Selasa, Agustus 28, 2012

Apa kata kitab suci tentang Jalan Salib
Alfons Jehadut


Menjadi pengikuti Yesus berarti mengikuti jejak langkah-Nya. Para murid Yesus yang pertama bisa melakukannya secara harfiah. Mereka mengikuti jejak langkah Yesus selama ada bersama mereka. Namun, kita yang hidup setelah kematian-Nya tidak mungkin bisa melakukannya secara harfiah. Kita hanya bisa menampak tilas jejak langkah-Nya, terutama penderitaan-Nya, dengan berziarah ke Yerusalem. Banyak peziarah datang ke Yerusalem untuk menampak tilas jejak penderitaan-Nya.

Namun, ziarah ke Yerusalem untuk menampak tilas jalan penderitaan Yesus (Latin: via crucis atau via dolorosa), baik pada masa lalu maupun pada masa kini, itu tidak mudah dan murah. Tidak semua orang bisa pergi ziarah ke sana. Itulah sebabnya, sejak abad ke-15 dan 16 muncul sejumlah replika jalan salib seperti di Yerusalem. Praktek menggambar stasi jalan salib di dinding gereja telah mulai muncul menjelang akhir abad ke-17. Penggambaran stasi jalan salib itu dilakukan dengan maksud supaya orang kristiani dapat mengikuti jejak langkah penderitaan Yesus secara rohani dengan tanpa harus pergi jauh ke Yerusalem.

Patut dicatat bahwa jumlah stasi jalan salib yang digambar atau dibentuk untuk tujuan devosi di dalam gereja itu tidak sama. Masing-masing kelompok menawarkan jumlahnya secara berbeda-beda. Empat belas stasi jalan salib yang kita gunakan sekarang berasal dari Eropa Barat pada akhir abad pertengahan. Namun, empat belas stasi itu juga tidak semuanya disebutkan dalam Kitab Suci. Stasi yang tidak disebutkan itu tampaknya lahir dari penghayatan religius para peziarah awal di Yerusalem. Dalam tulisan singkat ini kita diajak untuk lebih memfokuskan diri pada stasi jalan salib yang disebutkan oleh kitab suci.

Yesus dihukum mati

Perhentian pertama mengenang peristiwa Yesus dihukum mati. Masing-masing penginjil menggambarkan keterlibatan para pemimpin religius Yahudi di Yerusalem dan penguasa Roma dalam menghukum mati Yesus. Kisah Yesus dihukum mati itu diceritakan hampir serupa oleh injil sinoptik. Penginjil Markus dan Lukas menceritakan bahwa setelah ditangkap oleh para serdadu pada sore hari, Yesus kemudian dibawa ke rumah Imam Besar (Mrk. 14:15; Luk. 22:54). Kisah serupa diceritakan oleh penginjil Matius dengan menambahkan keterangan bahwa Imam Besar itu bernama Kayafas (Mat. 26:57).

Di hadapan Imam Besar Kayafas, imam-imam kepala, tua-tua, dan ahli Taurat mengumpulkan semua kesaksian untuk melawan Yesus (Mrk. 14:53-65; Mat. 26:57-68). Mereka mengumpulkan kesaksian palsu yang berbeda-beda satu sama lain. Beberapa orang memberikan kesaksian bahwa “kami sudah mendengar orang ini berkata: Aku akan meruntuhkan Bait Suci buatan tangan manusia ini dan dalam tiga hari akan Kudirikan yang lain, yang bukan buatan tangan manusia” (Mrk. 14:58). Kesaksian ini didukung oleh semua anggota Mahkamah Agama yang terdiri dari 71 anggota yang dipilih dari tiga kelas sosial yang berbeda, yakni imam-imam kepala, ahli Taurat, dan kaum tua-tua. Mereka menyatakan bahwa Yesus pantas dihukum mati karena telah menghujat Allah dengan membenarkan diri-Nya sebagai Anak Allah dan Mesias (Mrk. 14:64; Mat. 26:66). Hukum yang pantas bagi seorang penjahat adalah dirajam dengan cara dilempari batu sampai mati oleh seluruh komunitas (Im. 24:15-16; bdk Bil. 15:35-36).

Setelah memutuskan untuk menghukum mati Yesus, Mahkamah Agama membawa Yesus ke hadapan Pilatus, gubernur yang mewakili kaisar Roma di Yudea. Mengapa Yesus dibawa ke hadapan Pilatus? Mengapa Mahkamah Agama Yahudi sendiri tidak melakukan eksekusi hukuman mati bagi Yesus? Penginjil Yohanes memberikan sebuah jawaban melalui mulut orang-orang Yahudi yang ingin meniadakan-Nya. “Kami tidak diperbolehkan menghukum mati seseorang” (Yoh. 8:31). Alasannya adalah mereka tidak mempunyai kuasa untuk melaksanakan hukuman mati.

Di hadapan Pilatus, orang-orang Yahudi menyampaikan tuduhan yang lain sama sekali. Tuduhan mereka murni politis. “Kami mendapati bahwa orang ini menyesatkan bangsa kami, dan melarang membayar pajak kepada Kaisar, dan tentang diri-Nya Ia mengatakan bahwa Dialah Kristus, yaitu Raja” (Luk. 23:2). Di sini mereka mengajukan tiga tuduhan, yakni menyesatkan banyak orang, menentang pembayaran pajak kepada kaisar, dan memproklamirkan diri-Nya sebagai raja. Namun, setelah diinterogasi, Pilatus menyatakan bahwa ia tidak mendapati kesalahan apapun pada diri Yesus.

Pilatus kemudian mengirimkan Yesus kepada raja Herodes yang menjabat sebagai raja wilayah Galilea pada waktu itu (Luk. 23:6-11). Apa maksud Pilatus mengirim Yesus kepada Herodes? Maksudnya mungkin untuk mengetahui bagaimana sikap Herodes terhadap tuduhan dan tuntutan orang Yahudi. Ternyata sikap Herodes tidak berbeda dengan sikapnya. Keduanya tidak melihat Yesus sebagai ancaman politis. Baik Herodes maupun Pilatus tidak menemukan kesalahan pada diri Yesus yang membuat-Nya pantas untuk dihukum mati (Luk. 23:4, 14, 22). Akan tetapi, Pilatus pada akhirnya menyerah kepada tuntutan orang Yahudi untuk menyalibkan Yesus (Luk. 23:24).

Gambaran tentang tahap penyelidikan Yesus dalam injil Sinoptik di atas sedikit berbeda dengan penginjil Yohanes. Menurut penginjil Yohanes, Imam Besar Hanas yang menyelidiki Yesus untuk pertama kalinya setelah ditangkap. Dalam penyelidikan itu Imam Besar Hanas menanyai Yesus tentang murid-murid-Nya dan ajaran-Nya (Yoh. 18:19-24). Baru setelah diselidiki oleh Imam Besar Hanas, Yesus dibawa ke hadapan Imam Besar Kayafas (18:24) dan selanjutnya ke istana gubernur Romawi, Pilatus (18:28). Pilatus pertama-tama menginginkan orang Yahudi sendiri mengambil dan mengadili Yesus menurut hukum mereka sendiri, tetapi mereka menanggapi bahwa mereka tidak mempunyai hak untuk menghukum mati seseorang (Yoh.18:31). Itulah sebabnya Pilatus menyelidiki dan pada akhirnya menyerahkan Yesus untuk dihukum mati.

Yesus memanggul salib

Yesus dipaksa untuk memikul sendiri palang salib-Nya dan disesah selama perjalanan menuju tempat penyaliban di Kalvari yang letaknya dekat kota sehingga banyak orang bisa melihat dan menjadi takut. Namun, injil sinoptik tidak pernah menyebutkan secara eksplisit bahwa Yesus membawa kayu palang salib-Nya sendiri. Menurut penginjil Markus, Simon, orang Kirene, ayah Aleksander dan Rufus, yang baru datang dari luar kota dipaksa oleh para serdadu Romawi untuk memikul kayu palang salib Yesus (Mrk. 15:21; Mat. 27:32; Luk. 23:26). Simon dari Kirene yang terletak di Afrika utara (sekarang Libia) itu mungkin seorang Yahudi yang telah menetap di Yerusalem atau mungkin juga Yahudi diaspora yang sedang dalam perjalanan menuju Yerusalem untuk merayakan pesta Paskah. Ia dipaksa oleh para prajurit Roma untuk melakukan apa yang telah diajarkan oleh Yesus tentang apa yang harus dilakukan oleh seorang murid, yakni memikul salib dan mengikuti-Nya (Mrk. 8:35).

Para prajurit Roma tampaknya berhak untuk memaksakan penduduk sipil untuk melakukan tugas yang mereka inginkan sebagaimana diindikasikan oleh penginjil Matius (Mat. 5:41). Namun, tindakan pemaksaan itu berlawanan dengan adat-istiadat Romawi seperti yang tertulis oleh seorang penulis Romawi yang bernama Plutarchus. Plutarchus mencatat bahwa setiap penjahat yang pergi menuju ke tempat hukumannya harus membawa sendiri palang salibnya. Maka, tindakan memaksa orang lain untuk memikul salib Yesus itu boleh dianggap sebagai sebuah tindakan yang tidak biasa. Jika tidak biasa, mengapa para pasukan Roma memaksa Simon dari Kirene untuk memikul salib Yesus? Menurut Brown alasan yang paling mungkin adalah Yesus berada dalam kondisi yang sangat lemah dan para prajurit takut jika Ia akan mati sebelum sampai di tempat penyaliban sehingga tidak bisa melaksanakan perintah gubernur Roma. Jika alasan ini benar, maka Yesus pasti memikul sendiri salibnya sekurang-kurangnya selama beberapa waktu.

Kesimpulan bahwa Yesus pasti memikul sendiri salib-Nya sekurang-kurang selama beberapa waktu itu dibenarkan oleh penginjil Yohanes. Penginjil Yohanes mencatat secara eksplisit bahwa Yesus membawa sendiri salib-Nya tanpa bantuan siapapun ke tempat yang bernama Tempat Tengkorak, yang dalam bahasa Ibrani disebut Golgota (Yoh. 19:17) sebagai bagian dari cawan yang harus diminum-Nya. Namun, patut diingat bahwa Yesus tidak membawa salib lengkap – kayu horizontal dan vertikal sekaligus tetapi hanya kayu palang horizontal saja karena kayu vertikal sudah ada di tempat penyaliban. Biasanya, orang yang menjalani hukuman itu disuruh memikul kayu palang di belakang tengkuk lehernya seperti kuk dengan tangan terentang dan diikat pada kayu palang itu sehingga sulit bergerak. Itulah sebabnya, apa yang dikatakan dalam perhentian ketiga, keenam, dan kesembilan tentang Yesus jatuh ketika memikul kayu palang salib-Nya sungguh-sungguh realistis meski tidak pernah disebutkan dalam injil.

[1] Raymond E. Brown, The Death of the Messiah from Gethsemane to the grave: a Commentary on the Passion narratives in the four Gospel (Doubleday: New York, 1994), 915

Yesus berjumpa dengan ibu-Nya

Perhentian keempat memperingati Yesus berjumpa dengan ibunya. Peristiwa ini tidak pernah diceritakan dalam injil. Dalam injil sinoptik, Ibu Yesus tidak muncul lagi di atas pentas setelah ibu-Nya dan saudara-saudari-Nya datang mencari Yesus (Mrk. 3:31-35; Mat. 12:46-50; Luk. 8:19-21). Siapakah saudara-saudari Yesus yang disebutkan dalam injil sinoptik dan di tempat lain dalam Perjanjian Baru (Yoh. 2:12; 1Kor. 9:5; Gal. 1:19)? Ada yang berpendapat bahwa mereka adalah saudara-saudari kandung Yesus. Akan tetapi, gereja perdana yang berpegang pada keyakinan bahwa Maria tetap perawan sepanjang hidupnya berpendapat bahwa saudara-saudari Yesus itu bukan saudara-saudari kandung. Hal ini diindikasikan oleh apa yang disebutkan kemudian oleh penginjil Markus bahwa Yakobus dan Yoses adalah anak dari Maria yang berbeda dengan ibu Yesus (Mrk.15:40; Mat. 27:56).

Hanya injil Yohanes yang menyebutkan ibu Yesus secara sekilas dalam kisah sengsara. Maria berdiri di kaki salib dengan murid-Nya yang terkasih (Yoh. 19:25-27). Ketika Yesus yang tersalib melihat ibu-Nya dan murid-Nya yang terkasih, Yesus berkata kepada ibu-Nya, “Ibu, inilah anakmu!” Yesus kemudian berkata kepada murid-Nya, “Inilah ibumu!” Apa arti penting pernyataan Yesus kepada ibu-Nya dan kepada murid-Nya yang terkasih? Yesus meminta ibu-Nya untuk melihat dan menerima murid-Nya yang terkasih sebagai anaknya sendiri. Murid-Nya yang terkasih itu juga diminta untuk melihat dan menerima ibu-Nya sebagai ibunya sendiri sehingga terciptalah keluarga baru yang dibangun oleh Yesus dari atas salib. Itulah sebabnya, ibu Yesus yang ditampilkan sebagai model iman selalu ada bersama sebelas rasul di ruang atas dan mereka semua bertekun dengan sehati dalam doa bersama-sama menantikan Pentakosta (Kis. 1:14).

Yesus berjumpa dengan perempuan

Berbeda dengan perhentian keempat, perhentian kedelapan “Yesus menghibur perempuan-perempuan yang menangisi-Nya” mengingatkan kita kepada Yesus yang berjumpa dengan perempuan-perempuan Yerusalem. Kisah itu diceritakan secara jelas oleh penginjil Lukas. Diceritakan bahwa “putri-putri Yerusalem” menangisi dan meratapi Yesus sepanjang jalan salib-Nya. Di sini “putri-putri Yerusalem” mewakili kota dan penduduk Yerusalem. Penginjil Lukas tampaknya mengikuti literatur Perjanjian Lama yang menyapa perempuan sebagai representasi dari suatu penduduk atau kota (1Sam. 2:24; Zef. 3:14; Zak. 9:9). Putri-putri Yerusalem yang mewakili kota dan penduduk Yerusalem itu diminta-Nya untuk menangisi dan meratapi kematian kota dan penduduk mereka sendiri karena mereka menolak-Nya. Mereka tidak perlu menangisi dan meratapi jalan salib-Nya. “Janganlah kamu menangisi Aku, melainkan tangisilah dirimu sendiri dan anak-anakmu!” (Luk. 23:28; bdk. Yer. 9:16-19).

Selain perempuan-perempuan Yerusalem, kita juga menemukan seorang perempuan yang bernama Veronika. Kisah Veronika mengusap wajah Yesus yang direnungkan dalam perhentian keenam itu tidak pernah disebutkan dalam injil. Namun, ada sebuah legenda menceritakan tentang Veronika sebagai salah seorang perempuan yang mengikuti jalan penderitaan Yesus ke Golgota. Ia mengusap debu dan kotoran dari wajah Yesus dan gambar wajah Yesus ada pada kainnya. Meski kisah ini tidak ditemukan dalam injil, namun apa yang bisa kita temukan kisah kitab suci adalah adanya murid-murid perempuan yang bersedia mendukung karya dan pelayanan Yesus.

Yesus ditelanjangi, disalibkan, dan mati


Perhentian kesepuluh dan kesebelas memperingati Yesus yang ditelanjangi dan disalibkan. Dua peristiwa ini tidak dilukiskan secara terperinci oleh para penginjil sinoptik. Mereka hanya melukiskannya sebagai berikut, “Kemudian mereka menyalibkan Dia, lalu mereka membagi pakaian-Nya dengan membuang undi atasnya untuk menentukan bagian masing-masing” (Mrk. 15:24; Mat. 27:35; Luk. 24:33-34). Tidak satu pun penginjil yang melukiskan peristiwa penyaliban itu secara terperinci. Para penginjil hanya menyebut bahwa Yesus disalib. Tidak dikisahkan bahwa Yesus ditelentangkan dan kemudian dipaku pada tangan dan kaki-Nya. Kita tahu bahwa Yesus dipaku di kayu salib hanya dari kisah penampakan kepada Tomas ketika Yesus memintanya untuk mencucukkan jarinya pada bekas luka di tangan dan lambung-Nya. Hal itu mungkin karena peristiwa itu terlalu mengerikan untuk dilukiskan atau mungkin karena semua orang pada abad pertama mengetahui apa yang terjadi.

Namun, penginjil Yohanes mencatat bahwa sesudah para prajurit menyalibkan Yesus, mereka mengambil pakaian-Nya lalu membaginya menjadi empat bagian, untuk tiap-tiap prajurit satu bagian. jubah-Nya yang ditenun dari atas ke bawah itu tidak dibagi menjadi beberapa potong sehingga mereka mengundinya untuk menentukan siapa yang mendapatkannya (Yoh. 19:24). Tindakan para prajurit ini ditafsirkan dalam terang Mzm 22:19: “Mereka membagi-bagi pakaianku di antara mereka, dan mereka membuang undi atas jubahku.” Jubah yang ditenun dari atas ke bawah itu melambangkan status Yesus sebagai seorang imam dan sekaligus sebagai simbol kesatuannya di antar para pengikut Yesus.

Kematian Yesus di salib adalah fokus dari perhentian kedua belas. Masing-masing penginjil menceritakannya dengan cara yang sedikit berbeda. Dalam Injil Markus, Yesus yang hampir mati ditinggalkan oleh sebagian besar murid-Nya (14:50), beberapa perempuan (15:40), dan bahkan oleh Allah sendiri. Seruan terakhir yang keluar dari mulut Yesus yang dicatat oleh penginjil Markus adalah “Eloi, Eloi, lama sabakhtani?", yang berarti Allahku, Allahku, mengapa Engkau meninggalkan Aku?” (15:34; bdk. Mzm 22:1). Seruan terakhir ini juga dikutip oleh penginjil Matius (Mat. 27:46). Di sini penginjil Matius menempatkan Mazmur 22:1 pada bibir Yesus. “Allah-Ku, Allah-Ku, mengapa engkau meninggalkan Aku.” Seruan ini mengungkapkan sebuah permintaan dari seorang saleh yang menderita supaya Allah turun tangan. Kalimat ini bukanlah seruan seorang yang merasa ditinggalkan oleh Allah, melainkan seruan seorang yang menaruh kepercayaan kepada Allah.

Menurut penginjil Lukas, Yesus berdoa mohon pengampunan bagi para eksekutornya (Luk. 23:34) dan memberi jaminan bagi salah orang yang disalibkan karena melakukan kejahatan (23:43) sebelum berseru dengan suara keras: “Ya Bapa, ke dalam tangan-Mu Kuserahkan nyawa-Ku" (Mzm. 31:6) dan menghembuskan nafas terakhir (Luk. 23:46). Jika Markus dan Matius merasa cocok untuk menempatkan kata-kata Mazmur 22 pada mulut Yesus menjelang wafat-Nya, Lukas lebih suka menempatkan Mazmur 31:6 pada mulut Yesus yang tersalib. “Ke dalam tangan-Mulah kuserahkan nyawa-Ku” (Luk. 23:46). Lukas menonjolkan penyerahan yang pasti dan penuh kepercayaan. Penginjil Yohanes yang menggambarkan Yesus sebagai seorang yang mengetahui dan menguasai segala sesuatu menampilkan kata-kata terakhir-Nya “sudah selesai” sebelum menundukkan kepala dan menyerahkan nyawa-Nya (19:30).

Yesus dimakamkan tetapi dibangkitkan

Perhentian ketiga belas dan keempat belas merenungkan peristiwa tentang tubuh Yesus diturunkan dari atas salib dan dikuburkan. Masing-masing penginjil menyinggung tindakan Yusuf dari Arimatea dengan sedikit variasi dalam detailnya. Dari beberapa variasi yang akan ditampilkan di bawah ini terlihat jelas bahwa masing-masing penginjil berupaya untuk menunjukkan bahwa Yesus dikuburkan secara terhormat dan bahwa tempat di mana Ia dikuburkan itu dikenal. Hal ini juga memperlihatkan bahwa Yesus berbeda dari kebanyakan orang yang dieksekusi mati karena melakukan tindakan kriminal. Yesus tidak dikuburkan di pekuburan umum dan mayat-Nya tidak dibiarkan begitu saja dimakan oleh binatang-binatang liar.

Penginjil Markus melukiskan Yusuf, orang Arimatea, sebagai “seorang anggota Majelis Besar yang terkemuka, yang juga menanti-nantikan Kerajaan Allah” (15:42). Setelah meminta mayat Yesus kepada Pilatus dan membeli kain lenan, Yusuf menurunkannya dari salib dan mengapaninya dengan kain lenan itu. Ia selanjutnya membaringkan-Nya di dalam kubur yang digali di dalam bukit batu dan menggulingkan sebuah batu ke pintu kubur itu (15:46). Penginjil Matius melukiskan Yusuf sebagai seorang murid Yesus yang kaya (27:57). Lukisan ini terkait erat dengan pemilikan kubur baru (27:60) yang dijadikan sebagai tempat jenazah Yesus dibaringkan. Penginjil Lukas juga melukiskan Yusuf sebagai “seorang yang baik lagi benar” (23:50). Lukisan ini mempertahankan gambaran tentang Yusuf sebagai seorang yang saleh, seorang Yahudi yang taat pada hukum Taurat. Meski termasuk seorang anggota Mahkamah Agama, namun Yusuf tidak setuju dengan putusan dan tindakan Mahkamah Agama yang memutuskan bahwa Yesus bersalah karena menghujat Allah dan pantas dihukum mati (Luk. 23:51). Menurut penginjil Yohanes, Yusuf adalah seorang murid Yesus, tetapi sembunyi-sembunyi karena takut kepada para penguasa Yahudi (Yoh. 19:39).

Secara tradisional, stasi jalan salib berakhir dengan merenungkan peristiwa Yesus dikuburkan. Namun, misteri Paskah yang menjadi inti iman kristiani itu tidak berakhir dengan catatan tragis semacam ini. Itulah sebabnya, Paus Yohanes Paulus II menekankan perlunya penambahan stasi kelima belas, yakni Yesus bangkit dari mati. Penekanan ini tentu saja memiliki landasan biblis yang sangat kuat. Masing-masing penginjil mencatat tentang kesaksian perempuan yang pergi melihat tempat di mana Yesus dikuburkan (Mrk. 15:47; Mat. 27:61; Luk. 23:55-56) tetapi mereka mendapati kubur-Nya kosong (Mrk. 16:1-8; Mat. 28:1-10; Luk. 24:1-11; Yoh. 20:1-18). Kubur kosong itu menunjukkan bahwa Yesus tidak ada dikubur. Ia telah bangkit. Dalam injil Markus (Mrk. 16:1-8) dan Lukas (Luk. 24:1-11), seorang malaikat menugaskan mereka untuk mewartakan kabar gembira bahwa Yesus tidak ada di kubur – Ia telah bangkit! Dalam injil Matius (Mat. 28:1-10) dan Yohanes (Yoh. 20:1-18), kebangkitan itu diperlihatkan oleh kisah bahwa Yesus sendiri menampakkan diri-Nya kepada perempuan-perempuan dan berbicara dengan mereka secara langsung.


Sumber-sumber Bacaan

Brown, Raymond E. The Death of the Messiah from Gethsemane to the grave: a Commentary on the Passion narratives in the four Gospel. Doubleday: New York, 1994.
_____, Kristus Yang Tersalib dalam Pekan Suci. Kanisius: Yogyakarta,1992
Reid, Barbara E. What’s Biblical about…the Stations of the Cross? The Bible Today, Vol. 44, no. 3, 2006.
Leʹgasse, Simon, The Trial of Jesus, SCM Press: London, 1997







Selasa, Juli 03, 2012

KEYAKINAN IMAN HAMBA ALLAH (YES. 50:5-9a)
Alfons Jehadut


Perikop ini merupakan nyanyian hamba YHWH yang ketiga (Yes. 50:4-9) dari empat nyanyiannya dalam kitab Yesaya. Tiga nyanyian hamba lainnya ditemukan dalam Yes. 42:1-4; 49:1-6; 52:13—53:12). Kata “hamba” tidak muncul di sini, tetapi narrator memakai kata ganti orang pertama tunggal, yakni “aku.” Siapakah yang diidentifikasikan sebagai hamba YHWH? Pertanyaan ini penting didiskusikan sebelum kita melanjutkan diskusi tentang nyanyian hamba YHWH yang ketiga.

Para penafsir umumnya memiliki dua pandangan berbeda. 1.Pertama, hamba YHWH diidentifikasikan sebagai orang Israel secara kolektif yang dipilih oleh Allah untuk memperlihatkan kebenaran-Nya kepada bangsa-bangsa lain. Namun, orang Israel itu gagal menjalankan tugas-Nya. Secara spiritual, mereka buta dan tuli sehingga Allah tidak bisa memenuhi tujuan-Nya melalui diri mereka. Kedua, hamba YHWH diidentifikasikan sebagai seorang individu yang terpenuhi dalam diri Yesus Kristus. Para penulis kristiani sebelum zaman kritik-biblis modern umumnya menafsirkan nyanyian hamba YHWH sebagai nubuat mesianik tentang seorang yang akan menjadi raja tetapi menderita. Maka, hamba YHWH itu harus diidentifikasikan sebagai seorang yang berbeda dari figur yang digambarkan dalam Perjanjian Lama, tetapi sangat cocok diidentifikasikan dengan kehidupan dan pelayanan Yesus yang menolak untuk tampil sebagai pemimpin politis yang revolusioner seperti yang diharapkan oleh orang Yahudi.

Pada zaman antara Perjanjian Lama dan Perjanjian Baru, para rabi Yahudi mengidentifikasikan hamba YHWH dengan Mesias tetapi tidak menderita. Identifikasi ini mengarah kepada beberapa tokoh politis yang akan memulihkan kerajaan bagi Israel (Kis. 1:6). Beberapa tokoh itu mencakup beberapa figur historis dalam Perjanjian Lama seperti Musa, Zerubabel, Yeremia, Hizkia, dan Koresh. Bahkan, ada juga yang mengidentifikasikannya dengan pengarang nyanyian hamba YHWH itu sendiri. Namun, identifikasi hamba YHWH sebagai seorang tokoh politis itu kemudian dikesampingkan dan lebih banyak diyakini sebagai orang Israel secara kolektif atau sekurang-kurangnya beberapa orang Israel yang setia. Akan tetapi, kita masih menemukan keberatan dengan identifikasi Israel secara kolektif karena hamba YHWH dalam nyanyian-nyanyian hamba YHWH dilukiskan dengan memakai istilah individualistik, seperti ia diurapi dengan Roh Allah (42:1), ia dipanggil ketika masih dalam kandungan ibunya (Yes. 49:1) ia memberi punggungnya kepada orang-orang yang memukulnya, dan pipinya kepada orang-orang yang mencabut janggutnya (Yes. 50:6); Orang menempatkan kuburnya di antara orang-orang fasik (53:9).

[4] Tuhan ALLAH telah memberikan kepadaku lidah seorang murid, supaya dengan perkataan aku dapat memberi semangat baru kepada orang yang letih lesu. Setiap pagi Ia mempertajam pendengaranku untuk mendengar seperti seorang murid. [5] Tuhan ALLAH telah membuka telingaku, dan aku tidak memberontak, tidak berpaling ke belakang. [6] Aku memberi punggungku kepada orang-orang yang memukul aku, dan pipiku kepada orang-orang yang mencabut janggutku. Aku tidak menyembunyikan mukaku ketika aku dinodai dan diludahi. [7] Tetapi Tuhan ALLAH menolong aku; sebab itu aku tidak mendapat noda. Sebab itu aku meneguhkan hatiku seperti keteguhan gunung batu karena aku tahu, bahwa aku tidak akan mendapat malu. [7] Tetapi Tuhan ALLAH menolong aku; sebab itu aku tidak mendapat noda. Sebab itu aku meneguhkan hatiku seperti keteguhan gunung batu karena aku tahu, bahwa aku tidak akan mendapat malu. [8] Dia yang menyatakan aku benar telah dekat. Siapakah yang berani berbantah dengan aku? Marilah kita tampil bersama-sama! Siapakah lawanku berperkara? Biarlah ia mendekat kepadaku! [9] Sesungguhnya, Tuhan ALLAH menolong aku; siapakah yang berani menyatakan aku bersalah?

1.Barry L. Ross, Our Incomparable God: A Commentary on Isaiah 40-55 (Pune: Fountain Press, 2003), 117-120.


Struktur teks
Nyanyian hamba YHWH yang ketiga ini dapat diikuti dengan alur sebagai berikut. Bait pertama (ay. 4-5a) menampilkan karunia Allah yang diberikan kepada hamba-Nya, yakni karunia lidah dan telinga seorang murid. Bait kedua (ay. 5b-6) berbicara tentang hamba yang tidak pernah memberontak dan berpaling ketika mengalami banyak kesulitan dan penderitaan. Bait ketiga (ay. 7-9a) menyoroti keyakinan hamba YHWH kepada pertolongan Allah. Ia menyakini bahwa dirinya tidak akan dipermalukan ketika mengalami tindakan kasar dan tidak manusiawi karena dibenarkan di hadapan Allah.

Ulasan teks

Karunia Allah yang berlipat ganda (ay. 4-5a)
Gelar Tuhan Allah digunakan sebanyak empat kali dalam perikop ini (ay. 4, 5, 7, 9). Gelar ini menegaskan otoritasnya atas manusia sehingga manusia dituntut untuk taat secara mutlak. Tuhan Allah yang memiliki otoritas itu memberi karunia ganda kepada seorang hamba, yakni karunia lidah dan telinga seorang murid. Dengan diberikan lidah seorang murid, hamba YHWH itu tahu apa yang dibicarakannya dan tahu bagaimana mengkomunikasinya. Di sini seorang hamba YHWH digambarkan sebagai seorang nabi (bdk. Yoh. 8:26, 28).

Selain lidah seorang murid, Tuhan Allah itu juga mengaruniakan hamba-Nya telinga untuk mendengarkan seperti seorang murid. Kemampuan untuk berbicara seperti seorang murid itu diperlengkapi dengan karunia pendengaran. Allah mempertajam pendengarannya setiap pagi supaya bisa mendengarkan seperti seorang murid. Pernyataan “setiap pagi” di sini mungkin dimaksudkan untuk menekankan kesetiaan Allah untuk membantu mempertajam pendengaran hambanya dan sekaligus juga memperlihatkan ketekunan hamba YHWH mempelajari dan mempersiapkan misi perutusannya. Setiap hari Allah membuka telinganya untuk mendengarkan pewahyuan-Nya yang baru. Hamba itu dikaruniai telinga untuk mendengarkan pewahyuan Allah setiap hari seperti seorang murid yang baik dengan memberikan perhatian, hikmat, dan taat pada apa yang diwahyukan.

Apa maksud dari karunia lidah dan telinga seorang murid? Maksudnya adalah untuk memampukan hamba YHWH menjalankan misi perutusannya, yakni “memberi semangat baru kepada orang yang letih lesu” dengan sabda Allah (ay. 4). Siapakah orang yang letih lesu. Menurut Yes. 49:5-6, hamba menjalankan misi perutusannya baik kepada orang Yahudi maupun bukan Yahudi. Di sini orang yang letih lesu itu tidak hanya mengacu kepada orang Yahudi yang berada di bawah beban hukum Taurat, tetapi juga orang bukan Yahudi yang berada di bawah beban penyembahan berhala, orang-orang yang putus harapan, dan dikalahkan oleh setan. Orang yang telah putus asa dan dikalahkan oleh setan itu perlu dikuatkan dengan kata-kata harapan dan janji. Misi perutusan hamba ini terpenuhi secara sempurna dan penuh dalam diri Yesus Kristus. “Marilah kepada-Ku, semua yang letih lesu dan berbeban berat, Aku akan memberi kelegaan kepadamu” (Mat. 11:28).

Ketaatan hamba YHWH (ay. 5b-6)
Setelah menampilkan karunia yang diberikan oleh Allah, hamba itu mengklaim bahwa ia telah menanggapi apapun yang telah dikatakan oleh Allah dengan taat (bdk. Yoh 8:29) karena percaya pada rencana Allah. Ketaatan hamba itu pada kata-kata Allah dan misi perutusan-Nya membawa sebuah sejumlah konsekuensi. Ia mengalami banyak penghinaan dan perlakuan kasar dan tidak manusiawi. Ia memberi punggungnya kepada orang-orang yang memukulnya, dan pipinya kepada orang-orang yang mencabut janggutnya. Ia tidak menyembunyikan mukanya ketika dinodai dan diludahi. Inilah contoh konkret ketaatan hamba YHWH. Ia memilih jalan penderitaan secara suka rela dengan memberikan punggungnya kepada orang-orang yang ingin memukulnya, yakni orang-orang yang memperlakukannya sebagai seorang penjahat. Ia membiarkan dirinya diperlakukan seperti umumnya dialami oleh para penjahat. Semua bentuk perlakuan kasar dan tidak manusiawi ini muncul sebagai akibat dari ketaatannya kepada Allah dengan menyatakan pesan-pesan-Nya, bukan karena perbuatan salah atau pelanggarannya.

Lukisan penderitaan hamba YHWH ini sangat mirip dengan lukisan pengalaman penderitaan Yesus (bdk. Mat. 26:67; 27:30; Mrk 14:65; 15:16-20; Luk 22:63). Namun, lukisan penderitaan ini tidak boleh dilihat hanya sebagai antisipasi bagi penderitaan Yesus sebab semua hamba Allah pernah mengalaminya walau dengan tingkatan yang berbeda-beda antara yang satu dengan yang lain. Lukisan penderitaan ini bisa juga ditafsirkan sebagai ungkapan pengalaman begitu banyak orang kristiani, baik yang berlatar belakang Yahudi maupun bukan Yahudi, yang setia memberi pelayanan dan kesaksian tentang Allah dan Yesus Kristus. Hal ini dikatakan secara eksplisit oleh Paulus, “Memang setiap orang yang mau hidup beribadah di dalam Kristus Yesus akan menderita aniaya” (2Tim. 3:12).

Allah adalah penolong dan pembenaran (ay. 7-9)
Meski mengalami banyak penderitaan karena ketaatan dan kesetiaannya pada misi perutusan-Nya, hamba YHWH itu tetap mengungkapkan tiga keyakinannya pada misi perutusannya. Pertama, “Tuhan ALLAH menolong aku” (ay. 7a). Di tengah-tengah penderitaannya yang semakin intens, hamba YHWH tetap menyatakan keyakinan imannya pada pertolongan Tuhan ALLAH. Meski mengalami tekanan dan penderitaan fisik yang mengerikan, ia tetap meyakini pertolongan Allah yang Mahakuasa dan yang setia pada perjanjian-Nya. Ia juga menyakini bahwa dirinya tidak akan dipermalukan karena tindakan dan keputusannya. Meski orang lain mempertanyakan keputusan dan tindakannya, ia mengetahui bahwa dirinya sedang melakukan kehendak Allah.

Kedua, “Dia yang menyatakannya benar itu telah dekat” (ay. 8a). Hamba YHWH mengetahui bahwa Dia yang akan menyatakannya benar itu segera datang. Ia tidak harus menunggu waktu terlalu lama untuk menantikan campur tangan ilahi. Itulah sebabnya, ia menantang para lawan dan penghinanya. Dengan didukung oleh keyakinannya pada pertolongan Allah, hamba YHWH menantang para lawannya dengan dua pertanyaan retoris. “Siapakah yang berani berbantah dengan aku? Siapakah lawanku berperkara? Pertanyaan retoris ini diungkapkannya karena ia meyakini bahwa tidak ada seorang yang berhasil mengalahkannya.

Ketiga, “Tuhan ALLAH menolong aku” (ay. 9a). Pernyataan ini mengulang apa yang telah dikatakan sebelumnya. Ungkapan keyakinan itu dilanjutkan dengan menampilkan sebuah pertanyaan retoris yang menantang para lawannya. “Siapakah yang berani menyatakan aku bersalah?” (ay. 9). Pertanyaan retoris ini lebih kuat daripada pertanyaan-pertanyaan retoris sebelumnya. Dalam pernyataan retoris ini terungkap sebuah keyakinan bahwa tidak ada seorang pun yang dapat mempersalahkannya karena dinyatakan tidak bersalah oleh Allah sendiri. Tidak ada seorang pun yang berani berbantah, berperkara, dan mempersalahkannya karena Allah membenarkannya.

Amanat
Nyanyian hamba YHWH yang ketiga melukiskan penderitaan dan keyakinan seorang hamba/murid. Lukisan itu mirip dengan penderitaan Yesus sebagai seorang raja-Mesias yang mengalami banyak penderitaan sebagai konsekuensi dari tugas misi perutusan-Nya. Ketika mengalami banyak penderitaan, Ia tidak mengelak dan memberontak. Sikap Yesus dan hamba Allah ini sulit ditemukan padanannya dalam kehidupan kita sehari-hari. Kita pada umumnya tidak mudah menerima penderitaan sebagai kehendak Allah tanpa ada dorongan dari dalam diri untuk mengelak dan memberontaknya. Hanya Yesus yang bisa melakukannya. “Ketika Ia dicaci maki, Ia tidak membalas dengan mencaci maki; ketika Ia menderita, Ia tidak mengancam, tetapi Ia menyerahkan diri-Nya kepada Dia yang menghakimi dengan adil. Ia sendiri telah memikul dosa kita di dalam tubuh-Nya di kayu salib, supaya kita, yang telah mati terhadap dosa, hidup untuk kebenaran. Oleh bilur-bilur-Nya kamu telah sembuh” (bdk. 1 Pet. 2:22-23).

Maka, sikap Yesus terhadap penderitaan-Nya memberi daya dorong bagi kita untuk tetap setia dan taat pada kehendak Allah meski mengalami banyak kesusahan dan penderitaan. Di tengah kesusahan dan penderitaan itu kita harus menyakini bahwa kesusahan dan penderitaan karena kesetiaan pada kehendak Allah tidak akan pernah membuat kita dipermalukan karena Allah akan menolong dan membenarkan kita. Sebagai orang beriman, kita perlu menerima, merangkul, dan menyatukan penderitaan karena iman dan perbuatan baik kita dengan penderitaan Kristus. "Jika seseorang mau mengikut Aku, ia harus menyangkal dirinya, memikul salibnya dan mengikut Aku. Karena siapa saja yang mau menyelamatkan nyawanya, ia akan kehilangan nyawanya; tetapi siapa saja yang kehilangan nyawanya karena Aku dan karena Injil, ia akan menyelamatkannya” (Mrk. 8: 34b-35).

Pertanyaan pendalaman

1) Jelaskan diskusi seputar identifikasi hamba Yahwe”?

2) Sebutkan dua karunia yang diberikan kepada hamba YHWH dan tujuan pemberian karunia tersebut?

3) Sebutkan dan jelaskan tiga pernyataan yang mengungkapkan keyakinan Hamba YHWH seputar misi perutusannya?

4) Pernahkan Anda mengalami penderitaan karena keyakinan iman Anda kepada Yesus dan sabda-Nya?

5) Apakah reaksi Anda atas penderitaan karena penghayatan iman Anda mirip dengan reaksi hamba Allah?

Senin, Juli 02, 2012










Pergulatan Iman Jemaat Abad Perdana---New Book!
Alfons Jehadut

Cet. I. 2012, 147 x 210 mm - 131 hlm, LBI
Harga Rp 30.000,-
Harga Member Rp. 27.000,- (disc 10%)
Kategori : Kitab Suci

ISBN: 978-979-15839-4-7

Pengatar dan Tafsir Tematis Surat-surat Umum

©

Pemesanan : 021 - 8318633, 8290247
Fax : 021 – 83795929
SMS Center : 021 - 93692428
Daftar menjadi Member : kbr@biblikaindonesia.org












Pertumbuhan Spiritual---New Book!
MGR. Hubertus Leteng

Nihil Obstat: Petrus Tunjung Kesuma, Pr
(Jakarta, 14 April 2012)
Imprimatur: Rm. Yohanes Subagyo, Vikjen Keuskupan Agung Jakarta
(Jakarta, 23 April 2006)

Cet. I. 2012, 139 x 209 mm - 352 hlm, OBOR
Harga Rp 50.000,-
Harga Member Rp. 45.000,- (disc 10%)
Kategori : Rohani

ISBN: 978-979-565-629-6

“Dengan terang Tuhan kita dapat melihat, menyadari, dan memahami pertumbuhan dan perkembangan spiritual kita, karena Tuhan Allah itu interior intimo meo. Dia lebih dekat di dalam aku daripada lubuk hatiku yang paling dalam”

Melalui pikiran-pikiran dalam buku ini, kita diajak untuk mengenal dan mengetahui, merenungkan dan menghayati, mengalami dan menikmati perkembangan hidup dan pertumbuhan spiritual diri kita atau panggilan kita.

©

Pemesanan : 021 - 8318633, 8290247
Fax : 021 – 83795929
SMS Center : 021 - 93692428
Daftar menjadi Member : kbr@biblikaindonesia.org












Siap Diutus (Buku Pegangan)---New Book!
F.X. Didik Bagiyowinadi, Pr

Imprimatur: L. Heru Susanto, Pr, Vikjen Keuskupan Malang
(Malang, 27 Oktober 2010)
Editor : Marcel Lombe dan Paskalis Edwin
Tata Letak : Triyas Wijayanti
Desain Sampul : Ginanjar Pratama
Ilustrator : F.A. Dimas Satyawardhana

Cet. VII. 2010, 120 x 190 mm - 132 hlm, DIOMA
Harga Rp 28.000,-
Harga Member Rp. 25.200,- (disc 10%)
Kategori : Katekese

ISBN 10: 979-26-0060-4
ISBN 13: 978-979-26-0060-5

Buku ini menawarkan proses katekese Krisma dalam 4-8 kali pertemuan. Dalam persiapan Krisma ini, para calon diajak menggali makna Sakramen Krisma sebagai sakramen inisiasi, sakramen pencurahan Roh Kudus, sakramen pendewasaan iman, dan sakramen perutusan. Dari situ, para calon diajak merumuskan niat-niat konkretnya sebagai orang yang dewasa dalam iman. Para calon Krisma juga diajak mulai terlibat dalam hidup menggereja.

©

Pemesanan : 021 - 8318633, 8290247
Fax : 021 – 83795929
SMS Center : 021 - 93692428
Daftar menjadi Member : kbr@biblikaindonesia.org










MUKJIZAT EKARISTI---New Book!

Nihil Obstat: Bosco da Cunha O. Carm, Sekretaris Komisi Liturgi KWI
(Jakarta, 22 Mei 2012)
Imprimatur: Rm. Yohanes Subagyo, Vikjen Keuskupan Agung Jakarta
(Jakarta, 28 Mei 2006)

Cet. I. 2012, 216 x 357 mm - 88 hlm, OBOR
Harga Rp 100.000,-
Harga Member Rp. 90.000,- (disc 10%)
Kategori : Sakramen Gereja

ISBN: 978-979-565-626-5

Katalog Mukjizat-Mukjizat Ekaristi di Seluruh Dunia

©

Pemesanan : 021 - 8318633, 8290247
Fax : 021 – 83795929
SMS Center : 021 - 93692428
Daftar menjadi Member : kbr@biblikaindonesia.org











OPUS DEI dan Da Vinci Code---New Book!
Tim Penulis OBOR

Nihil Obstat: A. Eddy Kristiyanto, OFM
(Jakarta, 21 Juni 2006)
Imprimatur: Rm. Yohanes Subagyo, Vikjen Keuskupan Agung Jakarta
(Jakarta, 23 Juni 2006)

Cet. II. 2012 (edisi revisi), 109 x 174 mm - 244 hlm, OBOR
Harga Rp 30.000,-
Harga Member Rp. 27.000,- (disc 10%)
Kategori : Rohani

ISBN: 978-979-565-628-9

"Tiada artinya bagiku hati yang mendua, bila ku berikan hatiku akan kuserahkan seluruhnya."
-St. Josemaria Escrivá, JALAN, 145-

Buku OPUS DEI ini akan memberikan informasi yang akurat tentang lembaga yang didirikan oleh Josemaria Escrivá dari Spanyol pada tahun 1928 dan diresmikan Paus Yohanes Paulus II pada tahun 1982 sebagai prelatur pribadi

©

Pemesanan : 021 - 8318633, 8290247
Fax : 021 – 83795929
SMS Center : 021 - 93692428
Daftar menjadi Member : kbr@biblikaindonesia.org