanya dan pelayan dari semuanya."36 Maka Yesus mengambil seorang anak kecil dan menempatkannya di tengah-tengah mereka, kemudian Ia memeluk anak itu dan berkata kepada mereka:37 "Barangsiapa menyambut seorang anak seperti ini dalam nama-Ku, ia menyambut Aku. Dan barangsiapa menyambut Aku, bukan Aku yang disambutnya, tetapi Dia yang mengutus Aku."

Renungan oleh 
Romo Surip, OFMCap

Seturut kehendak Allah, Yesus akan diserahkan ke tangan manusia yang memanipulasikan segala kejahatan kepada-Nya, sehingga Ia akan menderita sebagaimana dialami orang-orang benar dan para nabi. Ia bahkan akan dibunuh, tetapi tiga hari kemudian akan dibangkitkan. Yesus sadar dan tahu bahwa kematian-Nya akan menjadi peristiwa sentral rencana penyelamatan Allah, sehingga Ia siap menerimanya dengan ketaatan seorang Putera Allah. Namun para murid-Nya tidak tahu atau malah tidak mau tahu akan penderitaan itu, sehingga mereka segan menanyakannya dan malah sibuk bertengkar tetang siapa yang terbesar di antara mereka. Pertengkaran itu mengacu pada kecenderungan mencari hormat dan kedudukan. Karena itu Yesus menegaskan pentingnya kerendahan hati dan pelayanan: “Jika seseorang ingin menjadi yang terdahulu, hendaklah ia menjadi yang terakhir dan pelayan dari semuanya.”Kebesaran bukan terletak pada posisi pertama, tetapi pada pelayanan dan kerelaan menjadi pelayan.Ia memberi contoh dengan mengambil seorang anak kecil. Kata Yunani paidionpunya dua arti, yakni “anak” dan “budak”. Jadi, sebagaimana seorang budak tidak punya dasar apapun untuk berpretensi akan kedudukan dan kehormatan, demikian halnya murid-murid Yesus. 

Menyambut anak, yang dalam masyarakat Yahudi tidak memiliki peran dan tidak diperhitungkan, berarti menyangkal diri dan menjadi murid Yesus.Sebab Yesus mengidentikkan diri dengan seorang anak dan menyatakan sikap Allah yang mengaruniakan kerajaan-Nya kepada orang-orang tertindas dan tak diperhitungkan. 

Mengapa kita kadang berebut kedudukan dan ambisijadi yang pertama. Yesus telah menunjukkan bahwa ukuran kebesaran dalam Kerajaan Allah adalah pelayanan dan kerendahan hati. Apa mau kita sekarang?

Senin, Mei 20, 2013

20 Mei – Hari Biasa- (Sir. 1:1-10; Mrk. 9:14-29)  

Teks Kitab Suci
14 Ketika Yesus, Petrus, Yakobus dan Yohanes kembali pada murid-murid lain, mereka melihat orang banyak mengerumuni murid-murid itu, dan beberapa ahli Taurat sedang mempersoalkan sesuatu dengan mereka. 15 Pada waktu orang banyak itu melihat Yesus, tercenganglah mereka semua dan bergegas menyambut Dia.16 Lalu Yesus bertanya kepada mereka: "Apa yang kamu persoalkan dengan mereka?"17 Kata seorang dari orang banyak itu: "Guru, anakku ini kubawa kepada-Mu, karena ia kerasukan roh yang membisukan dia.18 Dan setiap kali roh itu menyerang dia, roh itu membantingkannya ke tanah; lalu mulutnya berbusa, giginya bekertakan dan tubuhnya menjadi kejang. Aku sudah meminta kepada murid-murid-Mu, supaya mereka mengusir roh itu, tetapi mereka tidak dapat."19 Maka kata Yesus kepada mereka: "Hai kamu angkatan yang tidak percaya, berapa lama lagi Aku harus tinggal di antara kamu? Berapa lama lagi Aku harus sabar terhadap kamu? Bawalah anak itu ke mari!"20 Lalu mereka membawanya kepada-Nya. Waktu roh itu melihat Yesus, anak itu segera digoncang-goncangnya, dan anak itu terpelanting ke tanah dan terguling-guling, sedang mulutnya berbusa.21 Lalu Yesus bertanya kepada ayah anak itu: "Sudah berapa lama ia mengalami ini?" Jawabnya: "Sejak masa kecilnya.22 Dan seringkali roh itu menyeretnya ke dalam api ataupun ke dalam air untuk membinasakannya. Sebab itu jika Engkau dapat berbuat sesuatu, tolonglah kami dan kasihanilah kami."23 Jawab Yesus: "Katamu: jika Engkau dapat? Tidak ada yang mustahil bagi orang yang percaya!"24 Segera ayah anak itu berteriak: "Aku percaya. Tolonglah aku yang tidak percaya ini!"25 Ketika Yesus melihat orang banyak makin datang berkerumun, Ia menegor roh jahat itu dengan keras, kata-Nya: "Hai kau roh yang menyebabkan orang menjadi bisu dan tuli, Aku memerintahkan engkau, keluarlah dari pada anak ini dan jangan memasukinya lagi!"26 Lalu keluarlah roh itu sambil berteriak dan menggoncang-goncang anak itu dengan hebatnya. Anak itu kelihatannya seperti orang mati, sehingga banyak orang yang berkata: "Ia sudah mati."27 Tetapi Yesus memegang tangan anak itu dan membangunkannya, lalu ia bangkit sendiri.28 Ketika Yesus sudah di rumah, dan murid-murid-Nya sendirian dengan Dia, bertanyalah mereka: "Mengapa kami tidak dapat mengusir roh itu?"29 Jawab-Nya kepada mereka: "Jenis ini tidak dapat diusir kecuali dengan berdoa."

Renungan oleh 
Romo Surip, OFMCap

Seseorang membawa anaknya yang kerasukan setan kepada para murid, tetapi murid-murid Yesus tidak mampu mengusir setan itu.Beberapa ahli Taurat sibuk mempersoalkan kegagalan para murid itu dengan banyak orang, sehingga mereka tidak memperhatikan kedatangan Yesus. Mereka tercengang melihat kehadiran Yesus dan ayah dari anak itu memohon kepada-Nya: “Jika Engkau dapat berbuat sesuatu, tolonglah kami dan kasihanilah kami.”Orang itu menjadi kurang beriman karena kegagalan para murid Yesus. Karena itu Yesus mencari kalau-kalau masih ada iman orang itu: “Katamu, jika Engkau dapat? Tidak ada yang mustahil bagi orang yang percaya!” Orang itupun diteguhkan kembali imannya akan kuasa Yesus: “Aku percaya. Tolonglah aku yang tidak percaya ini!”Kepercayaan orang itulah yang memungkinkan Yesus berkarya dan mendatangkan penyembuhan bagi anaknya. 

Murid-murid Yesus tidak mengerti mengapa mereka tidak mampu mengusir setan itu, pada hal Ia telah memberi kuasa dan mengutus mereka untuk mengusir setan. Yesus berkata: “Jenis ini tidak dapat diusir kecuali dengan berdoa.” Artinya, mereka telah mendapat kuasa dari Yesus untuk mengusir setan, tetapi karena mereka kurang memelihara dan memupuknya dengan doa, karunia itu hilang kekuatannya. 

Mengapa kita kadang heran dan menjadi tidak percaya karena kegagalan kita?Yesus telah menunjukkan bahwa karunia Allah harus terus-menerus dipelihara dan dipupuk dengan doa. Apa mau kita sekarang?